
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Aku pesan makanan, itu pun pakai alat dan bahan dari Derry. Identitasku harus tetap disembunyikan, aku bisa pakai fake account tapi itu tetap beresiko untuk aku yang tiba-tiba tersembunyi.
05:47 PM
Makanan yang aku pesan sampai, aku pun makan dengan kak Bryan, jarang-jarang aku sempat makan dengannya.
"Mama dan Papa sudah makan belum ya?" Gumamku sambil meletakkan sosis yang baru saja habis kugigit di piring.
"Tadi katanya mereka sedang memulai rapat, lebih baik jangan diganggu dulu," sahut kak Bryan yang sepertinya mendengar aku bergumam.
"Hem baiklah," jawabku, lalu lanjut makan.
"Bagaimana tadi? Kalian jadi membantu Forten besok,'kan?" Tanya kak Bryan menatapku.
"Jadi kak, tapi kenapa mereka rekanku?" Tanyaku.
"Mereka yang ada,"
"Kakak yakin kami akan berhasil?"
"Pecicilan kalian tetap berguna, kerjakan saja." Jawab kak Bryan sambil tersenyum.
Impressive. "Jangan senyum di depanku, mentalku tidak kuat," sahutku.
"Halah,"
"Kira-kira, besok bagaimana yah?"
"Tempatmu,'kan aman, tenang saja." Jawab kak Bryan.
"Aman bagaimana? Aku pengumpan."
"Heheh, lupa. Baiklah, jaga diri." Jawab kak Bryan dengan enteng. "Kau sudah diberi tau papa dan mama kalau kau akan dipindahkan ke Busan?"
"Aku belum diberi tahu, itu memang benar?" Tanyaku.
"Kakak juga tidak tahu, tadi kakak hanya tanya." Jawab kak Bryan. "Hubungan kalian berdua baik-baik saja'kan?" Tanyanya lagi.
"Kalian, siapa?" Tanyaku sambil makan.
"Kau dan Han. Yakali mama dan papa."
"Han cerita apa ke kakak?" Tanyaku.
"Sepertinya ingatanmu belum kembali sepenuhnya," jawab kak Bryan.
Ingatan? "Apanya?"
"Lupakan, kau mau tinggal di sini? Atau pulang?" Tanya kak Bryan sambil berdiri.
"Aku mau di sini, kakak mau pulang?" Tanyaku.
"Tentu, kakak rindu pada Sidney." Jawab kak Bryan. Sidney adalah keponakanku, anak dari kak Bryan dan kak Welsa. Sidney Grysselda.
"Baiklah," aku membereskan meja tempatku makan dengan kak Bryan tadi, sendirian. Kasihan. Setelah itu, ke ruangan utamaku untuk mandi lalu aku pergi ke ruangan bawah tanah untuk kembali mengerjakan prototype-ku.
08:22 PM
Aku baru saja selesai dengan prototype-ku dan akan kembali ke ruang pribadiku yang ada di lantai atas.
"Besok uji cobamu dimulai, tinggal di-charger dan siap untuk digunakan." Gumamku sambil memperhatikan prototype dengan bangga, tapi..
"Aww sstt Syalan(:v)! Jalan lihat-lihat bung." Ucapku sambil mengelus hidungku yang terkena dampak tabrakan ringan ini, mataku terpejam secara spontan karena ini lumayan sakit.
"Kau juga harus memperhatikan jalan Blyss," jawab orang di depanku.
'Suaranya?' Aku langsung menatap orang didepan setelah dia menjawab ucapanku tadi, didepanku berdiri orang yang kira-kira 15 cm lebih tinggi dariku. Aku santai karena aku pikir yang menabrakku adalah salah satu pekerja disini, ternyata bukan.
"Han? Bagaimana kau di sini?" Tanyaku agak kaget, karena tadi aku sendiri yang melihatnya dan Viana pergi dari halaman markas Gryss.
"Aku tinggal kembali ke sini, apa susahnya?"
"Aku salah tanya, maksudku untuk apa kau di sini?"
"Kak Bryan khawatir kau lupa tidur ketika sudah diruangan penuh lampu itu, jadi aku kembali kesini untuk mengingatkanmu, sekaligus menginap disini." Jawab Han.
"Dimana kau tidur?"
"Di sana," jawab Han sambil menunjuk salah satu kamar yang pintunya masih sedikit terbuka. Di lantai paling bawah ini ada banyak kamar untuk "pegawai-pegawai" lain yang perlu tidur di sini.
"Akan ke ruanganmu itu, tapi tidak jadi. Kau sudah di sini, sekarang ikut aku." Jawab Han lalu menarik tanganku masuk kekamar yang ditunjuknya tadi.
"Untuk apa?" Tanyaku saat aku sudah di dalam kamar yang lumayan dingin itu.
"Kau tidur di sini," jawab Han dengan ringan.
