LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Mengusir dengan Sopan



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Kami berdua hening, aku lelah dan tidak ada topik lagi. Beberapa menit kemudian, datanglah kedua orang tua Han.


"Hei Blyss!!" Seru mama Hana.


"Hai, Ma.." sahutku sambil menghampirinya. Dan sampainya aku di hadapannya, Mama Hana segera memberiku pelukan hangat. 'Mama tinggi sekali,' tinggiku dan tinggi Mama Hana sama, pantas saja Han sangat tinggi.


"Apa kabar nak..?" Tanya Mama Hana sambil melepas pelukannya.


"Baik ma. Mama sendiri bagaimana?" Tanyaku.


"Baik.."


"Ayo duduk lagi." Ajaknya.


"Oh iya ma," ucapku beranjak mengikuti mama Hana kembali ke sofa.


"Selamat malam Blyss," ujar seseorang dari belakangku dengan nada tegas.


"Malam juga pa," jawabku dengan tenang sambil berbalik memandangnya dan meraih tangannya, itu karena aku sudah tahu itu suara dari Papanya Han yang tidak pernah berubah, bahkan sejak aku bertemu dengannya.


"Bagus," ucap Papa dengan senyum senang diwajahnya setelah aku selesai menyambut tangannya. Aku hanya nyengir sambil menatapnya.


"Kemari lah duduk wahai kalian berdua," Ucap mama Hana.


"Iya ma," jawab papa lalu mengangguk padaku, itu isyarat untuk "ayo". Aku duduk di sebelah kiri mama Hana, Papanya Han di sofa yang satunya sedangkan Han masih tetap di tempatnya yang sekarang menjadi sebelah kanan mamanya.


"Mama dan papa sudah makan?" Tanyaku setelah duduk.


"Sudah Blyss, itu yang menyebabkan kami berdua lama," jawab Papa.


"Iya Blyss. Han bilang kalau kalian akan makan tadi, jadi kami berdua makan dulu di luar.." sambung Mama.


"Blyss," panggil Papanya Han dengan nada serius tapi pelan.


"Kenapa pa?" Tanyaku.


"Terima kasih banyak sudah membantu Han," jawabnya sambil tersenyum.


"Ini tidak baik untuk kesehatan jantung." Pikirku. Senyumnya manis dan mempesona, syalann.


"Benar Blyss, terima kasih banyak atas bantuanmu," sambung Mama Hana lagi.


"Eh itu, iya, Ma, Pa. Sama-sama," sahutku sambil memandang mereka berdua secara bergantian.


"Untuk apa ya aku di sini..?" Tanya Han yang sudah merasa terabaikan.


"Kau katanya mau ke kantor Han?" Tanya papa.


"Itu, anak angkat kalian berdua ingin aku untuk tetap di sini sampai kalian datang," jawab Han menatapku sebentar lalu kembali menatap ke arah lain.


'He.. anak angkat?'


"Hahahaha. Blyss penakut rupanya," ucap Papa lalu diiringi dengan tawa khas-nya. Lagi-lagi aku hanya nyengir.


"Itu benar Blyss?" Tanya Mama memandangku.


"Iya ma," jawabku jujur.


"Ah. Baiklah-baiklah, sekarang kami berdua sudah di rumah. Pergilah Han," ucap Papa.


Mengusir dengan sopan.


"Terdengar seperti mengusir. Tapi tidak bisa begitu, Pa," Bantah Han.


"Loh? Kenapa?" Tanya Mama.


"Blyss bilang tadi akan ikut membantuku, dia juga membuat waktu terbuang, dia harus bertanggung jawab," jawab Han dengan senyum bangganya.


'Hadeh..'


"Ck. Blyss gegabah juga," keluh Mama, Mama Hana terlihat begitu kecewa.


"Tidak apa-apa ma," sahut papa pelan. "Kita harus istirahat juga, besok juga mereka berdua pasti ada di rumah," sambung Papa.


"Benar juga, Mama juga lelah," Mama menyetujui perkataan Papa dengan raut wajah lebih baik dari sebelumnya.


"Oh ya Han. Di apartemen juga ada beberapa berkas yang harus kau urus. Daftar klien yang harus kau temui ada pada Violin," jelas Papa sambil berdiri.


"Kenapa dia bekerja lagi?" Tanya Han dengan raut wajah tidak suka.


Violin?


"Mama sendiri,'kan tahu dia korupsi!" Ucap Han dengan suara agak meninggi.


"Hei hei! Sabar kau," ucap papa memandang Han sambil berdiri. "Dia sudah meminta maaf Han, dia berhak mendapatkan kesempatan kedua," sambung papa.


"Terserah kalian saja," ketus Han sambil berdiri lalu berjalan menuju pintu.


"Blyss... Tolong jaga emosi Han ya nak.." ucap mama pelan di depanku.


"Iya ma," ucapku sambil menggenggam tangan Mama pelan. Mama hanya tersenyum padaku. "Ma, pa aku pergi dulu ya.."


