LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Ide Han



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Iya Ma..." Balasku yang juga agak berteriak.


.


"Mama ternyata lebih teliti dari yang aku bayangkan," ujarku ketika kami sudah masuk ke dalam kamar.


"Ya... Begitulah." Han terlihat tidak peduli.


"Kau tidak pandai beralasan," kesalku.


"Kau juga salah, kau membuatnya terlalu di atas. Jadi terlihat," balasnya.


"Kii jigi silih. Nyinyinyi."


"Pandai, tapi ganti bajumu sebelum aku terkam lagi." Baiklah, selesai. Aku masuk ke kamar ganti.


.


"Sudah?"


"Kau berniat apa?"


"Tidak ada."


Han mendekat, "Baju crop? Tumben sekali."


"Kebetulan ini yang pertama kulihat, langsung saja kupakai," jawabku. "Sudah, jangan dibahas lagi. Sekarang, urusan dengan laptopnya."


"Oh ya hampir saja lupa. Sini." Han menepuk sofa di sebelahnya agar aku duduk di sana.


Video amatir, iya itu video amatir dari kamera khusus milik Derry. Ada simbol Y di pojok kanan atas video itu yang artinya Yua. Nama samaran Derry setelah masuk ke dalam Black Shadow keluargaku.


"Ini...?"


"Kau asing dengan wajah mereka?" Tanya Han.


"Pria pertama dari depan adalah teman Nicols. Dan yang lainnya adalah pengawal-pengawal yang bekerja untuk Symon," jawabku tanpa sadar, bahkan tanpa menatap wajah Han sedikitpun.


"Hem." Terdengar Han mendengus senang, entahlah tentang apa yang dia pikirkan.


"Kenapa?"


"Kau kembali jadi incaran mereka. Mereka tahu kalau kau akan terbang menggunakan pesawat umum lalu menunggumu di bandara. Dari kesimpulan ku, mereka ingin membalaskan dendam padamu setelah apa yang kau lakukan pada Nicols waktu lalu," jelas Han dengan tenang.


Inilah yang menyebabkan aku begitu kagum pada orang aneh di depanku ini, ketenangan yang ia miliki. Ya, aneh. Dia kadang dingin, tak peduli dan acuh, namun di satu sisi lain, dia begitu peka, tahu terhadap apapun yag diperlukan untuk orang di sekitarnya.


"Ya... Aku sempat berpikir demikian, namun karena tidak ada hal aneh yang terjadi selama di Seoul. Aku melupakan itu." Selama di Seoul, aku tidak merasakan sepasang atau sekelompok mata mengawasi pergerakan yang aku lakukan selama mondar-mandir Bank-Apartemen.


"Seoul terlalu bahaya bagi mereka yang berasal dari daratan Mexico. Jadi mereka memilih untuk menunggumu kembali," balas Han lalu menghela nafas berat. "Aku enggan melepasmu kembali ke Seoul," sambungnya yang terlihat begitu lesu.


"Jadi bagaimana?"


"Kita harus menikah."


"Bodoh?"


"Apanya?"


"Tidak jadi. Kenapa terlalu buru-buru?" Tanyaku.


"Buru-buru? Sadarlah Nona, kau sudah dua puluh dua (22) tahun. Kau pikir kau belum melewati kepala dua?" Ejek Han.


"Pabbo-ya (bodoh). Aku tidak membahas soal umur. Aku hanya bingung, buru-buru. Kita baru saja pacaran," elak ku. Setidaknya menunggu sampai 5 bulan?


"Tidak penting, yang penting kita sudah sempat menjadi sepasang kekasih sebelum menikah," balas Han tidak mau kalah.


"Bicarakan kepada kedua orang tuaku. Jika izin mereka sudah, maka aku tidak akan menolak." Senyuman Han mengembang setelah mendengar jawabanku.


"Baguslah. Besok aku akan pergi ke sana."


Sekarang aku sedikit curiga kalau Han mengetahui tentang kesepakatan keluargaku mengenai kekuasaan untukku dan untuk Kak Bryan.


"Bagaimana kalau setelah menikah aku masih tetap harus pergi ke Seoul?" Tanyaku.


"Tidak mungkin, setelah kau menikah, semuanya akan ditanggung oleh Kakakmu. Aku sudah tahu itu, jangan membuat alasan lagi." Jawaban Han adalah jawaban yang kutunggu jika benar-benar Kak Bryan yang memberi tahu hal tersebut.


"Kak Bryan pasti cerita banyak ya padamu?" Tanyaku lagi sembari memeluk lengannya.


"Begitulah," jawabnya ringan.


...


10:23 AM


Aku menekan bel rumah, asisten Kak Welsa yang membukakan pintu untukku.


"Pagi Nona... Mari silahkan masuk..." Ajaknya dengan seramah mungkin.


Aku berjalan mendahuluinya, "Apa semuanya di rumah?" Tanyaku sembari tetap berjalan menuju ruang tengah.


"Tuan Bryan dan Tuan Frans tadi pagi keluar bersama Nona," jawabnya.


"Mama dan yang lainnya di mana?"


"Sedang di kamar Nona Sidney," jawabnya sembari menundukkan kepalanya. Aku memang jarang bertemu dengannya, jadi agak canggung di antara kami. Ya, siapa peduli juga.


