
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Tergantung padamu Han, satu yang harus kau ingat. Aku akan berusaha untuk membantumu selagi itu tidak merugikan," ucapku. Pada akhirnya aku merebahkan tubuhku setelah Han menarik lengannya tadi.
.....
2 hari kemudian
Kami berdua sedang ada di meja makan, baru saja selesai sarapan. Sedangkan Bibi berada di halaman belakang untuk bersih-bersih, dedaunan dari beberapa pohon di halaman belakang perlu perhatian. Kemarin aku sakit, Bibi juga sama, sedangkan Han tidak bisa diandalkan untuk hal seperti itu karena dia sibuk.
"Blyss, hari ini ikut aku meeting ya," ajak Han.
"Baiklah," sahutku dengan senang hati, lagipula aku tidak punya rencana khusus untuk hari ini.
Pukul 8 pagi, aku dan Han sudah sampai di kantor perusahaan Han, karyawannya belum ramai, bahkan di luar cuacanya sedikit gerimis. Aku baru menyesal karena telah ikut ke kantor, seharusnya aku di rumah.
Sebelumnya aku pernah ke sini, namun hanya sendiri. Aku lupa untuk apa aku ke sini waktu itu. Baiklah, aku kembali.
"Han, aku ke kamar kecil dulu ya," ujarku ketika sudah berada di depan lift.
"Tidak mau pakai yang di ruangan ku saja?" Tanyanya. Aku hanya menggeleng, sebenarnya aku tidak ke kamar kecil, melainkan hanya memberinya selang waktu untuk masuk ke dalam ruangannya sendirian.
Aku curiga dengan Han, dengan karyawannya juga kemarin lusa aku mencium aroma parfum yang bukan Han gunakan. Lalu kemarin hal itu terjadi lagi saat pulang malam, aku ingin bertanya langsung pada Han. Tapi, selidiki dahulu mungkin akan lebih menyenangkan daripada aku hanya duduk dan menunggunya berbohong padaku.
Dan sepertinya dia akan berbohong untuk yang satu ini agar aku tidak terlalu memikirkannya berlebihan. Yah, ini dia. Sudah 5 menit berlalu, kira-kira Han sudah sampai di ruangannya.
Singkat cerita, aku masuk ke dalam ruangannya, sepertinya aku tepat waktu. Seorang perempuan sedang duduk di atas meja tempat Han bekerja.
Perempuan itu segera menoleh ketika aku masuk, aku hanya menaikkan alisku lalu duduk di sofa. Tidak ada Han di sini. Kemana dia?
"Pagi, Nyonya..." Ujarnya sembari berdiri dan membungkuk. Senyuman yang manis, tapi percaya atau tidak, di dalam hatinya dia sedang mencaci maki diriku yang ikut datang ke kantor.
"Bukan ingin memancing, tapi sebenarnya kau kesal,'kan karena saya ikut dengan bos mu ke kantor?" Tanyaku langsung ke intinya.
"Tch." Senyum miringnya terukir di wajahnya. "Tentu, Anda sangat benar dan tepat sasaran. Anda hanya pengganggu. Saya yakin, sebentar lagi Anda dan Tuan Han pasti akan bercerai," sambungnya.
"Kenapa wanita seperti mu bisa sangat yakin tentang itu? Bahkan kau tidak tahu apa saja yang terjadi di antara kami berdua," sahutku.
"Mudah saja, kalian berdua dari orang kaya dab berpengaruh di kota ini, hubungan antara kalian berdua hanya sebatas perjodohan keluarga untuk keuntungan kedua belah pihak. Tidak ada hubungan yang lama jika itu hasil perjodohan, Nona," jawabnya sambil tersenyum puas setelah mengejekku.
"Masuk akal, tapi sayangnya tidak ada hal seperti itu di antara kami berdua. Kami menikah memang karena saling mencintai," jawabku sambil tetap duduk di sofa.
"Buktikan, Nyonya. Saya tidak percaya. Kenapa? Karena sampai saat ini setelah setahun kalian belum punya anak? Apa namanya itu?" Tanyanya lagi.
"Kami sudah berusaha, tapi itu rencana Tuhan. Anda benar-benar tidak berpikir sejauh itu?" Tanyaku lagi dengan santai. Wajahnya seketika berubah panik. Sepertinya dia sadar dengan langkah kaki Han yang akan segera memasuki ruangan ini.