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Mama. Sedangkan papa hanya mengangguk saat aku menatapnya. Lalu aku berlari kecil mengejar Han yang sudah masuk ke mobil. Aku cepat-cepat ikut masuk ke dalam mobil, sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku memandangi Han yang masih dengan wajah kesalnya sambil mengemudikan mobil.


Bagaimana caranya meredakan emosi seseorang? Aku belum pernah kursus tentang itu sebelumnya. Kira-kira 2 menit kami berdua hening. Aku mengalah dan mengajaknya bicara duluan.


"Han..." Panggilku.


"Hm?" Sahutnya singkat dan tanpa menoleh ke arahku.


"Kita mau kemana?" Baiklah, aku mulai takut sekarang.


"Ke apartemen," ketus Han.


Sepertinya kalau aku tanya soal Violin sekarang, akan jadi masalah. "Jadi nanti aku bantu apa?"


"Tunggu saja nanti," jawabnya semakin ketus.


Sebenarnya aku tidak suka banyak tanya seperti ini. "Hemm..-"


"Diam saja," potong Han. Aku langsung diam.


Rasanya seperti naik roller coaster, pikirku sambil memandang keluar mobil sambil tersenyum miris dengan kelakuanku sendiri.


10 menit kemudian kami sampai disebuah gedung pencakar langit, ya.. mungkin di sini apartemen yang dimaksudkan oleh Papanya Han.


Kami berdua masuk dari belakang gedung lalu menuju lantai bawah untuk parkir mobil. Setelah mobil sudah terparkir, tujuan selanjutnya adalah lobi. Aku sebenarnya agak bingung kenapa Han memarkirkan mobilnya dipojok, tapi sudahlah.


Aku kebetulan tahu lokasi gedung ini, aku pernah ke sini sebelumnya. Saat masuk Han merangkulku dan menghalangi wajahku, itu karena kilat kamera yang banyak.


Setelah sampai di lift, barulah Han melepaskanku. Aku memandangnya, Han hanya memandangku lalu menaikkan kedua alisnya dan memandang ke depan lagi.


Lift terbuka di lantai 7. Han berjalan keluar duluan, aku mengikutinya dengan langkah kaku. Aku merasa agak aneh di lantai ini, lorongnya terang. Tapi.. bukan hal mistis yang kurasakan, aku merasa mencium bau darah di sini tapi itu samar-samar.


"Bukan hal mistis. Aku tidak pernah merasakan hal seperti itu. Ini bau besi. Bagaimana dengan darah? Iya ini bau darah." Pikirku sambil melihat ke sekeliling lorong.


"Kau kenapa?" Tanya Han, suara Han bergema di lorong ini. Aku berlari menghampiri Han yang sudah ada di depan sebuah kamar dengan nomor L7. VIP7.


"Hei. Jawab," ketusnya.


"Tidak. Bukannya yang kulakukan tadi itu memang wajar? Secara, aku itu baru pernah ke lantai ini," jawabku sambil memberinya pertanyaan kembali.


"Terserah," sahutnya sambil membuka pintu. Tentu dengan memakai kunci.


"Ngomong-ngomong. Kau mencium bau darah?" Tanyaku berdiri di depan pintu yang sudah terbuka sambil memandang Han yang sudah berjalan menuju meja yang ada di sana.


"Iya. Tapi aku sedang tidak ingin mencari tahu tentang hal itu," jawabnya datar sambil membuka beberapa berkas yang ada di atas meja itu.


"Apa ini sering terjadi?" Tanyaku sambil mendekat ke arah Han. "Sepertinya di sini," pikirku sambil memandang ruangan ini secara keseluruhan.


"Keamanan di sini longgar jika sudah akhir pekan, jadi peneror dengan mudah bisa meletakkan benda-benda aneh diruangan siapapun," jelas Han.


"Bagaimana dengan kunci ruangan?"


"Stalker handal bisa melakukan apapun yang mereka mau," jawab Han santai.


"Apa mungkin sumbernya di sini?" Tanyaku mulai berjalan ketempat lain. "Dapurmu dimana?" Tanyaku pada Han yang ternyata mengikutiku.


"Aku jalan duluan," ujarnya lewat di depanku.


Aku mengikutinya dan sampailah di dapur. Han duduk di meja makan sambil melipat tangannya.


"Ada yang iseng denganmu," ucapku sambil membuka lemari es dengan kaki yang memakai sepatu, masukkan kaki ke dalam lubang gagang pintu lalu tarik.


"Kau sensitif tentang hal seperti ini ternyata," ujar Han meninggalkanku di dapur.


Ck. "Sekarang bagaimana?" Tanyaku pada Han yang merapikan berkas-berkas diatas meja tadi.


"Kau bawa berkasnya, kita harus pergi dari pintu belakang," pinta Han dengan tenang sambil mengeluarkan hpnya dari balik jas dan berjalan keluar ruangan ini.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