
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Ya sudahlah, kalian berdua terlihat sudah terbiasa," sahut Mama menatapku.
"Benar juga," aku menyetujui perkataan Mama. "Oh ya, Ma. Aku boleh tanya soal maid Mama yang tadi?" Tanyaku pada Mama.
"Yang mana Blyss?" Mama balik bertanya.
"Yang tadi pagi memanggil Mama untuk sarapan bersama," jawabku sambil menaikkan alisku.
"Oh yang itu. Ada apa dengannya?"
"Tidak, aku hanya ingin Mama menjelaskan tentangnya saja," aku tidak tahu harus merangkai kalimat seperti apa, jadi aku akan meminta informasi mendasar saja.
"Namanya Tia, biasanya teman-teman yang di sini memanggilnya dengan sebutan itu. Dia sudah berusia lanjut. Mama sebenarnya sudah lama menyarankan agar dia berhenti bekerja dan tinggal di panti jompo. Namun dia tidak mau, dia ingin mengabdikan dirinya untuk keluarga Alexssandro," jelas Mama.
"Apa dia memang pendiam?" Tanyaku semakin penasaran dengan asisten yang satu ini.
"Dia seperti itu setelah dia tahu kalau suaminya pergi meninggalkannya bersama wanita lain dan anaknya juga tidak menerimanya kembali," jawab Mama dengan wajah perihatin.
"Takdir yang aneh. Aku jadi semakin yakin kalau Tuhan sebenarnya psikopat," gerutuku.
Mama tersenyum geli menatapku, "Bukan begitu konsepnya, mungkin sang pencipta sedang membuat kejutan yang lain," ucap Mama lalu diiringi dengan tawa ringannya.
"Tapi ngomong-ngomong, masakannya enak sekali," ucapku mengingat tadi aku memakan masakannya.
"Mama setuju, itu juga salah satu alasan mengapa Mama setuju Tia tetap bekerja di sini," ujar Mama.
"Sekarang dia dimana, Ma?" Tanyaku.
"Biasanya dia ada di halaman belakang, menemani keponakannya yang menyapu halaman," jawab Mama.
"Ada keluarganya yang lain? Kenapa Mama menerimanya? Mama tidak curiga dengan mereka?" Tanyaku tidak percaya dengan jawaban Mama tadi.
"Mama percaya dengan mereka. Mereka terlihat tidak ada kaitannya dengan apapun yang membahayakan keselamatan keluarga Alexssandro," jawab Mama tetap tenang.
"Baiklah kalau begitu. Aku ingin bertemu dengannya, boleh tidak, Ma?" Bagaimanapun juga, aku tetap harus izin kepada Mama, tidak mungkin aku langsung pergi begitu saja.
"Tentu, kalau ada apa-apa. Mama tetap ada di sini. Kalau tidak di sini ya taman sebelah rumah atau di teras," jawab Mama. Setelah mendapat izin, aku segera pergi menuju ke halaman belakang.
Baru saja aku sampai di sana, Bibi itu segera beranjak. Tadinya dia sedang berjongkok, ketika sadar kalau aku ada di sana, dia segera berdiri dan beranjak pergi namun aku masih beruntung. Itu karena aku masih bisa menghalanginya untuk pergi, aku mencegatnya tepat di hadapannya, Bibi sampai hampir saja menabrak diriku yang sengaja berdiri menghalanginya.
"Kenapa, Nona?" Tanyanya sedikit terlihat gugup dan ketakutan.
"Bi... Bibi kenapa..?" Tanyaku dengan tatapan sendu.
"Apanya yang kenapa..?" Wanita yang dipanggil Tia itu mulai menatapku karena penasaran.
"Bibi tidak suka pada saya? Atau kenapa? Saat saya datang, Bibi akan pergi. Saat bicara, Bibi terlihat ketakutan," aku segera mengutarakan apa yang ada di pikiranku.
"Tidak. Mungkin hanya perasaan Nona saja," elak Bik Tia.
"Ya mungkin hanya perasaan saya saja Bibi akan pergi. Tapi kenapa raut wajah Bibi tetap ketakutan?" Tanyaku sambil tetap memandangnya.
"Cerita saja, Bi..." Aku tahu betul, kalau Bibi sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dia berusaha menghindar dariku, bahkan ketakutan. Memang ada kalanya seorang bawahan merasa malu terhadap atasannya, tapi ketakutan Bibi tadi berbeda dengan hal itu.
"Nona..." Panggil seseorang, itu perempuan yang bersama dengan Bik Tia di halaman ini.
"Iya?" Aku menoleh ke arahnya, dan ia segera merangkul pundak Bik Tia serta menenangkannya.