"Anda hanya memiliki status sebagai Nyonya Alexssandro. Tapi Anda tidak memiliki hati Tuan Han," ujarnya sembari keluar dari pintu lainnya. Dia mencoba menghindari Han, ya setidaknya manusia murahan itu masih punya rasa malu untuk bertemu dengan Han di depanku yang secara sah adalah istri dari bos nya.
Aku membenarkan posisi dudukku, dan lebih santai. Beradu argumen tadi lumayan membuatku ingin melahap sesuatu yang pedas. Ah sial, aku sedang di kantor dan bukannya di rumah.
"Kenapa?" Tanya Han berdiri di hadapanku.
"Tidak ada," jawabku.
"Aku yakin kau berbohong," sahutnya.
"Terserah mana yang akan kau percayai, itu hak mu," ujarku sembari berdiri. "Berikan aku pekerjaan atau aku akan pulang," sambung ku.
Senyuman Han merekah di wajahnya. "Tadi kau bilang mau ikut ke kantor dengan senang hati. Kenapa sekarang sudah berubah pikiran?" Tanyanya dengan nada meledek.
"Sedikit kesal dengan pekerja mu, lebih spesifik, sekretaris mu itu," sahutku. "Berapa kau memberinya uang?" Tanyaku dengan sinis.
"Kau pikir dia melakukan apa denganku?" Tanyanya kembali sembari mendekatiku.
Aku menghela nafas sembari rolling eyes. "Dengar ya Tuan, jaman sekarang ini segala sesuatu akan dimanfaatkan untuk mengais uang," sahutku.
"Yayaya... Aku enggan membicarakannya, karena kami berdua tidak melakukan apa-apa. Dia hanya suka secara sepihak. Kau mengerti?" Tanyanya. Meyakinkan, sungguh.
"Ya mengerti, tapi tetap saja itu menggangguku," sahutku sambil duduk.
"Nikmati sesuka hati mu saja," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Hari ini, kami berdua banyak menghabiskan waktu di perjalanan menuju ke beberapa tempat untuk meeting dengan klien Han. AC mobil, AC ruangan. Haha aku merasa mual setelah sampai di rumah. Kami berdua sampai di rumah larut malam, makan malam bersama di luar rumah. Lalu saat sampai di rumah aku langsung bersih-bersih dan tidur.
Han juga sama, kami berdua sama-sama lelah. Bersyukur saja kalau besok atau lusa salah satu dari kami berdua tidak masuk angin.
...
Pagi tiba, aku terbangun sebelum Han. Ya sepertinya aku akan ikut lagi dengannya ke kantor hari ini. Menyenangkan bersamanya setiap waktu. Satu hal lagi yang membuatku senang karena hari ini adalah hari ulang tahun Han.
Aku segera pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi, lalu turun ke bawah dan memasak. Tidak ada asisten rumah tangga di sini. Kecuali memang diminta untuk datang ke sini dan menginap beberapa hari.
Sekitar 20 menit aku sudah selesai memasak, memasak hanya untuk kami berdua, ya itu tidak banyak.
Setelah memasak, aku kembali ke atas untuk membangunkan Han, dia belum turun bahkan sampai aku selesai memasak. Tidak masalah, dia pasti kelelahan.
"Han..." Aku menyentuh pundaknya, dia belum memberi respon apapun, aku tersenyum sebentar. Ingin aku melompat ke atas tubuhnya, tapi aku takut dia punya darah rendah sama sepertiku. Yang ada dia akan sakit kepala, baiklah, lain kali saja, ini bukan waktunya untuk bercanda.
Satu kecupan mendarat di bibir Han, biasanya dia melakukan hal seperti itu untuk membangunkan ku. Aku terganggu, lalu aku bangun, sekarang gantian.
Senyuman Han merekah, "Belajar dari mana?" Tanyanya dengan masih belum membuka mata.
"Kau," jawabku dengan gembira. "Dan, selamat ulang tahun Han. Aku senang kau sehat di hari ini. Maaf, aku tidak menyiapkan hadiah untukmu," sambung ku.
"Haha, anak pintar. Terima kasih, Blyss," sahutnya lalu menarik lenganku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya.
"Ck. Padahal aku inginnya melompat tadi, kalau tahu begini dari tadi aku melompat saja," kesalku sambil duduk di sebelahnya yang masih rebahan.
