LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Berkas



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


05:00 AM


Aku terbangun dari tidurku tentunya, aku melihat Viana sedang mengucek-ngucek matanya.


"Kalau kau masih ingin tidur, tidurlah dulu." Ucapku sambil mencoba duduk.


"Bagus, aku akan tidur lagi. Kau tidak masalah,'kan menungguku sampai bangun?" Tanya Viana.


"Iya, tidurlah." Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Kau mau kemana?"


"Aku mandi duluan."


.........


"Sudah puas kau tidur?" Tanyaku pada Viana yang baru sampai di meja makan.


"Sangat bagus." Jawabnya tersenyum bangga lalu duduk.


Kami berdua sarapan, setelah sarapan aku ikut Viana menuju ke markasnya. Di mobil aku menelpon Han.


^^^Halo^^^


Iya. Kenapa?


^^^Kau tunggu di rumah, aku yang mengambil file bukti sidik jarinya ke rumah Viana.^^^


Kau sudah di jalan?


^^^Iya.^^^


Ck. Baiklah.


Penutupan dengan nada kesal dari Han.


"Han marah?" Tanya Viana sambil tersenyum.


"Iya sepertinya." Jawabku sambil memasukkan hp ke dalam tas.


"Dia perhatian sekali."


'Perhatian?' Baiklah, aku bingung. "Apanya? Siapa?" Tanyaku pada Viana yang tetap menyetir.


"Han, dia sepertinya kesal kau tidak bersamanya." Jawab Viana sambil menatapku sekilas.


"Itu karena Mamanya."


"Hah?"


"Iya Mamanya. Aku tidak tau kenapa, Mamanya Han sayang sekali padaku. Kata Han, jika aku ada masalah Han harus ikut menyelesaikan masalah itu."


"Bagaimana ceritanya kalau Han yang punya masalah seperti sekarang?" Tanya Viana menatapku sekilas lagi lalu kembali menyetir, pertanyaannya itu membuatku geli.


"Entahlah~ kurasa saat ini aku membantunya karena kemauanku sendiri, aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan sekarang saat aku membantu Han. Aku tidak merasa terpaksa, tapi aku juga tidak merasa senang."


"Semangatlah." Ucap Viana.Aku hanya berdehem mengiyakan, kami berdua hening.


"Hening sekali." Ucap Viana saat kami sudah lumayan dekat dengan markas keluarga Ferwin.


"Aku sedang mengantuk."


"Kenapa tidak tidur tadi?"


"Tidur di sampingmu yang sedang membuka mata? Tidak terima kasih."


"Rahangku rasanya kaku karena tidak bicara. Setelah dari sini mau kuantar kemana?" Tanya Viana.


"Hem. Ke rumah Han."


"Baiklah."


"Kalau sibuk, lebih baik jangan antar. Naik taksi saja bisa." Ucapku sambil memperhatikan Viana.


"Tidak terima kasih."


"Terserah kau saja."


Setelah di depan rumah Viana ada penjagaan yang lumayan ketat, karena informasi bocor tentang aku yang akan mengambil berkas itu ke rumah Viana. Setelah melewati halaman rumah dan rumah Viana, kami menuju tempat sebenarnya yang ada di belakang rumah a.k.a gerbang raksasa itu. Gedung dengan dua lantai, aku dan Viana berjalan menuju gedung ketiga. Setelah sampai, aku melihat tempat penggunaan alat penyelidik itu.


'Entahlah, tapi aku mendadak terkena gas tertawa.'


Jika perumahan untuk World Shadow lebih banyak menggunakan ruang bawah tanah, jadi kita tidak akan tahu seberapa jauh sebuah organisasi ini membuat lahan di bawah tanah.


Di dalam gedung ini ada tempat khusus berbentuk kotak yang terbuat dari kaca, di sanalah tempat 3 orang dengan pakaian tertutup mengerjakan sesuatu.


"Kaca ini tahan peluru?" Tanyaku pada Viana sambil menyentuh kacanya.


"Iya, di sini tempat berkas itu bermula." Jawab Viana.


"Ah~ I see."


"Viana sakit."


"Hahahaha."


Aku masuk keruangan itu, ee maksudku kotak kaca itu. 'Wahh, di sini dingin.' Setelah mengambil berkasnya, aku membukanya di luar "kotak" untuk mengecek nama penerimanya lalu menandatangi bukti pengambilan.


"Kuantar sekarang ya?" Tawar Viana.


"Iya boleh."


"Bukannya aku tidak senang kau lama-lama di sini, tapi aku akan pergi nanti. Kau tidak akan punya teman di sini nanti, aku tidak bisa bayangkan jika seorang Blyss sedang gabut." Ucap Viana dengan nada mengejek sambil masuk ke mobil dan aku mengikutinya.


