
Attention Please? Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Tanpa pikir panjang, aku segera merebahkan tubuhku dan terlelap. Hufft... Lelah, padahal tidak melakukan apapun.
...
Keesokan harinya...
Hari sudah memasuki sore, sedari tadi Mama menyuruhku untuk mandi. Tapi aku selalu mengundur waktu, Sidney melekat di pelukanku.
"Sidney cantik... Sama Nenek dulu yuk? Tante mau mandi dulu..." Sejak 5 menit yang lalu Mama berusaha untuk mengambil Sidney. Kali ini sepertinya berhasil, bayi di gendonganku ini mulai tersenyum menatap neneknya. "Kemari sayang... Utututu..."
Berhasil. Sidney sudah pindah tangan, sedangkan aku sekarang malah enggan untuk mandi.
"Mandi, Nak..." Mama tersenyum menatapku. "Pakaianmu yang ada di depan lemari ya."
"Iya..." Aku segera pergi ke kamar Mama.
.
.
07:58 PM
Dress merah melekat di tubuhku, sedangkan aku berbaring di atas sofa ruang tamu. Tidak peduli pakaian apa, jika ingin rebahan, ya sudah.
"Nona ada tamu di luar," ujar pelayan dari balik pintu. Aku sedang berada di kamar tamu, untuk menunggu kedatangan Han.
Aku tidak menjawab lalu segera keluar dari kamar itu.
Semuanya ternyata sudah berkumpul, hanya menungguku. Memalukan sekali untukku.
Aku duduk sendiri. Mama, Kak Bryan, Kak Welsa dan Sidney duduk di sofa yang sama. Papaku duduk sendiri, sedangkan Han dan kedua orang tuanya juga duduk pada satu sofa.
"Aku gugup," batinku sembari tersenyum tipis menatap ke arah lain.
Berjalan lancar dengan beberapa candaan keluarga yang ringan. Pernikahannya direncanakan seminggu lagi, Mama dan Papaku sebenarnya ingin sebulan lagi, tapi Han memaksa untuk seminggu.
Kemalingan, tapi ya sudah. Tinggal siap-siap untuk besok karena aku harus kembali ke Seoul. Berkasnya harus segera berada di tangan Kakakku.
...
Hari ini, aku akan pergi ke Seoul. Aku masih tinggal di rumah Kakakku, bahkan pakaiannya ini dari Kak Welsa.
"Sekarang Blyss?"
"Iya, Kakak sudah selesai sarapan?"
"Sudah." Kak Bryan berjalan mendahuluiku lalu masuk ke dalam mobil.
Dia tidak ikut, hanya mengantarku sampai di markas.
..
Baiklah, aku sudah berada di dalam pesawat pribadinya Kak Bryan. Jadi, aku harap tidak ada yang terjadi dulu. Aku merasa seperti perjalanan untuk sakit.
"Han?!" Aku hampir saja berteriak karena melihat Han yang berada di dapur pesawat. "Astaga, benar-benar tamu tidak diundang," batinku sembari berpegangan pada pintu dapur.
"Sampai sekaget itu ya?" Tanyanya sembari mendekat ke arahku.
"Tidak penting lagi," jawabku lalu mengambil segelas air putih untuk diminum.
Kepalaku pusing. Sepertinya memang akan sakit, mungkin besok atau lusa, kemungkinan untuk tidak sakit hanya 10%. Itu dari pengalamanku sebelumnya.
"Kembali ke kamar," ujar Han sembari mengangkat tubuhku.
"Aku bisa jal..-"
Han menempelkan bibirnya dengan bibirku, seketika aku jadi diam. Apa-apaan anak ini. "Sadar diri, kau terlalu pucat untuk sehat," ujarnya setelah melepas bibirku. Aku hanya menelan ludahku lalu hanya diam.
...
09:23 AM
Kami berdua sudah sampai di Bank, dan aku jadi beban lagi. Aku benar-benar sakit, tidak bisa dipungkiri lagi, dokter yang waktu itu memeriksa diriku juga berkata kalau memang akan sakit karena efek bius yang berlebihan.
Jadi, beberapa hari ke depan aku dan Han akan tinggal di Seoul sampai Han yakin aku sudah sembuh.
.
.
Kami berdua tinggal di villa Han, ya Han berkata kalau itu sudah jadi miliknya.
"Maaf merepotkan mu," ujarku sembari berbaring di atas tempat tidur.
"Tidak apa, tapi setidaknya dengan begini kau jadi penurut," sahutnya sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kapan aku membangkang?" Tanyaku.
"Em... Ralat, maksudku... Lebih mudah untuk diterkam," jawabnya sambil menindih tubuhku. Aku menelan ludahku lagi, tenang Blyss...
Aku menangkup wajah Han menggunakan kedua tanganku lalu satu kecupan mendarat pada bibirnya yang lebih merah dariku. Bibirku pucat, efek sakit. "Aku pikir, aku tidak akan menemukan orang sepertimu lagi di luar sana."
.
.