"Aku bersyukur kau tidak melompat," ujarnya sambil tersenyum menatap ku.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Yang ada aku bangunnya berdua..." Jawabnya dengan nada rendah.
"Dengan siapa?" Tanyaku semakin bingung.
"Adikku yang di bawah," jawabnya jujur.
"Oh..." Aku mengangguk mengerti. "Ya sudah, ayo sarapan, aku sudah selesai masak," ajakku.
"Kau kenapa ya?" Tanya Han membuatku kebingungan lagi.
"Apanya yang kenapa?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Blyss yang hari ini lebih ceria dari pada sebelumnya," ujarnya sembari mencubit pipiku.
"Haha, kurasa perasaanmu saja," sahutku. "Ayo sarapan..." Rengek ku.
"Lihat, aku rasa memang ada yang salah," ujarnya sambil berdiri dari tidurnya.
"Tidak-tidak. Ayo kita sarapan," elak ku sambil menarik lengannya.
"Hati-hati saja Blyss..." Nasehat Han, tapi entahlah, hari ini rasanya aku sungguh bersemangat dan ingin menempel pada Han. Aku senang dia bangun di pagi hari dan tidak merasakan sakit kepala, yang artinya kami berdua tidak masuk angin karena kemarin.
"Let's eat."
"Selamat makan!"
Han hanya tersenyum melihatku yang menurutnya sedikit berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku hanya lumayan senang dan bersyukur, itu saja.
.
.
"Han, aku ikut ke kantor lagi ya?" Tanyaku sambil memeluk pinggangnya dari belakang.
Han mendengus senang, "Memangnya kau tidak punya kegiatan apapun hari ini?" Tanyanya.
"Tidak..." Jawabku, aku bersemangat untuk ikut ke kantornya, bahkan aku juga sudah mandi.
"Jangan saja ya," pintanya.
"Kenapa?" Tanyaku sambil memajukan bibirku.
"Hey... Wajahmu jangan seperti itu, aku sudah rapi jangan memancing duluan," jawabnya sembari menaikkan daguku untuk menatapnya. Aku hanya memalingkan wajah ku dengan masih tetap manyun. "Dengar ya cantik... Wajahmu pucat, aku takut kalau istriku ini sakit," jelasnya.
"Memang aku sepucat apa?" Tanyaku sembari berdiri di depan kaca wastafel. Aku sedikit terkesima dengan pemandangan yang aku lihat di pantulan cermin ini.
"Sudah lihat,'kan?" Tanyanya sambil berdiri di belakangku.
"Aku merasa baik-baik saja. Tapi kenapa pucat ya?" Gumamku. Han hanya menggeleng. "Lupakan, aku ikut ya..." Rengek ku lagi.
Bukannya menjawab, Han malah mengangkat tubuhku ke atas wastafel. "Sudah-sudah," ujarnya. Lalu segera ******* bibirku dengan ganas. Berhasil, aku senang, entah kenapa, biasanya aku ingin menolak, tapi sekarang aku malah memancingnya.
Selang beberapa waktu, ia melepaskan tautannya lalu menatapku tajam sembari tersenyum tipis. "Kenapa?" Tanyaku takut.
Dia menggeleng, "Diam di rumah saja ya," ujarnya. Seketika aku cemberut lagi, padahal aku ingin ikut. "Mau aku buat tidak bisa berjalan? Susah sekali untuk menyuruhmu diam di rumah," sambungnya.
"Ahaha, tidak perlu, aku akan di rumah saja," jawabku dengan senyuman terpaksa.
Han tersenyum, dia tahu kelemahan ku.
.
"Aku pergi ya istriku..." Ujarnya sembari mengelus pucuk kepalaku.
"Hati-hati ya. Jangan sampai tidak pulang," jawabku seraya memeluk tubuhnya yang kekar. Bahkan kedua tanganku hampir tidak sampai untuk melingkar di pinggangnya.
"Haha, iya-iya. Akan aku usahakan," jawabnya lalu melepaskan pelukannya. Han berjalan menuju mobilnya, tapi tiba-tiba aku merasa ada yang tidak biasa. Kakiku terasa mengambang dan tidak menapak di tanah, bahkan juga terasa ada beberapa kunang-kunang.
"Han!" Aku berteriak, sedangkan Han yang beranjak masuk ke dalam mobil terhenti lalu menatapku. "Sial. Semuanya semakin gelap!" Aku kehilangan kesadaran, yang terakhir kulihat hanyalah raut wajah Han yang terkejut seraya berlari menuju ke arahku.
