
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Good girl..."
...
"Han," panggilku pada Han yang sedang duduk di pinggir kasur, kami baru saja lepas landas sedangkan Han baru saja selesai mandi.
"Kenapa?" Tanyanya tanpa menoleh ke belakang.
"Apa saja yang kau lakukan tadi? Ada hubungannya dengan Nicols? Seharusnya jangan bertindak terlalu jauh. Lagi pula aku tidak apa-apa," ucapku.
"Sudah tidak penting lagi," ketusnya.
"Apa aku salah tanya ya?" Pikirku dalam hati setelah mendengar jawaban Han. "Hei, kau kenapa? Aku salah bicara ya? Maafkan aku, aku tidak sengaja," ujarku sembari duduk dari tidurku.
"Tidak," jawabnya dengan nada enggan lalu menarik kakiku hingga aku terbaring lagi.
"He-hei. Kenapa...?" Tanyaku setelah Han menindih tubuhku.
"Aku hanya tidak ingin membahasnya lagi," jawabnya lalu ******* bibirku dengan ganasnya.
"Han... Sa-sakit..." Han tidak memberi respon apapun terhadap aku yang berontak.
Aku sudah mulai kehabisan nafas, tapi Han belum juga melepaskan bibirku.
"Aku belum puas, nanti aku lanjutkan," sahutnya lalu berbaring di sebelahku.
"Tidurlah, kau terlihat lelah sekali," ucapku sambil bangun dari tidurku.
"Lalu kau mau kemana?" Tanyanya.
"Masak sebentar, aku lapar. Mau makan juga?" Tawarku pada kekasihku yang sedang berbaring itu.
"Baiklah. Kebetulan aku belum makan," jawabnya yang mengundang senyuman dariku.
"Akan aku bawakan kemari." Aku pergi dari ruangan nyaman itu menuju dapur pesawat.
.
.
"Han? Kukira sudah tertidur," ujarku sambil masuk ke dalam kamar itu dan membawa nampan yang berisikan makan siang untuk kami berdua.
Hanya ada mie instan dan telur di dapur, sepertinya Kakakku lupa mengisi ulang sosis dan pastanya. Tapi tidak heran juga, pesawat ini juga jarang dipakai, jadi kelengkapannya jadi berkurang.
"Tidak, setelah makan aku akan tidur," jawabnya lalu duduk di sofa panjang untuk makan.
Kami berdua mulai makan, terlihat sekali Han begitu kelaparan. Mungkin saja kalau Han tidak sarapan tadi pagi.
...
Selesai makan tadi Han langsung pergi tidur. Dia terlelap begitu cepat, sedangkan aku ikut tidur setelah membereskan bekas-bekas yang tadi kami gunakan untuk makan dan minum.
.....
Hari-hari berlalu, dan hari ini gaun pengantin sederhana sudah menghiasi tubuhku, sedangkan Han mengenakan jas yang elegan. Ini adalah pernikahan tertutup yang dihadiri oleh beberapa orang dalam dari keluarga masing-masing, tidak ada rekan bisnis dari Han maupun Kakakku. Hanya saja ketiga sahabat Han datang ke mari, Yura juga ada, tidak lupa Yugra dan Lexa.
Acaranya sudah selesai, sekarang hanya sekedar menyapa tamu yang akan pulang. Lagi pula hari sudah sore, aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Papaku, dari tadi matanya selalu berkaca-kaca. Aku ingin tertawa, tapi jadi tidak enak, karena Papa sedang menangisi aku.
Oke, tamu terakhir sudah pergi. Aku juga harus pergi.
"Han, aku ke toilet sebentar ya," ujarku pada Han yang duduk di sebelahku.
"Mau aku antar?" Tanyanya.
"Tidak perlu, lagipula di belakang masih ada orang yang bisa aku tanyakan," jawabku lalu pergi dari altar.
Ya, susah. Bagaimanapun juga, gaun tetap saja sulit dikondisikan saat ingin buang air. Tapi jika hanya digunakan, itu tidak masalah untukku yang sering berlari menggunakan gaun atau dress.
..
"Baiklah, waktunya kembali," gumamku sembari mengusap-usap gaunku untuk menghindari "ke-tidak-rapi-an" lalu keluar dari toilet.
Belum jauh dari kamar mandi, tiba-tiba sebuah jarum menusuk leherku dari belakang. Disusul dengan sebuah kain yang menutupi mulut dan hidungku, seketika kepalaku terasa sangat berat. Tidak bisa aku bohongi lagi, biusnya sudah masuk ke dalam tubuhku. Jika hanya membekap mulutku, masih bisa aku kelabui, tapi tidak dengan yang ini.
