LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
I Hate You Two Guys....



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"So?" Kak Bryan menatapku yang memang lebih pendek darinya. Aku belum menjawabnya, aku bingung harus menjawab apa.


"Tidak ada ucapan terakhir untuk kami berdua?" Forten kini membantu Kak Bryan untuk mencairkan suasana, meskipun tidak terlalu berguna.


"I hate you two guys...." Aku menggantungkan ucapanku serta menatap Kak Bryan dan Forten secara bergantian, terlihat ekspresi mereka seketika berubah. Kak Bryan yang tadinya datar kini menampilkan senyum miringnya begitu juga dengan Forten. "But, i'm realized that you two guys is the best Sugar Daddy in my life," sambungku sambil menundukkan kepalaku, aku tidak ingin berlama-lama menatap senyuman iblis dari kedua Kakakku ini.


"I hope you will never change to me." Kak Bryan memeluk tubuhku dengan erat, aku tahu bahwa Kak Bryan memang sangat menyayangiku seakan-akan aku adalah keluarga terakhir yang dia miliki.


Kini aku beralih pada Forten, Forten 4 tahun lebih tua dariku tapi aku tidak terbiasa memanggilnya dengan sebutan Kakak, mungkin karena kebiasaan. "Kau kenapa?" Aku bertanya demikian karena Forten menundukkan kepalanya dan raut wajahnya terlihat menyedihkan.


Forten tidak menjawab apapun namun segera memeluk pinggangku dengan sangat erat. Aku bingung mau berkomentar apa, dia seperti enggan melepaskanku untuk pergi. "Ternyata kau tetap saja masih kurus," bisik Forten saat masih memelukku.


"Hentikan body shaming itu," sahutku sembari mencubit pinggangnya lalu membalas pelukannya. Aku hanya mendengar tawa kecil dari seorang Forten.


Forten melepaskan pelukannya, "Jaga Viana baik-baik sampai aku kembali lagi ke sini," ucapku mengingatkan Forten.


"Tentu saja aku akan menjaganya dengan sangat baik," sahut Forten.


"Yasudah, aku pergi ya." Kakak dan Forten mengangguk bahkan pada waktu yang bersamaan. Setelah isyarat iya dari kedua Kakakku ini, aku segera berjalan menuju pesawat.


Aku menyebut mereka berdua sebagai "Sugar Daddy" bukan tanpa sebab, tapi itu karena selama aku bersama salah satu dari mereka aku benar-benar menjadi anak yang manja. Segala hal akan ditanggung oleh mereka, sedangkan aku hanya fokus terhadap tujuan utamaku.


Fyi, laptop yang biasa kupakai adalah pemberian dari Kakakku saat aku baru saja masuk ke dalam kelompok pengumpan. Sedangkan handphone yang sekarang aku pakai beserta dengan perangkatnya adalah pemberian dari Forten, karena handphone-ku yang sebelumnya terlindas mobil saat aku sedang bersama dengan Forten.


Forten merasa bersalah dan akhirnya membelikan handphone yang baru padaku, untunglah sampai sekarang masih bisa dipakai, kalau tidak, maka tidak akan ada kenang-kenangan yang akan mengingatku tentang kejadian itu.


.........


Perjalanan tak terasa karena aku tertidur pulas di dalam pesawat. Pukul 3 lebih 34 menit aku mendarat di bandara pribadi milik Forten, aku tidak tahu kalau akan mendarat di sini, tapi untunglah Papa ada di sana. Katanya untuk menjemput diriku, Papa dapat informasi dari Kakak, ya tidak heran, sih.


"Bagaimana perjalananmu Blyss?" Papa bertanya kepadaku setelah kami berdua sudah mulai menjauhi area bandara.


"Biasa saja, Pa. Sebenarnya aku ingin terbang dengan pesawat umum. Tapi Forten dan Kak Bryan membatalkan tiket itu," jawabku. Aku sering mengeluh terhadap sikap Forten dan Kak Bryan pada Papa. Kalau dengan Mama, Mama malah akan memarahiku.


