LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Three People



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Wahh... Semoga Han bisa cepat-cepat kembali, aku tidak suka di sini bersama mereka bertiga. Meski diberikan kelonggaran untuk keluar rumah asalkan tidak ketahuan, tetap saja rasanya seperti mereka tidak memberiku keluar rumah.


...


Pagi harinya, aku terbangun, selain aku, tidak ada orang lain. Mereka sudah pergi bekerja, itu kata mereka kemarin.


Pagi setelah sarapan, aku menyapu di kamarku, dan beberapa kamar di lantai atas. Tidak secara keseluruhan, tapi aku sudah lelah. Setelah bersih-bersih, aku berbaring di sofa ruang tengah sambil menonton acara random dari televisi.


Sampai akhirnya tertidur dan terbangun di kamarku. Aku bangun saat jam makan siang, ya sekitar jam 1, dan Shino berada di ruang tengah.


"Shino? Kau sudah makan siang?" Tanyaku.


"Sudah, aku beli makan tadi. Masaklah untuk makan malam nanti, sekarang makan makanan yang tadi aku beli. Aku letakkan di lemari es, hangatkan lagi jika kau ingin, aku mau istirahat," ucapnya lalu pergi. Shino terlihat menghindari ku? Tidak juga, aku rasa biasa-biasa saja.


"Terima kasih ya," sahutku sambil berjalan ke arah dapur.


"Iya..." Jawabnya dengan sedikit berteriak. Entah dia bekerja apa, dia terlihat sangat lelah.


Selama Shino berada di kamarnya, aku memanfaatkan waktu itu untuk keluar membeli keperluan memasak.


..


Pukul 7 malam, aku dan Shino makan malam bersama. Selesai makan aku membuka pembicaraan dengan, rasanya canggung jika hanya tatap-tatapan.


"Yang memindahkan aku ke dalam siapa?" Tanyaku sembari berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring yang tadi kami berdua gunakan.


"Aku. Pertanyaan mu aneh," jawabnya. "Aku akan pergi lagi, jangan lupa kunci pintunya." Ia pergi dari ruang makan, terlihat biasa saja. Apa dia mati rasa? Ah tapi sudahlah.


"Hati-hati di jalan nanti...!" Teriakku padanya.


"Iya..!"


...


Keesokan harinya, aku sedang duduk di bangku halaman. Selagi tidak ada orang, aku rasa masih aman. Tidak lama kemudian aku samar-samar mendengar suara mobil. Waw, halus sekali. Aku bahkan tidak percaya kalau ada yang datang, aku buru-buru masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa.


Tak lama kemudian Gillbert dan Jack masuk ke dalam rumah. Apa ketahuan? Sepertinya tidak, mereka biasa saja.


"Blyss?" Panggil Gillbert saat sampai di dapur.


"Iya?" Aku menjawabnya tapi tidak menghampirinya ke dapur.


"Siapa yang membeli keperluan memasak?" Tanyanya.


"Berbohong! Tapi siapa?! Han? Dia yang tidak memberiku keluar! Shino? Kalau mereka berdua bertanya pada Shino? Habis sudah! Siapa ya? Sial!" Pikirku.


"Blyss? Kau masih di ruang tengah?" Tanya Gillbert.


"Masih... Aku yang pergi," jawabku.


"Sendiri?" Tanyanya.


"Iya. Pertanyaan mu aneh," sahutku.


Terdengar sayup-sayup kekehan Gillbert di dapur. Bagaimana dengan Jack? Dia sudah pergi ke kamarnya. "Benar juga, kami bertiga sepakat bahwa kau boleh keluar rumah asalkan tidak ketahuan oleh kami bertiga," lanjutnya setelah tertawa kecil. "Tapi kau mengaku?"


"Setidaknya kau tidak melihatnya," jawabku santai tanpa rasa bersalah. "Mau makan sekarang? Biar aku masakan."


"Tidak, aku dan Jack sudah beli. Masaklah untuk makan malam nanti," jawabnya. Sama seperti kemarin. Efek terlalu lama bersama bertiga.


"Ya baiklah." Kami saling bersahutan tanpa saling bertatapan. Enggan ke dapur, jawabanku jika ditanya kenapa tidak mendatanginya.


"Film apa?" Tanyaku.


