
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Benarkah? Kukira kau suka jauh-jauh dariku," sahutnya. Aku kecewa, tapi tidak tahu kenapa. Membingungkan. Sudahlah. Aku tidak menanggapi sahutan dari Han. "Mereka membiarkan mu keluar rumah?" Tanya Han.
"Tidak," jawabku.
"Kenapa masih keluar rumah?" Tanyanya lagi. Kosa katanya semakin sedikit, percayalah dia sudah mulai jengkel.
"Maaf sebelumnya, tapi ada hal yang sangat amat mendesak dan memaksaku untuk keluar rumah," jawabku mencoba mendramatisir keadaan sebaik mungkin.
"Terserah padamu. Yang penting masih bisa pulang tanpa cacat," ujarnya dengan nada acuh.
"Yup. Dia kesal. Kekeke... Menyenangkan melihat wajahnya ketika marah, tapi juga takut." Aku hanya mengangguk dan kami kembali hening.
...
"Mau makan? Aku masak tadi," ujarnya setelah duduk di sofa ruang tengah.
"Ya aku akan makan," jawabku lalu pergi ke dapur. Sekalian saja makan di dapur, lagipula aku hanya sendiri.
.
.
"Han, Mama dan Papa tidak ada acara mau ke sini lagi ya?" Tanyaku sembari duduk di dekatnya. Catatan aku sudah selesai makan. Ini sekitar pukul 3 sore.
"Tidak, pertanyaan mu aneh," sahutnya.
"Ehh? Apanya?" Tanyaku.
"Mereka beberapa hari yang lalu ke sini, tiba-tiba membicarakan tentang punya anak. Kau belum mengerti juga? Mereka tidak akan merasa nyaman datang ke sini setelah itu. Kecuali kita punya anak," jawabnya dengan wajah datarnya, tidak, dia tersenyum tipis.
"Aku tidak mengerti kenapa harus tidak nyaman, kalau tidak salah, waktu itu salah satu dari kita sudah bilang bahwa pintu rumah selalu terbuka untuk mereka berdua. Benar tidak?" Tanyaku.
"Iya memang, tapi perasaan mereka tidak ada yang tahu," sahut Han.
"Ah iya juga, benar kalau masalah perasaan." Aku terdiam, aku rasa tidak ada yang ingin aku bicarakan atau tanyakan lagi.
"Bagaimana rasanya tinggal bersama mereka bertiga?" Tanya Han sambil tersenyum menatap ku.
"Biasa saja, mereka bertiga baik," jawabku.
"Mau tinggal dengan mereka lagi jika aku ada urusan mendadak?" Tanyanya.
"Tidak. Aku lebih ingin ikut denganmu kemanapun itu. Tapi jangan titipkan aku pada mereka lagi," jawabku tergesa-gesa. Lebih baik ikut Han daripada ikut mereka bertiga jika masih ditanyakan seperti sekarang ini.
"Aku tidak yakin kau akan mendengarkan ucapan ku ketika kita bersama nanti," sahutnya.
"Tidak-tidak. Kau bisa percaya padaku yang sekarang," ucapku meyakinkan dirinya.
"Iya-iya. Aku percaya." Terukir senyuman Han yang sudah lama tidak aku lihat.
"Sekarang apa?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.
"Ceritakan apa urusanmu sampai-sampai kau harus menitipkan ku pada ketiga sahabatmu," jawabku. Pertanyaanku yang belum terjawab, tenang ya, sekarang pasti dapat.
"Itu ya. Tergantung pada apa yang akan kau berikan padaku," jawabnya.
"Iya-iya aku mengerti dengan, "tidak ada yang gratis di dunia ini." Aku menjentikkan kedua jariku sebagai tanda kutip. "Tapi ayolah, aku bahkan sudah jadi istrimu," sambungku merasa lelah dengan semua yang tidak gratis dan cepat ini. Han tersenyum, menarik tubuhku mendekat ke arahnya dengan menggunakan tangan kanannya. "Apa lagi sekarang?" Tanyaku yang curiga dengan ini.
"Tidak ada, aku hanya rindu dengan pinggang kurus ini," jawabnya.
"Body shaming!" Kesalku.
"Maaf, tidak bermaksud, ya sudah lupakan. Aku pergi untuk menyelesaikan urusan ku dengan Jyun Go," ujarnya sambil menatap hangat mataku. Aku terdiam sebentar setelah mendengar jawaban dari Han. Urusannya apa?
"Bisa lebih spesifik lagi?" Tanyaku sambil membalas pelukan Han.
