
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Viana dan Forten mulai sibuk dengan para tamu undangan, saat itu pula Han merangkul pundakku untuk menjauh dari kedua mempelai itu.
"Kau bicara apa pada Forten?" Tanya Han menatapku.
"Tidak ada," jawabku apa adanya.
"Tadi?"
"Aku hanya bilang, aku bisa pulang sendiri," jawabku sambil melipat kedua tanganku di dada. "Jangan terlalu negatif thinking. Aku tidak akan menggunakan Forten sebagai pelindung agar bisa dekat denganmu." Aku beranjak pergi dari hadapan Han, namun dia mencegahku.
"Mama dan Papa mendatangi kita, jangan kabur dan meninggalkan aku sendiri lalu mendengarkan ceramahan dari mereka berdua," bisiknya.
"God damn. Hahahaha.." Batinku sedang tertawa, sedangkan aku tidak bisa tertawa lepas.
"Blyss...? Kapan kamu pulang Nak?" Tanya Mama Hana sembari memelukku.
"Tiga hari yang lalu Ma, di malam hari," jawabku sambil membalas pelukannya.
"Begitu ya, nanti kamu akan kemana setelah dari sini?" Tanya Mama lagi lalu melepas pelukannya.
"Soal itu-"
"Dia ikut aku Ma," jawab Han memotong perkataanku. Aku segera menoleh ke arahnya, dia hanya tersenyum lega.
"Ah begitu ya, baiklah. Sudah mulai malam, Mama dan Papa pulang duluan ya." Senyuman Mama terukir jelas di wajahnya.
"Sekarang ya? Baiklah, hati-hati di jalan. Pa, hati-hati di jalan ya," ujarku sambil menoleh ke arah Papa.
"Pasti Blyss. Nanti kalian juga hati-hati di jalan," sahut Papa lalu tersenyum hangat.
"Oke, bye~" Mama melambaikan tangannya lalu berjalan beriringan dengan Papa dan berlalu dari hadapan kami berdua.
Tak lama setelah itu, pandanganku tertuju pada anggota keluargaku yang sedang berkumpul, entah apa yang mereka diskusikan tanpa aku. Aku segera menghampiri mereka semua.
"Kalian membicarakan apa tanpa aku?" Tanyaku sembari memaksa masuk ke dalam lingkaran yang dibuat oleh 4 orang dewasa itu.
"Ah ini dia, kau pulang dengan siapa Blyss?" Tanya Kak Bryan.
"Tadi Han bilang mengajakku pulang," jawabku.
"Pulang kemana?" Tanya Mama.
"Mungkin ke villa, atau rumah yang sebelumnya," jawabku.
"Baiklah, urusan Blyss selesai. Sekarang kita pulang," ucap Mama dengan ringan.
"Baiklah. Kami duluan Blyss," ujar Kak Welsa sembari melambaikan tangannya.
"Hati-hati kalian semua." Aku juga ikut melambaikan tangan untuk mereka semua.
...
"Vi, sudah malam. Aku pulang yah." Aku menghampiri Viana yang masih di tempat yang tadi.
"Sekarang ya? Ya sudahlah. Thx Blyss," sahut Viana tidak lupa memperlihatkan senyumannya.
"Your welcome honey," balasku sembari tersenyum.
"Ya sudah, kami berdua pulang." Han pamit kepada Forten dan Viana. Forten hanya mengangguk, terlihat sekali kalau dia sedang kelelahan.
.
.
11:23 PM
"Han, pakaianku masih di rumahmu ya?" Tanyaku pada Han karena kami sedang menunu ke rumahnya.
"Siapa peduli?" Itu bukanlah jawaban yang diekspektasikan, benar-benar tidak ada hubungannya. "Aku tidak tahu kalau kau tidak keberatan jika mengenakan pakaian gaun seperti itu." Han segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya, pengumpan harus bisa menyamar menjadi apapun," jelasku dalam batin. "Sudah, jangan dibahas lagi," sahutku menatap ke arah luar jendela mobil.
.
"Welcome back baby," ujar Han setelah membuka pintu rumah untukku.
"Thx," sahutku sambil tersenyum tipis. Itu terlalu manis untuk dilewatkan, tapi harus tetap pada peran utama. Dingin dalam sikap.
"We are sleep together? Right?" Han menggendongku dengan wajah bahagianya.
"Oke, just do it," jawabku sambil mengalungkan tanganku pada leher Han.
.
"Kau akan mandi?" Tanya Han ketika melihatku beranjak dari sofa.
"Tentu."
"Gaunnya?"
"Aku bisa lepas sendiri." Aku menepis tangan Han dari punggungku.
"Sudah pernah kubilang, tidak ada toleransi kecuali mahkotamu setelah pernikahan sahabat dan sepupumu itu selesai," ujar Han sambil mendorongku ke tempat tidur.
"Han!"
