LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Kau Mati Suri



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Nanti kita pasti akan bertemu lagi!!" Teriak Blyss kecil lalu menghilang dan semuanya silau, tentu saja refleknya menutup mata, setelah kurasa aman.. baru buka mata.


Dan. Aku membuka mata.


'Ini pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya,' aku tidak tahu ini kamar siapa.


"Kau terlalu lama Blyss," ujar seseorang dari sebelah kiri, di tempat sofa. Aku menoleh ke asal suara dan itu adalah Han.


'Ya ya ya~'


"Kau tidak akan bertanya ini dimana?" Tanya Han sambil mendekat ke arah tempat tidur.


"Dimana ini?"


"Ini rumah Papa dan Mama," jawabnya sambil duduk di tempat tidur. "Apa yang kau alami?" Tanya Han datar.


"Kukira kau sudah tahu," ucapku memandangnya, lalu mencoba untuk duduk.


"Kita berbeda alam tadi, mana bisa kutau tentang apa yang kau alami."


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanyaku santai sambil bersandar disandaran tempat tidur.


"Kita sampai di rumahku pukul tiga dan sekarang sudah pukul empat. Satu jam. Kau mati suri," ucap Han


"Meskipun lima jam aku tidak sadarkan diri seperti tadi mungkin aku akan tetap kembali," gumamku.


"Apa katamu?" Tanya Han.


"Tidak. Mama kemana?" Tanyaku.


"Mama tadi pergi dengan Papa, aku tidak tahu apa yang akan Mama dan Papa bawa. Dia khawatir sekali denganmu. Giliran aku dibiarkan saja," jawabnya sambil rebahan dengan kepala di pahaku.


"Kau tidak jadi ke kantor?" Tanyaku sambil menahan kepalanya.


"Saat Mama pulang, aku akan berangkat," jawabnya sambil mencubit tangan kananku.


Heyy.


"Bangun atau aku tendang kepalamu?"


"Sombong," sahutnya.


"Terserah. Kau tidak mau menghubungi Papa atau Mamamu kalau aku sudah siuman?" Tanyaku sambil memandang langit-langit kamar itu.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku hanya tidak ingin, biar nanti jadi kejutan saja," jawabnya sambil tersenyum tipis dan mata tertutup. Karena kami hanya berdua dikamar ini, aku selalu memandang lawan bicaraku, jadi aku selalu memandang Han setiap dia menjawab pertanyaanku.


"Tidak seperti biasanya," sahutku jengkel.


"Kau tidak kepikiran apa-apa ya?" Tanya Han sambil membuka matanya, kembali duduk dan memandangku yang masih bersandar.


"Apa?" Tanyaku memandangnya.


Han menghela napas. "Tentu agar mereka tidak menggangu kita," ucapnya ketus lalu menciumku.


Memberontak? Tentu, tapi tetap sia-sia.


'Lidahnya. Ck. Sialan,' tanganku sudah dipegangnya, kaki? Itu tidak membantu sekarang.


Kira-kira itu hanya semenit, tapi aku tidak bisa mengatur napas.


"Kau mau aku tidak sadarkan diri lagi?" Tanyaku memandangnya yang masih sangat dekat dengan wajahku sambil mencoba melepas tanganku yang belum ia lepaskan. Dia mengangkat tanganku ke atas kepalaku.


"Santai saja Blyss. Jika kau tidak sadarkan diri lagi itu bukan salahku, tapi salahmu tidak bisa mengatur napas dengan benar," jawabnya dengan santai.


"Lepaskan aku cepat," pintaku datar kepada satu-satunya manusia yang ada di sini.


Han melepas bibirku. "Kau sudah dewasa tapi benar-benar ceroboh," ledek Han setelah melepas tanganku.


"Apa pedulimu?" Tanyaku sambil memandang datar ke arah Han.


Han menghela nafas panjang lalu menyuruhku untuk mandi. Tentu saja aku iyakan.


"Pakaianku dimana?" Tanyaku pada Han saat aku akan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mandilah, nanti aku bawakan kemari," jawabnya.


"Bawakan sekarang," iya, aku mungkin terlalu percaya diri. Tapi aku tidak akan percaya terhadap Han, aku tidak bisa menjamin kalau dia tidak akan macam-macam nantinya.


