
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Setelah selesai makan, aku membereskan semua
yang ada di meja sambil berpikir 'jika Han makan sendiri, apa dia yang akan membereskan ini sendiri?' Entahlah, aku jadi iba, padahal yang seharusnya iba adalah Han kepadaku. Bukan aku kepada Han si anak syalan itu.
Setelah selesai membereskan meja makan, aku mengisi satu gelas dengan air galon. Ya.. di sana ada air galon, aku tidak terlalu suka minuman dingin setelah makan, selesai minum aku kembalikan gelas di tempatnya.
"Kenapa?" Tanya Han memandangku setelah aku duduk di sebelahnya sambil menghela nafas.
"Tidak," jawabku memandangnya sebentar lalu duduk lebih santai.
"Jadi begini Blyss jika habis makan, ketusnya hilang entah kemana," ucap Han dengan nada mengejek.
"Bukan Han, aku hanya lelah.."
"Nada bicaranya juga jadi pelan, tidak ketus seperti biasanya. Hahahh!" Ejeknya lagi.
"Ck. Terserahlah," sudahlah, terserah dia saja. Sepertinya dia akan tetap menjengkelkan.
"Hemm iya-iya," ucap Han. "Aku masih penasaran dengan apa yang kau alami saat sedang tidak sadar tadi," sambungnya.
"Oh itu. Aku hanya dibawa ke alam lain. Lebih tepatnya otakku sedang mulai mengingat masa laluku," jawabku santai. Sebenarnya, aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Ah benar juga, aku ingat sekarang. Aku sempat mengatakan sesuatu padamu sebelum kau hilang kesadaran," Han ingat kalau dia mengatakan sesuatu sebelum aku kehilangan kesadaran.
"Jadi? Bagaimana Clay bisa sembuh?" Tanyaku serius kepada Han.
"Ya.. aku mengawasinya selama beberapa bulan sampai dia sembuh," jawab Han, terlihat sangat tulus tapi ada sedikit rasa tertekan.
"Kelvin itu siapa?" Tanyaku lagi.
"Dia tetangga sekaligus teman dekat dari Clay saat itu, sekarang aku sudah tidak tahu dia tinggal dimana. Mungkin Clay masih berkomunikasi dengannya," jelasnya. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan.
"Dan Clay juga mengenalkannya padaku. Dan juga, Clay tahu betul kalau dia sedang sakit, maksudnya ada masalah dengan dirinya. Jadi, untuk berjaga-jaga dia mengenalkan Clay padaku," sambungnya dan kami berdua hanya saling tatap sebentar, lalu aku memalingkan wajahku dan menatap ke depan. "Apa kau ada rencana setelah pulang dari sini?" tanya Han.
"Mungkin aku akan pergi ke markas Forten dulu untuk mengurus alat transportasinya," jawabku. Han hanya menghela nafas setelah mendengarnya, aku tidak tahu kenapa. "Ada apa?" Tanyaku.
"Aku ikut.." ucapnya pelan.
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin ikut," jawabnya tiba-tiba ketus. Aku hanya menaikkan alisku sebentar.
"Baiklah.." jawabku tidak yakin. "Tapi... Apa kau cemburu..?" Tanyaku sambil tersenyum menatap Han.
"Memangnya kenapa kalau iya?" Tanya Han lalu menaikkanku di atas pangkuannya. Seketika suhu tubuhku benar-benar tidak karuan lagi, aku tidak tahu dia bisa seperti ini, sebenarnya aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini, tapi tidak dari Han.
"Tidak apa... Hanya saja sekarang aku sedikit tidak nyaman," jawabku.
"Tchh," Han tersenyum tipis melihat ke arahku, aku tidak ingin menatapnya, tadi tangan Han memaksaku untuk menatapnya. "Aku baru sadar kalau suhu tubuhmu ternyata cepat berubah," ledek Han.
"Hentikanlah. Dan turunkan aku sekarang," aku mulai jengkel, dia benar-benar membuatku malu. Dan, aku juga tidak tahu kenapa aku malu.
