LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Genteng atau Pintu



Attention Please! Cerita ini hanya fiktif belaka 😄


"Kau memang pintar." Kata seseorang tepat di depanku dan sangat dekat.


Aku tidak kaget, hanya refleks berjalan mundur.


"Kenapa mundur cantik?" Tanyanya. Itu Nicols.


"Kukira siapa. Minggirlah." Perintahku memberi kesempatan padanya untuk minggir. Nicols tidak bergeming dari tempatnya, dia hanya menatapku dengan tersenyum miringnya.


'Hah~ serius? Kenapa manusia ini malah mirip Han? Kenapa aku harus mundur tadi?'. "Tidak mau minggir juga? Bukan berarti aku tidak akan melawanmu hanya karena kau kakaknya Viana." Jawabku sambil menendang kakinya dari samping. Tendangan itu memang bekerja seperti yang kuharapkan, reaksi dari tendangan itu adalah orang itu akan terjatuh atau hanya bergeser. Nicols hanya bergeser sedikit dari tempatnya, aku segera beranjak tapi tanganku ditahan Nicols.


"Kau menarik. Kau akan menjadi mainanku selama aku berada di W4sh1ngton D.C." Kata Nicols masih memegang lenganku.


'Dugaanku benar, dia memang manusia br3ngsek.' Gumamku dalam hati sambil tersenyum miris.


Aku menarik tangannya lalu meninju wajahnya hingga dia tersungkur di lantai dan melepas tanganku.


"Maafkan aku kakak Nicols yang kuhormati." Ucapku lalu langsung berlari kelantai atas untuk mencari kamar Viana. 'Aku harus cerita atau tidak pada Viana soal ini? Tapi sudahlah, ini tidak terlalu penting.'


Aku sudah tahu yang mana kamar Viana, jadi kubuka saja pintunya, dan untungnya tidak dikunci.


"Hah~ tadi itu melelahkan." Keluhku sambil meletakan tasku di meja seperti biasa yang kulakukan.


"Blyss? Kau sudah sampai?" Tanya Viana dengan suara khas orang yang baru bangun dan agak kaget.


"Iya, kalau mau tidur lagi, tidurlah. Santai saja."


"Tidak-tidak, aku sudah dari tadi ingin bangun dari tidur siang."


"Terserah kau saja."


"Tadi masuk lewat mana?" Tanya Viana sambil mengucek matanya.


"Lewat genteng." Jawabku bercanda.


"Sud-"


"Hanya bercanda, aku masuk lewat pintu." Jawabku memotong perkataan Viana.


"Ck. Tunggu di sini, aku mau ke kamar mandi."


"Iya nyonya."


"Sepertinya kau mendobrak pintu dengan kepalamu. Kau aneh hari ini." Komentar Viana sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Nyenyenye." Gumamku.


"Kau tadi bertemu kakakku tidak di bawah?" Tanya Viana sambil menutup pintu kamar mandi.


"Iya." Jawabku jujur.


"Ayo kita ke markas sekarang. Kau tidak lelah,'kan?"


"Baiklah, ayo sekarang."


'Sepertinya Viana tidak tahu ke-br3ngs3k-an kakaknya itu. Baiklah... ini akan aku selesaikan sendiri saja.'


Kami berdua menuju lift yang ada di teras rumah Viana untuk turun ke garasi mobil. Rumah Viana dan rumah lainnya yang berderet di komplek ini hanyalah 'gerbang' besar untuk menutup halaman belakangnya yang merupakan markas besar milik keluarga Viana. Itu terjadi pada keluargaku juga, heheh. Tapi punya keluargaku tidak sedekat punyanya Viana.


Aku ikut ke sana hanya untuk melihat apa yang terjadi pada alat itu setelah lama aku tinggalkan, alat itu lebih besar daripada yang kuingat sebelumnya. Setelah Viana menyerahkan selop yang kuberi padanya ke pekerja labnya itu, Viana mengantarku kembali kerumahnya.


"Sepertinya aku akan sedikit tidak betah tinggal di rumah saat ini." Keluh Viana saat kami sedang ada diperjalanan menuju rumahnya.


"Kenapa?" Tanyaku memandangnya.


"Kakakku akan tinggal di sini selama 3 hari ke depan, aku terlalu terbiasa tinggal sendiri. Aku tidak terlalu dekat dengan kakakku, aku canggung di dekatnya." Jawab Viana.


"Masih ada ruang di tempat tidurku, mau menginap di sana?" Tawarku.


"Hemm... bagaimana dengan Papa dan Mamamu?"


"Mereka senang setiap ada teman yang ke rumahku, karena hal itu terjadi kadang-kadang."


"Baiklah, aku ikut ke rumahmu nanti."