"Heh."


Di jalan kalian bisa bayangkan apa yang terjadi. Bayangkan dua orang sahabat bertemu dan punya waktu untuk berdua, bisa bayangkan bagaimana keributannya.


"Terima kasih banyak Vi. Semangatlah saat bekerja. Berhenti jadi orang lalay." Nasehatku saat kami berdua sampai di depan gerbang rumah Han.


"Iya-iya. Kau juga, jangan terlalu santai." Ujar Viana dan aku yang sedang membuka pintu mobil.


"Hati-hati!" Ucapku agak berteriak.


"Iya baiklah!" Sahut Viana yang juga sama, agak berteriak.


Aku membuka gerbang, masuk kedalam rumah, menutupnya kembali, berjalan menuju pintu utama rumah Han dan menemukan orang yang kucari sedang duduk di bangku halaman rumahnya.


"Santai sekali kau." Ucapku menghampiri Han.


"Aku tidak santai hanya duduk. Duduk lah."


"Tidak terima kasih. Si berkas ini harus aman, apa kau yakin tempat ini sudah cukup aman untuk mengeluarkan berkas yang mudah pecah ini?"


"Keluarkan saja." Ujar Han ringan.


Baru saja aku keluarkan berkas itu dengan cepat ada orang yang menyambarnya dari atas, menurutku dia datang dari atap.


"Dapat." Ucap orang yang baru saja merebut berkas itu dari tanganku.


'Berkas sialan ini mengundang seseorang seperti yang aku pikirkan.' Pikirku setelah mendekat ke arah Han.Yang diincar adalah alamat dari berkas itu, alamat lengkap markas keluarga Ferwin ada di sana.


"Kembalikan berkas itu atau kau berakhir ditempat ini?" Kata Johand.


'Kenapa dia malah tawar menawar.'


"Sial*n! Kenapa kau malah tawar menawar?" Bisikku pada Han.


"Aku ini anak baik."


'Seriusly dude?!' With rolling eyes.


"Jawab bodoh!" Bentak Han.


"Sepertinya bermain dengan dua manusia di sini cukup menyenangkan." Jawab pria itu dengan nada mengejek.


'Aku pikir aku bukan manusia.'


"Baiklah-baiklah! Dasar kutu." Ucapku melepas tasku.


"Yakin mau menyerang tanpa senjata?" Tanya Han sambil berbisik padaku.


"Aku hanya umpan." Jawabku.


"Aku lupa. Baiklah."


Jika berdua, aku dan rekan pasti melakukan hal ini. Aku sebagai umpan dan rekanku akan menyerang, umpan memang beresiko. Tapi aku suka. Aku akan mengalihkan perhatian dari lelaki tak sopan itu, lalu Han akan menyerang di daerah yang benar. Agar menghemat energi, mama yang menyarankan aku jadi umpan.


Untungnya belum ada yang tahu sistemku kecuali mantan-mantan rekanku, jadi berkasnya bisa diselamatkan. Aku ataupun Han tidak tahu siapa laki-laki yang datang menerobos ini, informasi yang kudapat adalah dia bagian dari salah satu keluarga Symon. Keluarga yang jadi tersangka jadi dalang dari pembunuhan Kenny Wildson, dia selamat karena tidak ada bukti.


Han sebenarnya sudah mau membunuhnya, tapi aku tahan agar tangan Han tidak kotor. Mengingat dia masih menjadi tersangka kasus korupsi yang membosankan itu.


Ini bodoh, benar-benar bodoh. Bagaimana bisa polisi bisa percaya ini begitu saja tanpa adanya bukti. Tapi apa yang bisa dilakukan kalau sudah si Tua Hoke yang bicara pertama kali soal kasus ini.


Suka bayar~


"Cih. Rumahmu tidak sepenuhnya aman Han, hahaha." Ledekku sambil mengambil tasku dan kembali menggendongnya.


"Aku saja tidak tahu bisa ada kuman di sini. Tapi, kau benar-benar hebat dalam menjadi umpan." Ucap Han.


"Ini pilihan dari Mama." Jawabku.


"Dia khawatir bahkan sampai berlebihan padamu, tapi kenapa dia menyarankanmu jadi umpan? Aku saja tidak akan mau jadi umpan."


"Mamaku tidak sepenuhnya khawatir padaku."


"Tapi bukankah itu keterlaluan?" Tanya Han kurang percaya padaku.


"Tidak juga, aku menyukainya." Jawabku.


...***...


TBC. Mohon dukungannya readers 😁