
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
08:59 PM
Aku sampai di rumah.
"Hati-hati di jalan." Ujarku sambil beranjak keluar mobil, namun Han lebih dahulu menarik lenganku.
"Lain kali terus terang saja agar aku tidak perlu membuat tubuhmu pegal." Ucap Han sambil meletakkan tangan kirinya di tengkuk leherku.
'Eh.' "Iya." Jawabku datar karena aku bingung menjawabnya dengan ekspresi apa.
"Ternyata ekspresimu itu ada pada suhu tubuh." Ucap Han sambil tersenyum dan menampakkan giginya. "Selamat tidur." Sambung Han lalu menarik tengkuk leherku dan mengecup keningku, lalu tersenyum padaku. Rasanya jantungku mau loncat, tapi aku hanya mengangguk dengan wajah datarku.
'Sial. Apa-apaan tadi itu? Senyumnya jadi manis hanya karena dia jarang senyum. Hari ini dipenuhi dengan umpatan, astagaa. Tuhan, kenapa aku jadi begini?!' Pikirku setelah Han pergi dari halaman rumahku, sambil berjalan kedalam rumah dan memegang kepalaku yang dipenuhi senyuman Han dan kejadian-kejadian tadi.
Baru akan menyentuh gagang pintu, mobil Viana masuk ke dalam halaman depan rumah.
Viana yang keluar dari mobil hitam itu dengan terhuyung-huyung seperti orang yang dikuasai oleh alkohol, dengan khawatir aku pun langsung menghampirinya.
"Vi. Kau tidak apa-apa,'kan? Kau tidak sedang
mabuk,'kan?" Tanyaku sambil menahan senyum.
"Hah, pegal sekali rasanya. Aku tidak akan cerita sekarang, kau sudah makan?" Tanya Viana sambil berdiri.
"Mau kugendong Vi?"
"Tidak-tidak." Jawab Viana sambil geleng-geleng menolak.
"Aku belum makan, kau sendiri bagaimana?" Tanyaku.
"Aku juga belum makan. Aku tadi dapat Pizza dari paman karena sudah membantunya. Kita makan sama-sama, kau belum mengantuk,'kan?" Tanya Viana sambil mengambil kotak berlabel perusahaan pizza.
"Aku belum mengantuk, tapi aku tidak mau makan sendiri." Ucapku.
"Aku juga tidak akan memberimu jika aku tidak ikut makan." Ucap Viana dengan mata semangat.
'Tadi Viana kenapa yah? Kenapa bisa jadi begini? Tapi anak ini memang random.' Batinku sudah tidak dapat diam untuk mengomentari Viana. "Pegal yang tadi ke mana?"
"Diterbangkan angin, sudahlah. Ayo kita makan, Pizza-nya kalau dingin tidak bisa lumer." Ujar Viana menungguku membuka pintu.
"Blyss." Panggil Viana setelah beberapa menit kemudian.
"Ada apa?" Tanyaku pada Viana sambil menunggu jawabannya.
"Besok, bukti sidik jarinya sudah bisa kau ambil." Ujar Viana sambil makan.
"Emm. Oke." Jawabku sambil makan juga. "Tadi itu kau kenapa? Kelihatannya kau lelah sekali."
"Aku tadi sempat disandera." (jika 'Sandra' akan menjadi nama artis?) Ucap Viana sambil senyum dan makan.
"Kenapa kau senang?" Tanyaku yang keheranan dengan sikap makhluk hidup yang tepat di depanku saat ini.
"Yang menyandera tampan." Jawabnya dengan senyum merekah.
'Ck.' Aku memutar bola mataku mendengar perkataan Viana. "Oh oke. Bagaimana bisa disandera begitu? Kukira keluarga Ferwin tempatnya yang paling terpencil, bahkan saudara pun tidak ada di sekitar sana." Tanyaku
Viana cerita sambil makan, biasanya juga seperti itu, hehe. "Aku sedang dalam tugas pengawasan bersama beberapa orang satu timku, kau tahu aku ini lalay?" Aku mengangguk mendengar itu. "Aku terpisah dengan timku dan masuk kawasan milik Wildson, aku mengerti mereka waspada, jadi salah satu dari mereka menangkapku dan menahanku di markas mereka." Sambungnya.
'Wildson?'
"Kau diberi makan oleh mereka?"