"Simpan itu, itu tidak berguna." Han segera mengikat kedua tanganku pada head board menggunakan dasinya. "Satu lagi, jangan memberontak atau aku ambil mahkotamu hari ini juga!" Aku mengerjapkan saat Han membentakku, aku lupa kapan terakhir kalinya Han membentakku tapi kali ini terdengar begitu menyakitkan untukku. Han berbisik padaku, "Biarkan aku yang bergerak, kau hanya perlu diam dan nikmati saja." Entah bagaimana, air mataku menetes karena bisikan itu, bukan bahagia, bukan juga sedih. Aku hanya bingung, apa memang harus diselesaikan dengan seperti ini?
Aku bisa merasakan dari Han mulai membuka resleting gaun, hingga menjelajahi tubuhku, dia lumayan kasar. Tidak tahu efeknya besok akan seperti apa, tanganku sudah lemas karena mencoba melepaskan tanganku dari dasi itu. Memang benar kata Han kalau memberontak adalah hal yang sia-sia.
Malam ini lumayan panas karena Han, tapi tak lama kemudian dia sadar bahwa aku meneteskan air mata. Dia segera menghentikan aktivitasnya dan melepaskan kedua tanganku, nafasku sudah tidak terkendali lagi. Detak jantungku berdegup kencang, untungnya aku tidak menangis kencang, aku bersyukur karena setelah menangis, aku akan menyesal karena menangis.
[Sulit dimengerti, semoga harimu selalu Senin]
"Sakit ya?" Tanyanya sembari memelukku dengan lembut yang setengah bugil, Han juga sama. Aku tidak menjawab pertanyaan Han dan segera memeluknya dengan erat. "Kenapa...?" Tanya Han dengan lembut.
"Mungkin terdengar aneh, tapi aku takut kehilanganmu lagi," jawabku.
"Percaya padaku, itu tidak akan terjadi lagi. Kecuali aku memang dipanggil oleh Tuhan." Han mencoba menghiburku. Aku hanya mengangguk lalu mulai melepaskan pelukanku. "Kau mau kemana?" Tanya Han.
Han hanya berdehem, tidak ada percakapan lagi. Sebenarnya aku enggan mandi karena bagian atas tubuhku rasanya lumayan pegal. Tapi, aku juga lebih enggan untuk tidur dalam keadaan lengket seperti ini.
Aku mulai mandi, setelah aku ingat sesuatu. Itu adalah, aku tidak membawa pakaian ganti. Apa yang akan aku gunakan keluar?
"HAN!!!" Aku berteriak dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?" Tanyanya yang sepertinya dari balik pintu.
"Bawakan aku pakaian," jawabku dengan nada merengek.
"Tunggu," sahutnya.
Tak lama kemudian...
"Blyss, ini bajunya," ujar Han sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Sebentar." Aku membuka sedikit pintu kamar mandi dan hanya mengeluarkan salah satu tanganku.
"Jangan lama-lama ya, sudah malam," ujar Han dari balik pintu.
"Iya," jawabku sembari menutup kembali pintu kamar mandi
10 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, hanya baju oversize, aku tidak peduli soal itu. Yang jadi masalah adalah, aku tidak memakai pakaian dalam. Han benar-benar menambah beban hidupku.
Han tersenyum sampai memperlihatkan giginya setelah melihatku keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian yang ia berikan.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa kau tersenyum?" Tanpa sadar aku ikut tersenyum menatap Han.
"Tidak, aku hanya mengira kau akan menghilangkan semua tanda yang aku berikan. Tidurlah, aku juga mau mandi," ujarnya.
"Awalnya juga ingin aku hilangkan, tapi tidak bisa," gerutuku sedangkan Han tidak peduli, dia hanya memperlihatkan senyum kemenangan.
"Hey, kau keramas?" Tanyanya ketika melewati diriku.
"Iya, tidak sengaja basah. Tadi aku tidak bisa mengangkat shower-nya. Jadi, semuanya basah," jawabku.
"Sudah kubilang jangan memberontak." Han terlihat iba, sedangkan telingaku sudah memanas. "Selesai mandi aku bantu mengeringkan rambutmu." Han segera masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudia dia keluar dengan pakaian sudah melekat pada tubuhnya dan di tangannya ada hair dryer.
"Pakai itu ya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Iya. Terpaksa, masalahnya ini sudah malam. Kau tidak terbiasa ya?"
"Iya. Tapi sudahlah. Tolong ya," pintaku lalu duduk berjalan menuju wastafel. Lalu berdiri di depan kaca, Han mulai mengeringkan rambutku.
Tak perlu waktu lama, rambutku sudah setengah kering. Aku menghentikan Han karena aku tidak terbiasa mengeringkan rambut menggunakan hair dryer. Terlalu pusing untukku, aku lemah terhadap angin, apalagi tepat di kepalaku.
