LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Hanya Ada Dua Kemungkinan



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Kapan kau menyadari itu?" Tanyaku, aku hanya ingin tahu itu.


"Setelah kita berpisah. Kau tahukan kalau penyesalan selalu datang terakhir?" Aku hanya mengangguk mengiyakan. "Aku bertemu Yura setelah kehilanganmu waktu itu. Aku santai saja, tapi setelah beberapa minggu, rasanya aku tidak bisa menahan air mataku," ujar Han dengan mata mulai berair.


"Hentikan itu. Baiklah, aku tidak akan mengulasnya lagi. Sekarang kita tidur saja," ajakku, aku tidak ingin Han menangis di depanku. Ini tidak akan bisa dijadikan bahan ledekan, terlalu sensitif.


"Jadi? Pacaran?" Tanya Han meyakinkanku.


"Iya," jawabku sambil tersenyum menatap Han. Han tidak tersenyum, dia hanya mengeratkan pelukannya lalu mulai memejamkan matanya, begitu juga denganku.


Hari ini, malam ini, aku menjadi kekasih sahabat masa kecilku, bukan sahabat masa kecil, tapi pujaan hati masa kecil. Haha, aku dan Han memang tidak bersahabat, hanya keadaan waktu itu saja yang membuat kami bersama. Lagi pula waktu itu Han selalu ketus padaku, aku mulai ingat sekarang, semua cara Han untuk menjauh dariku yang selalu banyak tanya, bahkan kepada hal kecil, aku selalu bertanya banyak. Itu hanya modal dusta agar bisa mengobrol dengan Han, sekeras aku berusaha mendekatinya, sekeras itu juga Han berusaha menjauhiku disaat aku baru bertemu dengan Han.


Aku ingat bagaimana pandanganku kepada Han saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku sungguh-sungguh mengagumi sosok Han yang sangat tampan, bukan hanya mengaguminya, aku juga menyukainya. Namun setelah kecelakaan itu kami berdua berpisah, aku dan keluargaku pindah ke Seoul, dan Han menetap di Busan.


Kami bertemu kembali di kampus milik Mama Hana, bertemu juga dengan konflik dan tokoh tambahan. Dan sekarang tidurku tidak terlalu nyenyak, itu karena ini sudah terlalu malam, kalau biasanya sudah lewat dari pukul 10 malam, aku tidak akan tidur sampai besoknya, lalu aku akan tidur pada pagi harinya sampai aku lelah tertidur.


Jadi, malam ini aku merasa seperti menemani Han tidur, tapi aku tetap saja tertidur.


...


Aku terbangun karena suara alarm dari jam Han, sepertinya dia sengaja. Aku segera melepas pelukan Han untuk menghampiri jam yang sedang ribut di jam 6 pagi, setelah jam itu diam, barulah aku membangunkan Han.


"Ada apa?" Tanya Han dengan suara khas orang baru bangun tidur.


"Alarm-mu sudah berbunyi," ucapku datar, seperti biasanya.


"Oh sudah ya? Baiklah," ujar Han lalu duduk di pinggir kasur.


"Kau mau kemana..?" Tanyaku sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Aku ada meeting hari ini," jawab Han.


Aku berhenti di depan pintu kamar mandi untuk memperhatikan Han yang masih berusaha membuka matanya. "Oh iya. Aku hampir lupa kalau kau sudah menggantikan posisi Papamu," ujarku lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Aku berdiri di depan cermin wastafel. "Ehh? Ternyata aku sempat tertidur," gumamku sambil memperhatikan leherku di cermin wastafel. Aku kembali keluar untuk memeriksa Han, masih seperti tadi, Han masih duduk di pinggiran kasur. "Han. Mandilah duluan," pintaku sambil keluar dari kamar mandi.


"Hem.." Han mengiyakan lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku duduk di sofa sambil menunggunya, dia hanya sebentar.


"Sudah ya?" Tanyaku sambil berdiri saat Han sudah keluar dari kamar mandi. Han hanya mengangguk, pakaiannya juga sudah rapi. "Tunggu aku ya kalau mau turun," ucapku lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Han hanya menaikkan alisnya sambil menatapku, lalu aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Airnya dingin, saluran air hangat sepertinya masih rusak, jadi aku cepat-cepat mandi, itu juga agar Han tidak menunggu lama.


Aku tidak ada kegiatan khusus hari ini, aku hanya akan menemani Mama Hana di rumah ini, Han juga sepertinya sibuk dengan urusannya.


Aku dan Han segera turun ke bawah dan hanya mendapati beberapa asisten rumah tangga sedang bersih-bersih dan memasak. Han menggenggam tanganku saat aku ingin pergi menuju dapur. "Kenapa?" Tanyaku sambil menatap tangan Han yang masih menggenggam tanganku.


"Kau mau kemana?" Tanya Han.