...
Tidak tahu berapa lama aku kehilangan kesadaran, sekarang aku mulai merasakan ada yang menggenggam tanganku. Sepertinya aku sudah kembali, perlahan aku membuka mata. Terlihat senyuman Han mengembang karena melihatku.
Aku langsung ingat ruangan ini adalah kamar kami berdua. Waktu? Aku hanya pingsan sekitar 20 menit. Terdengar nafas lega dari Han, Han memberiku segelas air, dengan senang hati aku menerimanya. Memang terasa sedikit serak.
"Han, maaf membuatmu terlambat pergi bekerja. Aku sudah tidak apa-apa, jadi kau sudah bisa pergi," ucapku dengan berat hati dan sudah bersandar pada head board.
"Yakin kau tidak apa-apa?" Tanyanya sambil tersenyum dan duduk di sebelahku, karena dia baru saja meletakkan air yang tadi aku minum di atas meja sofa. Aku hanya mengangguk, dengan begini, Han tidak akan percaya kalau aku tidak sakit. Percuma saja aku membujuknya, sedangkan dia sudah melihat bukti nyata kalau aku tidak baik-baik saja.
"Ada apa?" Tanyaku sambil menatap wajahnya lekat-lekat. Han tidak menjawab, dia terlihat seperti sedang ingin mengatakan sesuatu hal yang menyenangkan. Ia mendekat lalu mengecup bibirku dengan lembut. Aku hanya tersenyum dan sekali lagi, "Ada apa Han?" Tanyaku.
"Aku ingin berterima kasih padamu, sudah memberiku hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa," ujarnya.
"Hah? Jangan-jangan? Aku?" Aku menatap Han dengan wajah kaget dan memegangi perutku. Han mengangguk, tidak lupa dengan senyumannya juga. "Ini bukan April mop,'kan?" Tanyaku sambil menggigit jari.
"Tidak, ini sungguhan," jawabnya lalu memelukku. Detak jantungku berdegup kencang dan bahagia. Senang sekali hari ini, bersyukur sekali ketahuannya hari ini. Haha, thank you so much, God.
"Apa tadi ada dokter ke sini?" Tanyaku.
"Iya," jawabnya lalu melepaskan pelukannya. "Dokter mengatakan, umurnya sudah lima Minggu," ucapnya.
"Hah?" Aku sedikit terkejut mendengarnya, selama sebulan aku tidak merasakan apapun, hanya saja memang perutku sedikit membuncit.
"Kau terkejut ya? Aku juga sama. Kau bahkan tidak mengatakan ingin sesuatu. Ini kejutan yang sangat mengejutkan. Apa kau merasakan sesuatu akhir-akhir ini?" Tanyanya.
"Tidak, hanya saja aku kira aku berat badanku naik karena terlalu lama di rumah dan tidak melakukan kegiatan apapun. Jadi aku tidak curiga apa-apa. Ditambah lagi soal datang bulan, aku kira jadwalnya akan mundur," jelasku tentang perasaanku jika aku ingat-ingat lagi.
"Ya, setidaknya kita sudah tahu sekarang," sahutnya.
"Apa kau akan pergi bekerja hari ini?" Tanyaku.
"Maaf ya, aku harus tetap pergi," jawabnya. Ya sudahlah, aku harus banyak-banyak bersabar dan ikhlas dengan apapun, apalagi saat sedang berbadan dua.
"Ya sudah, hati-hati ya. Mama dan Papa bagaimana?"
"Itu ide bagus," sahutku dengan senang. "Sebaiknya sekarang kita menyiapkan keperluan untuk nanti sore," saranku.
"Kata dokter kau tidak boleh terlalu lelah, tapi juga tidak boleh stress. Jadi aku tanya, ikut belanja keluar? Atau kau akan di rumah?" Tanyanya.
"Ikut saja ya..." Jawabku.
"Baiklah. Ayo."
.
.
"Selamat sore semua...." Ujarku dengan bahagia menyambut keempat orang tuaku.
"Sore Blyss," ujar Mama Hana.
"Ada yang aneh dengan Blyss ini," ujar Mama.
"Jangan begitu, Ma," ujarku.
"Haha bercanda," balas Mama.
"Ayo-ayo masuk," ajakku pada mereka berempat.
"Han di mana Nak?" Tanya Mama Hana.
