LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Sup Ayam



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum," batinku. "Ya sudah, aku pergi dulu." Aku segera keluar dari ruang kerja itu meninggalkan Han sendiri di sana.


...


Hari itu berakhir dengan biasa saja, tidak ada yang istimewa untuk diceritakan. Hari ini Han bilang akan pergi bekerja sorenya saja untuk langsung meeting.


Dan hari ini juga, aku akan pergi untuk bertemu dengan Viana.


07:13 PM


Aku dan Han sudah selesai makan malam bersama, tidak bisa disebut bersama, karena kami makan di tempat yang terpisah. Aku tinggal meminta izin pada Han lalu pergi. Lokasinya juga sudah dikirimkan oleh Viana tadi, lokasinya ada di dekat apartemen Viana.


"Han," panggilku dari balik pintu ruang kerja.


"Buka saja Blyss, pintunya tidak dikunci," jawabnya dari dalam.


Aku masuk lalu duduk di sofa yang tepatnya di depan tempat komputer, meja alat elektronik berhadap-hadapan dengan sofa.


"Kenapa?" Tanyanya padaku setelah aku duduk.


"Aku mau izin pergi, aku akan bertemu dengan Viana," jawabku terus menatapnya yang sedang fokus pada monitor komputernya.


"Jaga diri baik-baik, jangan pulang terlalu malam," ujarnya santai tanpa menatapku.


"Baiklah aku pergi dulu." Aku pergi dari ruangan itu, aku masih tidak percaya dia bisa begitu biasa saja. Ya tapi itu lebih baik, aku tidak perlu bantuan Viana untuk meyakinkannya.


"Nanti kalau aku belum sampai rumah saat kau sudah kembali, jangan tunggu aku," ujarnya.


.


.


20 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di sebuah cafetaria yang berada tidak jauh dari apartemen Viana dan Forten tinggal.


"Hei," panggil perempuan itu sembari melambaikan tangannya dengan semangat. Aku pun balas melambai dengan semangat juga lalu menghampirinya.


"Sudah lama ya?" Tanyaku sambil menarik kursi untuk duduk.


"Baru sekitar 5 menit yang lalu," jawabnya.


" Besok-besok tidak perlu berbohong. Tidak baik efeknya bagi anakmu itu," sahutku sambil tersenyum menatapnya.


"Iya-iya. Hehe. Ngomong-ngomong Han bagaimana? Marah tidak saat minta izin pergi?" Tanya Viana.


"Tidak juga, sebenarnya Han tidak se-posesif itu. Yang posesif adalah Kakakku," jawabku memberi klarifikasi kenapa aku jarang setuju untuk pergi hang out.


"Ah begitu rupanya."


"Ya. Oh ya, selamat atas kehamilan mu. Sungguh, aku senang sekali mendengarnya. Aku pastikan akan menjagamu dengan semampuku," ucapku memandangi mata Viana. "Lahirlah dengan selamat dan bertemu dengan Tantemu ini ya," sambung ku, namun sekarang aku menatap ke arah perut Viana yang masih rata.


Viana tersenyum menatap ku, "Kami berdua pasti akan berjuang," sahutnya. "Oh ya, karena kau bilang tadi sudah makan, jadi aku hanya memesan dessert dan minumannya. Kalau kau ingin yang lain tinggal pesan saja ya," ucapnya sambil memakan makanannya.


"Iya santai saja," sahutku lalu ikut memakan makananku.


Kami berdua mengobrol banyak karena memang sudah lama tidak bertemu. Aku sudah berdoa dari rumah agar Viana tidak bertanya hal apapun mengenai anak, untungnya itu terkabul. Dia sama sekali tidak membahas soal itu, kami hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari.


Dia juga sama sepertiku, masih disibukkan oleh urusan markas, ditambah sebentar lagi markas keluarga Forten akan segera melakukan penyerangan terhadap markas penghianatan.


...


"Blyss, Han ada di kamarnya, katanya tidak enak badan," ujar Bibi saat aku sudah masuk ke dalam rumah.


