LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
It's A Normal Day?



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Arrrggghh!!!" Aku berteriak kencang sambil menangis di bawah jembatan. "Benar-benar menjijikan!!!" Teriakku lagi. "Hiks... Aku tidak akan percaya lagi pada orang culun!" Kesalku. Penampilan Jyun Go di sekolah memang agak culun, itu dikarenakan ia mengenakan kacamata, tutur bahasanya juga sangat sopan. "Bast*rd steal my first kiss!! I'll k*ll him any day now!!" Meski berteriak, tidak ada seorang pun yang peduli denganku, jalanan ramai dan sedang sibuk pada urusannya masing-masing.


Flashback end


Han yang dari tadi mendengarkan, hanya bisa mengangguk-angguk sambil terus mengelus kepalaku, setidaknya dengan begitu, aku dapat bercerita tanpa diikuti oleh air mata.


"Tadi kau bilang first kiss?" Tanya Han.


"Iya, itu sebelum ingatanku tentangmu kembali," jawabku.


"Ah benar juga, kau amnesia setelah kecelakaan," sahutnya. "Soal membalasnya sesegera mungkin, apa tidak berlebihan? Kau bahkan belum melakukan apapun setelah kurang lebih lima tahun," ejek Han.


"Itulah mengapa aku masih trauma, aku tidak ingin bertemu dengannya, tidak ingin mendengar namanya, juga tidak ingin mendengar suaranya. Saat seharusnya aku melawan rasa tidak ingin itu agar bisa membalasnya, aku malah memilih untuk pergi menjauhkan diri. Ya, akhirnya tidak ada yang terjadi, jika bukan karena keinginanmu untuk membalasnya," jawabku.


Han tersenyum santai lalu menghela nafasnya, "Aku merasa benar-benar khawatir. Pertama kalinya aku melihatmu sampai histeris saat aku hanya menyebutkan nama seseorang yang bahkan sudah lebih dari lima tahun tidak berkomunikasi denganmu," sahut Han sambil menyelipkan tangannya pada pinggangku. Dia suka sekali dengan itu.


"Tapi aku masih bingung, kenapa waktu itu rasanya cara Jyun Go mengikat dasinya berbeda dengan caramu," ujarku.


"Pertanyaan mu ada-ada saja. Ya mungkin karena masih remaja atau kurang pengalaman," jawabnya.


"Hanya penasaran, aku dengan mudah bisa membuka ikatannya. Tapi denganmu? Apa-apaan itu. Tanganku sampai merah," sahutku mengingat kejadian saat sepulang dari pernikahan Viana dan Forten.


"Aku tidak sengaja mengencangkannya," jawabnya lalu menindih tubuhku.


"Apalagi?" Tanyaku datar.


"Nothing, i just want to kiss you," jawabnya lalu ******* bibirku. I can't lie, him lip is so comfortable and warm.


Setelah sekian lama, aku merasakan bibir Han begitu lembut, biasanya dia akan memaksa, dan bahkan hampir tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Tapi sekarang? Aku bahkan nyaman sekali dengan ini. Tidak ada sedikitpun niatan untuk menolak.


Aku melepaskan pelukanku dan membuat Han ikut menghentikan aktivitasnya. "Kenapa?" Tanyanya.


"Aku ingin mandi, setelah itu ke ruangan kerja sebentar," jawabku. Aku segera pergi ke kamar mandi. Sekitar 20 menit kemudian aku selesai mandi, Han tertidur, apa nanti dia akan begadang? Tapi jika dibangunkan, ia terlihat begitu lelah, aku jadi tidak tega.


Aku tidak membangunkannya, aku pergi ke ruangan kerja lalu menyetel pewaktu untuk 30 menit ke depan. Ini sudah mulai malam, jadi setelah 30 menit aku akan tidur. Untuk rencana jadwal tidur lebih baik daripada sebelumnya.


.


.


30 menit berlalu, waktunya pun sudah habis, aku segera mematikan seluruh alat elektronik yang aku gunakan tadi. Pekerjaanku hanya memantau kantor dan markas dari kejauhan. Informasi dasarnya berasal dari Derry, Forten, Kak Bryan, kadang juga kedua Papaku.


