
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Aku ingin melupakan yang terjadi tadi," ucapku memandangnya sebentar dan melihat senyum tipisnya lalu segera menunduk sambil meneteskan air mata. Tiba-tiba kepalaku sakit sekali, pertama kalinya aku merasakan yang sesakit ini. Saat aku mencoba menatap ke depan, sepertinya aku terlambat semuanya sudah mulai gelap.
.........
Di mana ini?
Aku tidak tahu di mana aku terbangun, tempatnya putih dan hampa.
'Apa sekarang aku akan menuju neraka atau surga? Yang benar saja. Ya tuhan. Setidaknya biarkan aku ikut sekolah minggu besok, minggu lalu aku tidak terlalu fokus berdoa karena terganggu anak-anak yang makan coklat,' aku tetap berdiri dan melihat ke sekitar tempat itu, tapi sejauh mata memandang aku benar-benar tidak menemukan apapun.
'Kakiku masih menginjak, berarti masih bisa duduk,' pikirku lalu duduk, lumayan, apa kira-kira yang akan terjadi.
"Mau katakan sesuatu?"
'Sial aku kaget.' Pikirku sambil berdiri dan melihat sekitar. 'Ada orang? Kalimat itu baru saja diucapkan oleh Han, masa' iya dia di sini? Sembunyi dimana?'
"Mau katakan sesuatu?" Seseorang baru saja mengatakan sesuatu, namun sosoknya benar-benar tidak ada.
'Baiklah aku mulai takut sekarang.'
"Han!!" Teriak seorang anak perempuan di belakangku, saat aku lihat kebelakang yang kulihat adalah aku kecil. Meski aku tidak ingat secara keseluruhan kehidupan kecilku, tapi aku masih ingat bahwa anak itu adalah aku, kira-kira ketika umur 13 tahun.
'Untuk apa aku memanggil Han waktu itu?' Pikirku sambil memperhatikan anak perempuan itu yang sedang tersenyum senang. 'Tunggu. Apa? Han? Berapa umurku saat itu? Dan itu? Itu Han?'
"Tidak perlu berteriak bocah," jawab Han remaja.
Han memang ketus sejak dini, tapi apa urusanku memanggilnya duluan?
"Aku sudah besar tahu," kata Blyss kecil dengan berlagak imut, mari kita anggap kecil.
'Itu aku? Centil sekali. Aku jadi kasihan pada diriku yang dulu, sudah cari perhatian tapi Han tidak memberi respon apapun.'
Han tidak memberi respon apapun kepada Blyss, bahkan sepertinya Blyss kecil benar-benar mengagumi Han.
"Oh ya, ingat ucapanku. Jangan panggil aku Han, aku lebih tua darimu, jaga sikapmu sebelum kau kuusir dari rumahku," tegas Han kepada Blyss.
'Kapan aku tinggal dengan Han?'
"Iya-iya," jawab Blyss dengan cemberut.
'Padahal tadi senyumnya sudah cantik dan manis.'
"Kau mau kemana? Aku boleh ikut tidak?"
"Ck. Baiklah. Aku mau bertemu sepupuku," jawab Han pada Blyss sambil berlari dan menembus aku yang sedang berdiri di depan mereka.
'Sepertinya aku terlalu fokus kepada mereka berdua sampai aku tidak sadar kalau tempat hampa ini sudah berubah menjadi halaman belakang rumah,' pikirku sambil memegang kepala dan mengikuti mereka berdua.
"Apa dia sudah datang?"
"Sudah. Itu mobilnya. Ayo masuk kedalam rumah," jawab Han sambil menunjuk ke sebuah mobil hitam di depan gerbang.
"Kita bisa bermain dengannya atau tidak?" Tanya Blyss kecil.
'Lama-lama ini memalukan juga.'
"Aku tidak terlalu akrab dengannya, jadi aku tidak tahu itu," jawab Han.
Blyst kecil, aku dan Han remaja masuk ke dalam rumah yang bisa di bilang mewah dan luas lalu duduk di sofa saat ada orang yang ramai.
'Sepertinya ada kumpul keluarga, tapi kenapa ada aku di sana?' Di sana ada orang tuanya Han dan mungkin yang sepasang lagi orang tua dari sepupu Han.