"Baiklah. Aku pergi dulu," sahutku menatap pelayan itu lalu segera berjalan menuju kamar Sidney.


.


"Bu..?" Sahut dari dalam.


"Iya... Ini saya," jawabku masih sambil menahan tawaku.


"Aku tidak ada memesan apapun. Ma? Bagaimana denganmu?" Tanya Kak Welsa. Iya itu suaranya masih bisa terdengar sampai di luar.


"Mama juga tidak," jawab Mama membuatku tersenyum tipis.


Ceklek..


Kak Welsa keluar, "Ada apa...?" Kak Welsa mengehentikan ucapannya setelah melihatku berdiri di depan pintu. "Blyss? Sejak kapan di sini?" Tanyanya sembari tersenyum.


"Sejak tadi," jawabku santai.


"Jadi? Yang tadi itu kau?" Tanyanya sambil menarik tanganku untuk ikut masuk.


"Iya," jawabku sambil mengikuti langkah kakinya. "Ma," panggilku.


"Eh? Blyss? Ada apa ini?" Mama terlihat sedikit kaget.


"Tidak ada, aku hanya ke sini. Aku ingin bicara dengan Mama sebentar," jawabku.


"Baiklah, ayo keluar. Sa, Mama keluar sebentar ya."


"Iya, Ma."


.


"Ada apa Blyss?" Tanya Mama setelah kami berdua duduk di sofa ruang tengah.


"Besok Han akan datang ke sini," jawabku. Kenapa malah jadi bingung begini.


"Ada acara apa?" Tanya Mama.


"Dia akan melamar ku," jawabku datar.


"Hah? Kau tidak bercanda,'kan?" Tanya Mama dengan mata sedikit melotot karena kaget.


"Tidak, aku tidak bercanda." Aku meyakinkan Mama dengan raut wajah yang sedikit tersenyum.


"Kenapa Hana tidak memberi tahuku dulu ya?" Mama terlihat sedang berpikir.


"Ini ide Han tadi pagi. Dia belum berbicara pada Mama atau Papanya. Aku ke sini untuk memberitahu Mama terlebih dahulu," jelasku. Ini dadakan, karena Han ingin aku tetap di sini. Entah bagaimana reaksi Kak Bryan dan Papa nanti.


"Baiklah, nanti malam Mama akan bicara pada Papa. Kamu beritahu Kakakmu ya..."


"Iya, Ma."


...


07:34 PM


Kakak dan Papaku belum juga datang, bahkan karena saking lamanya menunggu, aku, Kak Welsa, dan Mama makan malam duluan.


Aku tenang, tapi terkadang juga teringat mereka berdua. Mama? Dia masih seperti biasa, tetap tenang apapun yang terjadi. Kak Welsa? Dia sudah mondar-mandir seperti setrika di depan pintu.


Sidney aku yang gendong, jadi setiap melihat wajahnya aku berdoa agar Papa dan Kakeknya baik-baik saja. Namun, beberapa detik kemudian aku lupa dengan kekhawatiran ku.


Sebenarnya tidak perlu cemas, karena 10 menit kemudian kedua kepala keluarga itu kembali sambil bersenda gurau.


Benar-benar tidak bisa ditebak.


Selesai makan dan mandi, Papa bersama Mama sedang menemani cucunya, Sidney. Kak Welsa sedang melakukan perawatan wajahnya, ya, menurutku itu hal yang wajar.


Kak Welsa sudah tahu kalau aku akan bicara pada suaminya setelah dia selesai mandi dan makan. Jadi, dia sudah memberiku kesempatan itu.


Kak Bryan sedang duduk di ruang kerjanya, itu bersebelahan dengan kamar Sidney. Aku mengetuk pintu dan jawabnya, "Masuklah."


Aku masuk lalu duduk di sofa, tepat di depan meja yang sedang diduduki oleh Kakak.


"Biasanya kau enggan ke sini, ada apa?" Tanyanya sembari berdiri lalu berjalan menuju sofa.


"Besok Han ke sini untuk melamar ku, lusa aku akan mengambil berkas pemindahan kepemilikan atas Bank dan perangkatnya yang berada di Seoul," jawabku langsung pada intinya.


"Mendadak, tapi tidak apa. Itu juga ide ku," sahutnya. Ini berbeda dari yang aku pikirkan. Kukira dia akan mengoceh padaku sampai larut malam. Aku hanya mengangguk dan beranjak pergi. "Kapan pernikahannya?" Langkahku terhenti karena pertanyaan Kakak.


"Besok kita bicarakan bersama," singkatku lalu pergi dari ruangan itu.


"Pusing..." Rintihku sembari masuk ke dalam kamar Sidney.


Ruang kerja Kak Bryan terasa terlalu formal untukku, meski AC menyala, tetap terasa panas, berat dan sesak. Hampir saja aku muntah.


"Ma, aku nanti tidur di mana?" Tanyaku setelah aku berada di dalam.


"Tidur dengan Mama, Papa katanya akan tidur di sini untuk menemani Sidney," jawab Mama.


"Baiklah, aku duluan." Aku segera pergi dari sana lalu masuk ke kamar yang Mama tempati. Tepat di depan kamar Sidney.


Tanpa pikir panjang, aku segera merebahkan tubuhku dan terlelap. Hufft... Lelah, padahal tidak melakukan apapun.


TBC😅


Mohon dukungannya Readers😋