LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Tidak Menor



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Itu hal yang menyenangkan sekali menurutku, dan jika rekanmu adalah orang yang tidak peka terhadap lingkungan, maka hidupmu akan tadi taruhannya.


Kira-kira 3 menit kemudian aku sampai di sebuah gedung yang lebih pendek dari gedung sebelumnya, bahkan jauh lebih pendek, karena gedung ini melebar bukan meninggi. Ini dia kantor milik keluarga Han, ini bukan pusatnya, aku tidak tahu dimana pusatnya. Ini sudah pukul 6 sore, jadi sudah agak sepi di sini.


"Sore tuan," sapa satpam dan Han hanya mengangguk ke arah satpam itu. Sepertinya satpam itu tidak sadar kalau aku juga ada didalam mobil. Tapi yasudah, itu juga tidak penting. Setelah dari tempat parkir, kami berdua menuju lobi, aku masih tetap membawa berkas-berkas tadi.


"Kau kenapa?" Tanya Han menatapku bingung, sedangkan aku terdiam sebentar.


"Tidak," jawabku sambil menyusul Han yang sudah keluar dari area parkir. "Sepertinya ada ruangan di bawah sini," pikirku, aku hanya sekedar menebak.


Kami masuk ke dalam, di sini sudah lumayan sepi, hanya ada dua orang yang sedang mengepel.


"Tunggu di sini, aku pergi sebentar," ucap Han, lalu meninggalkanku.


Aku menunggu Han dengan berdiri di depan meja konsultasi utama. Beberapa detik kemudian ada seorang wanita menghampiriku dengan tangan terlipat di dada bersamaan dengan pekerja yang mengepel tadi, mereka berdua meninggalkanku.


"Kau pasti asisten baru," ujar wanita itu dengan yakin. Aku hanya menghela nafas sambil memandangnya datar. "Baiklah tidak jadi, kurasa kau adalah cleaning servis tambahan," sambungnya. Percayalah, kalau kalian melihatnya sendiri, kata pertama yang akan terpikirkan adalah J*l*ng. Make up-nya tidak menor, hanya saja terlalu tebal, entah berapa kali dia touch up dalam satu hari.


"Untung juga pakaianku tidak mencolok, baiklah, aku bisa memantaunya dari sini. Kurasa dia yang namanya Violin," pikirku sambil mendekat ke arahnya. "Ada yang bisa saya kerjakan?" Tanyaku.


"Ya ampun!! Kukira kau tunawicara!! Hahahaha!" Serunya sambil tertawa. "Bagaimana bisa ya orang sepertimu semobil dengan Tuan Han?" Dia meledekku, tapi sayangnya harga diriku tidak jatuh. "Kau tahukan Han siapa di sini?" Ledeknya lagi.


Apa susahnya tinggal bilang tugasku apa kalau sudah tahu aku ini cleaning service, dasar wanita. "Bisa jelaskan tugasku?" Aku sedang berusaha untuk tidak ikut berbelit-belit seperti wanita di depanku ini.


"Baiklah, aku tidak punya waktu menjelaskan semua itu kepada cleaning service. Kau tanyakan saja pada teman-temanmu. Mereka ada di ujung lorong itu," jawabnya sambil menunjuk lorong sebelah kiri dekat meja. (Fyi, Han pergi ke lorong sebelah kanan).


Ah sial. Sehina itukah seorang cleaning service di mata j*l*ng ini? Sampai-sampai wanita ini tidak ingin bicara dengan cleaning service. Aku benar-benar tidak habis pikir, tunggu saja sampai kau menerima pembalasan dariku, orang yang sudah tidak kau pedulikan.


Aku hanya menunduk lalu pergi menuju lorong itu. Tapi hanya bercanda, aku berjongkok setelah lima langkah menjauh darinya. Lalu mulai berjalan jongkok mendekati meja konsultasi utama tadi dengan hati-hati.


"Hey.." panggil seseorang dari belakang dengan pelan. Aku segera berbalik badan dan mengisyaratkan perempuan itu untuk diam, sedangkan wanita itu langsung ikut berjongkok. Ya tadinya dia hanya setengah berjongkok. "Anda benar Blysstina Grysselda..?" Tanyanya antusias tapi tetap pelan.


"Nanti saya akan cerita. Sekarang saya sedang ada urusan," jawabku juga pelan sambil mengintip wanita tadi. Setidaknya sepatunya masih terlihat dari sudut ini. Tak lama kemudian wanita itu membawa berkas yang tadi kubawa, karena dia sudah berjalan menjauh, aku mengikuti langkahnya. Aku memperhatikan wanita itu yang berjalan lurus lalu masuk ke salah satu ruangan, sungguh... Tadi rasanya aku ingin sekali menampar pipinya, tapi tenang, dia sepertinya punya banyak tangan di sini.


"Itu ruang Tuan Han, Nona.." ucap perempuan tadi di belakangku.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyaku.


"Iya sudah," jawabnya.


"Bagus, saya akan meminta bantuanmu. Wanita tadi siapa ya..?" Tanyaku.


"Tadi itu namanya Violin, dia sekretaris Tuan Muda yang baru pindah kira-kira sebulan lalu.." jelasnya.


