
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
'Dia selalu ketus padaku, rasa ingin membunuh dari belakang STONKS.' (Stonks artinya meningkat 📈). Pikirku sambil menahan tanganku dengan cara melipatnya di dada dan mengikuti langkah kaki Han dari belakang.
"Bicaralah." Ucap Han sambil duduk di bangku
yang ada di halaman kantor polisi itu.
"Aku mau kau cabut tuntutan untuk menghukum Pak Zerl dan Yura." Jawabku to the poin.
Han menoleh ke arahku yang masih berdiri dengan tatapan tajamnya. 'Sial! Kenapa dia menatapku dengan tatapan itu.' Umpatku dalam diam dengan tetap berdiri dan wajah datar.
"Jika permintaanmu untuk Pak Zerl, aku bisa memenuhinya. Tapi ada apa dengan Yura? Dia bicara apa saja denganmu tadi?" Tanya Han.
"Panjang ceritanya. Lain kali akan aku ceritakan, tapi tolong penuhi permintaanku ini. Aku, 'kan sudah membantumu." Jawabku dengan pamrih. 'Aku pamrih kali ini. Tapi tak apa.'
"Itu saja tidak cukup. Katakan apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Han memandangku yang masih berdiri.
"Sudah kubilang nanti akan kuceritakan, hari akan semakin sore. Aku tidak mau Sasha dan Ibunya Yura khawatir dengan keluarga mereka. Aku juga sudah berjanji pada Sasha." Jawabku.
"Jadi ini karena Sasha." Han mendengar dengan jelas.
Aku kelepasan. "Iya! Siapa suruh tidak menatap ekspresi Sasha tadi, dia sedih." Ketusku.
"Kau meminta tolong atau sedang marah-marah?" Tanya Han santai.
Sepertinya aku akan di manfaatkan karena ini olehnya kali ini. "Ya. Kau tidak bisa di ajak cepat." Keluhku.
"Hemm.... baiklah. Aku mau mencabut tuntutannya tapi bayar di lain waktu." Jawab Han dengan senyum miring di wajahnya lalu berdiri dan berjalan menuju kedalam kantor.
'Wajahnya mencurigakan, jika seperti ini bukan bayaran uang yang dia minta.' Pikirku sambil memperhatikan langkah Han dari belakang.
Sesampainya aku di dalam, aku melihat Pak Zerl dan Yura berlutut di hadapan Han yang berdiri dengan tangan berada di sakunya.
'Secepat itukah? Tapi ini lebih bagus.' Pikirku sambil berdiri di belakang Han.
"Kau puas Nona Blyss?" Tanya Han yang sadar akan kehadiranku di belakangnya.
"Tentu." Jawabku dengan senyum miringku.
"Silahkan lakukan apa yang kau mau. Aku tunggu di mobil, Yura dan Pak Zerl biar aku yang antar dan kau juga." Ujar Han berbalik badan dan memperlihatkan senyum miringnya lagi kepadaku.
"Entah apa yang akan dia minta dariku." Pikirku sambil mendekat kearah Yura dan Pak Zerl yang masih berlutut. "Bangunlah, sekarang ayo pulang." Ucapku sambil menyentuh bahu mereka berdua.
"Terima kasih banyak Nona Blyss! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini." Seru Pak Zerl sambil berdiri saat tau kalau aku ada di dekatnya. Yura juga ikut berdiri bersamaan dengan Pak Zerl.
"Iya pak. Jika ada masalah ceritakanlah pada bosmu itu, atau padaku aku juga boleh. Ini pertama kalinya aku melihat Han dengan wajah tidak mengenakan seperti tadi." Ucapku meyakinkan Pak Zerl.
'Yah.. meskipun wajah Han tidak pernah memperlihatkan kesenangannya.'
"Baiklah-baiklah. Aku tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaanmu. Sekali lagi. Terima Kasih Nona Blyss."
"Benar Blyss. Terima kasih sebesar-besarnya untukmu, aku tidak akan memanfaatkan kebaikanmu ini untuk hal yang buruk lagi." Kata Yura sambil memelukku sangat erat.
Saat aku, Yura dan Pak Zerl akan menuju mobil Han, mataku bertemu dengan mata Tuan Hoke.
'Akhirnya dia datang.' Pikirku sambil tersenyum miris ke arah Tuan Hoke.
"Blyss. Aku mau bicara dengan Ayahku, jika kalian akan pulang duluan. Pulanglah." Kata Yura padaku.
"Aku akan menunggumu, santailah. Aku juga ada urusan dengan Ayahmu." Sahutku, lalu berjalan menuju tempat duduk tempatku meninggalkan tasku tadi di wilayah tunggu.
"Pak, kau duluan ke mobil Han. Aku masih ada urusan dengan biang keladi ini." Ujarku.
"Baik Non." Jawabnya, lalu berjalan keluar kantor polisi.
Setelah Yura duduk di sebelah Tuan Hoke a.k.a Ayahnya, mereka melakukan pemeriksaan. Aku masih duduk di wilayah tunggu memperhatikan anak dan ayah ini mengobrol. Setelah aku rasa mereka sudah selesai, aku berjalan menuju meja itu lalu menggebrak meja itu dengan kesal. Aku memandang Tuan Hoke dengan kesal dan dendam yang sangat amat tinggi.
Setelah memandang Tuan Hoke, aku meletakkan berkas dan teman-temannya di atas meja yang bisa memberatkan hukuman untuk Tuan Hoke ini.
