LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Kaulah Gantinya



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Ada apa..?" Tanyaku berbisik dengan mata terpejam, aku masih bisa merasakan kalau Han sangat dekat dengan wajahku.


"Ternyata ingatanmu belum kembali sejauh yang kukira," ucap Han melonggarkan lenganku.


Aku membuka mataku. Gelap. Han memblokir cahaya dengan wajahnya. "Maaf, aku terlalu melampiaskan semuanya padamu," ujar Han memandangku. Aku hanya tersenyum tipis ke arah Han.


"Memang lebih baik kau melampiaskannya padaku. Mungkin aku akan panas jika kau melampiaskannya ke orang lain," pikirku, lalu rasanya semua ringan (seperti kau tidak menginjakan kaki di tanah) dan semua gelap.


.........


Aku kembali terbangun di tempat hampa seperti sebelumnya. 'Ya!! apa lagi sekarang?' Kesalku sambil memutar bola mata.


"Halo Blyss tua," sapa anak perempuan di belakangku.


'Catatan. Aku belum tua, menurut umur.. aku masih dewasa,' sahutku sambil berbalik badan.


"Haha baiklah," ucapnya.


'Jadi? Apa sekarang?' Tanyaku.


"Lihatlah ke belakangmu," ucapnya. Aku mengikuti perintahnya, aku hanya melihat seorang remaja perempuan yang tersenyum padaku. Aku berbalik untuk mencari Blyss kecil, tapi dia tidak ada di belakangku. Aku menatap kearah depan lagi, tiba-tiba remaja tadi sudah ada di depanku.


'Baiklah. Aku kaget...' Gumamku sambil menahan tawa.


"Aku sudah tahu kalau kau kaget," ucap perempuan itu datar.


'Biar kutebak, kau itu aku?'


"Sayangnya jawabannya adalah iya," jawabnya.


'Kau kurang bersyukur,' sahutku datar.


"Tidak, aku bercanda," ucapnya lalu tertawa. "Aku jadi tidak yakin kalau kau amnesia."


'Aku tidak ingat, hanya saja kau mirip dengan Blyss kecil.'


"Begitu ya."


'Kau menggantikan Blyss kecil?' Tanyaku.


"Benar sekali. Selain kau melupakan Clay yang pernah kau temui sebelum di kantor polisi. Kau juga lebih melupakan hal sebelum kau kecelakaan," jawabnya.


'Ah iya. Aku sempat kecelakaan. Jadi apa yang membawaku kemari?'


"Biar aku perlihatkan, ikuti aku," ucapnya, lalu mulai berjalan. Aku mengikutinya, beberapa langkah kemudian tempat hampa tadi berubah menjadi halaman depan panti asuhan di sebelah rumah Han.


'Sebenarnya berapa lama aku tinggal di sekitar Han?'


"Bahas itu nanti sayang..." Jawab Blyss lalu samar-samar menghilang.


'Ehh. Tidak sopan,' kesalku sambil melihat-lihat ke sekitar.


'Aku berada dimana sekarang?' Pikirku sambil mencari diriku yang ada di masa ini. Aku menemukan Blyss sedang berlari ke dalam rumah Han.


Sialan. Baru saja ketemu. Aku mengikuti Blyss yang berlari, dari teras rumah lalu menaikki anak tangga dan sampailah di sebuah ruangan. Setelah masuk kedalam ruangan itu, Blyss memandangi sebuah pintu yang tertutup dan tidak menutup pintunya, sedangkan ruangan ini simple.


'Mungkin saja ini ruangan milik Papanya Han, tapi kenapa Blyss masuk ke sini? Anak kurang ajar.'


"Untuk apa kau di sini?" Tanya Han setelah menutup pintu yang dari tadi di pandangi Blyss.


"Aku hanya ingin mencarimu," jawab Blyss.


"Terserah," Han tidak lupa dengan sikap ketusnya.


"Kau masih memikirkan hal tadi?" Tanya Blyss.


'Han kenapa?'


"Tidak," Ketus Han lagi.


"Tapi wajahmu berbohong soal itu," sahut Blyss sambil memandang tajam ke arah Han. "Kau tidak mengatakan apapun pada Mamamu. Papa juga tidak mau, kau juga tidak tahu seberapa khawatirnya Bibi. Papamu sendiri bilang itu tidak apa-apa. Kuharap kau tidak tersinggung tapi, kau hanya buang-buang waktu untuk hal seperti tadi," sambung Blyss dengan nada sinis.