"Tapi jika belum terlalu dekat bukankah seharusnya jangan menghindar?" Tanyaku.


"Aku selalu ingin menghindar, dia kakak tiriku. Aku merasa lumayan takut berada di dekatnya, sungguh. Aku belum pernah merasa setakut itu di dekat orang."


'Virasatmu benar Viana, dia manusia br3ngs3k.'


"Baiklah, menginaplah di rumahku." Jawabku sambil tersenyum ke arah Viana.


30 menit kemudian aku dan Viana akan menuju rumahku, saat kami menuruni tangga Viana terkejut melihat keadaan pintu utamanya.


"Lewat mana tadi kau masuk?" Tanya Viana sambil mengusap pintu besarnya yang masih utuh berkali-kali.


Aku menunjuk tempatku masuk tadi, sambil tersenyum bangga.


"Kau menemukannya ya."


"Aku kasihan pada pintumu ini, dan aku dengar tukang pintu sedang pulang kampung." Jawabku.


"Terserah kau. Bagaimana caramu tahu pintu itu?" Tanya Viana.


"Pakai alat khusus."


"Kau sudah cerita soal aku yang meminta bantuanmu waktu itu pada orang tuamu?" Tanya Viana sambil berjalan menuju mobil.


"Aku sudah bilang, tenang saja. Papa bilang ajak dia kemari kalau ada waktu, dan Mama bilang jaga dia baik-baik." Jawabku mengikuti langkah Viana.


"Kalau ada apa-apa kau cerita saja ya."


"Tentu." Jawabku pencitraan. Aku bohong pada Viana, itu karena aku tidak cerita ke Viana soal kakaknya. "Kau mau pakai mobil sendiri?"


"Iya, aku akan berangkat kerja dari rumahmu."


"Baiklah, jadwalku di sana (DB) juga cukup padat, Bryan ada banyak jadwal untuk rapat dikandang singa. Mungkin aku tidak akan bisa mengantarmu. Sampai bertemu di rumah." Ucap sambil masuk ke dalam mobil.


.........


Kami berdua masuk ke halaman rumah dengan disambut oleh pak satpam yang tadi siang, ini sudah sore, bukan Blyss jika tidak mampir dan berlama-lama di toko untuk memilih rasa cemilan baru. Ini pertama kalinya Viana datang kerumahku, jadi mau tidak mau Viana harus menungguku sampai selesai belanja.


"Pak, Mama sama Papa di rumah?" Tanyaku sambil menutup pintu mobil.


"Ada non." Kata pak Fon dengan senyum tulusnya, kurasa.


"Baiklah. Kebetulan, kalian harus saling bertemu." Ucapku sambil menarik tangan Viana ke dalam rumah. "Mama. Papa. Aku bawa anak manusia ke rumah." Ucapku saat aku sudah berada di dalam rumah.


"Wahhh, siapa ini? Cantik sekali." Seru Mama menghampiriku dan Viana.


"Ayo duduk dulu nak." Panggil Papa masih duduk di sofa.


"Ini dia Viana Ferwin, yang kuceritakan pindah dari Belarus kesini." Ucapku dengan bangga ke Mama dan Papa.


"Orangnya terlihat lembut, Mama tidak percaya kalau Viana ikut bergabung di W0rld Sh4dow keluarga Ferwin di daerah ini." Kata Mama memandang Viana lekat.


"Jangan menilai orang dari sampulnya Ma." Ucapku santai.


"Iya juga."


"Viana di sini mau,'kan menemani Blyss. Kami berdua harus pergi sebentar." Ucap Papa tiba-tiba dengan senyum khasnya yang aku rindukan, meski bukan untukku namun itu bisa aku lihat.


'Papa dan mama mau pergi lagi?'


"Iya nak, kamu temani Blyss ya." Pinta Mama juga tanpa menunggu jawaban Viana atas perkataan papa tadi.


'Aku sedang berusaha untuk tidak malu sekarang.'


"Aku pasti akan membantu Blyss sebisaku tan-"


"Ikut panggil Mama Papa saja seperti Blyss." Potong Mama saat Viana menjawab.


'Sudah kuduga.'


"Baiklah, terima kasih atas kasih sayang kalian semua. Aku merasa sedang berada di antara keluargaku sendiri." Ucap Viana memandang Papa dan Mama bergantian.


"Santai, kami tidak sering menerima tamu." Jawab Papa sambil senyum.


'Hee~'


"Viana mau sekamar dengan Blyss atau mau tidur sendiri?" Tanya mama.


"Viana tidurnya denganku saja ma." Selaku.


"Viana yakin?" Tanya Mama.


"Iya yakin lah." Selaku lagi. 'Tidak sopan mode on.'