"Yang masih berdiri itu adalah sepupuku. Namanya Clay Allios dia seumuran denganku. Orang tuanya adalah orang yang sudah duduk di sofa yang dia pegang," jelas Han sambil berbisik-bisik ke Blyss
"Kenapa kau menjelaskannya? Aku,'kan bisa bertanya padanya," tanya Blyss sambil menoleh ke atas untuk melihat wajah Han.
"Aku hanya ingin menjelaskannya," jawab Han sambil berjalan menuju sofa.
"Han-ssi! Tunggu aku," rengek Blyss sambil mengikuti Han dari belakang.
Ini di Busan? Tapi terlihat berbeda dengan yang kuingat?
"Halo Clay," sapa Han sambil duduk di sofa, aku kecil hanya mengikuti Han.
"Hai," ucap anak yang di sapa Clay oleh Han. "Siapa dia?" Tanya Clay saat melihatku duduk di samping Han.
"Blyss, Bryan hyung deongsaengie."
"Ah~~" Blyss hanya tersenyum saat bertatapan dengan Clay.
'Ada yang aneh, Clay. Dia polisi yang mendata kasus Han waktu itu? Itu benar dia? Wow, ini benar-benar kejutan. Pantas saja wajahnya seperti tidak asing. Tapi kenapa Clay seperti tidak suka padaku saat itu? Atau hanya perasaanku saja? Tapi sepertinya Han juga merasakan hal yang sama. Dia terus memandang Clay.'
Blyss kecil tidak terlalu mengerti tentang itu sepertinya.
"Anak-anak. Kalian main di luar dulu ya.. kami mau membiacarakan hal membosankan dulu, kalian pasti lebih baik bermain di luar," ucap Mama Hana.
"Iya ma," jawab Han sambil berdiri, aku dan Clay hanya mengikuti Han tanpa memberikan respon apapun.
'Sekarang aku harus diam di mana? Tetap diam di ruangan ini sambil menguping pembicaraan ini? Atau mengikuti ketiga anak itu? Ck. Mari ikuti anak-anak itu. Lagipula orang tuaku tidak ada di sini.'
Sampai di luar, mereka bertiga duduk di pinggir danau dan Han membuka pembicaraan.
"Clay aku akan bawa makanan dan minuman kesini, tunggu saja di sini," ucap Han sambil berdiri.
"Aku ingin ikut," ucap Blyss kepada Han.
Hem...?
"Sudah berapa lama kau di sini?" Tanya Clay saat Han sudah pergi.
"Aku baru di sini dari kemarin," jawab Blyss kecil sambil nyengir.
"Kau pindah dari mana?" Tanyanya lagi.
"Tokyo.."
"Oh~" Clay mengangguk. "Kau tahu pernah dengar tidak soal cerita orang yang membuang banyak koin emas ke dalam danau ini?" Tanya Clay.
'Ternyata dia memang benar-benar pernah tidak suka padaku.'
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu, aku baru mendengarnya, lagipula aku baru di tempat ini," jawab Blyss dengan senang.
Aku jadi tidak yakin dengan umur 13 tahun, dia lebih polos dari anak Taman Kanak-Kanak. Entah namanya polos atau bodoh.
[Author POV : Salah bikin sifat tokoh dah nih🙂]
"Mau bantu aku mencarinya?" Tanya Clay.
"Tentu saja," jawab Blyss kecil dengan senang hati. "Bagaimana caranya? Aku tidak bisa berenang untuk ke sana."
"Kau tinggal lihat dari atas, aku yang akan turun ke danau, mengerti?"
"Aku mengerti," jawab Blyss lalu mulai mendekat kebibir danau dan melihat-lihat dari sana.
Aku hanya memperhatikan gerakan dari mereka berdua aku juga melihat Han datang dari kejauhan sambil membawa nampan beserta isinya.
'Han ternyata sudah mengenalku dari hari pertama aku pindah ke Korea Selatan, pasti di sini aku akan tenggelam,' pikirku sambil memperhatikan Han sedang melihat Blyss dan Clay.
Aku kembali memperhatikan Clay yang sudah mendorong Blyss ke dalam danau, Han berlari melewatiku, aku menoleh ke belakang dan mendapati nampan serta isinya sudah berserakan di atas tanah.
'Blyss bahkan tidak berteriak sama sekali? Mulutnya pasti sudah di penuhi air,' tebakku sambil melipat tanganku di dada.