"Ke dapur. Ada apa?" Tanyaku sambil melepas tangannya, tangannya sangat dingin.


"Tidak. Kalau sudah selesai, panggil aku," ucap Han lalu duduk di salah satu sofa. Aku mengangguk lalu segera pergi ke dapur.


Sampainya aku di dapur, semua masakan sudah matang, tinggal meletakkannya di atas meja makan.


"Pagi, Bi," sapaku, aku tidak suka bergaul, tapi hari ini aku ingin akrab dengan seorang wanita itu.


"Pagi juga," sahutnya sambil menatapku sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terlihat tidak begitu suka dengan keberadaanku, entah itu hanya perasaanku saja atau memang dia tidak suka padaku.


5 menit kemudian aku memanggil Han untuk sarapan, sedangkan wanita itu segera pergi dari ruang makan. Kata Han, wanita itu akan pergi untuk memanggil Mama dan Papa untuk sarapan bersama.


Aku dan Han duduk duluan di meja makan, beberapa saat kemudian, datanglah Mama Hana dan Papanya Han. Mama duduk di depan Han, sedangkan Papa duduk di depanku. Aku memandang ke arah dimana biasanya ada satu tempat duduk di tengah-tengah, yang biasanya untuk kepala keluarga. Namun di sini tidak ada.


"Kau bingung ya Blyss? Kenapa tidak ada tempat duduk di tengah sana?" Tanya Mama yang sadar akan tatapanku. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


"Kita semua sama di sini. Aku yakin kalian berdua sudah diajarkan sopan santun. Mau itu dari keluarga, atau dari diri kalian masing-masing yang sadar," jawab Papa.


Aku mendengar suara dengusan dari Han aku segara menatap ke arahnya, Han tersenyum ke arahku. "Ada apa?" Tanyaku sambil menatapnya. Han hanya menggelengkan kepalanya lalu lanjut makan, semuanya juga sama, aku pun mengikuti mereka, ya aku ikut lanjut makan.


Setelah selesai sarapan, aku dan Mama duduk di sofa ruang tengah, Han pergi ke kantor, dan Papa tadi bilang akan pergi ke rumah temannya yang berada di sekitaran kompleks rumahan itu.


Mama tersenyum menatapku sebentar lalu menghidupkan televisi, dia tersenyum menatapku, tapi aku terlambat untuk membalasnya.


"Blyss," panggil Mama sambil meletakkan remote televisi di atas meja.


"Kenapa, Ma?" Tanyaku sambil duduk lebih santai dan menunggu jawabannya.


"Kamu semalam tidur dimana?" Tanya Mama.


"Di kamar Han, Ma," jawabku sambil tersenyum canggung.


"Han sepertinya berulah," ucap Mama sambil tersenyum menahan tawa.


"Maksud Mama?" Tanyaku.


"Di lehermu," ucap Mama lalu tertawa kecil. "Hanya ada dua kemungkinan. Kalau bukan nyamuk, berarti Han pelakunya," sambung Mama.


"Astaga. Sebentar ya, Ma," aku baru terpikirkan hal itu. Aku segera berlari menuju kamar Han, sampai di dalam kamar aku langsung pergi ke wastafel untuk membersihkan tanda itu.


Aku tidak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi kata temanku, kalau digosok dengan air, maka tanda itu akan hilang. Jadi, setiap ada lelaki yang aku jebak dan memberiku tanda seperti ini, aku segera menghilangkannya dengan air dingin.


"Aku kira, ada nyamuk di kamar ini, ternyata nyamuk yang lebih besar, bahkan sangat besar, pantas saja tidak terasa gatal. Tapi? Kapan Han sempat membuat ini? Artinya aku benar-benar sempat tertidur pulas," gumamku sambil menggosokkan air dingin di tempat tanda itu berada.


Setelah bersih, aku kembali turun untuk menemui Mama. Mama masih duduk di sofa, dia masih tersenyum menatapku, aku benar-benar malu sekarang. Tapi setidaknya itu sudah hilang.


Aku duduk di sofa, tepatnya di sebelah Mama, "Kau tidak sadar ya tadi?" Tanya Mama dengan nada meledek.


"Bukan begitu, Ma. Tapi tadi aku kira itu hanya karena nyamuk. Pantas saja tadi aku tidak merasa gatal," jawabku sambil menggaruk kepalaku yang padahal tidak gatal.


"Jadi? Kemarin kalian sampai di rumah pukul berapa?" Tanya Mama, aku ragu untuk menjawab apa, tapi aku memilih untuk tetap jujur.


"Sekitar jam 11, Ma," jawabku sambil tersenyum ke arah Mama.


"Astaga. Jadi kau dan Han hanya dapat tidur sebentar ya?" Tanya Mama.


"Iya, Ma," jawabku jujur.


"Ya sudahlah, kalian berdua terlihat sudah terbiasa," sahut Mama menatapku.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