"Iya, Forten yang menyuapiku." Jawab Viana dengan senyum senang khasnya. "Aku dijemput salah satu anggota timku lalu membawaku kembali ke markas saat sudah tidak ada kecurigaan dari keluarga Wildson. Sampai di markas kukira Bibi sudah datang, ternyata belum. Ada beberapa pengacau yang datang ke sana dan membuat berantakan di sana sini. Jadi, aku ikut membantu membersihkan dan menyiapkan tempat itu seperti semula."
"Bukannya itu tidak sebanding dengan apa yang kau dapat?" Tanyaku mengingat hanya Pizza yang Viana dapat setelah dia diculik.
"Paman sudah menawarkan yang lebih banyak asalkan aku mau menunggu di sana. Tapi aku tidak mau, aku hanya ambil satu yang sudah jadi, aku tidak mau berada dekat-dekat dengan Nicols lama-lama." Jelas Viana.
"Ohh, jadi Nicols masih di sini?" Tanyaku.
"Iya, kata Paman besok dia akan kembali ke Belarus." Jelas Viana.
"Apa kau akan kembali tinggal di rumahmu?" Tanyaku.
"Mungkin, tapi lihat kondisinya besok saja. Aku akan tetap menemanimu." Jawab Viana lalu minum air. Aku tersenyum mendengar perkataan Viana lalu lanjut makan. Lalu aku teringat sesuatu dari cerita Viana tadi.
"Tadi tokohnya keluarga Wildson?" Tanyaku pada Viana.
"Iya."
"Wildson. Dia satu keluarga dengan Kenny
Wildson?"
"Kenny Wildson? Iya-iya benar! Anak perempuan yang ditemukan termutilasi di tempat sampah umum di daerah Ottawa 4 tahun silam. Dan sampai sekarang belum ada yang menemukan pelakunya." Jawab Viana.
"Aku kagum dengan orang yang membunuhnya, bisa-bisanya sampai sekarang belum ditemukan." Ucapku sambil tersenyum miris.
"Sebenarnya sudah ditemukan, orang itu hanya diselamatkan oleh ke-tidak-adanya bukti."
"Iya juga." Jawabku sambil tersenyum. "Seharusnya aku dan Kenny masih bisa bertemu, tapi dia harus memuai duluan." Keluhku mengingat aku dan Kenny lumayan dekat tapi tidak tau dengan siapa dia tinggal, karena dia tertutup dan aku pun tahu sewaktu aku masih tinggal di Ottawa bersama nenek. Kenny meninggalkanku terlebih dahulu, setelah Kenny diikuti oleh nenek yang meninggalkanku dan keluargaku, jadi kami bertiga (Aku, papa dan mama) memutuskan untuk pindah dari Ottawa.
"Kalau tiba-tiba ada yang menemukan bukti pembunuhan itu bagaimana ya?" Gumam Viana.
"Memangnya ada?"
"Rumornya ada video yang tidak sengaja terekam oleh salah satu pemilik ruko, videonya tersimpan di flashdisc pemilik ruko. Lokasi pembunuhannya itu di belakang pasar."
"Ppfftt. Astagaaaa hahahha. Apa-apaan itu?!! Astagaa haha. Haduh-haduh." Keluhku dengan tawa besar.
"Kenapa?" Tanya Viana datar.
"Kenapa di sekitar pasar sih astagaaa? Mau sepi seperti apapun tetap ada yang melihatnya. Bbabo-ya!" (Bodoh dalam bahasa Korea Selatan) aku menggerutu dengan masih tertawa.
"Ck." Respon Viana singkat sambil menontonku tertawa.
"Lalu bagaimana kabar si yang punya video?" Tanyaku setelah berhenti tertawa.
"Dia juga dibunuh oleh si pembunuh Kenny."
"Waw, emejing:v. Bagaimana dengan flashdisk-nya?"
"Benda itu terlempar entah ke mana. Agak ngeri. Tapi rumor itu sekarang sudah tenggelam di kalangan masyarakat Ottawa, pihak keluarga pun sudah ikhlas tapi tidak ikhlas sepenuhnya dan memilih pindah dari Ottawa ke Washington D.C."
"Yasudahlah." Aku menutup percakapan dengan berdiri untuk mencuci tangan. Selesai makan, aku dan Viana pergi tidur.
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers 😁