"Ah iya, Bi," sahutku. Untunglah aku tidak kaget. Aku segera pergi menuju kamar Han, sebenarnya kami berdua tidur terpisah selama ini. Seperti tidak sengaja, tapi jadi kebiasaan, aku tidur di kamar Han, sedangkan Han yang pulang larut malam memilih tidur pada sofa di ruang kerjanya. Itu berulang kali terjadi dan jadilah kebiasaan kami.


Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati, dan Han sedang tertidur dengan balutan selimut yang biasa aku pakai, aku mengurungkan niatku untuk masuk, lalu kembali ke ruang tengah untuk mencari keberadaan telepon rumah. Meski hanya demam biasa, setidaknya aku perlu mendengar pendapat dari dokter yang lebih tahu dariku.


Tak lama kemudian datang dokter yang sama dengan dokter yang memeriksa ku saat setelah kembali dari Seoul waktu itu. Sepertinya Han dan Dokter ini berteman cukup lama, aku tidak tahu persis seberapa lama dan dekatnya persahabatan mereka berdua.


Dokter bilang, ini hanya efek dari sering begadang dan terlambat makan. Pantas saja tadi tubuhnya dingin seperti mayat, masuk angin.


Setidaknya sudah jelas, aku menemaninya, aku duduk di sofa sedangkan Han masih tertidur pulas. Sepertinya dia sudah melakukan sesuatu pada dirinya sebelum aku kembali. Biasanya obat tidur, itulah Han.


...


Aku duduk sambil mengamati Han, tak terasa waktu berlalu dan aku tertidur di sofa. Jam 3 pagi aku terbangun dan melihat lampu kamar mandi menyala, dugaan pertama ya pasti Han, aku segera keluar menuju dapur untuk memasak sarapan.


Sup ayam hangat biasanya bisa membuat lebih baik dari sebelumnya. Dengan dibantu oleh Bibi, aku membuat sup. Secukupnya saja, kami hanya bertiga di rumah ini, kalau tersisa entah mau diberikan kepada siapa.


Pukul 6 pagi, kami bertiga sarapan. Setelah selesai, Han kembali ke ruang kerjanya. Aku juga ikut, beberapa urusanku belum selesai.


"Han, biar aku yang gantikan sebentar ya?" Tawarku pada Han yang sudah duduk di tempatnya.


"Bukannya pekerjaanmu juga masih banyak?" Tanya Han.


"Iya... Setidaknya tidak sebanyak punyamu," jawabku tidak mau kalah.


"Ya sudah." Han berdiri lalu berbaring di sofa.


"Sudah minum obatnya?" Tanyaku sambil mulai membuka berkas yang ada pada meja kerja Han.


"Oh iya juga. Aku keluar dulu," sahutnya lalu pergi dari ruang kerja.


...


07:06 PM


"Blyss?" Panggil Han dari balik pintu ruang kerja.


"Masuk saja, Han," sahutku.


Terdengar suara pintu terbuka, lalu masuklah Han dengan nampan berisi air minum dan makanan. "Sudah mulai malam, makanlah dulu," ujarnya sembari duduk di sofa.


"Iya," jawabku lalu menghampirinya yang ada di sofa. Setelah duduk aku langsung makan, lapar, ditambah lagi ini masakan Han.


"Pekerjaanmu masih banyak?" Tanyanya.


"Kira-kira jam delapan nanti sudah selesai," jawabku sambil makan.


"Baiklah, aku serahkan padamu dulu. Besok aku yang gantikan," sahutnya.


"Mau istirahat lagi juga tidak apa-apa, Han," ucapku sambil tersenyum menatapnya yang sedang duduk memperhatikan ku makan.


"Forten akan meminta bantuan lagi padamu, urus urusannya," ucapnya dengan nada sedikit malas.


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Dia salah mengirimkan pesan padaku, jadi itu bocor," jawabnya. Aku hanya mengangguk. "Kalau kau merasa tidak bisa, kau bisa menolaknya," sambungnya.


"Tidak juga," sahutku. Selama masih bisa, akan aku usahakan.