
Attention Please!
Cerita ini hanya fiktif belaka 😄
Si dokter adalah dokter pribadi dari keluarga Alexssandro, jadi dokter sudah kenal betul Han, kalau tidak salah dokter ini sudah bekerja selama 5 tahun dengan Han.
Pemeriksaan selesai, tekanan batin tidak disembuhkan dengan obat, tapi penderita perlu sesuatu yang menenangkan. Nenek cukup tenang setelah mendengar Han tidak apa-apa, hanya perlu menenangkan diri dan istirahat.
"Blyss. Apa kau ingin makan lagi?" Tanya nenek setelah dokter pergi dari rumah nenek.
"Tidak nek, aku belum lapar." Jawabku, catatan : aku jujur.
"Baiklah, nanti kalau sudah ingin makan buat sendiri yah." Kata nenek.
"Nek." Panggil Han dengan suara seraknya.
"Eh? Han." Nenek langsung mendekat lalu duduk di samping cucunya itu. "Kamu mau makan?" Tanya nenek dengan lembut.
"Ya, aku sedang lapar sekarang." Jawab Han santai sambil mendudukkan dirinya.
'Mau sakit atau tidak dia tetap orang yang sombong.' Pikirku.
"Baiklah, nenek akan masak dulu. Kamu pasti lumayan rindu dengan bubur nenek." Kata nenek
sambil berdiri dan tersenyum. "Blyss, tolong jaga Han ya sebentar." Pinta nenek memandangku sambil berjalan keluar kamar, responku hanya mengangguk.
"Blyss. Ambilkan handphone-ku di atas meja itu." Perintah Han setelah aku membenarkan dudukku pada sofa yang ada di kamar itu.
'Sepertinya dia sengaja sekali. Untung dia sedang sakit sekarang.' Pikirku sambil berjalan menuju meja yang ditunjuk oleh Han. "Ini." Ucapku sambil memberi hpnya. Han mengambilnya dengan tanganya yang gemetar, itu efek karena dia masih lemas.
"Kau pasti diberi tahu oleh Shino aku berada di sini?" Tebak Han saat aku baru saja duduk.
Aku menaikkan alisku sebagai jawaban iya sambil melipat kedua tanganku dan bersandar di sofa.
"Hei. Kenapa kau? Jangan bilang kau sakit juga." Tanya Han dengan nada mengejek.
"Aku hanya ingin hemat energi." Jawabku santai sambil memandang sekeliling kamar ini.
"Kau pandai beralasan." Sahut han sambil memperlihatkan senyum iblisnya.
'Aku ragu dia benar-benar sakit.'
"Kau ini pura-pura sakit atau bagaimana?" Tanyaku agak kesal setelah Han menyeringai dan menatap hpnya.
"Kau bisa cek sendiri suhu tubuhku dengan tanganmu jika kau tidak percaya." Jawab Han
'Kenapa dia tidak mengikut-serta-kan dokter sebagai bukti?' Pikirku. "Han. Kau tidak tau jika dokter sempat ke sini?" Tanyaku mulai serius.
"Aku tidak tau, jika aku tau aku akan pakai itu sebagai bukti juga." Jawab Han
'Dia benar-benar pingsan?'
"Apa kau yakin?" Tanyaku lagi.
"Kenapa kau memaksa? Aku tidak tahu dokter ke sini." Jawab Han dengan kesal.
"Baiklah, aku percaya." Sahutku yang baru sadar dengan Han yang sakit. "Oh ya, bagaimana nenekmu tahu aku ini Blyss?" Tanyaku pada Han.
"Kami sekeluarga kenal denganmu. Apa kau kaget?" Tanya Han.
"Aku kaget sekali." Jawabku.
"Benarkah? Aku hanya melihat wajah datarmu."
"Aku kaget, tapi aku harus seperti apa?" Tanyaku, sebenarnya aku memang bingung bagaimana ekspresi yang tepat untuk kaget, karena aku bingung jadi aku diam saja.
"Hah, sudahlah." Ucap Han sambil fokus ke hpnya.
"Kata Shino kau mencariku karena suatu alasan tentang masalahku saat ini? Apa itu benar?" Tanya Han, itu membuatku bingung.
'Aku harus jawab apa? Sekarang Han masih sakit, dokter menyarankan untuk tidak membahas sesuatu yang serius sekarang.' Pikirku bingung, aku menarik nafas lalu mulai berpikir jawaban yang tepat.
"Heh? Kau kenapa? Dengar aku tidak?" Tanya Han.
'Baiklah.'