"Tidak sekarang Nona," ucap Han sambil menatapku dengan senyuman khasnya. "Ternyata sampai sekarang aku tetap nyaman dengan tubuhmu," sambungnya lalu satu kecupan mendarat di bibirku. Aku..? Entahlah, aku hanya diam saja. Setelah kecupan itu, Han menurunkanku dari pangkuannya. "Bicara soal rencana. Bagaimana rencanamu pergi dengan Yura?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Ya.. aku harus menunggu waktu luangnya," jawabku sambil mencoba tetap tenang, Yura pasti akan sibuk mengurusi jejak-jejak yang dibuat oleh Ayahnya. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin muntah, apalagi aku berada di posisi Yura.
"Kau yakin akan pergi dengannya?" Han benar-benar tidak setuju dengan keputusanku akan pergi bersama Yura, tapi Han tidak memperlihatkannya secara blak-blakan.
"Tentu."
"Kalau aku ikut.." ucap Han menggantungkan ucapannya.
"Tidak akan aku biarkan bodoh!" Gumamku dalam diam, dia benar-benar akan jadi perusak jika ikut denganku.
"Akan aneh kelihatannya," namun sepertinya dia sadar.
Nah itu pintar. Benar, itu akan terlihat aneh.
"Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah pada Yura," sahutku, aku sudah percaya penuh terhadap Yura. Itu karena aku tahu bahkan saat masih berada di Tokyo, dan aku juga sudah tahu kalau semuanya itu ide dari Ayahnya.
"Baiklah, bahkan itu belum tentu kapan," Han mulai tenang, mengingat rencana itu belum ditetapkan.
"Lihat. Kau bahkan lebih buruk dari Mamaku sendiri," ejekku sambil nyengir.
"Tidak apa," jawabnya dan memperlihatkan wajah sombongnya.
"Kenapa orang tuamu belum sampai juga?" Aku teringat, kami berdua sudah selesai makan dari tadi.
"Iya juga, aku jadi lama di rumah. Aku pergi saja ya."
Jangan bodoh.
"Itu bukan ide yang bagus, jangan sekarang."
"Ya.. tapi urusanku banyak," keluh Han sambil menatapku.
"Nanti akan aku bantu menyelesaikannya. Jadi diam di sini sampai orang tuamu datang," sahutku cepat, aku tidak ingin kehilangan topik saat mengobrol dengan Mama Hana nanti.
"Memangnya kapan kau mau membantuku?" Tanyanya.
"Setelah orang tuamu datang," jawabku, itu pertanyaan yang tidak penting menurutku.
"Kau tidak akan diberi izin untuk pergi," ucap Han.
"Tidak akan, tenang saja. Nanti aku sendiri yang akan bertanya," ujarku dengan yakin.
"Boleh juga. Mau bertaruh? Jika kau diizinkan untuk pergi, maka aku akan menuruti semua keinginanmu," Han memberi ide yang kedengarannya tidak bagus di telingaku.
"Bagaimana kalau aku tidak diizinkan untuk pergi??" Tanyaku.
"Itu urusan nanti. Nanti kalau sudah tentu, baru aku akan memberi tahumu," jawab Han tidak ingin memberitahuku terlebih dahulu.
"Baiklah. Aku terima tantanganmu," jawabku yakin, karena aku memang yakin akan dapat izin. Mama Hana tidak akan menolakku, kamu sudah seperti sahabat sejati.
"Bagus," Han terlihat sangat senang karena aku menyetujui tantangannya.
"Aku harap kau tidak aneh-aneh," ucapku, aku sedikit takut dengan Han sekarang, seharusnya aku tidak menyetujuinya tadi.
"Tidak apa, mau kalah atau menang. Tantanganku akan tetap kau terima, sebagai balas budi karena aku sudah setuju membebaskan Yura tempo lalu," ucap Han membuat nafasku tercekat.
"Sudah aku katakan, jangan aneh-aneh," ucapku menatapnya.
"Aku tidak macam-macam," jawabnya santai.
Tiba-tiba aku teringat dengan sesuatu. "Han. Tasku dimana?" Tanyaku dengan nada serius.
"Di sebelah kamar yang tadi," jawabnya santai.
"Selama dokter memeriksamu aku membereskan koper dan tasmu, tapi untung saja pakaianmu belum kumasukkan ke dalam lemari," sambungnya.
Aku merasa geli tiba-tiba. "Isi tasnya bagaimana?"
"Laptop dan hpmu sedang di charger sekarang."
"Yang lainnya masih di dalam tas."
"Baiklah," ucapku senang.
"Hem."
Kami berdua hening, aku lelah dan tidak ada topik lagi. Beberapa menit kemudian, datanglah kedua orang tua Han.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