"Iya ma, aku yakin." Jawab Viana.


"Baiklah, masak buat makan malam sendiri ya. Papa sama Mama mau pergi sekarang." Ujar Papa sambil berdiri.


Mendengar itu Viana dan aku saling bertatapan.


'Bagaimana jadinya dapur kalau aku masak? Aku harus yakin, dapur Han baik-baik saja waktu itu.'


"Iya Ma." Jawab Viana berusaha menahan tawanya.


"Barang-barang yang dibawa mana pa?" Tanyaku sambil mengikuti papa dan mama dari belakang bersama Viana.


"Sudah di bagasi mobil Blyss." Jawab Papa. Aku hanya mengangguk mendengar itu.


"Sebenarnya kalian berdua akan kemana? Dan harus hari ini juga? Barang-barangnya juga banyak."


"Kami perginya.. jadi kami mau kau untuk menemani Blyss. Kalau semuanya sudah aman, baru Blyss ikut ke sana." Jelas papa.


'Ah~ I see. Berarti keputusan tentang penyetujuan kerja sama itu terjadi.' Pikirku sambil mengangguk.


"Nanti kami kabari kalau sudah sampai, jaga diri baik-baik ya.. jangan sampai sakit." Kata Mama sambil masuk ke dalam mobil.


"Iya Ma. Mama sama Papa juga hati-hati, disana belum aman, kantor itu sempat ditutup. Senjata tambahan ada satu disetiap ruangan." Kataku sambil memandang mereka berdua yang sudah di dalam mobil. Aku yang terakhir datang ketempat sunyi itu.


Aku dan Viana kembali kedalam rumah setelah mobil yang menampung Papa dan Mama sudah


hilang dari halaman rumah ini.


"Mama dan Papamu mau kemana memangnya?" Tanya Viana saat kami berdua baru saja duduk di sofa.


"Keluargaku punya 2 cabang utama markas di W0rld Shad0w. Satu disini, dan satu lagi ada di Korea Selatan. Dan sekarang ini, sedang ada pembangkitan kembali." Jelasku.


"Tempat yang sangat bagus." Puji Viana lalu tertawa.


"Susah mencari tempat di sana." Keluhku mengingat waktu itu aku sampai mandi keringat dan darah untuk memperebutkan tanah itu.


"Iya susah, perlu cuan yang banyak. Tapi di sana aman, sangat aman." Ucap Viana tertawa sambil tertawa lagi.


"Iya juga, tapi akan membosankan kalau aku benar-benar dipindahkan ke sana karena di sana aman."


"Kalau aku ada waktu, aku akan ke sana mengunjungimu." Hibur Viana dengan tersenyum. Aku mengangguk sambil tersenyum ke arah Viana.


"Ini sudah mau sore, aku sudah mulai merasa lapar." Ucapku ke Viana. "Oh ya, kamu yakin mau masak?" Tanyaku.


"Mandi dulu saja. Masalah masak itu, kalau tidak yakin ya beli online. Itu saja jalannya." Jawab Viana tanpa rasa bersalah.


'Ah this b1tch.' "Astaga, cantik banget idenya." Sahutku sambil tersenyum tipis.


"Viana itu bisa diandalkan." Sombongnya


"Akalku jadi dangkal kalau se-frame dengan Viana."


"Yang mandi duluan siapa?"


"Kau saja."


"Kamarnya yang mana?"


"Sini." Aku mengisyaratkan Viana untuk mengikutiku, lalu aku berjalan menuju kamarku.


"Kukira akan pinky." Ucap Viana dengan nada mengejek saat kami masuk ke dalam kamarku.


"Sekali lagi kutendang kau sayang." Sahutku menahan emosi.


Viana tertawa keras mendengar itu. Setelah mengeluarkan handuk, Viana masuk ke kamar mandi. Selesai Viana mandi, aku mandi. Setelah selesai mandi kami berdua turun ke dapur.


"Masih ada pasta dan perangkatnya di dapur." Ucapku sambil melihat-lihat isi kulkas.


"Kumpulkan bahannya, aku rindu makan pasta buatanku."


"Baiklah." Aku segera mengumpulkan bahan-bahan yang tadi kubilang pada Viana.


Setelah terkumpul Viana mulai membuat pasta yang dia maksud.


Aku mendatangi Viana yang masih berada didepan kompor listrik setelah aku selesai membereskan piring dan teman-temannya dimeja makan.


Jika orang sedang masak, lebih baik orang kedua yang baru datang jangan sok membantu tanpa bertanya. Itu bisa jadi merepotkan orang yang sudah punya ide duluan. (Blysstina Grysselda 2021)


...***...


TBC


Mohon dukungannya readers 😄