"Pilih salah satunya yang ada di laci meja TV paling bawah. Semuanya belum pernah aku tonton sekalipun," jawab Jack. Aku terdiam, hendak merangkai kalimat untuk bertanya soal genre film dari semua kaset itu. "Tenang, genrenya aman untukmu," sambungnya. Aku segera membuka laci itu lalu melihat pemandangan yang begitu indah.


"Semua ini siapa yang beli?" Tanyaku sembari mengeluarkan beberapa dari mereka.


"Kami bertiga. Tapi aku jarang, dominan dibeli oleh Shino. Biasanya Shino dan Han akan menontonnya bersama, meski tidak terlalu fokus. Mereka berdua menonton film sambil mengerjakan pekerjaan kantornya," ujar Jack yang ikut duduk di sebelahku untuk memilah dan memilih kaset yang akan ditonton.


Setelah dapat yang kami rasa cocok, kami berdua mulai menonton. Gillbert juga, bahkan sambil makan siang, tak lama kemudian aku dan Jack ikut makan siang.


Ini tidak se-canggung kemarin saat aku bersama Shino. Mereka berdua lebih banyak bicara daripada Shino, jadi aku rasa lebih aman mereka berdua dibandingkan Shino atau Han. Sebelum akrab dengan Han juga sangat canggung, Han seperti akan memakan orang yang berada di depannya.


Meski begitu, aku malah menyukainya, bahkan bisa dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jika diingat-ingat, terdengar aneh, tapi sudah terjadi dan bahkan kami berdua sudah menikah.


Hari itu berjalan lancar, dan biasa saja. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi.


...


Hari ini, Shino bilang bahwa Han sudah selesai dengan urusannya, dan akan datang menjemput ku. Kemarin Jack dan Gillbert juga mengatakan hal yang sama, tapi mereka sengaja pergi bekerja lebih awal agar tidak dimintai keterangan oleh Han. Aku juga belum tahu keterangan apa sebelum Han atau Shino menjelaskan.


.


.


Sore harinya kurang lebih jam 6, Han sudah sampai di rumah ini. Shino yang dari tadi memang hanya duduk diam di sofa ruang tengah terlihat biasa saja melihat kedatangan Han yang langsung duduk tanpa diberitahu.


Untuk apa juga diberitahu, ini juga rumah mereka bertiga. Jika menurutku, mereka pindah mungkin setelah wisuda.


"Mau minum, Han?" Tanya Shino.


"Tumben? Kau mau buatkan?" Han balik bertanya.


"Biar Blyss yang buatkan," jawab Shino tanpa rasa bersalah.


"Jangan libatkan aku. Aku siap-siap pulang dulu," ujarku lalu meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.


Ya bersih-bersih di kamar ini dulu sebelum ditinggalkan. Sebagai mantan penghuni kamar yang bertanggung jawab, aku datang bulan selama berada di sini. Maka dari itu aku tergesa-gesa untuk keluar rumah, tujuanku adalah minimarket di jalan depan. Untuk bahan masakan, itu hanya pengalihan isu.


Bersih-bersih ini tidak memerlukan waktu yang lama, hanya membuang yang sudah aku pakai ke tempat sampah depan. Lalu membawa sisanya, masukkan ke dalam mobil Han agar tidak lupa.


"Sudah?" Tanya Han ketika aku berdiri di sebelahnya yang sedang duduk di sofa single.


"Sudah," jawabku.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Kalau ada yang lain, bisa kirimkan ke alamat email PC punyaku," ujar Han pada Shino.


"Iya, hati-hati kalian berdua," sahutnya dengan tetap tenang. Sepertinya mereka berempat memang menanamkan sikap tetap tenang apapun yang terjadi. Bahkan saat senang sekalipun. Yayaya, sebenarnya memang lebih bagus begitu daripada bereaksi berlebihan. Namun Jack biasanya yang paling ekspresif di antara mereka berempat.


"Aku pamit, Shino," ucapku lalu mengikuti Han yang sudah duluan.


.


.


Di dalam mobil masih hening, aku hanya lumayan senang karena bisa kembali ke rumah dan tidak akan bersama dengan ketiga sahabat Han itu.


"Wajahmu terlihat begitu senang, ada apa?" Tanya Han.


"Aku hanya senang sudah terlepas dari mereka bertiga," jawabku sembari duduk lebih santai.


"Benarkah? Kukira kau suka jauh-jauh dariku," sahutnya. Aku kecewa, tapi tidak tahu kenapa. Membingungkan. Sudahlah. Aku tidak menanggapi sahutan dari Han. "Mereka membiarkan mu keluar rumah?" Tanya Han.