
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Sebenarnya aku ingin ikut dengan Han, tapi aku sudah ada janji dengan Yura untuk sembahyang di tempat yang sama.
.........
10:48 AM
Acaranya sudah selesai, aku masih di sini karena aku senang berada di sini, walaupun tidak ada kegiatan apapun, Yura juga sama dan karena dialah orang yang menularkan kebiasaan ini padaku.
"Mau pulang sekarang Blyss?" Tanya Yura setelah dia duduk di sebelahku.
"Aku ikut kau saja," jawabku sambil memandangnya lekat.
"Ada hal yang harus aku sampaikan padamu," ujar Yura.
"Apa itu?"
"Hari ini aku akan kembali ke Tokyo," jawab Yura.
"Hah? Yang benar?"
"Tentu, aku dan Ibuku akan pergi nanti sore." Baiklah, Yura tidak berbohong.
"Kalau begitu sekarang kita harus makan siang bersama terlebih dahulu." Mengingat seharusnya aku dan Yura sempat berencana untuk hang out bersama.
"Baiklah. Sekarang saja, di depan sini ada rumah makan kecil. Itu milik salah satu pengunjung tetap Gereja ini," ucap Yura sambil berdiri.
"Baiklah, ayo." Aku dan Yura segera pergi ke rumah makan yang dimaksudkan oleh Yura itu.
Aku tidak berekspektasi apapun saat masuk rumah makan ini, tapi makanannya memang sangat enak. Aku kaget, tetapi Yura biasa saja, sepertinya dia memang sudah sering ke tempat ini. Kami makan dengan tenang dan tak lama kemudian kami berdua sudah selesai makan.
"Di Gereja masih ada anak-anak tidak ya?" Tanyaku pada Yura.
"Masih, tadi merekalah yang menyiapkan perlengkapan sembahyang."
"Aku mau beli makanan untuk mereka semua."
"Pakai uangku juga. Lagipula ini terakhir kalinya aku datang ke gereja ini." Ia memberiku uang, uangku dan Yura akan aku gunakan untuk membeli makanan, jika tersisa, sisanya untuk keperluan asrama gereja.
"Terakhir untukku juga," ujarku sambil tersenyum lalu pergi ke tempat memesan.
Yura yang sadar dengan perkataanku, segera mengejarku dan bertanya, "Apa maksudmu Blyss?"
"Mungkin besok atau lusa aku juga akan pergi dari sini," jawabku.
"Begitu ya... Semoga kita bisa bertemu lagi setelah ini." Yura tidak terlalu kecewa, setidaknya kita sama-sama pergi dari Amerika Serikat.
Setelah selesai memesan makanan dan minuman, aku dan Yura pergi ke asrama gereja, warga asrama sedang beristirahat. Mungkin mereka kelelahan karena tadi itu di gereja benar-benar ramai.
11:23 AM
Aku dan Yura meninggalkan gereja untuk pergi ke tempat masing-masing. Yura harus bersiap-siap untuk keberangkatannya menuju Tokyo dan aku juga harus kembali ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan kubawa ke Seoul.
Drrrttt drrrtt
"Halo...," Sapa seseorang dari seberang sana.
"Ada apa Forten?" Tanyaku setelah mengangkat telepon dari Forten.
"Kau di rumah?" Pertanyaan itu sedikit aneh kedengarannya.
"Iya, aku sedang di rumah," jawabku.
"Aku di depan pintu rumahmu." Forten menutup teleponnya secara sepihak lalu terdengar suara pintu terbuka, sedangkan aku yang tadinya berada di dapur segera berjalan menuju pintu.
Dengan senyumannya, Forten menatapku yang masih memegang handphone. "Ada apa kau ke sini?" Tanyaku padanya.
"Bryan yang menyuruhku ke sini. Sepertinya paranoid kakakmu itu sedang kumat."
"Yasudah ayo masuk," ajakku.
.......
.......
.......
"Kau beres-beres dari sekarang?" Dia mengikutiku kemanapun aku pergi.
"Kau sudah memesan tiket pesawat ya?"
"Sudah."
"Batalkan."
"Kau gila? Aku tidak akan menurutinya." Aku meletakkan baju-baju yang tadinya akan kusimpan di dalam koper di atas tempat tidur. Aku tidak terima dengan perintah Forten untuk membatalkan tiket itu.
"Kalau bukan kau, aku yang akan melakukannya." Forten pergi dari kamarku, entah kemana dia akan pergi.
