
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Aku sampai dengan selamat, disambut oleh Derry dan Pollo. Sepertinya mereka berdua menjadi teman dekat sekarang, di mana ada Derry, di sana ada Pollo yang sedang free.
Aku sampai sekitar pukul 8.45 dengan selamat, disambut oleh Derry dan Pollo. Sepertinya mereka berdua menjadi teman dekat sekarang, di mana ada Derry, di sana ada Pollo yang sedang free.
Sampai di sana, Derry mengarahkanku untuk pergi ke ruangan Kakakku. Sepertinya aku akan dapat pekerjaan, bahkan saat aku baru sampai. Kadang aku heran, kenapa bisa punya Kakak yang begitu tidak tahu malu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku merasa masih dipedulikan oleh orang sekitarku.
"Pagi Kak," sapaku setelah aku masuk ke dalam ruangan yang seperti biasa tetap dingin.
"Pagi. Bisa aku minta tolong padamu?" Tanyanya segera setelah aku duduk di sofa.
"Apa?" Aku balik bertanya dengan sumringah.
"Jadi asistennya Derry hari ini. Untuk Han, biar aku yang memintakan izin," jawabnya.
"Derry? Bukannya sudah ada Paman Pollo?" Godaku.
"Dia perlu tambahan. Setidaknya kalau bersamamu, dia tidak perlu memikirkan bagaimana caranya membawa laptop sekaligus menjadi penyerang utama," jawab Kakakku.
"Kenapa lebih percaya pada Derry daripada Pollo sebagai penyerang utama?" Tanyaku. Jujur saja, aku tidak tahu sedikitpun mengenai Pollo. Satu hal yang aku ketahui adalah, Pollo sudah bekerja dengan keluargaku bahkan sebelum aku lahir. Itu saja.
"C'mon dude. Pollo sudah tua, lagi pula, kecepatan dari gerakan refleks nya sangat cepat. Kemungkinan besar, mereka berdua akan aman jika Pollo berada di belakang," jelasnya tanpa memandangku sedikit pun. Matanya fokus pada layar komputer.
"Hah?"
"Maksudku, jadi penjaga belakang," ujarnya.
"Ya sudah, aku ikut," sahutku.
"Mobil mainanmu sudah aku perbaiki. Drone-nya juga sudah. Mereka sepaket bukan?"
"Hah? Sebentar? Kau sempat menabrak apa saja? Tanpa aku minta? Memperbaiki mobil mainan ku?" Ini hanya sedikit kaget, biasanya dia enggan untuk berurusan dengan mobil mainan itu, bahkan setelah aku memodifikasinya. Tapi barusan? Dia bilang sudah memperbaikinya?
"Iya benar. Lain kali bilang kalau sudah rusak," sahutnya dengan wajah kesal.
"Iya-iya. Lain kali akan aku sampaikan jika rusak," ujarku. "Aku pergi dulu, Kak."
"Hati-hati!"
Aku pergi menemui Derry dan Pollo. Mereka masih di tempat tadi, di tempat sebelah garasi mobil. Barat. Derry selalu di sini, belum berubah sampai sekarang.
"Bagaimana?" Tanya Derry begitu aku duduk di sebelahnya.
"Setuju, ayo," ajakku.
"Tunggu Pollo selesai sarapan. Siap-siap dulu sana," sahutnya.
"Pakai laptop siapa?" Tanyaku.
"Punyaku, ini," ujarnya sembari memberiku laptopnya. "Semua data dasar dari tempat itu sudah terkumpul di laptop ini. Jadi, selebihnya aku serahkan padamu," ucapnya. Sungguh, aku merasa istimewa setelah dia mengatakan "selebihnya aku serahkan padamu". Ya walaupun terbebani sedikit.
Misi hari ini berjalan lancar, aku kelelahan, Derry dan Pollo juga sama. Setidaknya misinya lancar dan kami bertiga kembali ke markas tanpa luka lecet sedikit pun. Seperti yang Kakakku katakan, memang sudah sangat tepat menempatkan Pollo menjadi penjaga belakang.
Lumayan pusing juga menatap layar laptop sembari mengendap-endap, kira-kira aku menatap layar laptop selama kurang lebih tiga jam. Menyiksa diri dengan gaya, kata Pollo yang sudah benar-benar tidak ingin berurusan dengan laptop ataupun komputer.
"Sudah pesan makanan ya?" Tanya Derry.
"Sudah, bahkan sudah sampai," jawab Pollo sambil memperlihatkan beberapa kantong plastik yang berisikan makanan.
"Pollo memang yang terbaik," ucap Derry dengan wajah senang. "Ya sudah Blyss, ikut saja sekalian," sambungnya.