"Tidak. Aku tidak akan menceritakan selebihnya, meskipun kau merayu," jawabnya. Baiklah kalau begitu cara mainnya, aku cari tahu sendiri nanti. "Ikut aku," ujarnya sembari menarik tanganku.
"Kemana?" Han tidak menjawab, hanya tetap berjalan, kamar. Kamar kami, Han merebahkan tubuhnya lalu menepuk wilayah kasur di sebelahnya yang masih kosong. Segera aku ikut merebahkan diriku. Han mengeratkan pelukannya padaku, entah apa yang dia pikirkan.
"Sekarang sebaliknya, aku ingin kau menceritakan sedetail-detailnya hubunganmu dulu dengan Jyun Go." Mendengar itu, tanganku sedikit bergetar. "Respon dari tubuhmu memang sangat cepat," sambungnya sambil tersenyum menatapku dan menggenggam tanganku dengan lembut. "Percaya padaku, dia tidak akan mengusik kehidupanmu lagi, juga kehidupan kita," ujarnya.
"Ya tetap, aku tetap ingin tahu apa saja yang dilakukan bajingan itu sampai-sampai setelah beberapa tahun trauma akan kenangannya masih melekat. Kalau kau tidak cerita sekarang, besok-besok nya tetap akan aku tanyakan lagi," jawabnya.
"Itu..."
Flashback
Sekitar 5 tahun yang lalu.
Sekolah menengah atas yang baru, aku baru pindah. Ah bukan, aku sudah pindah 3 minggu yang lalu. Sudah hampir sebulan. Teman sebangku ku bernama Yang-Su. Dan satu lagi laki-laki yang dekat denganku, Jyun Go, itu panggilannya. Dan Kang adalah marganya.
Dia tampan, baik, dan bisa dikatakan sebagai salah satu laki-laki populer di sekolah ini. Suatu keberuntungan bisa dekat dengannya di sekolah ini. Yang-Su sangat-sangat bersyukur karena bisa dekat-dekat dengan Jyun Go. Tapi Yang-Su tidak menyukai Jyun Go sebagai seorang kekasih, ia hanya kagum dengan kepopuleran yang dimiliki oleh Jyun Go.
Seperti yang aku ceritakan di bab sebelumnya, Yang-Su adalah salah satu korban bullying karena fisiknya yang pendek, tapi sebenarnya dia tidak terlalu pendek. Memang teman sekelas saja yang suka bicara. Aku sebagai saksi dari pembullyan itu, sempat mengirimkan beberapa orang bawahan Kakakku untuk memberi mereka pelajaran.
Setelah saat itu, kami sekelas mulai berteman baik, tidak ada lagi yang pembullyan, Yang-Su juga bisa akrab dengan semua teman di kelas.
Oke, masalah Yang-Su sudah selesai. Kembali pada Jyun Go. 3 minggu yang lalu, aku bertemu dengan Jyun Go, dia adalah orang yang mengantarku ke ruang kepala sekolah pada hari pertama. Kukira dia Kakak kelas karena tinggi kami jauh berbeda, namun ternyata kami seumuran. Bahkan aku tidak sengaja mengikuti ekstrakurikuler yang sama dengannya.
Dari sanalah kami mulai dekat, tapi Mama dan Papaku seperti tidak menyukai Jyun Go. Aku mengamati tingkah laku mereka berdua saat aku mengajak Jyun Go untuk datang ke rumah. Mereka tetap tersenyum dan mencoba ramah, namun terlihat terpaksa. Tidak se-ramah ketika Forten yang datang.
Berselang 3 minggu, aku dan Jyun Go resmi menjadi sepasang kekasih. Jyun Go mengajakku untuk pergi kencan untuk pertama kalinya. Aku tidak menaruh curiga sedikitpun padanya, ya karena aku sudah percaya padanya.
Singkat cerita, aku dan Jyun Go sudah sampai di taman, itu lokasi kami berdua untuk bertemu. Kami pergi ke sebuah restoran, tidak ada yang aneh. Tapi setelah selesai makan malam, aku mulai pusing dan kehilangan kesadaran.
Saat aku membuka mata, aku berada di tempat yang asing bagiku. Jyun Go ada di kamar itu juga, dia duduk di sofa kamar tersebut yang terletak pada sebelah kanan tempat tidur. Tempatku terbaring.
Jyun Go tersenyum, lalu mendekati ku. "Aku tadi kenapa ya?" Tanyaku.
"Mungkin hanya lelah..." Jawabnya. Sedetik kemudian aku sadar, kalau kedua tanganku sudah terikat dengan dasi.