"Ck," kesal Han.


"Detik-detik akan mengusirku. Lebih baik aku keluar sendiri," Blyss memandang Han dengan tajam, lalu beranjak pergi dari ruangan itu. Namun, Han lebih dahulu mencengkeram lengan atas kiri Blyss, lalu mendorong Blyss mundur untuk menutup pintu.


Dari suara pintu, punggung Blyss terbentur dan wajah Blyss tidak bisa berbohong bahwa punggungnya sakit. Setelah menutup pintu Han mencengkeram lengan atas Blyss yang satunya lagi, menahan kaki Blyss lalu mencium Blyss dengan kasar sedangkan Blyss dengan cepat memejamkan matanya.


'Itu...' Aku sebagai jiwa atau arwah yang sedang keluar dari tubuh kasarku, memperhatikan mereka berdua. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, aku juga kehilangan kata-kata untuk merespon apa yang terjadi di depan mataku.


Rasanya aku ingin pingsan lagi, tapi sayangnya aku memang sudah pingsan. Ngomong-ngomong, Han ternyata memang sudah good kisser... Ah sudahlah. Memalukan. Aku terdiam melihat apa yang sedang terjadi di depan mataku.


Beberapa detik kemudian Han melepas Blyss secara keseluruhan, lalu Blyss membuka matanya. Blyss hanya tersenyum tipis ke arah Han.


'Ehh?!'


Han menyelipkan tangan kirinya kebelakang punggung Blyss, lalu menariknya kedalam pelukannya. Dan tangan kanannya membuka pintu, setelah pintu terbuka Han segera menggendong Blyss keluar dari ruangan itu. Blyss hanya diam menyaksikan semuanya, sepertinya... Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


'Sekarang apa?' Pikirku sambil mengikuti Han yang menggendong Blyss menuruni tangga.


Han mendudukkan Blyss di sofa, lalu Han berlari ke arah dapur... Kalau tidak salah. Aku tidak ingat dengan denah rumah ini.


'Hah~' aku ikut duduk di sofa, tepatnya di depan Blyss.


Han datang membawa sebaskom es batu dan dua lembar kain.


'Han sudah tahu kalau lengan Blyss lebam?' Pikirku.


"Itu untuk apa?" Tanya Blyss sambil bangun dari sandarannya.


"Hati-hati," keluh Blyss.


"Maaf, aku terlalu melampiaskan semuanya padamu," ujar Han sambil mengikat kain yang dah diisi es. Lalu menempelkannya ke lengan sebelah kiri Blyss yang lebam berulang kali.


"Hem.." sahut Blyss sambil menahan sakit. Kalau saja tangan kanan Blyss bisa digerakkan, mungkin Blyss sudah memukul tangan Han. "Aku berat ya?" Tanya Blyss.


"Untuk apa kau bertanya begitu?" Han kembali bertanya.


"Tadi kau berlari tidak secepat biasanya," jawab Blyss. Han menghembuskan nafas kesal lalu mengangguk sambil tersenyum terpaksa.


"Masih sakit?" Tanya Han lalu meletakkan kain yang berisi es tadi di meja. Blyss mencoba menggerakkan tangan kirinya.


"Sudah lumayan bisa diangkat," jawab Blyss.


"Baiklah, yang satunya lagi," ucap Han sambil berpindah duduk menjadi di sebelah kanan Blyss.


Baru saja Han duduk, Mama Hana datang.


"He..? Itu kenapa..?" Tanya mama Hana sambil duduk di sebelah kiri Blyss.


"Begini Ma... Tadi di sekolah aku dijahili teman," jawab Blyss dengan tenang dan tersenyum.


'Aktris sudah mendarah daging.'


"Hah?! Yang benar? Mereka belum tahu kamu itu siapa?!" Tanya mama Hana dengan wajah tidak percaya.


"Sudahlah Ma... Lagipula tadi itu hari terakhir aku sekolah," jawab Blyss.


"Yasudah terserah padamu," sahut Mama Hana datar dan Blyss hanya tersenyum. "Lain kali jaga Blyss baik-baik Han," ujar Mama Hana menatap tajam ke arah Han.


"Iya," jawab Han.


"Sini Mama bantu," pinta Mama Hana mengambil kain yang ada di meja.