"Sebaiknya jangan pikirkan itu dulu. Sembuhlah dulu, baru aku cerita." Jawabku.
"Kenapa?" Tanya Han
"Tidak, aku hanya mengantuk." Jawabku jujur. Han hanya menaikkan alisnya. Lalu nenek datang dengan nampan untuk mangkok dan gelas.
'Apa Han disuapi?' Itu tiba-tiba muncul di dalam pikiranku.
"Mau nenek suapi?" Tanya nenek. Pada pembicaraan ini aku memperhatikan siapa yang berbicara. Itu kebiasaanku, memperhatikan orang yang berbicara.
Kadang omongan memang bisa bohong, tapi raut wajah tidak. (Blysstina Grysselda 2021)
"Tidak nek, aku sendiri saja." Tolak Han wajahnya tidak yakin.
"Kau malu disuapi oleh nenek di depan Blyss ya?" Tanya nenek menggoda Han.
"Itu tidak benar nek." Jawab Han mencoba sabar.
"Jangan sok tidak mau, tanganmu masih bergetar seperti itu. Lagian aku tidak peduli mau kau disuapi atau tidak, aku terlalu mengantuk untuk memperhatikanmu lagi. Selamat malam Nek." Ucapku sambil berbaring di sofa panjang tempatku duduk. Catatan : ini kamar Han
.........
02:00 AM
Aku terbangun dari tidurku.
'A iya, aku masih di kamar Han.' Pikirku sambil berusaha bangun, setelah bangun aku baru sadar kalau Han menggigil, saat aku sentuh dahinya, suhu tubuhnya panas, aku melihat nenek tidur di sebelah Han, aku tidak enak membangunkan nenek.
'Ini perlu dikompres dulu? Baiklah. Tidak apa, ini hanya sebentar.' Pikirku sambil berjalan menuju ke dapur untuk membuat air hangat.
Setelah airnya pas aku kembali ke kamar Han untuk mengompresnya. Aku bukan orang yang perhatian, hanya saja dia perlu ini sekarang.
Mengompres orang yang tetap tenang bukan hal yang sulit, di sini sunyi. Jadi aku merasa tenang saat ini, tapi jujur aku masih mengantuk.
05:00 AM
Aku terbangun karena aku merasa ada yang menggoyangkan tubuhku, ternyata itu Han.
"Ada apa?" Tanyaku dengan mata yang masih tertutup. 'Baiklah, dia sudah bisa berdiri sekarang.'
"Kalau ingin melanjutkan tidur, carilah tempat yang benar." Han menasehatiku yang bahkan belum membuka mata dengan benar.
"Iya Blyss." Kata nenek, dari suaranya nenek berada di pintu.
"Eemhhh? Aku langsung bangun saja." Ucapku sambil berdiri lalu berjalan menuju pintu dan berusaha membuka mata.
"Untung aku sedang sakit, kalau tidak desahanmu tadi akan berlanjut." Gumam Han yang kudengar menghentikan langkahku.
"Istirahat saja yang benar bodoh! Kau merepotkan nenekmu dengan sakit seperti ini." Kesalku sambil keluar dari kamar Han.
Aku langsung kekamarku untuk mengecek handphone yang mau kuperlihatkan pada Han.
"Masih menyala ternyata." Gumamku saat aku menemukannya.
"Apa aku mandi sekarang? Yasudah sekarang saja." Kataku sambil mencari handuk.
Setelah mandi aku ke kamar Han untuk mengecek anak manusia itu. Aku masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, tujuanku adalah membawa alat kompres yang tadi pagi, dan ternyata masih di sini. Han memang duduk tapi matanya tertutup, aku hanya menaikkan alisku melihat itu, lalu mengecek suhu badannya.
'Ini tidak panas lagi.'
Aku beranjak pergi dari kamar Han.
"Blyss. Kau mau ke mana?" Tanya Han membuat langkahku terhenti.
"Aku mau ke dapur." Jawabku sambil membalikkan badanku.
"Kau masuk tanpa permisi." Keluh Han lalu sedikit tersenyum.
"Kau masih tidur tadi, aku tidak akan membangunkanmu." Jawabku sambil pergi dari kamar itu sebelum aku malah jadi bertengkar dengan Han yang baru saja membaik. 'Han lebih cerewet jika sakit.' Kesalku sambil berjalan menuju dapur.
Sampai di dapur aku membantu Bibi menyiapkan keperluan untuk makan, aku tidak ikut masak, aku tidak hobi mencampuri urusan memasak. Aku hanya membersihkan meja makan, menata piring, sendok, garpu, gelas, dan makanan yang sudah matang.
