LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Menaikkan Dosisnya



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Daripada lebih tidak jelas. Lebih baik tidur..." Mama menarik selimut untuk kami berdua lalu mulai tidur. Kami berdua tidur dengan tetap membiarkan lampu meja menyala.


.........


06:48 AM


Aku, Mama dan Papa sudah selesai sarapan.


"Kau yakin akan pergi ke Bank hari ini Blyss?" Tanya Mama sambil mencuci piring di wastafel.


"Iya Ma," jawabku.


"Lesu begitu? Kau sakit?" Kini Papa yang bertanya padaku. "Biar Papa yang gantikan dulu, bagaimana?"


"Tidak-tidak. Aku akan baik-baik saja. Tenanglah. Yasudah aku pergi sekarang," jawabku lalu pamitan kepada kedua orang tuaku lalu pergi menuju mobilku.


Papa tidak ikut hari ini karena hari ini kurasa aku bisa mengatasinya.


...........


Dua hari kemudian, 07:44 PM


Aku masih berada di Bank, aku sedang menunggu laporan dari karyawan. Hari ini juga aku akan kembali ke Washington DC untuk menemani Viana. Papa dan Mama sudah kembali ke Washington DC tadi sore, sedangkan aku akan pergi nanti pukul 8 sudah harus berada di bandara, dan juga aku akan kembali tanpa sepengetahuan Mama. Semoga Papa menepati janjinya untuk tidak memberi tahu Mama soal hal ini.


Tok tok tok


"Masuklah," jawabku dari dalam. "Bagaimana Crish?"


"Nasabah itu setuju dengan tawaranku, seminggu lagi orang yang berkepentingan akan datang untuk menemui Anda," jawabnya tidak lupa juga menunjukkan senyumnya.


"Baguslah. Apa sekarang ada yang perlu saya urus lagi?" Tanyaku sambil berdiri.


"Tidak Nona," jawabnya.


"Kalau begitu saya akan pergi sekarang. Pesawat akan lepas landas pukul 8, saya serahkan padamu selama saya pergi." Aku berdiri tepat di depannya.


"Semoga perjalanan Anda menyenangkan dan lancar sampai di tujuan. Dan juga, jangan terlalu lama pergi... Saya tidak terlalu yakin dengan kemampuan saya." Crish. Dia adalah sekretaris yang menggantikan Mama sekitar 3 minggu yang lalu. Setelah aku datang, Crish yang menemaniku, Yang-Su juga sempat menemaniku. Papa? Dia berada di ruang pribadinya, jika ada sesuatu yang tidak aku mengerti, maka aku harus mendatanginya di ruangannya.


"Baiklah. Selamat beristirahat, dan semoga lancar besok." Aku segera pergi dari ruanganku itu, tidak ada hal yang penting di dalam sana. Lagipula ada beberapa kamera pengawas di sana yang tidak diketahui oleh Crish bahkan Papaku sendiri. Bahasa Crish dan aku masih terlalu formal, bahkan kaku, mungkin karena baru berinteraksi jadi agak kaku, mungkin nanti akan aku ganti jika sudah sering bertemu.


.........


5 menit sebelum lepas landas...


Aku sedang berjalan untuk memasuki area tangga pesawat. Tiba-tiba beberapa orang menghadangku, aku kebingungan dan menaikkan alisku serta menatap mereka satu persatu, sedangkan wajah mereka semua tertutup oleh masker.


"Nona Blyss?"


"Kenapa?" Tanyaku sambil mundur satu langkah.


"Ikut kami," jawab salah satu dari mereka yang tepat di depanku.


"Pesawatnya akan lepas landas. Saya tidak punya waktu," jawabku sembari beranjak dari sana.


"Tolong jangan sampai kami bertindak kasar padamu!" Salah satunya menaikkan nada bicaranya. Bagaimana aku harus mengatasi ini? Bahkan tidak ada kejelasan tentang siapa di balik semua ini. Salah satu dari kelima orang itu merebut koperku lalu pergi dari tempat itu.


"Kau pikir aku akan terpancing dengan itu?" Tanyaku pada empat orang yang masih di depanku sambil menunjuk ke arah orang yang sudah pergi bersama dengan koperku.


