
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Yang sudah tahu isi dari tempat itu dan punya dokumennya akan jadi buronan, karena mereka tidak ingin pertahanan mereka dapat lumpuh dengan mudah," jelas Han.
(Alternatifnya adalah : jika keluarga lain tau susunan dari markas keluarga Symon, maka keluarga tersebut dapat dengan mudah menghancurkan markas utama keluarga Symon. Tapi itu tidak akan terjadi, keluarga Symon saja yang terlalu negatif thinking, hal itu karena dia
sendiri yang pengecut, dia yang duluan menyerang dari belakang.)
"Aku mengerti sekarang, tapi kenapa Blyss bisa lolos?" Tanya Viana.
"Mereka tidak pernah menemukanku, aku tidak pernah terlihat di media sosial, aku juga tidak pernah pergi ke acara penting dengan orang tua dan kak Bryan setelah dari Berlin. Dan bahkan aku offcam sudah dari 5 tahun yang lalu, kurang lebih." Jelasku.
"Aku hanya bisa tenang saat berada di rumah, jika di apartemen Papa aku akan diintai kamera tanpa izin. Bagaimana kau bisa lolos dari kamera lancang itu?" Tanya Viana lagi.
"Nanti aku ceritakan, sepertinya aku kehilangan sesuatu," jawabku sambil memperhatikan laptopku dengan lebih serius.
"Ini dia," ucapku setelah aku mendapatkan denah yang yang sudah kukumpulkan sendiri 3 tahun lalu. Aku duduk lebih santai setelah mendapatkan apa yang kucari, aku agak ragu aku masih menyimpan dokumen itu, sekarang aku lega itu masih tersimpan dengan baik.
"Silahkan mantan penari balet buat keputusan untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah lantai 3," ucap Han setelah melihat foto-foto yang kuberikan. Aku memandang Han sebentar, lalu aku mengerti yang dia bicarakan adalah Viana.
"Bagaimana kau bisa tau itu laser tempel?" Tanyaku.
"Itu laser juga di curi dari markas keluarga Alexssandro," ucap Han santai.
"Kenapa tidak di rebut lagi?" Tanya Viana.
"Papa sudah ikhlas," jawab Han enteng sambil menyisir rambutnya dengan jari.
Pesona di depan mata. Eh. Sadar. Tapi memang benar, ketampanan Han terpancar sekarang, aku terpesona? Tentu saja, tapi kebingungan dalam berekspresi tetap ada di dalam jiwaku.
"Ini sudah tiga tahun yang lalu, beberapa hari yang lalu kak Bryan pergi ke Berlin sendirian, aku sampai kaget melihat posisi kak Bryan di Berlin. Tapi, dia tidak pergi ke markas Symon, kak Bryan membawa drone-ku ke sana, dan terjadi sedikit kecelakaan. Drone terdampar didekat markas itu.
Itu terdampar karena di tabrak burung elang, untung bisa hidup lagi.. tapi aku lupa untuk merekam apa yang kulihat. Itupun aku melihatnya karena di izinkan oleh kak Bryan, dia terlalu posesif, dia terlalu khawatir tentang aku yang selalu membuat masalah dengan apapun yang aku temui.. padahal itu tidak selalu terjadi. Bahkan aku tidak percaya apa yang kulihat, aku melihat seorang pekerja di sana yang terpeleset, sepertinya mereka punya penemuan baru. Itu ada disekitar jalan yang terlihat, seperti jalan belakang, jendela dan mungkin masih ada ditempat lain." Jelasku panjang dan lebar.
"Menurut kalian apa sasaran utama dari alat penemuan atau curian itu?" Tanya Han sambil menahan tawanya.
"Pfft, *4****." Jawab Viana dengan santai.
"Aneh," respon Han.
"Bisa jadi tuan Symon sekarang benci dengan ******," jawabku.
"Mana ada, dia juga punya ******." Jawab Viana.