"Pak, ini bukti beberapa korupsi dari Tuan Hoke dan nomor dari korban-korbannya ada di buku cokelat ini." Jelasku pada polisi yang wajahnya tidak asing ini.
"Baik. Terima kasih." Jawabnya.
"Semoga ini bisa membuatmu membusuk di tempat ini pak Tua." Bisikku di telinga Tuan Hoke yang memandangku kesal dari tadi aku menggeprak meja. "Yura. Kau sudah selesai dengan urusanmu?" Tanyaku setelah menggendong tasku.
"Sudah." Jawabnya sambil berdiri meninggalkan Ayahnya dengan ringan.
"Seharusnya kau tidak perlu membawakan ayahku bukti-bukti itu Blyss. Ayahku memang sudah menjadi buronan polisi dari sejak 3 hari lalu." Kata Yura tersenyum ke arahku saat di perjalanan menuju mobil Han.
"Itu hanya untuk memastikan, untuk apa juga aku menyimpannya di rumah." Jawabku sambil tertawa.
Yura meresponku dengan ikut tertawa.
5.23 PM aku, Han, Yura dan pak Zerl sampai di rumah Pak Zerl. Di kantor polisi jadi lama hanya karena kutu Hoke susah untuk di tangkap, dan di jalan tadi agak macet.
Ketika Pak Zerl turun, anak-anaknya berlari menghampirinya. Johand sengaja membunyikan klaksonnya ketika kami sampai didepan rumah.
Sasha berlari ke mobil dan memukul-mukul kaca mobil di samping tempatku duduk. Akupun keluar
dari mobil dan Sasha langsung memelukku dengan sangat erat dan senang.
"Aku menunggumu sangat lama kak. Tapi terima kasih sudah membawa Ayahku pulang dan tidak membiarkannya pergi selama 5 tahun." Kata Sasha membuatku lumayan kaget.
"Siapa yang bilang begitu padamu?" Tanyaku sambil melepas pelukannya dan memandang wajahnya yang terlihat bahagia.
"Kak Runo." Jawabnya sambil menunjuk kakaknya yang bernama Runo yang sedang memeluk Ayahnya. Runo sepertinya mengerti keadaan Ayahnya, dia memeluk Ayahnya dengan erat.
"Sebenarnya berapa umurmu?" Tanyaku pada Sasha.
"Umurku 6 tahun kak." Jawabnya dengan senyum terukir diwajahnya.
"Ayah Ibumu sangat hebat membesarkanmu, dan
mereka juga beruntung memilikimu." Ucapku tertawa padanya, dia juga ikut tertawa.
"Yasudah, kakak sudah menepati janji. Sekarang kakak mau pulang. Nanti kapan-kapan hubungi kakak ya." Ucapku sambil berdiri dihadapannya.
"Kak, diam di sini dulu. Jangan kemana-mana." Pinta Sasha, lalu berlari menjauh dariku.
Aku memperhatikannya, dia berlari ke arah dua saudaranya yang sedang ada di dekat Ayahnya. Lalu kembali ke arahku bersama Runo dan Kayla yang di gendong Runo. Kayla memandangku, sedangkan aku berusaha agar tidak bertemu mata dengannya karena aku takut dia akan menangis karena takut padaku. Tapi dia mencoba meraihku, aku kaget.. iya.. tapi aku tetap mencoba santai. Aku mengambilnya dari gendongan Runo.
"Sasha bilang padaku kakak yang membantu Ayah, bagaimana caranya aku berterima kasih pada kakak?" Tanya Runo.
"Jaga keluargamu sebisamu." Jawabku sambil memandang Runo lalu Kayla.
"Aku akan usaha sebisaku kak." Jawab Runo dengan yakin, aku memandang wajah Runo yang sangat yakin dengan jawabannya.
"Kayla. Kamu jangan rewel-rewel ya.." Kataku sambil mengembalikan Kayla ke kakaknya.
"Kalian bertiga yang rukun ya. Kakak pergi dulu." Ucapku, lalu masuk kedalam mobil.
Pak Zerl sebenarnya ingin berterima kasih lagi, tapi aku segera mengangguk saat Pak Zerl akan menghampiriku. Itu isyarat agar dia tetap di tempatnya, karena aku tidak ingin dia terlalu berlebihan.
Setelah ber-teletubeis aku masuk ke dalam mobil, aku duduk di samping Yura yang duduk di belakang.
"Kenapa duduk di belakang?" Tanya Han sambil mematikan layar hpnya.
"Terserahku." Jawabku singkat.
"Kenapa tidak duduk di depan?" Tanya Yura, sedangkan Han sudah mulai menjalankan
mobilnya.
Yura. "Aku hanya ingin kak." Jawabku.
"Hemm... iya-iya." Respon Yura tersenyum.
"Bagaimana pengawalmu yang tadi siang di sana Han?" Tanyaku pada Han.
"Dia sudah pulang tadi." Jawab Han agak ketus sambil menjalankan mobilnya.
"Apa kau memang kenal anak-anak itu sebelumnya Blyss?" Tanya Yura.
"Īe. Aku baru bertemu mereka tadi siang."
"Kalian akrab sekali."
"Aku saja kaget anak-anak itu tidak takut padaku."
"Kau tidak menakutkan sama sekali Blyss, kau hanya kebanyakan overthingking."
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers 😁