Mereka diam, tidak ada yang menjawab dan tidak ada yang bergerak. Aku menghela nafas berat, aku juga bingung harus bagaimana. Mereka akan tetap menghalangi jalanku, tapi aku juga harus tetap pergi ke pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


Tiba-tiba tak lama kemudian aku merasakan jarum suntik menancap di lengan kananku. Aku berusaha untuk menoleh ke belakang.


Entah dari kapan Derry menjadi pembelot, nanti aku sendiri yang akan menginterogasi Derry. Aku harap aku tidak apa-apa.


...........


Perlahan aku membuka mataku, hawa dingin dari AC itu mudah dibedakan dengan hawa dingin dari angin alami.


Perlahan, aku duduk di tepian kasur. Setelah menatap jendela, aku yakin ini masih berada di dalam pesawat.


Rasanya memang masih sedikit berat di bagian kepala, tapi aku masih bisa berjalan perlahan. Setelah aku membuka pintu, ada empat orang yang mengawasi ruanganku ini dari luarnya.


"Malam, Nona," ujar mereka serempak sambil menunduk.


"Dimana Derry?" Langsung saja pada intinya, aku harus tahu akar dari semua ini.


"Nona sudah tidak pusing lagi?" Tanya salah satu dari mereka.


"Bukan urusanmu. Cepat beritahu aku dimana Derry!"


"Baik. Ikuti saya." Dia berjalan duluan, lalu aku mengikuti langkah kakinya.


Beberapa langkah kemudian, aku dan seorang bodyguard ini sampai di depan sebuah ruangan.


"Ini ruangan Derry Nona," ujarnya lalu pergi meninggalkan aku sendiri di depan pintu.


"Dasar tidak bertanggung jawab," gumamku kesal sambil mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Masuk," sahut seseorang yang di dalam dan aku tahu kalau itu adalah suara Derry.


Aku masuk dan melihat ke sekeliling ruangan itu, Derry sedang duduk di sofa yang ada di ruang itu dan dengan sangat santai. "Ada apa Blyss?" Tanyanya sambil berdiri dari duduknya.


"Karena aku termasuk dalam orang dewasa, mari kita biacarakan semuanya dengan tenang. Pesawat ini akan membawa kita kemana?" Tanyaku.


"Bandara pribadi milik keluarga Alexssandro," jawab Derry tenang.


"Kau berkhianat?!"


"Santai Nona," jawabnya sambil tersenyum senang. "Kembali ke ruanganmu, setelah sampai, semuanya akan dijelaskan oleh Han sendiri," sambungnya.


"Kau benar-benar!" Aku mendorong Derry dengan kuat, tanganku bergetar, seharusnya Derry tidak sampai terbentur di dinding. Derry terdiam sambil menunduk dan bersandar di dinding ruangan ini. "Kau tahukan aku bisa memecatmu kapan saja?!" Tanyaku sambil meletakkan kedua tanganku di sebelah kanan dan kiri Derry. Derry tersenyum menatapku yang sangat dekat dengannya, dari wajahnya terlihat dia sedang mengejekku.


Derry menatapku dan memperlihatkan senyumannya, "Setelah Han menjelaskan semuanya, kau akan menarik perkataanmu itu," ujar Derry dengan sangat yakin sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Kau... Akh!" Tiba-tiba kepalaku berdenyut keras, aku mundur dua langkah menjauh dari hadapan Derry. Sial ini sakit sekali.


"Hemm? Kenapa Blyss...? Kepalamu sakit ya? Sepertinya aku tidak sengaja menaikan dosis biusnya," ucap Derry dengan sangat mengejek. Ringan. Gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun. Yang terakhir kulihat hanya senyuman dari Derry yang sebelumnya tidak pernah kulihat.


............


Lagi-lagi aku terbangun oleh hembusan udara AC. Rasanya ada yang mengganjal di tanganku. Ah sial. Kepalaku. Aku memegangi kepalaku sambil berusaha duduk di tepi ranjang.


Sepertinya sudah, kepalaku terasa sudah tidak terlalu berat. Tatapanku menyapu seluruh ruangan ini, di tanganku, ini? Boneka ini? Tidak. Aku harus segera pergi dari tempat ini.


Ruangan ini, sangat kukenal. Ini salah satu villa kepunyaan Papaku dengan dua kamar tidur, satu di lantai dasar satu lagi yang kutempati sekarang ini. Biasanya aku senang berada di sini, itu karena anti-sosial yang kumiliki. Tapi sekarang, tidak, aku harus segera menemui Viana. Dia pasti sudah menungguku lama.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