.....
Aku kembali terbangun pada ruang kosong dan hampa seperti sebelumnya saat aku bertemu dengan Blyss kecil dan remaja. Bahkan aku masih tetap mengenakan gaun pernikahan yang aku pakai.
"Blyss..." Panggilnya lembut dari belakangku.
Aku segera menoleh ke belakang dan menjawab, "Ada apa? Kenapa aku di sini? Bisa tidak aku kembali? Kapan aku bisa kembali?"
"Satu-satu," sahutnya dan aku langsung terdiam menunggunya melanjutkan perkataannya. Dia Blyss kecil. Sedikit menyebalkan namun biasanya punya pemikiran yang luas dan logis. "Kau ingin tetap di sini? Atau kembali pada duniamu?"
"Baiklah-baiklah. Sekarang ingat pesanku, jangan mengandalkan pertolongan dari orang lain. Ya sudah, sampai jumpa lagi kapan pun aku ingin," ujarnya lalu pergi menghilang.
"Baiklah..." Sahutku ragu sembari menatap tempat Blyss kecil berdiri yang sudah kosong karena gadis kecil itu sudah pergi menyatu dengan udara.
Belum ada apa pun yang terjadi. Aku mengingat kembali pesan dari Blyss kecil tadi. Dia bilang untuk jangan mengandalkan pertolongan dari orang. "Tadi dia bilang jangan mengandalkan pertolongan dari orang lain. Entah apa yang terjadi dengan tubuhku di alam sana. Astaga Mama...! Tidak-tidak Blyss.... Tahan. Kau tidak boleh menangis di sini." Aku mencoba untuk tidak menangis di tempat ini karena tidak ada bahu untuk bersender. Sebenarnya aku adalah salah satu dari perempuan manja.
Tak lama kemudian tubuhku melayang-layang di tempat hampa itu, lalu terjatuh dengan sangat keras. Pelan-pelan aku membuka mataku, perlahan juga aku mulai merasakan sakit di sekujur tubuhku. Ini dia, aku sudah kembali ke tubuh kasar ku.
Namun tidak tahu apa saja yang sudah terjadi. Dan berapa lama aku seperti ini. Bahkan untuk menoleh ke kanan dan ke kiri sangat susah karena leherku nyeri.
Tangan terborgol ke atas, seluruh tubuh nyeri, seharusnya yang terjadi adalah penganiayaan. Ruangan ini begitu gelap, dingin dan hampa. Bibirku juga serasa berdarah. Ya, rasa-rasa besi ketika aku menjulurkan lidah untuk memeriksa luar bibir.
"Aku... Ingin duduk...." Gumamku sembari berusaha bernafas dengan normal.
..
5 menit kira-kira sudah berlalu, suara pintu berderit menandakan bahwa seseorang telah memasuki ruangan ini.
"Hai Blyss!!" Dia menyapa dengan seluruh keceriaan yang dia punya. Aku hanya menelan ludahku dan tidak menjawab apapun, lagi pula bibirku susah digerakkan. "Tak aku sangka kita bertemu lagi," sambung lalu menyalakan lampu ruangan itu.
Dan tadaaa!!!
Itu perempuan yang datang ke rumah Han waktu lalu. Tidak kuduga dendamnya masih di dalam dirinya.
Plak!!!
Tamparan keras itu mengenai pipiku, dengan sekuat tenaga aku menahan agar tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Kata Papa, bermain dengan orang yang suka menyiksa atau menganiaya, satu hal kuncinya yaitu jangan mengeluarkan suara. Karena suara akan memicu kesukaan orang tersebut untuk tetap memberikan luka.
Sialan. Perempuan ini bermain denganku. Baiklah aku akan bersabar untuknya. Aku ingin tahu sekutunya. Biar aku tebak, Nicols...? Ya mungkin.
"Kau mau apa?" Singkatku sembari mengangkat pandangan ku untuk menatap tepat pada matanya. 3 kata itu saja sudah menguras energi yang aku punya saat ini. Aishh!! Entah sejak kapan aku di sini.
"Baguslah kau bertanya. Apalagi kalau bukan Han. Miliader itu... Harus aku dapatkan. Dan aku miliki...." Ujarnya dengan lirih dan terlihat bibirnya tersenyum. "Sedangkan kau? Tiba-tiba datang, kau pikir aku rela? Hello... Tidak akan," sambungnya.