Setelah Han menyelam ke danau, barulah aku mulai mendekat kearah danau itu dan memperhatikan gerak-gerik Clay. Clay memandangi Han yang ada di dalam danau dengan tatapan kosong, aku tidak begitu yakin dengan anak ini, entah dia benar-benar sehat atau tidak. Tapi setelah Han berhasil membawa Blyss naik ketepi danau, Clay segera berlari ke arah mobilnya dan masuk ke dalam yang parkir di luar gerbang rumah Han.
'Aku yakin mentalnya tidak benar,' pikirku sambil melihatnya dengan seksama. Sedangkan Han sudah menggendong Blyss menuju rumah di sebelah rumahnya Han (tempat orang tua sekarang sedang "membicarakan hal membosankan" adalah rumah Han).
Aku segera mengikuti Han dan Blyss yang sudah sampai di depan pintu.
'Aku ingat tempat ini. Ini panti asuhan tempatku di titipkan,' ucapku sambil melihat-lihat tempat yang asri ini.
"Nak Han?! Ini Blyss kenapa?! Ayo-ayo bawa ke dalam," ucap seorang perempuan yang lumayan muda dari dalam panti.
'Bibi?' Yang kulihat adalah Bibi yang bekerja di rumah Han, hanya saja lebih muda dari yang kutemui di rumah Han.
(Aku dari tadi sebenarnya ingin berbicara, tapi mulutku seperti tidak bisa terbuka, "mungkin" ada hubungannya dengan aku sedang tidak sadarkan diri di alam nyata.)
Bibi ke dalam mengikuti Han dan aku mengikuti bibi dari belakang, kami semua masuk kesalah satu kamar yang ada di sana. Setelah Han meletakan Blyss dia segera membuka laci untuk mengambil obat yang bisa di hirup dan meletakannya dimeja lalu keluar dari kamar itu, sedangkan bibi pergi keluar.
Aku mengikuti Han keluar, sepertinya dia tahu sesuatu tentang Clay dan aku juga tidak terlalu peduli tentang Blyss kecil yang sedang tidak sadarkan diri. Aku lebih penasaran tentang Han dan Clay.
'Tempat ini lumayan luas untuk anak seukuranku, tadi Han bilang akan mengusirku, berarti aku tidak tinggal di sini, padahal lebih baik aku berada di sini dari pada di rumah Han. Tapi sudahlah, aku tidak tahu akar dari semuanya,' pikirku setelah keluar dari kamar tadi, lalu segera mengikuti Han.
'Telepon rumah? Han pasti tahu sesuatu.'
Han menghampiri telepon rumah, menekan tombol lalu berbicara melalui telepon. Aku tidak terlihat oleh mereka semua di sini, jadi untuk apa tidak menguping. Yang kudengar, nama dari orang di seberang telepon adalah Kelvin. Dari tempat telepon rumah ini aku tidak bisa melihat bibi sudah di kamar tadi atau belum.
"Halo, ini benar Kelvin?"
"Iya benar, ada apa Han?"
"Saya mau tanya sesuatu soal Clay-"
"Biar saya tebak, kau mau tanya soal gangguan mentalnya?"
"Tidak sopan. Tapi itu benar, beruntung juga kau memotongnya tadi, saya bingung merangkai kata-kata untuk menanyakan itu."
"Itu saya. Soal gangguan mental Clay, yang saya tau hanya dia melewatkan terapinya bulan ini."
"Bagaimana bisa?"
"Dia pura-pura normal di hadapan kedua orang tuanya, meski itu gangguannya tinggal sedikit tapi gangguannya bisa saja kembali jika tidak terapi tepat waktu. Dia berhasil lolos bulan ini, jika kau lihat sendiri akting Clay didepan orang tuanya, saya yakin kaupun tidak percaya kalau Clay masih sakit."
"Apa gangguan itu bisa hilang sendirinya?"
"Tentu, hanya saja dia tidak akan ingat apa yang dia lakukan saat sedang mengalami gangguan, itu yang biasanya terjadi."
"Oh baiklah, maaf mengganggu waktumu."
"Kau memantaunya, kenapa tidak pindah ke sini saja?"
"Tidak terima kasih, itu bukan hal yang bagus."
"Terserah padamu. Kau bertanya seperti itu, jangan-jangan Clay berbuat sesuatu?"
"Iya benar, yasudah, teleponnya saya tutup."
"Baiklah."
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