
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Han juga masih belum tidur, masa bodoh soal mandi lagi, kami berdua kelelahan. Tapi berhubung aku tadi menangis, aku jadi bisa tertidur pulas sebelum Han tidur duluan.
...
Aku membuka mataku dan menatap jam dinding, sudah pukul 8 pagi. Seharusnya aku sudah bangun dan memasak, tapi keseluruhan masih sakit dan susah untuk digerakkan. Bahkan aku tidur hanya memakai selimut, tidak dengan pakaianku yang ternyata masih berserakan di lantai.
Han tidak ada di sebelahku, mungkin sudah pergi. Aku masih mengumpulkan nyawa untuk mencoba turun dari tempat tidur. Tapi tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Han dengan rambut basahnya.
Dia belum pergi, baguslah. Aku tidak mau tahu, pokoknya hari ini Han harus menjadi asisten rumah tangga. "Pagi Blyss," sapanya tidak lupa dengan senyuman.
Seketika aku kaget dengan wajah tanpa dosanya itu. Apa-apaan itu? Dia tidak ingin meminta maaf soal kemarin malam? Awas saja kalau aku sudah sembuh.
Han menghampiriku yang hanya diam menatapnya berdiri di ambang pintu kamar mandi. "Kenapa?" Tanyanya. Aku hanya menatapnya dengan kesal. "Maaf soal kemarin malam ya?" Ujarnya.
"Kemarin malam itu kau kenapa? Kalau ada masalah, kau bisa ceritakan semuanya padaku. Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun, kau,'kan tahu kalau kita ini tinggal berjauhan dengan orang terdekat kita masing-masing. Aku tidak punya siapapun selain kau di sini, begitu juga sebaliknya," ucapku menatap Han yang duduk di sebelahku.
Han tersenyum, "Maaf sekali. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sepenuhnya berada di bawah pengaruh alkohol. Mungkin hanya 60% dari 100%. Tapi aku sengaja, aku hanya ingin melakukannya dengan bebas. Tapi aku berjanji, kemarin yang pertama dan terakhir kalinya aku melakukan itu dengan kasar," jelasnya. "Baiklah, sekarang kau mau mandi?" Tanyanya.
Aku hanya mengangguk, Han berdiri dari duduk lalu menggendongku yang masih terbungkus selimut. Aku meringis karena bagian bawah tubuhku nyeri sekali ketika Han mengangkat ku.
"Bibirmu masih perih?" Tanya Han.
"Masih," jawabku. Han menurunkan ku di bath tub, dan beranjak pergi. "Han temani di sini," ujarku. Seketika Han terhenti, berbalik lalu tersenyum. Melihatnya tersenyum malah membuatku ingin menendang pantatnya. Argh!
"Aku bantu mandi?" Tanyanya sambil berjongkok untuk menyamakan tinggi badan kami berdua.
"Bukan, nanti kalau aku perlu bantuan atau sudah selesai, aku tidak perlu berteriak. Kalau untuk mandi, kurasa masih bisa, lenganku masih lumayan bisa digerakkan," jawabku. Tidak ada yang aneh di lenganku, karena kemarin itu Han hanya mengikat kedua tanganku. Ya meski agak merah sedikit di area pergelangan.
Kurasa tidak sampai 20 menit aku sudah selesai mandi, setelah mandi Han membantuku untuk memakai pakaian. Tidak apa, toh sudah sah.
"Han, kita sarapan apa?" Tanyaku setelah duduk dengan nyaman di kasur. Aku mendongak ke atas untuk menatap wajah Han yang baru saja meletakkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Aku sudah membuat bubur. Mengingat bibirmu sepertinya masih sakit," jawabnya. "Kenapa kau tiba-tiba lucu sekali hmm...?" Sambungnya sembari mengacak-acak rambutku, tidak lupa ia juga tersenyum menatap ku.
"Kita makan di sini ya," pintaku sambil memeluk tangannya yang tadi mengacak-acak rambutku.
"Haha. Iya-iya. Aku segera kembali," ucapnya. Lalu segera keluar dari kamar. Bibi mungkin membantunya, atau tidak. Bukan urusanku, yang terpenting adalah sudah ada sarapan.
Entah kenapa, rasanya aku benar-benar ingin memeluknya. Bahkan tidak ingin jauh darinya, setelah aku mendengar dia ingin melakukannya dengan bebas. Apa sebelum-sebelumnya itu tidak bebas? Dia masih menahannya? Tapi itu saja sudah cukup untuk membuatku tidak bisa berjalan. Sudah-sudah.
Ini waktunya sarapan, Han sudah datang dengan nampan di tangannya. Sudah lengkap dengan sarapan yang kami bicarakan tadi. Kami berdua makan dengan tenang dan nyaman, sesekali aku meringis karena bibirku terkena sendok atau tidak sengaja aku gigit.
Selesai makan, Han kembali ke kamar bersama seorang pria, pria itu tidak asing. Dia orang yang sama dengan dokter yang memeriksa ku saat setelah kembali dari Seoul.
"Tidak biasanya kau cepat sampai," ucap Han pada pria itu.
"Aku sudah di komplek ini dari kemarin, aku menginap di penginapan asisten mu. Ya salah satunya," jawab si pria dokter itu. "Kau lupa siapa yang mengantarkan kau pulang ke rumah?" Tanyanya sambil menatap Han dengan kesal.
"Ah benar juga, kau ikut," sahut Han. "Nanti kalau ingin pulang, bawa mobil yang ada di garasi ya," sambung Han.
"Baiklah." Percakapan mereka sudah selesai, sekarang pria itu mendatangiku yang duduk di atas tempat tidur. "Hai, kita bertemu lagi," ujarnya. Aku hanya mengangguk dan masih memperhatikannya.