Seharusnya tadi aku sudah selesai memasukkan pakaian ke dalam koper, karena kedatangan Forten ini jadi terhambat. Sedikitpun aku tidak tertarik untuk mengikuti Forten, aku lebih memilih untuk tetap melanjutkan kegiatanku menyiapkan perlengkapan yang sekiranya diperlukan nantinya.
Tapi tidak lama kemudian Forten datang lalu kembali duduk di sofa yang ada di dalam kamarku, itu tempatnya duduk tadi. "Bryan sudah menyiapkan pesawat pribadinya untukmu, tiketmu juga sudah aku yang batalkan," jelas Forten dengan ringan setelah dia duduk dengan benar.
Mereka berdua sama saja, sama-sama tidak ingin aku menggunakan fasilitas umum, itu menyebalkan karena menghalangi tujuanku untuk menaikkan popularitas namaku. "Tidak bisakah kalian berdua jangan ikut campur dengan urusanku saat ini?" Tanyaku pada Forten dan masih mencoba untuk tidak terlalu meluapkan emosi.
"Tidak. Apalagi kau sempat tersorot media massa setelah pergi dengan Han." Forten mendekat ke arahku.
Jika diurutkan berdasarkan tatapan, maka Kakakku akan berada di peringkat pertama, Forten yang kedua, lalu Han yang ketiga, disusul oleh Papaku sendiri, lalu Papanya Han dan kesimpulannya mereka berlima sama-sama menyeramkan. Forten mendekat ke arahku, aku mundur hingga terduduk di atas kasur, "Kau tidak macam-macam saat di apartemen itu,'kan Blyss...?" Forten mengangkat daguku. Aku hanya menggeleng untuk jawaban tidak. "Sayang sekali, kalian harus berpisah setelah ini."
"Dengar ya. Itu tidak akan berlangsung lama." Aku berdiri sambil mendorongnya, aku kesal dan geram terhadap orang di hadapanku ini.
"Iya-iya." Forten kembali ke tempat duduknya tadi. "Cepatlah, aku yang akan mengantarmu."
"Tidak perlu kalau terpaksa," ketusku.
"Aku tidak terpaksa, setidaknya aku bisa mengucapkan selamat tinggal padamu sebelum pertemuan kita akan sangat-sangat terbatas."
Aku hanya memutar bola mataku, lalu melanjutkan urusanku, sekitar 15 menit kemudian aku sudah selesai. Karena pesawatnya ada di markas, jadi nanti saja sekalian aku mengambil perlengkapan elektronik yang masih kupunya di sana.
"Forten," panggilku.
"Apa?"
"Aku harus pergi ke rumah Han dulu. Masih ada barang-barangku di sana," jawabku.
"Baiklah."
.........
"Di sini?" Tanya Forten padaku setelah kami berdua berhenti di depan rumah milik keluarga Han.
"Iya. Kau harus tahu suatu hal, aku sebenarnya enggan memberi tahumu tempat keluarga Alexssandro." Aku segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah Han.
.......
.......
Tok tok tok
"Masuk... Pintunya tidak terkunci," sahut seseorang dari dalam.
"Hai Han," sapaku setelah melihat Han duduk di sofa ruang tengah sambil memegang handphone.
"Blyss? Kau dari mana?" Han segera berdiri menghampiriku.
"Aku dari rumahku. Aku juga mau bilang kalau hari ini aku jadi berangkat ke Seoul," jawabku.
Raut wajah Han seketika berubah tidak senang namun Han berucap, "Kalau sudah sampai, kabari aku."
Sepertinya dia berusaha untuk ikhlas, kami baru saja menjadi sepasang kekasih dan sekarang kami berdua harus berpisah. Aku mengangguk sambil tersenyum menatap Han di depanku, tatapan kami berdua dibuyarkan oleh kedatangan Forten, aku tidak tahu kenapa manusia itu ikut masuk ke dalam.
"Sudah lama tidak bertemu Forten. Bagaimana kabarmu?" Han sebagai tuan rumah yamg baik menyapa Forten.
"Baik," jawab Forten dengan singkat, lalu menatapku sinis.
"Han ikutlah denganku. Tunggulah di sini Forten." Aku segera menarik tangan Han untuk pergi dari ruang tengah, hal pertama adalah jauhkan Han dari Forten, kedua tidak ada.
"Jangan macam-macam kalian berdua!" Forten sedikit berteriak karena kami berdua sudah menginjakkan kaki di anak tangga, kami berdua acuh terhadap perkataan Forten tadi.
Han hanya mengikutiku, sesampainya di dalam kamar aku melepaskan tangan Han lalu menghampiri tasku yang kemarin malam dipindahkan oleh Han.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😀