"Ehh-ehh. Tidak perlu Ma. Sekarang aku harus bertanggung jawab. Jadi biar aku saja," Han segera melarang Mamanya.


"Hem baiklah. Mama juga kebetulan harus tidur, mama benar-benar letih," jawab Mama Hana lalu pergi dari ruang tengah.


"Yang kanan biar aku saja," ucap Blyss.


"Tidak," jawab Han sambil melipat lengan baju Blyss.


"Ayolah, tangan kiriku sudah baik-baik saja," ucap Blyss. Han tidak menjawab, tapi dia mencengkeram lengan Blyss yang lebam dengan kencang. "Aww! Ck. Baiklah. Lakukan sesukamu," kesal Blyss lalu kembali bersandar di sofa. Han hanya tersenyum melihat Blyss kesal lalu melanjutkan kerjanya.


Aku yang menonton semuanya dari tadi hanya bisa geleng-geleng dan senyum-senyum. Aku kekurangan kata-kata untuk berkomentar.


Samar-samar semuanya memudar. 'Selesai sudah...' Pikirku saat sadar semuanya mulai memudar.


"Bagaimana Blyss?" Tanya Blyss remaja yang sudah berdiri di depanku.


'Entahlah. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana,' jawabku.


"Hem.. aku juga sama kalau mengingat soal itu lagi," ucap Blyss.


'Ngomong-ngomong, itu kapan?' Tanyaku.


"Sehari sebelum kau pindah ke ibu kota. Em... Ke Seoul maksudku, dan setelah pergi dari sini kau kecelakaan," jawab Blyss remaja.


'Kira-kira umur 16 tahun yah?' Tebakku, dan Blyss hanya mengangguk. 'Sebenarnya kenapa aku tinggal lama dengan keluarga Alexssandro?' Tanyaku.


"Karena sebenarnya kau sudah tahu alasannya, jadi aku akan memberi tahumu. Aku percaya kau sudah dewasa dan tidak akan gegabah," jawaban awal dari Blyss remaja ini membuatku lumayan penasaran. "Itu sama saja seperti menjualmu kepada mereka. Di tahun itu, papa dan mamamu sedang memulai bisnis mereka. Dananya berasal dari perusahaan Alexssandro, dengan perjanjian... Kalau sudah berkembang. Dana tersebut dikembalikan, jika tidak dengan harta, maka kaulah gantinya," jelas Blyss dengan wajah prihatin.


'Kau kasihan pada dirimu sendiri?' Tanyaku.


"Kenapa tidak?"


'Santai... Selama itu tidak membuatmu tersakiti,' jawabku.


"Aku memang tidak salah, kau memang sudah dewasa," sahutnya.


'Kenapa Papa dan Mama tidak membayarnya dengan harta saja?' Tanyaku.


"Mama Hana tidak setuju dengan itu, kebetulan juga jalan cerita hubungan Han dengan perempuan dalam hidupnya tidak ada yang berjalan baik kecuali denganmu," jelas Blyss dengan wajah lebih baik dari sebelumnya.


'Beruntunglah aku berguna,' sahutku.


"Bagus kalau kau nyaman dengan semuanya. Ingat saja kalau kau tidak menginginkannya, orang tuamu masih bersedia untuk mempertimbangkan apapun yang kau bicarakan. Hanya saja kau harus berbicara serius dengan mereka," ujar Blyss remaja lebih santai.


'Baiklah. Apa kita akan bertemu lagi nanti?' Tanyaku.


"Kurasa ini yang terakhir. Sejujurnya, aku tidak tahu soal itu," jawabnya.


'Begitu rupanya. Apa tidak bisa kau perlihatkan saat aku kecelakaan?' Tanyaku.


"Tidak."


'Kenapa?'


"Aku tidak mau kau mengingat kenangan itu, dan aku juga tidak ingin kau membenci Han," Jawabnya.


'Kenapa aku harus membencinya?'


"Biar Han yang menjelaskannya, karena kalau dilihat dari sisimu saja. Alasan Han tidak akan terlihat, jadi tanyakan saja pada Han," jawab Blyss mulai menghilang. "Sampai jumpa Blyss, senang bisa tahu kalau kau sudah dewasa, aku percaya padamu!" Ucapnya lalu benar-benar hilang. Aku hanya menghembuskan nafas lalu semuanya silau.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