"Maaf menyela, Nona," ucapnya menatapku sebentar lalu menenangkan Bik Tia yang berada di sebelahnya. "Ibu tenang ya... Pia di sini.." ujarnya menenangkan Bik Tia yang menundukkan kepalanya.
Aku semakin bingung dan penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Bik Tia serta apa yang diketahui oleh Pia. Iya tadi dia menyebutkan namanya adalah Pia.
"Sebentar ya, Nona," mereka berdua pergi meninggalkanku sendiri di halaman belakang. Setelah mereka berdua pergi, aku duduk di bangku halaman. Tidak sampai 5 menit, Pia datang dan berdiri di sebelahku yang sudah duduk.
"Duduk," pintaku kepada Pia, tanpa banyak bicara Pia segera duduk di sebelahku. "Jelaskan apa yang terjadi pada Bik Tia. Jangan ada yang disembunyikan, kecuali itu ada sangkutannya dengan keluarganya," ujarku menatapnya.
"Jadi, sebelumnya Tuan Han sudah pernah membawa perempuan ke dalam rumah ini. Yang pertama, itu saat Tuan Han berusia 19 tahun, yang kedua saat Tuan Han berusia 21 tahun. Perempuan yang diajaknya pertama, sikapnya sangat sombong dan manja, sedikit saja ada asisten yang dekat-dekat dengannya, perempuan itu tidak akan segan-segan untuk memarahinya, memukulnya, atau bahkan menendangnya. Dan semua itu dilihat jelas oleh Bik Tia, Bibi saya sendiri. Dari hal itu sepertinya Bik Tia sedikit trauma dengan Nona," jelas Pia.
"Lalu, bagaimana dengan yang kedua?" Tanyaku. Jujur saja, aku sedang menahan tawa, entah apa yang ada di dalam pikiran Bik Tia ketika melihatku.
"Yang kedua juga sama saja, dan bahkan lebih cerewet. Saya sempat melayaninya, sedikit saja ada hal yang kurang berkenan di hatinya, dia akan segera marah terhadap hal itu," jawab Pia dengan wajah kesal menatap ke depan, bukan ke arahku.
"Kau sendiri sempat kena imbasnya..?" Aku sekarang iba terhadap Pia.
"Iya. Saya terkena piring yang dia lempar. Saat itu dia meminta dibuatkan salad, dia hanya mengatakan kalau ingin salad. Setelah saya menghidangkan salad di hadapannya, dia berkata kalau saladnya tidak enak, itu membuatnya sakit perut karena dia alergi terhadap tomat. Perempuan tidak tahu diri itu segera melempar piring itu dan mengenai lengan saya," jelas Pia sambil mencoba menahan emosinya.
Kadang manusia memang ada-ada saja, setelah mendengar penjelasan dari Pia, aku sebenarnya ingin tertawa, tapi rasanya tidak mungkin aku tertawa di depannya. Itu akan berkesan kalau aku menertawakan penderitaannya. Aku segera bertanya lagi, "Apa kau ingat nama dari kedua perempuan itu?" Aku banyak tanya, iya karena aku tidak tahu.
"Yang pertama bernama Zela, dan yang kedua bernama Gesya," jawab Pia menatapku.
"Namanya belum pernah kudengar. Sepertinya memang bukan orang penting, bahkan sekarang mereka berdua entah kemana," pikirku dalam diam.
"Kenapa, Nona?" Tanya Pia membuyarkan lamunanku.
"Tidak. Ngomong-ngomong, berapa lama kau tidak bisa menggerakkan lenganmu?" Tanyaku pada Pia.
"Sekitar dua hari. Saya jadi cuti selama dua hari," jawab Pia menatapku dalam.
"Katakan pada Bik Tia, kalau saya bukan perempuan seperti itu. Saya tidak akan menyakiti siapapun," ucapku dengan datar kepada Pia.
"Saya tahu itu. Saya melihat Nona menyapa Bibi tadi pagi di dapur. Saya akan meyakinkan Bibi saya itu agar bersikap biasa saja terhadap Nona," ujar Pia meyakinkanku bahwa dia akan membicarakan hal itu nanti.
"Saya sedikit merasa bersalah, untungnya saja saya tidak membentaknya tadi," keluhku. "Oh ya, berapa umurmu?" Tanyaku pada Pia.
"Dua puluh tujuh tahun," jawab Pia tersenyum ke arahku.
"Berhenti saja bicara formal. Panggil aku Blyss, jangan panggil Nona," pintaku.
"Tidak akan. Aku tidak akan melakukan itu, Nona Blyss," tolaknya.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