"Masih di kamar kecil, Ma. Sebentar lagi kembali." Aku mengarahkan mereka untuk menuju ke ruang makan.
"Ini adalah ulang tahun pertama Han bersama keluarga baru. Benar,'kan?" Tanya Mama.
"Iya benar," sahut Papa.
"Aku kembali..." Ujar Han dengan riang gembira sembari duduk di sebelahku.
"Hai Han... Selamat ulang tahun, ini ada titipan dari Bryan," ujar Mama seraya meletakkan sebuah paper bag di atas meja makan.
"Waah... Ada hadiah ya. Aku sendiri yang akan mengucapkan terima kasih padanya nanti," sahut Han.
"Ini dari kami," ujar Papaku mengeluarkan paper bag lain lagi. Lalu Mama Hana melakukan hal yang sama.
"Astaga... Kalian harusnya tidak perlu repot-repot. Bisa datang ke sini saja sudah lebih dari cukup," ujar Han yang terlihat senang tapi juga malu-malu.
"Ayolah Han..." Godaku.
"Hehe." Dia duduk di sebelahku.
"Apa kalian bisa langsung bicara hal yang ingin disampaikan?" Tanya Papanya Han.
"Papa memang yang terbaik," batinku. Aku tersenyum lalu menggenggam tangan Han. Sebagai isyarat, agar Han yang mengatakannya kepada mereka berdua.
"Ada hadiah untuk kalian juga-"
"Yang benar?" Potong Mama.
"Han belum selesai bicara, Ma," ujarku.
"Hehe."
"Jadi apa hadiahnya?" Tanya Mama Hana.
"Seorang cucu," jawab Han tanpa teka-teki lagi.
"Hebat." Papa tersenyum.
"Han anakku." Papanya Han juga tidak mau kalah.
"Astaga.... Selamat untuk kalian berdua..." Mama begitu senang, ya bagaimana tidak? Inilah yang mereka tunggu. Mama berdiri dan menghampiri diriku, Mama merentangkan tangannya isyarat untuk dipeluk.
"Terima kasih, Ma," ujarku dengan senyuman yang paling senang seraya membalas pelukannya. Aku senang orang sekitarku bahagia.
"Selamat ya, Nak." Mama Hana ikut berpelukan dengan aku dan Mama. Haha, terasa lucu.
...
Beberapa bulan kemudian
Hari ini aku sedang duduk santai di sofa ruang tengah, sudah sulit untukku bergerak cekatan seperti dulu. 7 bulan sudah seperti 9 bulan. Itulah ucapan Han. Satu hal lagi, aku belum bertemu dengan orang tuaku setelah pertemuan sore itu di hari ulang tahun Han.
Sore begini, biasanya Han sudah pulang, kenapa sekarang belum juga ya? Aku sudah meneleponnya tadi dan dia bilang sebentar lagi akan pulang. Aku sedikit khawatir sekarang, dia tidak memberiku balasan pesanku.
Derry.
"Halo, Blyss." Derry menjawab panggilan ku.
"Halo Derry, maaf mengganggu waktumu, aku hanya ingin bertanya soal Han. Apa dia sedang bersamamu?" Tanyaku langsung pada intinya.
"Oh? Siapa yang memberitahu padamu kalau Han bersamaku?" Tanyanya.
"Han sendiri yang bilang tadi," jawabku.
"Kami berdua ada pekerjaan tambahan. Tenangkan dirimu, semuanya baik-baik saja." Derry memutuskan panggilan secara sepihak.
Ehh? "Tenangkan dirimu" katanya? Lucu sekali. Sekarang aku malah tambah khawatir setelah mendengar penjelasan dari Derry.
Apa aku harus menyusul? Lokasi Derry mudah untuk dilacak, kalau Han, aku akan menyerah lebih dahulu. Tapi tidak, aku tidak akan membahayakan nyawa anakku, apalagi mereka ada 2. Yeah, twins.
"Halo, Pa."
"Hai Blyss. Ada apa?"
"Papa sedang bersama Kak Bryan?"
"Tidak. Kenapa tidak langsung telepon dia saja?"
"Baiklah."
Aku beralih, mereka sedang tidak bersama.
"Kak? Kakak?"
"Pelan-pelan Blyss... Ada apa? Tenang... Nafasmu membuatku nyaris tidak bisa mendengar ucapanmu."
"Han. Kau tahu di mana Han?"