"Nenek. Nenek mau ke mana? Nenek sudah makan?" Tanyaku panik saat nenek berjalan menuju pintu dan aku mengikutinya ke sana, entah kenapa bibi juga mengikutiku.
"Tidak masalah jika nenek minta tolong padaku nek." Kataku sambil meyakinkan nenek.
"Kalau begitu nenek minta tolong urus Han, nenek buru-buru, nenek pergi dulu." Ucap nenek benar-benar berlari menuju mobil di depan rumah.
"Nenek orangnya masih cepat yah." Gumamku saat mobil yang dinaikki sudah menghilang dari halaman.
"Iya Non, Bibi juga kagum melihatnya, saat pertama kali." Sahut bibi di belakangku.
"Ayo makan bersamaku bi." Ajakku sambil menarik tangan bibi ke meja makan. 'Ehh?!' Aku teringat sesuatu dan menoleh ke arah bibi
"Nona Blyss tidak sarapan bersama tuan Muda?" Tanya bibi.
"Aku baru saja ingat tentang itu." Jawabku, itulah alasanku menoleh kearah bibi.
"Maaf ya Bi, Bibi makan sendiri dulu." Ujarku sambil menyiapkan makan untukku dan Han.
"Aku makan dulu ya bi. Bibi jangan lupa makan." Ucapku saat aku akan menuju kamar Han membawa sarapan.
"Iya non, sarapannya dihabiskan ya." Kata bibi.
"Iya bi." Jawabku agak teriak.
"Han.." Panggilku saat aku sudah berhasil membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Han ketus seperti biasa dan menoleh ke arahku yang tadinya memandang hpnya.
"Sarapan dulu." Ajakku sambil menyerahkan piring berisi makanan untuknya.
"Nenek di mana?" Tanya Han sambil meletakan hpnya di sampingnya lalu mengambil piring yang kuberi.
"Tadi pergi." Jawabku sambil duduk pada kursi yang ada di samping tempat tidur Han.
"Kemana?"
"Tidak tahu, tadi nenek buru-buru, aku tidak sempat bertanya. Aku tanya Bibi, dia juga tidak tahu." Jawabku. Sebenarnya aku bingung harus jawab apa.
"Oh."
Kami berdua melanjutkan sarapan dengan hening.
"Nanti kalau sudah tidak pusing, keluarlah. Agar aku tahu aku sudah boleh bicara serius atau tidak." Kataku sambil membereskan piring dan gelas untuk dibawa keluar lagi.
"Iya."
Aku keluar dari kamar itu menuju ke dapur, lebih tepatnya wastafel, untuk mencuci piring tentunya dan bukan untuk mandi.
"Bibi tadi dari mana?" Tanyaku saat bibi datang dari lorong.
"Tadi dari kebun non, bawain sarapan buat yang jaga kebun di belakang."
"Ohh. Bibi udah jadi sarapan?" Tanyaku.
"Sudah tadi di kebun belakang non. Bibi mau pulang dulu ya." Ucap bibi sambil menuju pintu.
"Iya bi, hati-hati dijalan." Sahutku.
Pekerjaan bibi disini memang seperti itu. Pagi datang untuk bersih-bersih, masak untuk sarapan, lalu pulang. Nanti balik lagi kalau sudah jam makan malam.
'Sepertinya aku suntuk di sini, teman juga tidak ada, laptop masih diisi.' Keluhku.
Tak lama kemudian baru saja aku ingin berbaring di sofa panjang sambil menyalakan Tv, Han datang dan duduk pada sofa yang di samping sofa panjang.
"Bicaralah sekarang." Pinta Han memandangku saat dia baru saja duduk dengan nada dingin.
'Baiklah, aku kaget.' "I know something about your problem."
"Bagaimana bisa?" Tanya Han.
"Wait."
Aku pergi ke kamarku lalu mengambil hp yang kugunakan merekam percakapan Yura dengan salah satu pegawai di kantor Han beserta laptop ditambah beberapa camilan, lalu kembali keruang utama secepat mungkin.
'Kuharap ini berguna, tapi aku sudah tau bagaiman langkah selanjutnya.' Pikirku sambil menyalakan rekaman itu. "Kau bisa kenal suara itu?" Tanyaku sambil menyeringai ke arah Han yang menatapku.
"Itu suara pak Zerl dan Yura. Kapan kau dapatkan ini?" Tanya Han dengan wajah serius dan mengambil hp yang kupegang.
"Kira-kira sudah lebih dari sebulan." Jawabku santai sambil membuka dan menghidupkan laptop.
