
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Sampai jumpa Blyss, senang bisa tahu kalau kau sudah dewasa, aku percaya padamu!" Ucapnya lalu benar-benar hilang. Aku hanya menghembuskan nafas lalu semuanya silau.
Aku terbangun di tempat baru lagi, entah di mana aku sekarang.
Apa tadi terlalu lama? Kepalaku sakit sekali. Pikirku sambil memegang kepalaku dan kalau tidak salah, itu Han... Mataku belum melihat dengan benar.
"Blyss kau baik-baik saja?" Tanya Han.
"Hem... santai saja..." Jawabku sambil memandangnya.
"Kau mau tetap di sini? Atau pulang ke rumah?" Tanyanya.
Syalan, baru juga siuman. Ditanya soal pulang, entah rumah mana yang dia maksudkan. Keluhku sambil memejamkan mata karena kepalaku sakit lagi. "Nanti saja tanya soal itu," jawabku.
"Baiklah kalau begitu. Nanti kau yang jelaskan pada Mama," sahut Han sambil tersenyum tipis.
Heh. "Ck, baiklah. Ayo pergi sekarang," ucapku berusaha bangun.
"Anak pintar," ujar Han lalu menggendongku.
Bagus. Aku tidak akan menolaknya sekarang.
"Biasanya kau akan memberontak," ejek Han sambil menuruni tangga.
"Karena biasanya kau salah mengambil waktu," jawabku.
"Sepertinya dunia masih berputar menurut kepalamu," ucap Han.
"Iya itu benar," jawabku.
"Selamat malam tuan..." Ucap penjaga sambil membukakan pintu.
"Malam. Pastikan semuanya tertutup lalu kau pulanglah," balas Han setelah berhenti di depan penjaga itu.
"Baik tuan."
Han kembali berjalan menuju mobil.
"Lain kali jangan tersenyum di depanku," ucapku setelah Han masuk ke dalam mobil.
"Kenapa?" Tanya Han setelah menutup pintu mobil.
"Itu tidak baik untukku," jawabku. Han hanya menaikkan alisnya sambil mengemudikan mobilnya. "Tadi itu di mana?"
"Villa Papaku," jawab Han. "Bagaimana lenganmu?" Tanya Han. Aku menggerakkan lenganku, bisa bergerak... Tapi memang agak pegal.
"Ini masih berfungsi, kenapa?"
"Baguslah."
"Aku tadi berat yah?" Tanyaku sambil memandangi Han. Han menghela nafas lalu menggeleng. "Yang benar?" Tanyaku lagi.
"Iya. Entah kau yang semakin kurus atau aku yang.." Han menggantungkan kalimatnya lalu menatap ke arahku dengan tersenyum julyd.
"Eh?" Aku tersenyum lebar di depan Han. "Kau yang kenapa?" Tanyaku masih tersenyum.
"Maaf, tapi aku tidak mau sombong," jawab Han masih tersenyum.
Baru sekarang aku melihat Han seperti ini. "Anak baik..." Godaku.
"Hehe~"
Kami berdua kembali hening. Kira-kira 5 menit kemudian kami sampai di rumah orang tua Ham.
Kira-kira itu pukul 11 malam. Dan sampainya di dalam, aku dan Han harus mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar. Han bilang kalau ketahuan Mama pasti Han akan kena marah, karena aku adalah anak yang baik, jadi aku mengikuti perintah Han.
Kami berdua sampai di kamar Han dengan selamat, tidak ada tanda-tanda keberadaan Mama Hana dan Papanya.
Saat Han mengunci pintu kamar itu, aku baru sadar sesuatu.
"Ehh? Kenapa aku di sini?" Gumamku tapi sepertinya Han mendengarnya juga.
"Hemm?" Aku kurang paham, sepertinya aku memang harus banyak belajar kode seperti itu.
"Waktu itu, aku sudah menuruti keinginanmu untuk melepas Yura. Sekarang aku ingin kau untuk tetap berada di sini malam ini," jelas Han sambil mendekat ke arahku. Aku tidak mundur, aku sedang menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, jika dilihat dari gerak-geriknya dia tidak akan melakukan hal apapun.
"Baiklah. Aku terima itu, terima kasih karena sudah mau menuruti keinginanku waktu itu," ujarku sambil tersenyum menatap Han yang sudah di depanku.
"Aku akan mandi dulu," ucapnya lalu pergi dari hadapanku dan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku mandi lagi? Tidak, terima kasih. Terlalu dingin, saluran air hangat sedang rusak, aku tidak bisa menjamin kalau aku tidak akan flu.
10 menit kemudian Han keluar, sedangkan aku hanya duduk di sofa yang ada di kamar itu.