"Jadi?" Tanya Han sambil meletakkan hair dryer kembali ke dalam kaca yang ada di wastafel.
"Tinggal tunggu beberapa saat lagi," jawabku beranjak keluar dari ruangan yang menghubungkan ruang ganti dengan kamar mandi itu.
"Sebentar. Aku ingin tanya sesuatu." Han memegangi pergelangan tanganku.
"Apa?" Tanyaku sambil menelan ludah, aku refleks melakukannya.
"Jangan panik, aku hanya ingin bertanya soal di kantor Kino waktu itu. Dia macam-macam?"
"Ah soal itu, tidak. Kau sudah membuatnya impas," jawabku sambil nyengir. Han hanya menganggukkan kepalanya dan menaikkan satu alisnya tapi belum melepaskan tanganku. "Ada lagi? Aku sudah ingin tidur," ujarku sambil menatap Han.
"Soal Derry..." Han menggantungkan ucapannya. "Itu benar-benar perintah dariku, atas izin dari Bryan dan Forten. Jangan pecat dia, dia tidak punya ide dari semua yang terjadi di bandara," sambung Han dengan mata yang menatap lurus ke mataku.
"Izin dari Kak Bryan? Dan Forten? Memangnya ada apa sampai mereka berdua ikut?" Tanyaku. Aku hanya mengira itu akal-akalan Han agar aku pulang kepadanya setelah dari Seoul, ternyata ada alasan lain?
"Untuk penjelasannya menyusul besok. Aku tidak membawa laptopku ke rumah, aku malah meninggalkannya di mansion Papa," jawab Han.
"Begitu, baiklah. Kalau begitu lepaskan tanganku," pintaku.
"Belum selesai. Satu hal lagi, hanya perasaanku saja atau memang kau berniat mengerjaiku sepulang dari Seoul?" Tanya Han menarikku mendekatinya.
"Bukan mengerjaimu, aku hanya kesal padamu," jawabku jujur sembari mencoba menjauh dari Han. "Kita bisa bicara dengan biasa saja, ini terlalu dekat," keluhku.
"Aku membuatmu kesal bagaimana?" Tanya dengan wajah bingung serta melonggarkan tangannya dari tanganku.
"Begini." Aku menggantungkan ucapanku lalu mengintimidasi Han sampai dia terpojok di ruangan itu. "Panggilan video saat hari pertamaku di Seoul, kau ingat?" Tekanku dengan tatapan tajam. Han mengangguk, dia seperti anak anjing yang ketakutan. Aku ingin tertawa, tapi tahan dulu. "Aku dengar ada suara perempuan yang memanggilmu, lalu kau dengan buru-buru memutuskan panggilan video itu. Bagaimana aku tidak curiga?" Sambungku sambil tetap memandang Han yang masih dengan wajah bingung dan tanpa dosanya
"Kau curiga apa? Aku selingkuh?" Tanyanya menaikkan kedua alisnya.
"Tentu saja Han...." Aku sedang berusaha sabar, karena itu sudah berlalu.
"Aku minta maaf soal itu," ujarnya. Tidak bisa dipercaya dia akan meminta maaf kepadaku secepat ini.
"Jangan dibahas lagi, sudah selesai. Kita harus tidur," sahutku sembari berjalan keluar dari ruangan itu. "Tapi, sepertinya kau perlu memasak sarapan besok pagi," sambungku sambil merebahkan tubuhku di tempat tidur.
"Hem... Tentu." Dari suaranya Han terdengar begitu senang hati dan ikhlas. Tapi tiba-tiba dia menindih tubuhku lagi seperti tadi.
"Apa lagi?" Tanyaku sambil menahan tubuhnya.
"Setidaknya kau juga perlu meminta maaf padaku karena mencurigaiku yang tidak bersalah ini," jawabnya memperlihatkan senyumannya iblisnya.
"Tunggu-tunggu." Aku segera menghentikan Han. Tadi saja sudah melelahkan, ingin lagi? Yang benar saja! "B-bisa tadi jangan lakukan itu? Aku mengantuk." Hey kenapa aku jadi gugup? Sebelumnya juga pernah sedekat ini.
Han memutar bola matanya. "Ck. Baiklah. Besok aku akan menagihnya." Dia segera berbaring di sebelahku dengan malas. Tidak lupa ia juga memeluk tubuhku dengan erat.
"Han, perutku..." Aku merengek kepada Han karena memelukku terlalu erat.
"Berbalik." Pintanya dengan nada sedikit tinggi. Tanpa banyak bicara, aku segera berbalik dan menghadap ke arah Han. Senyumnya mengembang saat menatap wajahku. "Sudah tidak sakit,'kan?" Tanya Han.
Aku hanya mengangguk, Han mengecup bibirku sekilas lalu menarik selimut untuk kami berdua.
...****************...
TBC😅
Mohon dukungannya Readers 🤩