Han masih terlelap, lelah sekali ya?


Aku berbaring di sebelahnya, lalu mulai memejamkan mataku. Aku tertidur sambil memeluk tubuhnya, aku harap Han tidak bangun terlalu subuh, ya meski aku tahu besok bukan hari libur. Setidaknya jangan cepat-cepat bangun, jangan cepat-cepat pagi, jangan cepat-cepat pergi.


...


Pagi tiba, aku terbangun, dan Han tidak ada di sebelahku.


Aku menghela nafas, "Dia sudah pergi ya?" Aku sedikit kecewa, ingin sekali rasanya menghabiskan waktu satu hari penuh bersamanya. Tapi seharian penuh bersamanya mau melakukan apa saja? Tidak ada kegiatan.


Pintu kamar mandi terbuka, Han belum pergi, dia baru saja selesai mandi? Sepagi ini? Ini bahkan belum pukul 6 pagi.


"Kau mandi? Pagi-pagi sekali, ada meeting ya?" Tanyaku sambil merapikan tempat tidur.


"Tidak, aku bangun lebih awal untuk alasan lain," jawabnya.


"Baiklah, apapun itu, mau aku siapkan sarapan sekarang? Bibi bilang dia tidak akan datang beberapa hari ke depan. Bibi sedang sakit, ini sepertinya efek bekerja sama denganmu," ucapku tanpa peduli keberadaan dan jawaban Han.


"Bukan..." Han memeluk tubuhku dari belakang. Aku pikir, ini tanda-tanda dia akan meminta sesuatu.


"Kenapa..?" Tanyaku melembutkan nada suaraku.


"Kebetulan Bibi tidak akan ke sini, anggap saja bulan madu. Lain kali kalau sudah aman, aku pasti akan membawamu berlibur ke tempat yang kau inginkan," jawabnya.


"Jadi?"


"Aku dengar, melakukan itu saat pagi hari lebih bagus daripada malam hari," ujarnya lalu menggendongku.


"Hati-hati ya, aku sedikit takut," ucapku.


"Aku akan hati-hati jika kau tidak memberontak. Jadi, menurutlah pada ucapan ku," sahutnya lalu diikuti oleh senyum miring darinya.


Aku hanya menelan ludahku. For the first time, yeah, here we go! Pagi itu, kami melakukannya, di kamar mandi. Aku percaya padanya, Han tidak akan mengecewakan diriku dengan cara selingkuh. Memang aku bukan yang pertama, tapi aku harap aku yang terakhir.


Baiklah, lewati itu, setelah selesai Han segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Mau bagaimana lagi, meski katanya Han sudah hati-hati tetap saja aku tidak bisa jalan setelahnya.


"Makanannya enak," jawabku sedikit acuh.


"Bukan itu, tapi yang lain, yang baru saja di kamar mandi," sahutnya.


"Aku bingung harus menjawab apa," singkatku lalu kembali makan. Begitu juga Han, kami berdua sama-sama makan di dalam kamar. Kasihan juga Han harus membawaku turun lalu kembali ke atas.


"Haha." Tidak ada rasa bersalah dari raut wajah Han. Se-menyenangkan itukah hal tadi? Ya bisa saja, seharusnya aku juga setuju. Itu,'kan salah satu cara agar berkembangbiak. "Besok-besok selama masih libur aku ingin lagi."


"Terserah padamu," sahutku. Ya, kenapa tidak? "Oh ya, Bibi kapan kembali bekerja ya?"


"Entahlah, mungkin kalau sekarang-sekarang ini, lebih baik jangan bekerja dulu," jawab Han.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Aku yakin, kalau Bibi melihatmu dalam keadaan susah berjalan seperti ini, dia pasti akan bertanya kenapa. Apa kau sudah yakin dan siap untuk menceritakan semuanya?" Han kembali bertanya.


"Ah iya juga, ini terlalu private untuk dibagi-bagi," sahutku mengiyakan.


"Itu dia," ujarnya. "Kau sudah selesai?" Tanyanya sambil memperhatikan ku yang membereskan piring, sendok dan gelas. Aku hanya mengangguk. "Kau masih sulit berjalan ya?" Ia kini juga ikut membereskan peralatan makan.