"Kenapa kau tidak beri tau aku waktu itu?"
"Kau tahu aku sibuk waktu itu." Jawabku.
"Sibuk? Apa kegiatanmu?" Tanya Han.
"Bukan urusanmu." Jawabku, sebenarnya aku bingung harus jawab apa.
'Aku rasa Han sudah tau soal aku yang bekerja di dunia bayangan, tapi kenapa dia bertanya lagi? Jika dia bertanya ada kemungkinan dia tidak tau atau sekedar bertanya untuk membenarkan.'
"Tinggal katakan saja kau sibuk di W0rld Shad0w, itu saja susah." Ketus Han. Aku hanya diam, bingung untuk jawab apa? Ya, tentu.
"Kenapa kau diam? Berarti itu benar kau, Nona Ec?" Tanyanya menyeringai ke arahku.
Aku semakin bingung menjawab apa, Ec (Eisi) adalah nama samaranku di W0rld Sh4dow.
'Bagaimana bisa dia tahu??!!'
"Seranganku sengaja kubuat meleset waktu itu, jadi hanya menggores lenganmu sebagai tanda jika kita bertemu di dunia terang ini tanpa saling serang." Jelas Han masih menyeringai di depanku.
"Aneh." Jawabku. 'Kurasa dia benar-benar orang yang kuhadapi waktu itu, dia bisa tau tentang orang yang melukai lenganku waktu itu. Damn.'
"Kau yang aneh bodoh!"
"Terserah kau saja." Elakku, aku masih tidak mau mengakuinya dengan mulutku sendiri karena itu cukup beresiko.
KILASAN BALIK
Waktu aku menguntit Yura yang berada dibelakang kantor Han dengan seorang laki-laki tua sekitar 30-40 tahun, aku sedang dalam perjalanan pulang dari markas W0rld Shad0w kepunyaan keluargaku.
Saat itu markasku diserang oleh beberapa penyusup, aku menebak itu hanya pengalih perhatian untuk membuat tempat yang kujaga sepi. Jadi aku tetap duduk ditempat dudukku, hanya beberapa temanku yang mengejarku. Tak lama kemudian dugaanku benar, beberapa (sekitar 7-9) orang turun dari atap dan datang dari pintu belakang untuk mengincar sebuah tablet (benda elektronik) yang punya teknologi canggih untuk mengetahui kalau ada yang berencana menyerang dari kejauhan 1 meter.
Saat kulempari bom mereka pergi seperti tikus kepergok di dalam gelap.
'Mereka pemula? Bagaimana bisa pemula diperintahkan untuk hal seperti ini? Apa ada bahaya lain? Di tablet tidak ada tanda-tandanya.' "Kejar mereka!" Perintahku pada temanku yang masih tersisa bersamaku. Mereka langsung
mengejarnya, dengan catatan ini hanya pemberi efek jera, aku tidak berniat untuk membunuh mereka.
Umur pemula itu dari umur 18-20 tahun, umur mereka masih terlalu muda untuk mati.
Saat pengejaran ini aku dan kawananku melewati sebuah markas yang tidak kuketahui pemiliknya.
'Damn. Dompetku tertinggal dimarkas.'
Aturan di dunia bayangan. Ketika melewati markas kelompok lain, harus membayar atau melewati penjagaan dengan kekerasan.
Karena dompetku tertinggal dan dari kami semua tidak ada yang bawa dompet juga, kami terpaksa melakukan perlawan kepada 5 orang penjaga dengan pakaian hitam polos. Tidak ada lambang apapun yang bisa kujadikan petunjuk, beberapa kawananku berhasil lolos dan melanjutkan pengejaran, sedangkan aku bersama 4 orang masih berada di sini.
Saat aku sudah selesai dengan yang kulawan tiba-tiba salah satu dari penjaga itu menembak lenganku.
"Aku sengaja melukaimu Nona Ec, semoga wajahmu bisa kulihat secepatnya. Pergilah dari sini, maka aku tidak akan melukai kawananmu yang sudah lewat tadi, itupun jika mereka kembali." Tawar pria itu dengan nada meledek.
'Ini demi kawananku.'
"Baiklah. Kami akan pergi. Aku pegang kata-katamu!" Ucapku lalu pergi dari sana bersama kawananku.
"Kau tidak apa-apa Ec? Lukanya parah?" Tanya salah satu kawananku.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja. Kalian semua baik-baik saja kan?" Tanyaku kembali.
Mereka serempak menjawab iya dengan sangat yakin.
KILASAN BALIK SELESAI
...***...
TBC😅
Mohon dukungannya readers🙇