Ehh? "Ada, Pa. Tapi sekitar empat atau lima hari lagi, aku akan kembali ke Amerika Serikat untuk menemani Viana. Katanya dia akan menikah," jawabku.


"Hem, baiklah. Saat itu kau bisa menggunakan pesawat umum. Papa akan merahasiakan hal ini, tapi kau harus memikirkan cara agar Mama tidak tahu hal itu. Kalau Mamamu tahu, maka dia yang akan memberi tahu Kakakmu," jelas Papa, ini dia yang aku harapkan. Jawaban yang meningkatkan semangat.


"Papa memang yang terbaik," sahutku sambil memandangi wajah Papa yang masih sibuk menyetir mobilnya. "Ngomong-ngomong, Mama dimana Pa?"


"Dia ada di apartemen. Papa tidak mau dia terlalu kelelahan, jadi Papa sarankan agar Mama tetap di apartemen, biar Papa yang menjemputmu. Ya, meskipun sebenarnya ini adalah antisipasi kalau-kalau ada hal yang ingin kau sembunyikan dari Mamamu." Papa tidak bohong sedikit pun.


Papa memang yang sangat-sangat dan yang paling-paling terbaik. "Begitu ya. Baguslah." Tentu aku senang mendengar penjelasan dari Papa.


Aku dan Papa sampai di apartemen tempat Papa dan Mama tinggal, aku beristirahat sebentar lalu sore hari sekitar pukul 6 aku, Papa dan Mama pergi ke kantor. Bukan sesuatu yang susah untuk dijelaskan, ini hanya sebuah Bank lainnya dengan markas di lantai bawah.


Aku yang akan bertanggung jawab atas markas di bawah tanah, tidak perlu memperluas kawasannya, yang penting tidak ada pembelot di dalamnya. Markas di bawah Bank bukan markas utamanya, kawasan utama berada di daerah kompleks rumahan, ya seperti biasanya.


Kak Bryan yang harusnya bertanggung jawab atas hal ini, namun Papa menyarankan agar mengalihkannya terlebih dahulu, setidaknya 3 tahun lagi atau kapanpun Kakak akan bersedia. Dia tidak bersedia karena Sidney masih terlalu kecil untuk ditinggalkan, tapi semoga saja hal buruk tidak akan pernah terjadi saat nanti.


Kami bertiga dengan beberapa orang penting lainnya sedang melakukan pemindahan kepemilikan atas Bank ini, aku akan menggantikan posisi Papa, sedangkan posisi Mama sebagai sekretaris akan digantikan oleh Papa. Aku masih perlu bimbingan dari Papa, dan kebetulan Papa juga ingin mengawasiku dengan matanya sendiri.


Dan semua perusahaan ini akan menjadi tanggung jawab Kakakku jika aku sudah menikah nanti. Terdengar seperti bekerja dua kali, ya ini hanya untuk menambah pengalaman saja.


Mama sepertinya akan kembali ke Amerika Serikat dan tinggal bersama Kakak, untuk keamanannya juga. Kak Welsa juga bersedia dengan senang hati kalau Mama akan pulang ke rumah, dengan tinggalnya Mama di rumah Kakak, Kak Welsa akan leluasa bertanya berbagai hal tentang menjaga seorang anak.


09:55 PM


Aku masih berada di Bank sedangkan Mama dan Papa sudah kembali ke apartemen duluan, susah juga meyakinkan kepada Mama dan Papa untuk percaya kalau aku akan baik-baik saja berada di sini.


Justru mereka berdua lebih berbahaya jika berada di luar sana, tapi aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Aku ingin menyiapkan perlengkapan untuk besok, karena rencananya besok Bank ini sudah harus bisa beroperasi sebagaimana mestinya.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