"Benar, ini sudah cukup untuk tiga orang. Jika kami makan berdua pasti terlalu banyak yang tersisa," ujarnya.
"Baiklah. Aku ikut. Terima kasih banyak untuk makanannya," jawabku.
Kami bertiga makan bersama, ini jadi makan siang. Kakak? Entahlah, saat aku kembali dia sudah tidak ada di markas. Dia terlalu sibuk untuk ditanyakan sedang berada di mana. Bahkan kadang, istrinya sendiri kesal karena ketika dia ingin mengunjungi tempat suaminya berada, tapi ternyata suaminya baru saja meninggalkan tempat tersebut.
Aku jadi curiga komunikasi antara mereka sebenarnya dipenuhi dengan kesalah pahaman. Tapi sudahlah, urusan mereka. Tiba-tiba aku jadi rindu Sidney. Sekarang dia sudah bisa berjalan, itu informasi terakhir yang aku dapatkan dari Mama yang masih tinggal di sana.
Ah lucunya jika dibayangkan. Mungkin akan bagus jika setelah makan siang ini aku pergi ke rumahnya untuk bermain. Lagipula aku juga rindu Mama dan Papa.
"Sudah selesai Blyss?" Tanya Derry.
"Iya, aku sudah kenyang. Lanjutkan berdua, aku ada urusan," jawabku lalu mengambil hp ku. Dan segera pergi meninggalkan markas. Sesuai dengan rencanaku tadi, aku pergi ke rumah Kakakku.
Oleh-oleh untuk Sidney? Tidak, kata Mama jangan, lebih baik ajak dia ke toko dan belikan yang dia inginkan. Dia sudah bisa memilih, aku harap nanti dia tidak cerewet dalam hal memilih apapun. Berdampak pada Mama dan Papa nantinya.
Di rumah Kakak, aku menghabiskan waktu cukup lama. Intinya aku kembali ke rumah Han itu sudah sore, pukul 6. Han belum pulang, seharian ini juga aku belum menghubunginya. Aku hanya mengirimkan satu pesan untuk mengingatkannya makan, tapi tidak ada tanda-tanda pesan itu dibalas.
Ya sudah, mungkin dia sibuk. Bukan masalah besar. Selesai mandi, aku duduk di sofa ruang tengah menonton acara TV untuk menunggu Han pulang.
Pukul 8 malam, pintu utama terbanting keras.
Brakk!!
Han membanting pintu dengan keras. Aku yang kaget, segera mendekati Han untuk memastikan dia tidak terluka atau hal buruk lainnya. Han mendekat dan langsung mencengkeram rahang ku lalu ******* bibirku, seketika bau alkohol memenuhi indra penciuman ku. Sepertinya dia sedang ada di bawah pengaruh alkohol.
Setahuku, toleransinya terhadap alkohol itu melebihi diriku, berarti hari ini dia memang minum banyak dan melewati batasannya sendiri. Kami menikah sudah setahun yang lalu, selama setahun, ini pertama kalinya aku melihat Han dalam kondisi seperti sekarang. Han melepaskan bibirku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, "Sudah dewasa masih saja teledor," ejekku sembari memapahnya.
"Antar aku ke kamar saja," pintanya dengan nada dingin. Eh? Dia begini kalau kelebihan? Ini jadi sama saja seperti biasanya.
"Kau bisa jalan sendiri?" Tanyaku.
"Bisa," jawabnya sambil melepaskan tangannya dari pundak ku.
"Tahu begitu tadi tidak akan aku bantu," sahutku.
"Meski begitu kau tetap harus ikut," ujarnya sambil menarikku untuk ikut ke dalam kamar. "Malam ini mungkin akan panas lagi," ucapnya lalu membanting tubuhku di atas tempat tidur.
Belum sempat bernegosiasi, Han langsung melahap bibirku. Dia kasar lagi, sepertinya memang lebih baik melakukannya ketika Han sadarkan diri, bukan di bawah pengaruh alkohol.
Aku bisa apa? Tidak ada selain menangis, ini terlalu kasar. Malam ini benar-benar panas, bukan sedikit, tapi sudah sangat-sangat. Bahkan sangat-sangat sakit. Tidak tahu bagaimana aku besok.
Ini lama sekali, mungkin sudah berjalan selama 2 jam, atau kurang. Han selesai, "Maaf," ucapnya lalu mengecup kening ku setelah ia berbaring di sebelahku. Lelah sekali, aku kewalahan, nafasku belum normal bahkan saat sudah selesai dari 5 menit yang lalu.
Han juga masih belum tidur, masa bodoh soal mandi lagi, kami berdua kelelahan. Tapi berhubung aku tadi menangis, aku jadi bisa tertidur pulas sebelum Han tidur duluan.