"Iya-iya," sahutnya, lalu keluar dari kamar itu. Dan datang beberapa detik kemudian. "Mandilah cepat," ucapnya setelah memberi koperku.


"Sebenarnya ini kamar siapa?" Tanyaku sambil mengambil koperku.


"Kamarku," jawab Han dengan santai.


"Keluarlah dari sini dulu," pintaku.


"Iya nona. Turunlah jika sudah selesai. Kita harus mengisi ulang perut kita masing-masing," ucapnya sambil tersenyum lalu aku masuk kedalam kamar mandi karena kurasa senyumnya terlihat bisa dipercaya.


Lokasi kamar mandi selengkapnya :-)


...Pintu masuk ke kamar mandi...


...||...


...Wastafel→Kamar mandi→Kamar ganti...


Kira-kira 30 menit aku mandi. Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap aku mandi aku akan menghabiskan waktu yang lumayan banyak. Bahkan aku sendiri merasa itu waktu yang sudah cepat, tapi tidak dengan orang yang menunggu atau tidak merasakan apa yang aku alami. Lagipula semuanya akan terasa lama saat menunggu. XD


Setelah selesai dengan segala urusanku, aku turun untuk menemui Han, aku berharap dia menyiapkan makanan.


(Bruh. Aku hanya memakan beberapa makanan berat di jet dan paginya aku hanya minum sekotak susu 200ml serta yupi).


"Kau lama sekali Blyss," ejek Han dan memperlihatkan senyum jahilnya.


'Ck,' aku memutar bola mata malas setelah ejekan dari Han. "Iya maaf," ujarku sambil duduk salah satu kursi. Kursi yang ada di meja makan.


"Makanlah," ajaknya setelah aku duduk.


"Kau tidak makan juga?" Tanyaku sambil makan.


"Tentu saja makan. Mana mungkin aku memberikanmu semuanya," ucapnya sambil ikut makan. Aku hanya mengangguk ke arah Han, itu juga termasuk hal yang logis.


"Kau yang masak?" Tanyaku singkat sambil memandangnya lalu kembali menatap makanan di depanku. Sebenarnya aku tidak bisa makan sambil bicara, rasanya seperti mulutmu tidak bisa terbuka dengan baik saat bicara sambil makan. Dan bagusnya lagi, itu memang seperti itu.


"Iya," jawabnya dengan datar, dan seperti sedikit tertekan.


'Oh ayolah kawan,' aku memandangnya setelah dia menjawab pertanyaanku. "30 menit yang berharga," sahutku dengan nada mengejek.


"Untuk apa aku masak jika ada 100 lebih akun bawahanku yang bisa kugunakan untuk memesan makanan. Hahahh!" Jawabnya. "Lagipula kalau aku masak, aku hanya akan memasak nasi goreng," sambungnya lagi. Aku hanya mengangguk sambil tetap makan, bagaimana pun apa yang dikatakan oleh Han itu ada benarnya.


"Hemm.." gumamku sambil menatap makananku. "Papa dan Mamamu bagaimana?" Tanyaku. Mereka tidak tahu aku sudah, jangan sampai mereka juga tidak makan sebab terlalu buru-buru karena aku.


"Sebentar lagi juga mereka akan pulang, tadi aku sudah bilang kalau kau sudah siuman," jawabnya lalu menuju lemari es.


Aku masih merespon dengan hanya mengangguk, kadang aku sedikit tidak mengerti jalan pikir Han yang sangat santai, dengan keadaan siapapun itu. "Ambil minum sendiri yah," ujar Han mengingatkanku sambil berjalan menuju sofa lalu duduk di sana sambil meminum minumannya. Tahukan kalau diam berarti "iya"/"baiklah".


Setelah selesai makan, aku membereskan semua


yang ada di meja sambil berpikir 'jika Han makan sendiri, apa dia yang akan membereskan ini sendiri?' Entahlah, aku jadi iba, padahal yang seharusnya iba adalah Han kepadaku. Bukan aku kepada Han si anak syalan itu.


[Author POV : Apa? Syalan? Hilih bicit. Syalan juga lu suka ama dia🙄]


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers.😁