Ia menanyakan bagian-bagian tubuhku yang sakit. Setelah selesai, pria itu tersenyum tipis lalu mendekati Han yang duduk di sofa.
Plak!
Satu tamparan mengenai pundak Han. "Lain kali jangan terlalu kasar bodoh! Bagaimana kalau sampai dia mati!?" Geramnya setelah memukul Han. Dari suaranya saja aku tahu kalau itu sakit, tapi aku rasa, Han tidak merasakan hal yang sama.
Sedikit lucu mendengar kalau sampai aku mati. Artinya Han yang membunuhku, tidak bisa aku bayangkan ketika Han ditanya oleh pihak berwenang. "Bagaimana dia bisa meninggal?"
"Saya melakukannya terlalu kasar." What the hell?! Hahahaha!! Apa kata mereka? LMFAO.
Tidak-tidak. Jangan pikirkan itu.
"Blyss, maafkan temanku. Lain kali jangan memberontak terlalu banyak, takutnya nanti malah kaki atau pinggangmu yang patah, atau juga lenganmu," ujarnya. "Obatnya di atas meja sofa. Jika dia tidak mau mendengarkan ucapanmu, ada tombol di lampu meja. Tekan yang tidak berisi angka, baiklah aku pergi dulu," ucapnya lalu pergi dari kamar ini meninggalkan aku dan Han. Aku hanya mengangguk, aku kagum dengan dokter ini, berapa lama dia sekolah? Berapa lama dia bekerja dengan Han?
"Bagaimana?" Tanya Han sembari mendekat ke arahku.
"Tidak tahu," jawabku. Han hanya menghela nafasnya lalu meletakkan obat yang dibawanya.
"Ini, minumlah," ucapnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Seharusnya tidak perlu sampai memanggilnya ke sini juga," ujarku.
"Dia yang memaksa masuk ke rumah, padahal aku tidak memintanya," sahut Han membuatku kaget. Tidak memintanya?
"Dia tinggal di dekat sini ya?" Tanyaku lalu menyuap obatku.
"Kalau aku habis minum banyak, biasanya dia akan tinggal berdekatan dengan ku. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada yang membahayakan keselamatan," jelasnya sambil menatapku yang sedang meminum obat. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. "Setidaknya ini perlu,'kan. Untuk mengurangi rasa sakit," sambung Han.
"Iya juga," sahutku. Tiba-tiba Han terlihat seperti menahan tawanya. "Kenapa?" Tanyaku.
"Tidak, hanya saja aku kembali mengingat wajahmu ketika dokter itu masuk," jawabnya. Dokter itu? Kenapa tidak menyebutkan namanya saja?
"Kenapa tidak menyebut namanya?" Tanyaku.
"Hehe, tidak," sahutnya.
"Kegiatan kita selanjutnya apa lagi ya?" Tanyaku sembari merebahkan tubuhku.
"Kau istirahat saja, bagian bawahmu masih lebam. Jangan banyak-banyak bergerak," jawab Han. "Kita menonton film saja bagaimana?" Tanyanya sambil duduk di sebelahku.
"Ide bagus." Aku segera duduk dan memeluk tangan Han.
"Tapi yang ada hanya film horor," ucap Han yang membuatku seketika menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak apa, selagi aku tidak sendiri dan ini juga bukan di malam hari," sahutku sambil mengeratkan pelukan ku pada tangannya. Tidak tahu kenapa sampai sekarang aku masih suka memeluk tangan seseorang yang aku suka daripada memeluk tubuhnya.
"Setelah aku pikir-pikir lagi, sepertinya akan ada banyak jumpscare di film yang akan kita tonton," ucapnya.
"Heh! Bukannya kau sudah bayar uang premium untuk aplikasi itu?" Tanyaku. Selain dia, aku juga sering menonton film di aplikasi tersebut.
"Sudah, tapi katanya di pusat sistem aplikasi itu sedang ada gangguan. Jadi yang bisa kita tonton hanya film atau acara yang sudah di simpan pada penyimpanan offline," jelasnya.
"Aku kira berita yang kemarin lusa hanya sebuah hoax dan pengalihan isu," sahutku.
"Sayangnya tidak. Ada kemungkinan kalau kita akan terkena dampaknya juga. Maksudku, dampak untuk markas kita." Han menarik tangannya yang aku peluk untuk mengelus pucuk kepalaku. Seolah-olah dia tidak membiarkanku untuk terus-menerus memeluk lengannya.
"Aku terpikirkan hal yang sama tadi. Tapi sudahlah. Sudah saatnya kita fokus pada perusahaan aslinya. Jika memang benar mereka meretas keamanan dari salah satu markas keluarga kita, tidak akan menjadi masalah besar. Tidak akan menjadi besar jika kau lihat dari sudut pandang keluargaku. Entah kau sudah tahu atau belum soal anggota polisi yang sudah tanda tangan, bahwa markas keluargaku sudah 70% dimiliki oleh pihak kepolisian," jelasku.
"Ya aku sudah tahu, Bryan yang memberikan informasi itu. Agar aku tidak terlalu memikirkan masalah markas. Sebelumnya, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi, setelah menghanguskan gudang beserta beberapa markas Jyun Go, aku mengurungkan niatku untuk membagi tanggung jawab itu dengan kepolisian," jelas Han sembari menyalakan televisi.
"Tergantung padamu Han, satu yang harus kau ingat. Aku akan berusaha untuk membantumu selagi itu tidak merugikan," ucapku. Pada akhirnya aku merebahkan tubuhku setelah Han menarik lengannya tadi.