"Maaf mengganggu hubungan kalian," singkatku.
"Maaf darimu itu benar-benar tidak berguna," jawabnya sambil menjambak rambutku dengan sangat keras menariknya ke atas.
"Ssssttttt......" Tanpa sadar aku mengeluarkan suara itu.
"Kalau sakit, keluarkan saja Blyss... Jangan menyiksa dirimu sendiri..." Ujarnya sambil menarik rambutku lebih kencang lagi.
Meski kesakitan, hal yang harus tetap aku lakukan adalah tetap diam dan tidak mengeluarkan teriakan. Satu hal lagi yang harus dia tahu, bahwa tanganku yang berkeringat sudah lepas dari borgol tembok ini. Ilmu dari Papa sepenuhnya berguna, hanya saja kadang sedikit disgusted
Ajaran dari Papa memang berguna. "Sudah?" Tanyaku sembari mendorongnya hingga terhantuk dinding dingin ruangan ini. "Sekarang keinginanku adalah membunuhmu, tapi tahan dulu. Siapa rekanmu?" Tanyaku. Perempuan itu sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Dahinya sudah mulai basah, lehernya yang aku pegang sekarang juga terasa lembab.
"Kau, kau tidak punya hak untuk tahu tentang itu!" Ujarnya dengan tergesa-gesa.
"Relaks girl. Pelan-pelan saja bicaranya. Jika tidak mau mengaku, kau akan pergi ke neraka sendiri. Setidaknya dengan mengaku aku akan melepaskan dirimu. Atau, pergi ke neraka bersama dengan rekanmu. Ya, tergantung mood ku saat itu saja." Apa aku sudah seperti seorang Mama yang sedang memberi petuah kepada seorang anak?
"Kau jal*ng rendah! Kau tidak bisa membunuhku dalam situasi apapun!" Pekiknya sembari mencubit tanganku yang berada pada lehernya.
"Itu tidak terlalu mempan," sahutku lalu membantingnya ke arah tembok. Mata perempuan itu tertutup, masa bodoh tentang mati atau tidak. Yang penting adalah aku harus pergi dari sini.
Apa memungkinkan? Badanku masih sakit dan kakiku memiliki banyak sekali lebam.
Tetap saja harus pergi, aku mengambil kemeja yang dikenakan oleh perempuan tadi lalu aku memakai kemeja tersebut. Saat aku membuka mataku, aku hanya mengenakan celana pendek dan tank top.
Aku kabur melalui jendela belakang, di depan ada dua orang penjaga. Bersetan dengan dua penjaga itu sama saja dengan cari mati, khususnya untukku. Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berusaha menjauh dari gudang itu.
Han. Bagaimana caranya agar aku bisa menghubunginya. Hari semakin gelap, aku belum menemukan tempat untuk berteduh. Aku juga tidak tahu di mana aku berada. Baiklah, lupakan Han, Kakak. Ah bukan, Forten aku ingat nomornya. Tapi tidak juga, tidak enak mengganggunya, tapi apa salahnya jika aku menemukan telepon jalanan. Sayangnya aku tidak bawa uang sepeser pun. Sialan.
Aku berjalan sambil ribut dengan diri sendiri serta menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Peristiwa ini, aku harap tidak akan terjadi lagi. Air mataku mulai terbendung, memang sedikit bajingan di saat seperti ini malah membayangkan bahwa aku akan mati di jalanan. "Entah badanku memang demam atau hanya perasaanku saja," gumamku sembari menempelkan punggung tanganku pada leher dan dahi.
Aku berjalan menyusuri jalan aspal, terlihat seseorang sedang berjalan menuju ke arahku. "Akhirnya aku menemukan mu," ujarnya setelah berdiri di depanku.
Plak!
"Ehh?! Apa-apaan ini?!" Pekiknya sembari memegang pipinya yang mulai merah karena aku tampar.
"Tidak, aku hanya mengira aku sedang berhalusinasi," jawabku dengan wajah tanpa dosa. "Bagaimana kau bisa menemukan ku?"
"Ceritanya panjang, sekarang pulang dulu. Semuanya cemas padamu," jawabnya beranjak menggendong ku.
Gelap. Pandangan ku seketika gelap. "Blyss?! Ck!"
Han, dia berhasil menemukan ku. Entah bagaimana caranya, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri agar tidak kehilangan kesadaran. Pusing sekali, dan terasa sangat dingin. Lalu berakhir dengan kehilangan kesadaran.
TBC😅
Mohon dukungannya Readers😋