"Ini obatnya, diminum dulu..." Ujar Han sembari meletakkan nampan berisi segelas air putih beserta para obat yang harus aku konsumsi.
Tanpa bicara banyak, aku segera meminum obat yang tersedia.
"Aku mau tanya," ujarku, dengan segera Han menatap tepat di mataku. "Aku akan baik-baik saja jika kau ingin pergi. Apa kau tidak sibuk? Sampai bisa menemaniku di sini?" Tanyaku.
"Aku tetap sibuk, karena kebetulan aku ada urusan di sini. Sebenarnya tiga hari lagi, tapi aku majukan agar sekalian," jawab Han sambil berdiri dari duduknya.
"Kau mau pergi sekarang?"
"Tentu. Aku harap kau menurut padaku, jangan keluar dari vila ini. Kau tidak akan mati konyol di sini, ingat pesanku, jangan keluar vila sebelum aku kembali," jawabnya lalu mengecup keningku.
"I will be a good girl for you," ujarku.
"Nice. Bye..." Han keluar dari kamar ini meninggalkanku sendiri.
...
00:22 AM
Aku tiba-tiba terbangun dan belum ada tanda-tanda kedatangan Han.
08:12 AM
Aku bangun dan belum mendapati keberadaan Han di vila ini, aku memasak sarapan dan makan sendiri. Pergi mencari Han? Ide bagus, tapi aku benar-benar tidak bisa keluar dari vila ini. Pertama, karena pintunya terkunci dari luar. Kedua, jika aku mau pergi dari jendela atau jalan tikus lainnya juga tidak bisa karena beberapa pengawal yang berada di luar vila.
Satu hal yang aneh adalah mereka semua yang berada di luar vila bukan pengawal utusan dari Han. Benar-benar bukan, salah satunya membocorkan informasi.
Aku membuka jendela yang berdekatan dengan salah satu pengawal.
"Hei... Permisi..."
"Kau? Masuk ke dalam, jangan pernah buka jendelanya," tegasnya dengan raut wajah yang garang.
"Tenanglah... Aku tidak akan berencana kabur. Tidak ada senjata di sini. Aku hanya ingin tanya, kalian ini siapa?" Tanyaku sembari mendongakkan kepalaku keluar jendela.
"Pertanyaan itu di luar dari tanggung jawabku," jawabnya tegas.
"Ayolah, lagi pula aku tidak akan memberikan tahu siapapun, ditambah lagi tidak ada siapapun." Aku mencoba untuk meyakinkannya bahwa aku tidak akan membocorkan informasi itu ke orang lain.
"Symon," singkatnya. "Sudah jelaskan?" Sambungnya sembari memaksa untuk menutup jendelanya. Tadinya itu belum dikunci dari luar, tapi sekarang pria itu menutupnya dari luar juga.
"Ada urusan apa Han dengan Symon? Sejak kapan Symon berada di Seoul?" Batinku bertanya-tanya.
Seharusnya jika Han tidak pergi, aku sudah kembali ke Washington DC untuk memberi Kak Bryan berkas pemindahan kepemilikan Bank dan perangkatnya. Tapi sudah sekarang sudah hampir pukul 12 siang, Han belum juga pulang.
...
"Siang Nona!!" Teriak seseorang dari balik pintu utama vila. Aku berada di sofa ruang tengah, jadi itu jelas terdengar olehku.
"Maaf!! Tapi aku tidak bisa membukakan pintu untukmu, kekasihku terlalu posesif. Jika aku menyentuh gagang pintunya aku akan segera pergi dari dunia ini!" Jelasku dengan agak berteriak juga.
"Tunggu di sana Nona!" Jawabnya dari balik pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan Han yang berdiri dengan semangat. Wajahnya terlihat begitu bahagia, entah apa yang telah terjadi padanya.
Tanpa bicara banyak, aku segera berlari lalu melompat dan dengan sigap Han menangkap tubuhku. Yang menurutnya begitu ringan.
"Kau terlalu lama," ujarku sembari mengeratkan pelukanku.
"Maaf... Tapi sekarang kita harus segera pulang," sahutnya.
"Aku tidak keberatan, bagaimana dengan berkasnya?"
"Berkasnya sudah sampai pada Kakakmu tadi pagi. Sekarang tinggal kita yang pulang," jelasnya yang masih belum menurunkan diriku, sedangkan aku masih enggan untuk turun.
"Baiklah," sahutku sambil beranjak turun.
"Mau kemana lagi?" Tanyanya menghentikan pergerakan ku.
"Mungkin ada sesuatu yang perlu aku ambilkan?" Tanyaku sembari memandangi mata Han yang begitu menawan bagiku.
"Tidak," jawabnya lalu berjalan menuju mobil. "Ngomong-ngomong, bukankah terlihat seperti pedofil?" Tanya Han tiba-tiba.
"Hah? Bukannya kau sendiri yang tidak ingin menurunkan diriku?" Tanyaku sambil melonggarkan tanganku yang melingkar di lehernya.
"Bercanda... Masuklah..."
"Okey honey..."
"Good girl..."
TBC😅
Mohon dukungannya Readers 🤩