"Jyun Go? Ada apa ini?!" Tanyaku ketakutan memandang wajah Jyun Go yang sudah sangat dekat dengan wajahku.
"Kau harusnya berpikir, bagaimana bisa seseorang menyukai wanita sepertimu? Yang begitu tidak punya hati dan ekspresi," jawabnya.
"Jadi begitukah aku di matanya selama ini? Kepercayaan ku? Apa yang terjadi? This bast*rd! I'll k*ll you!!" Mungkin jika aku tidak memotivasi diriku sendiri, aku akan menangis di tempat ini.
"Ya aku akui, caramu keren saat menolong Yang-Su agar tidak dibully lagi. Tapi selebihnya, kau terlihat seperti bukan manusia, melainkan hanya robot. Kau pikir aku tulus padamu? Bangunlah Nona, kau salah besar. Ini hanya salah satu bahan taruhan. Aku kalah, dan kau targetnya," sambungnya.
"Kalau kau tidak tulus, kenapa harus lakukan ini?" Tanyaku, nafasku yang tadinya benar-benar tidak beraturan, kini sudah normal. Aku harus tetap tenang apapun yang terjadi.
"Setidaknya aku perlu memanfaatkan mu, setelah usaha yang aku lakukan untuk mendekati mu selama kurang lebih tiga minggu. Aku harusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku membayar banyak untuk wanita di bar, tapi di sekolah, aku bisa memilih salah satunya untuk ditiduri," jawabnya lalu menindih tubuhku lalu menciumi bibirku.
Aku memberontak sebisaku, dan tak lama kemudian ia melepaskan bibirku. "Aku percaya, kau pasti meninggalkan otak dan akal sehatmu di sekolah," ujarku sambil memukul wajah Jyun Go dengan kedua tanganku yang sedang terikat.
Bugh!
Jyun Go terjatuh, aku segera berusaha untuk melepaskan dasi yang mengikat kedua tanganku ini. Masih bisa dikondisikan, namun pintunya terkunci.
"Kau tidak akan bisa lari kemana-mana Blyss." Terdengar suara Jyun Go, tapi aku merasa seperti bukan dia. Dia menarik rambutku dan tanganku.
"Ayo Blyss, berpikir!" Tekanku pada diriku sendiri sambil menahan sakit.
"Aku pikir aku akan membunuhmu di sini," ujar Jyun Go.
"Secepat itu? Aku bahkan tidak berbuat salah padamu."
Belum ada yang tahu tentang keluargaku, tentang aku yang sebenarnya adalah seorang pengawal pribadi, ya meski amatiran karena 17 tahun adalah permulaan ku. Aku juga tidak tahu kalau Jyun Go adalah orang berandalan. Di sekolah dia begitu manis, sopan dan bahkan hampir dikatakan culun. Sayangnya dia terlalu tegas untuk dikatakan culun.
Bugh, bugh
Aku kembali memukul wajah Jyun Go. Secepat mungkin, harus membuatnya tidak sadarkan diri. Untuk membunuh, aku belum diberi kebebasan oleh Papa. Aku masih ingin menjadi seorang anak yang menuruti perintah Papa. Lagi pula, Kak Bryan pasti akan menghukum diriku jika melanggar aturan dari Papa.
Jyun Go terkulai, dia tidak sadarkan diri dan tergeletak di atas lantai. Aku segera mencari keberadaan kunci pintunya, tersangka pertama adalah kantong celananya. Ya, ketemu. "Aku pulang dulu, Jyun Go. Terima kasih atas undangannya, lain kali aku membalas mu," gumamku sembari membuka pintu yang terkunci itu.
Setelah keluar, aku berlari sekencang mungkin. Air mataku sudah tidak terbendung lagi, benar-benar menjijikan. Aku tahu lokasi rumah Jyun Go, tapi tidak tahu denahnya. Jadi aku masih bisa pulang ke rumah sendiri, aku benar-benar ingin sendiri, mungkin sampai dua atau tiga hari ke depan.
"Arrrggghh!!!" Aku berteriak kencang sambil menangis di bawah jembatan. "Benar-benar menjijikan!!!" Teriakku lagi. "Hiks... Aku tidak akan percaya lagi pada orang culun!" Kesalku. Penampilan Jyun Go di sekolah memang agak culun, itu dikarenakan ia mengenakan kacamata, tutur bahasanya juga sangat sopan. "Bast*rd steal my first kiss!! I'll k*ll him any day now!!" Meski berteriak, tidak ada seorang pun yang peduli denganku, jalanan ramai dan sedang sibuk pada urusannya masing-masing.
Flashback end
To Be Continue