"Aku tidak tertarik, terima kasih." Jawabku beranjak untuk pergi.
"Kau tidak akan keluar." Ucap Han menarik tanganku, mendekapku lalu menahanku di pintu, sepertinya Han mengunci pintunya dan aku masih memegang prototype yang kubawa.
"Han ming-" Han menciumku, aku bingung harus apa. Pikiranku kosong saat seperti ini, astaga.
Sudah berapa lama ini? Aku kehabisan napas, cari cara cepat. Aku menggunakan jariku dengan kuku yang sedikit panjang meremas lengan Han.
"Lumayan sakit, ternyata kau belum mengingatku." Ucap Han setelah melepas ciumannya.
Ingat? Apa? "Apa maksudmu?" Dua orang.
"Lupakan, bukan sekarang waktunya. Tidurlah, jangan buang tenagamu untuk membantah karena itu tidak ada gunanya." Ucap Han.
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin," jawabnya sambil menyeringai, lalu memelukku. Aku akui aku senang, tapi kata-kata kak Bryan dan Han tentang ingatan itu masih berada di kepalaku. Berharap saja aku tidak terganggu dengan ini besok, astaga.. apa-apaan ini. 50% aku ingin membalas pelukannya mengingat dia cepat membuatku nyaman, tapi 50% lagi aku juga ragu untuk membalasnya. "Perkataanku tadi jangan terlalu dipikirkan, kau bisa mengulasnya lagi setelah urusan kita besok, sekarang tidurlah." Bisik Han, lalu melepas pelukannya.
"Hem. Aku mau ke kamar mandi dulu." Jawabku. Han tidak merespon, aku pun langsung masuk kedalam kamar mandi. Apa akan canggung? Tapi kenapa? Bagaimana sekarang? Sialan, benar-benar merepotkan. Mentalku tidak kuat dengan ini, oh ayolah Blyss. Biasakan dirimu, kau belum ada hubungan apa-apa dengannya.
Perhatianku teralihkan ketika aku sadar aku masih memegang prototype-ku. Aku mengutak-atiknya, untuk melihat siapa saja yang ada disini. Kebetulan dayanya masih tersisa sedikit, kejutannya, hanya aku dan Han di markas besar ini dan beberapa pengawal di luar. Meski cepat dibaca, tetap saja aku lama berada di kamar mandi. Saat aku keluar, Han sudah tertidur dan aku memilih tidur di sofa, bukan negatif thinking dengan Han.. hanya
saja tempat tidurnya kurasa akan diblokir oleh Han sendiri ketika sudah terlalu pulas.
.........
04.33 AM
Aku terbangun karena rasanya sedikit aneh, entahlah.. sulit untuk dijelaskan waktu itu.
'Aku? Di tempat tidur? Em.'
Aku menoleh kesamping kanan dan mendapati Han memandangku terang-terangan, dia menyeringai lalu menindihku. "Hei minggirlah, aku mau pergi."
"Cium aku," pinta Han.
"Tidak." Tolakku. Damn. "Kita ada urusan hari ini, ingatlah, jangan buang waktu."
"Aku duluan kalau begitu." Ucapnya lalu menciumku.
'Prototype-ku?!'
Aku menggigit bagian bawah mulut Han, untungnya itu berhasil membuatnya melepas ciumannya.
"Ternyata sekarang kau sudah mulai berani nona Gryss." Ucap Han, lalu menjulurkan lidahnya ke bagian mulutnya yang kugigit tadi sambil menahan tubuhnya.
"Prototype-ku akan off jika tidak cepat-cepat." Jawabku cepat sambil berusaha mendorong Han agar aku bisa berdiri.
"Sudah kuurus benda itu, tenanglah." Jawab Han dengan santai.
"Apa aku bisa percaya itu?" Tanyaku sambil menahannya agar tidak menjatuhkan tubuhnya lagi seperti tadi, dia berat. "Tapi tetap saja aku harus segera pergi."
"Bisa, sudahlah. Kenapa kau tidur di sofa?"
Tanyanya.
"Karena aku ingin, kenapa aku jadi tidur di sini?" Tanyaku.
"Aku yang memindahkanmu, kau menyakiti dirimu sendiri." Ucapnya sambil memelukku.
"Sekarang kau yang menyakitiku, kau berat. Turunlah."
"Aku tidak bisa, aku masih belum puas berada disini." Sahut Han masih memelukku hanya saja sekarang dia lebih melepas beratnya di atasku, napasnya bisa kurasakan dileher dan bahuku.
Kau berat woy. Rasanya aneh. Ini geli. Tahan napasmu. "Iya kau nyaman, aku tidak." Keluhku.
"Haha, benar juga. Baiklah, lain kali akan kuulang, tempat tidur dirumahku sepertinya lebih empuk." Ucapnya, lalu berdiri dan tersenyum puas.
"Sialan." Umpatku. Rasanya aku ingin membunuh Han secepatnya.
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers 😁