'*4**** ****4*~'
"Mari kita sudahi membahas ******. Mari bahas bagaimana agar kita tidak terpeleset, karena kalau satu diantara kita terpeleset laser pembunuh akan menyala dengan sendirinya dan langsung mengarah ke orang yang terjatuh atau mungkin yg tidak jatuh juga akan kena." Selaku.
"Di sana mungkin licin, apa akan terdengar dan terlihat gila jika kita ke sana tidak memakai alas kaki?" Tanya Han.
"Wow." Responku datar.
"Blyss kehilangan kata-kata." Komentar Viana.
"Itu boleh juga, buka alas kaki saat melewati tempat itu, lalu pakai lagi setelah melewatinya." Lanjut Viana.
"Itu mungkin saja cairan atau mungkin bukan cairan, karena masalahnya aku tidak melihat apapun. Aku hanya melihatnya langsung terjatuh seperti orang yang dipukul di bagian lutut kebawah, aku sempat memikirkan ini setelah sampai di W4shington D.C, tapi aku segera melupakannya karena aku rasa aku akan stress jika selalu memikirkannya." Jelasku sambil memegang kepalaku.
"Heh," Viana tersenyum miris di sampingku.
"Kenapa?" Tanyaku. 'Viana kesurupan?'
"Itu hempasan angin, penemuan itu salah satu curian lagi." Jawab Viana dengan wajah tidak
menyenangkan. "Hempasan angin akan mengenai lutut bagian belakang, lalu yang kena akan terjatuh, sensor duduk dan telapak tangan akan langsung memberi perintah ke laser tempel. Jadilah pembunuhan laser, tak kasat mata." Sambung Viana masih dengan wajah yang tidak ikhlas.
"Aku curiga kalau alat itu sebenarnya milik keluargamu," responku.
"Memang, kau akan dapat kejutan di sana nanti," kata Viana lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia tampak tertekan dan tidak suka dengan kenyataan yang terjadi.
"Baiklah, kutunggu kejutannya." Responku.
"Karena pawangnya sudah ada di sini, jadi bagaimana caranya agar kita bisa melewati laser itu?" Tanya Han dengan nada wartawan yang feminim.
Kenapa dia?
"Apa alat itu tidak bisa di hentikan jarak jauh?"
"Aku tidak terlalu tau dan mengerti soal itu, kalau kau bisa cobalah, kita punya sedikit waktu." Jawab Viana.
"Akan kucoba, besok pagi-pagi kita berkumpul lagi di bandara keluarga Gryss, ini sudah mau jam makan malam. Aku sudah lapar, terima kasih atas pertemuannya dan basa-basinya." Ucapku sambil menutup laptopku.
"Oh ya, bagaimana dengan laser tempelmu Han? Apa itu bisa di hentikan dari jarak jauh?" Tanya pada Han.
"Tentu saja, itu benda kuno," jawab Han dengan senyumnya yang sangat meremehkan laser itu sepertinya.
"Meski benda kuno, masih ada kemungkinan laser itu masih ada di sana. Baiklah, selamat sore." Tutupku sebagai tuan rumah.
"Baiklah, aku mengandalkanmu Blyss." Kata Viana sambil berdiri.
"Ya-ya-ya," Han sepertinya tertekan dengan semua ini.
Han dan Viana pulang sekitar pukul 05 PM, bukan lelucon tapi aku memang sudah mulai lapar.
"Kak," panggilku ke satu-satunya kakakku saat aku ada di pintu ruangan dinginnya.
"Apa?" Tanyanya datar dan tetap menatap keluar jendela.
"Aku mau beli makan, kakak mau titip tidak? Biar sekalian aku pesankan,"
"Boleh juga, pesankan kakak apa yang kau pesan."
Aku pesan makanan, itu pun pakai alat dan bahan dari Derry. Identitasku harus tetap disembunyikan, aku bisa pakai fake account tapi itu tetap beresiko untuk aku yang tiba-tiba tersembunyi.
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers(◕ᴗ◕✿)