"****! Hear me, just calm yourself okey...? Him gonna be fine if you calm. Trust me."
Dia memutuskan panggilan secara sepihak. Oke. Aku anak penurut, aku akan mencoba untuk tenang. Entah apa yang terjadi aku benar-benar tidak tahu. Aku juga tidak bisa memberi tahu siapapun kecuali Han atau seseorang yang bersama Han menceritakannya karena ini adalah cerita dari 1 pandangan. Sudut pandang ku saja.
Aku berusaha tenang dan tidak memikirkannya, aku berakhir dengan tidur di sofa ruang tengah.
.
.
02.02 am
Ada apa pagi-pagi begini aku terbangun? Aku menoleh, Han duduk di sofa single sembari menatap laptopnya. Ck. This guy.
"Han?" Panggilku untuk memastikan bahwa itu manusia, bukan makhluk lain.
"Hm?" Singkatnya. Fix dia Han.
"Tidak tidur?" Aku duduk dari tidurku.
"Aku mengganggumu ya? Aku akan pergi ke ruang kerja saja kalau begitu. Ayo sekarang kau ke kamar, lalu lanjutkan tidurmu." Han menutup laptopnya lalu berdiri di sebelahku.
Aku tidak menjawab, aku segera berdiri lalu menggenggam tangan Han yang dia berikan padaku. "Kenapa sampai larut sekali?"
"It's not the first time, Blyss..." Ujarnya dengan nada ringan.
"I know, but this is the first time without some news." Masih ada elakan.
"Hehe. Oke, i'm sorry because make you worry."
"Nah. It's okey."
"Tapi wajahmu tidak menggambarkan itu. Sepertinya kau marah..." Han membukakan pintu untukku.
"Aku hanya kesal sedikit Han..." Aku melembutkan nada bicaraku, bagaimana pun emosiku, aku harus menahannya.
"Aku minta maaf ya..." Han mengelus pucuk kepalaku.
"Aku memaafkan mu, aku hanya takut kamu sakit Han..." Aku mengerucutkan bibirku. Entah perasaanku saja atau memang ada sesuatu yang terjadi, seketika wajah Han memerah.
"It's sweetest think you have to say."
"Ck. Aku mau sekarang Han tidur saja ya? Mereka merindukanmu..." Aku mengelus perutku.
"Apa harus dijenguk?"
"Astaga. Tidak-tidak!" Jawabku spontan.
"Haha. Kalau begitu, yang merindukanku, bukan mereka, tapi Mamanya."
"Kurang lebih," jawabku malu-malu.
"Baiklah, kita tidur, ini terlalu larut untuk menjenguk kedua jagoanku." Han berbaring setelah aku duduk di tepi tempat tidur.
"Tidak mandi Han?" Tanyanya.
"Dingin, besok saja."
"Air hangat?"
"Dingin juga." Han tersenyum tipis.
"Bilang saja kalau tidak niat mandi." Aku berbaring di sebelahnya.
"Hehe. Mungkin satu guyuran saja tidak masalah." Han bangkit dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi.
Ya tidak sampai 5 menit dia sudah keluar tanpa memakai baju, lalu kembali tidur.
.....
Akhirnya, kehidupanku normal saja setelah kelahiran. Seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya yang mengurus keluarga dan rumah. Aku tidak menyangka akan seperti ini, tapi aku bersyukur, mengingat semua yang pernah kulakukan selama aku lajang, rasanya ini sulit dicapai.
Kebahagiaan ini, rasanya begitu tidak nyata, tapi sekali lagi, aku sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi. Kedua anakku, pertama laki-laki, Mama Hana memberinya nama Vino. 10 menit kemudian, anak keduaku lahir, tanpa basa-basi, Mama Zara memberinya nama Vani.
Aku yang sedang tidak memikirkan nama pun hanya menyetujuinya, lagi pula itu sudah bagus.
The end
.......
Holaa readers 😃😃
Finally i have to finish this novel🥳🥳. It's like dream😫
Aku ga rela sih, secara ini novel pertama aku, di Noveltoon, sekaligus di kehidupanku. Hehe. Tapi ya mau gimana? Kalo disambungin terus, udah mentok. Lagian tugas author juga udah makin numpuk.
I wanna say THANK YOU SO MUCH FOR ROYAL AND LOYAL READERS. Without you all, aku ga ada apa-apanya. Makasi udah nungguin, makasi, pokoknya makasi.
See you next masterpiece 😋