Firasatku masih baik-baik saja ternyata. "Lalu tadi itu, kau melihat Han pergi kemana..?" Tanyaku.


"Mungkin Tuan Han ada di kamar kecil, karena tadi aku lihat dia berjalan ke arah lorong kanan," jawabnya yakin, aku semakin yakin kalau dia bukan OB sembarangan, dia informan yang bagus, mungkin saja dia adalah orang suruhan Han untuk melakukan suatu hal di kantor ini.


"Baiklah,"


"Kebetulan aku sudah mau pulang, jaga diri baik-baik. Violin kadang berbahaya," ucapnya sambil tersenyum lalu pergi keluar dari gedung ini, aku memandangi punggungnya yang segera menghilang dari pandanganku.


"Perempuan tadi mengingatkanku agar menjaga diri. Aku tidak akan pergi ke ruangan itu sekarang, aku juga tidak bawa alat perekam," gumamku. Jika kau hanya bercerita tentang keburukan seseorang tanpa dokumentasi, jangan harap netizen akan percaya akan hal tersebut.


"Sekarang kau punya rencana?" Tanya seseorang dari belakangku.


"Punya. Kau dari mana saja?" Itu suara Han, aku kaget tapi seperti biasa.. tetap tenang.


"Aku baru saja pergi ke kamar kecil," jawab Han, perempuan tadi benar, Han mungkin saja ke kamar kecil. "Apa rencana yang kau miliki?" Tanyanya.


"Besok aku harus ke sini lagi dan bukan sebagai Blyss, tapi sebagai cleaning service. Masih beruntung kalau dia tidak mengenaliku," jawabku.


"Kita harus pergi dari sini untuk membicarakan semuanya. Sekarang kau hanya perlu bersikap seperti biasanya," jawabku.


"Tapi sekarang kau harus tetap ikut denganku. Kurasa jadwal meeting-ku semuanya berada di luar kantor," ujarnya.


"Baiklah," aku mengiyakan, karena tujuan awal aku ikut dengan Han adalah untuk membantu pekerjaannya, bukan untuk menonton ia bekerja.


"Berkas tadi dimana?" Tanya Han. Aku hanya menunjuk ke arah ruangan yang dimasuki oleh Violin, Han yang mengerti segera mengangguk. "Kau tunggu aku di mobil, aku akan pergi mengambil apa yang aku perlukan dulu," ucapnya lalu pergi dari hadapanku.


.........


"Petang Nona," sapa seseorang saat aku akan masuk area parkir.


"Petang juga," sahutku dengan senang hati, namun wajah datar tetap terpampang jelas.


"Kalau saya tidak salah, Nona ini anak dari Tuan Gryss?" Tanyanya.


"Benar pak," jawabku sambil berdiri di hadapannya.


"Astaga. Aku benar-benar bertemu denganmu!" Serunya.


"Pak jangan keras-keras," pintaku.


"Oh baiklah-baiklah," ucapnya sambil menahan tawa. "Nona mau kemana?"


"Saya mau pergi pak, ini masih menunggu Han," jawabku.


"Apa Nona dan Tuan Muda ada hubungan khusus?" Pertanyaan yang terlalu tiba-tiba.


"Tidak ada pak," jawabku tenang.


"Begitu ya..." Dari wajahnya, tersirat kekecewaan, namun aku tidak akan menanyakan alasannya.


"Saya mau tahu hal-hal tentang Violin, apa bapak bisa menceritakan sesuatu?" Tanyaku mengganti topik pembicaraan.


"Violin orangnya kasar Nona, apalagi kepada karyawan dan petugas yang jabatannya lebih rendah darinya," jawabnya blak-blakan.


"Kenapa langsung ke arah sana..?" Pikirku sambil menahan tawa. "Bapak sendiri pernah mengalaminya?"


"Tentu saja," jawabnya dengan raut wajah kesal.


"Hei kalian berdua sedang membicarakan apa?" Tanya Han menghampiri kami berdua sambil membawa tas di tangannya.


"Aku hanya bertanya-tanya sedikit, kau sudah selesai? Kalau sudah ayo pergi," jawabku.


"Oh baiklah."


"Pak, kami berdua pergi dulu. Pastikan semuanya pulang, jangan biarkan ada yang lembur malam ini," ujar Han kepada laki-laki itu, setelah selesai dengan penjaga itu Han menatapku sebentar lalu berjalan duluan menuju mobil.


Kami berdua masuk ke dalam mobil, setelah


di dalam mobil aku membuka tas yang dibawa oleh Han. Sebagai asisten dadakan, aku harus membereskan keperluannya nanti. Lokasi meeting pertama dekat dengan apartemen tadi.


Meeting hanya berlangsung selama 10 menit, klien Han juga sama sibuknya. Kliennya juga orang yang kukenal, dia sepupu dari Forten.


3 klien termasuk sepupu Forten sudah mendapat apa yang mereka inginkan, sekarang kami berdua sudah dalam perjalanan kembali ke kantor. Dan, mulai dari meeting pertama hingga terakhir setidaknya ada 1-3 paparazi dari cabang yang berbeda mengikuti kami berdua.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