Aku mendongakkan kepala untuk menatap Han yang sedang berdiri di hadapanku. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Han.
"Tidak ada," jawabku tetap mendongakkan kepalaku untuk menatap Han.
"Baiklah," Han menarik tanganku agar aku berdiri. "Ganti bajumu. Itu tidak akan nyaman dipakai saat tidur karena sudah dibawa pergi keluar tadi," ucap Han sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Aku tidak menemukan baju piyama di koper tadi," ujarku sambil tersenyum canggung. Aku tidak terbiasa mendapat perlakuan tulus dari seseorang, selain kakakku dan Forten.
"Intinya ganti saja. Kumohon... Jangan sampai aku yang menggantikannya untukmu," ucap Han sambil memperlihatkan senyum iblisnya. Tanpa menjawabnya, aku segera berlari menuju kamar ganti, intinya aku hanya harus mengganti pakaian.
Kira-kira 5 menit, aku sudah selesai mengganti pakaian, aku mengganti pakaian yang tadi dengan pakaian yang lebih santai.
Aku keluar, dan melihat Han berada di depan pintu masuk, entah apa yang dia lakukan. Saat aku menutup pintu menuju kamar ganti, Han segera menoleh ke arahku.
"Ada apa?" Tanyaku sambil berjalan menuju tempat tidur, aku sudah lelah, tetap jika tidak ada tempat tidur aku tidak akan begini.
"Tidak, aku kira ada sesuatu. Tapi hanya khayalanku saja," jawab Han. Aku berbaring, begitu juga dengan Han di sebelahku.
1
2
Aku menoleh ke arah Han, dan Han ternyata memang benar-benar menatapku. "Kenapa?"
"Aku masih punya satu permintaan lagi," jawabnya lalu memeluk tubuhku.
"Apa?" Jangan bertanya soal detak jantungku, sekarang jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Sebelum menjawab pertanyaanku, Han tertawa kecil, dari suaranya benar-benar mengejekku. "Ada apa lagi?" Tanyaku sambil menekuk alisku, Han memelukku dari belakang, jadi aku tidak bisa menatap wajahnya.
"Detak jantungmu sungguh-sungguh tidak bisa diajak kerja sama yah..." Ujar Han lalu aku memaksa untuk membalikkan badanku, aku tidak terlalu nyaman ketika ada orang yang memelukku dari belakang. Apalagi di tempat tidur, aku terbiasa memb*nuh orang dari belakang, orang lain juga biasa melakukan itu. Aku jadi sedikit was-was.
"Wajahku tidak apa-apa bukan?" Tanya setelah menatap wajah Han yang masih tersenyum.
"Ya Nona. Kembali ke permintaanku," jawab Han kembali ke wajah datarnya.
"Hemm..." Aku mengirit tenaga.
"Mau tidak kau menjadi kekasihku?" Tanya Han menatap ke arah lain membuatku punya ide untuk mengejeknya sekarang.
"Kau malu bertanya seperti itu?" Tanyaku sambil tersenyum menahan tawa.
"Tidak," jawabnya santai.
"Lalu kenapa berpaling? Kau biasanya akan menatapku, bahkan disaat yang tidak tepat," ejekku.
"Sudahlah. Aku menunggu jawabanmu," Han mengalihkan pembicaraan. "Lagi pula kau tidak punya pilihan selain menjawab Ya."
"Kenapa kau mau aku jadi kekasihmu?" Tanyaku lagi sambil menangkup wajahnya agar menatapku.
"Soal itu... Bisa tidak jangan dibahas?" Tanya Han yang sepertinya enggan memberikan jawaban. Aku hanya menggeleng lalu kembali menunggu jawabannya. Han menghela nafasnya lalu mulai menjelaskan, "Aku hanya ingin punya kekasih dan menikah dengan kekasihku itu. Aku pernah berpacaran dengan Yura, tapi kami tidak jadi menikah, karena kami memang sudah tidak menyukai satu sama lain lagi," jelas Han berusaha untuk tidak menatapku.
"Hemm?" Aku bingung, tapi aku tidak terpikirkan kata-kata untuk menanyakannya.
"Begini saja, jika kita langsung menikah, aku akan sangat-sangat merasa kalau kita dijodohkan. Sedangkan aku tidak suka dijodohkan seperti itu, meskipun awalnya memang begitu. Tapi sekarang aku sadar kalau kau adalah salah satu perempuan terbaik yang aku temui di kehidupanku, setelah Mama dan Bibi," jelas Han lagi, dan sekarang matanya benar-benar tulus menatapku. "Aku sudah jujur, mungkin aku akan malu menemuimu," sambung Han lalu kembali menatap ke arah lain.
"Kapan kau menyadari itu?" Tanyaku, aku hanya ingin tahu itu.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