"Masih sedikit, palingan nanti siang hilang," jawabku. "Lagi pula, aku belum mandi, masih ada waktu untuk berendam," sambung ku.


"Di kolam saja," ujarnya lalu keluar dari kamar.


So?


Tak lama kemudian Han kembali ke kamar. "Anak pintar," ujarnya lalu menggendongku.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Astaga, kalau begini terus lebih baik setiap hari saja kita melakukan hal itu," sahutnya.


"Astaga. Aku bertanya apa kau jawab bagaimana. Apa-apaan kau ini," kesalku ketika mendapatkan jawaban yang tidak cocok dengan pertanyaanku tadi.


"Damai sekali, bahkan tidak ada sedikitpun pemberontakan."


"Oh itu ya, kalau masalah itu, aku juga sudah enggan untuk melawan." Aku turun dari gendongan Han, karena sudah sampai di tempat tujuan. Kolam belakang rumah. Airnya senantiasa dingin. Sengaja, Han tidak pernah mengisi kolam dengan air hangat.


"Baguslah, tidak perlu tenaga ekstra untuk menahan tangan dan kakimu. Airnya terlalu dingin ya?" Tanyanya sambil memperhatikan ku yang sedang beranjak masuk ke dalam kolam.


"Tidak, ini masih bisa ditoleransi," jawabku. "Turunlah, ini tidak akan membuat keram," ujarku menunggu Han untuk masuk ke dalam kolam.


"Iya-iya." Han turun, terlihat wajahnya sedikit tertekan. Saat baru turun ini memang dingin, tapi beberapa saat kemudian ini bisa diterima. "Masih sulit bergerak ya?" Tanya Han yang melihatku hanya berdiri. Aku hanya mengangguk, tak lama kemudian Han mendekat.


"Ada yang salah?" Tanyaku sembari berusaha mundur sedikit demi sedikit. Han tidak menjawab, hanya tetap berjalan mendekatiku, tidak lupa tersenyum kemenangannya. Ia mengangkat sedikit tubuhku lalu mengunci pergerakan ku di pojok kolam. Hem yayaya.


"Dapat," ujarnya senang lalu ******* bibirku. Setelah dia selesai, bibirku keram, apa-apaan ini.


"Rencana ke kolam untuk berendam, bukan menambah penderitaan lainnya," kesalku sambil mencoba naik ke atas, Han masih berdiri di depanku dan menghalangi jalan.


"Masih sakit ya?" Ejeknya.


"Jangan uji kesabaranku, aku mohon." Berhasil, aku sudah duduk di pinggiran kolam, hendak berdiri untuk kembali ke dalam rumah.


Byurr


Han menarik lenganku hingga aku kembali masuk ke dalam kolam, "Jujur saja, aku masih belum puas," ujarnya.


Menakutkan sekali dia, tadi? Apa tidak lelah? "Sebentar-sebentar!" Aku mendorong dadanya.


"Kenapa? Masih takut ya?" Godanya.


"Bukan... Jangan di sini ya..." Jawabku.


"I can handle this one." Dia segera mengeluarkanku dari kolam lalu dirinya juga, setelah itu menggendongku untuk kembali ke dalam. Ya begitulah, lagi. Setidaknya yang kedua lebih hati-hati daripada tadi di kamar mandi.


Ah sudahlah.


Seminggu berlalu, hubunganku dengan Han biasa saja, seperti pasangan suami istri seperti biasa. Ya berjalan normal, itu maksudku juga.


Hari ini aku ingin pergi ke markas keluargaku, lama sekali sudah tidak ke sana. Izin dari Han juga sudah ada.


Aku pergi dari rumah sekitar pukul 8 pagi, itu tepat setelah Han pergi bekerja. Di rumah tinggal ada Bibi yang sedang bersih-bersih.


Aku sampai dengan selamat, disambut oleh Derry dan Pollo. Sepertinya mereka berdua menjadi teman dekat sekarang, di mana ada Derry, di sana ada Pollo yang sedang free.