
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Tentu, aku harus kembali tidur," jawabnya sambil memberiku bungkus makanan.
Aku segera kebelakang, membuang sampah lalu kembali ke tempat dudukku.
.........
03:24 PM
Aku membuka mata saat jet sudah mendekati bandara, rugi juga aku menutup mata sedangkan semua suara masih bisa kudengar, sama saja aku tidak tidur.
Setelah jetnya mendarat, aku segera turun tanpa bicara kepada rekanku.
"Blyss!" Panggil Viana.
Aku hanya menoleh kearahnya yang ada sudah mulai berlari kearahku, aku tunggu dia sampai dia di depanku setelah itu kami berjalan beriringan.
"Kau kenapa Blyss?" Tanya Viana. Aku hanya menggeleng dan tetap berjalan menuju mobil yang tadi pagi digunakan aku dan Han ke bandara.
"Baiklah, aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan," ucapnya lalu berlari menuju mobil yang satunya, aku tidak melihat Viana dan Forten datang tadi pagi, dan di lapangan ini hanya ada dua mobil.
'Aku ternyata memang pandai berbohong, kapan akan debut jadi aktris? Sudahlah.'
Viana percaya, mungkin "aku yang biasa" dan "aku yang punya masalah" tidak ada bedanya di mata Viana. Tapi tak apa, aku juga tidak ingin cerita.
Aku masuk ke mobil dengan hati-hati, kepalaku sedikit sakit, sepertinya aku harus segera menemukan jalan untuk melupakan hal tadi.
Beberapa menit kemudian Han masuk ke mobil dan tersenyum ke arahku saat aku memandangnya sesaat lalu kembali dengan urusanku.
Apa dia sudah gila karena terlalu lama di dalam tanah tadi?
"Blyss," panggil Han setelah sekitar semenit perjalanan.
"Apa?" Tanyaku memandangnya.
"Aku mau mengunjungi Mama, kau ikut," ucapnya santai.
"Kenapa aku harus ikut?" Tanyaku lagi.
"Mamaku ingin bertemu denganmu," jawab Han dengan wajah jujur.
"Aneh, tapi bagaimana caranya aku menolaknya?"
"Tidak ada jalan lain selain ikut," jawab Han.
Oh ayolah, aku ingin tidur. "Haih~" keluhku.
"Pakaianmu sudah di rumah mama, mama ingin kau menginap di sana, dia benar-benar ingin bertemu denganmu. Mama sampai mencari
penggantinya selama libur untuk bekerja bersama Papa di kantor," jelas Han setelah aku mengeluh.
'Manusia dingin ini lumayan peka.' Aku mengatakannya dingin karena dia menjelaskannya dengan datar, dialah yang membuatku enggan ke sana, dia seperti tidak suka aku berada di sana. "Baiklah-baiklah, tapi siapa yang membawa bajuku ke sana?" Tanyaku.
"Itu urusan Mama, aku tidak tahu apa-apa tentang itu, tugasku hanya membujukmu ikut ke sana," ujarnya singkat dan padat.
"Baiklah," jawabku sambil memandang keluar jendela mobil. Tidak sopan menolak orang tua Blyss.
30 menit kemudian
"Untuk apa ke rumahmu?" Tanyaku.
"Aku hanya ingin meletakkanmu di rumah Mama,
aku akan pergi ke kantor, masih ada waktu untuk menyelesaikan setidaknya 2 klien," jawab Han masih fokus menyetir mobil.
Aku hanya bercanda soal dialog. Sudahlah, biarkan Author saja yang memikirkan dialog.
Saat sudah sampai di rumah Han, aku hanya duduk di sofa ruang tengah, sebenarnya aku tidak ingin ikut keluar, pakaianku saja masih kotor, tapi sepatuku tidak meninggalkan jejak ketika di bawa menginjak lantai.. jadi Han memaksaku untuk menunggunya di dalam rumah.
Aku menghela nafas panjang dan mengusap-usap wajahku, lagi-lagi aku teringat soal Nicols, hal itu benar-benar membekas di pikiranku.
'Sudahlah Blyss, kumohon kendalikan dirimu,' gumamku lalu menyisir rambut dengan jari sambil bersandar di sofa.
Aku pergi ke kamarku saat berada di rumah Han, keperluanku adalah membasuh wajah, itu saja.
'Kau sudah sering begini tapi tetap saja lemah Blyss,' pikirku sambil memandangi wajahku di cermin wastafel, tiba-tiba nafasku tidak beraturan. Aku segera bersandar pada dinding dan memegang leher bagian belakang lalu mencoba bernafas dengan normal. Aku sering seperti ini jika sesuatu benar-benar memberiku tekanan yang kuat.
Entah bagaimana hal ini akan memudar dari pikiranku?
Setelah puas membasuh wajah, aku kembali turun ke ruang tengah dan Han sudah berada di sana sambil memakai sepatunya.
"Lain kali ceritalah ke orang lain agar bebanmu lebih ringan," ujar Han saat sadar aku ada di sana.
"Ada apa? Kenapa?" Tanyaku sambil duduk di
sebelah Han, tidak terlalu dekat.
"Ayolah Blyss, wajahmu sudah menceritakan bahwa kau mengalami hal sulit tadi, tidak perlu berbohong padaku," ucap Han memandangku setelah selesai memakai sepatunya.
Aku hanya memandangnya dengan menekuk alis dan menyipitkan mataku. 'Apa yang dia tahu?' Pikirku, lalu memandang ke arah lain.
"Blystina Grysselda. Aku tahu siapa pengguna akun @pum_******. Ucap Han.
"Ha?"
"Akun itu yang tetap bersamamu selama kita hilang kontak setelah aku dan Forten keluar dari gudang keluarga Symon, menurutku akun itu pantas untuk di curigai. Setelah di cari tau pengguna akunnya adalah Nicols. Kakak tiri dari Viana dan aku sudah terlanjur menandai lelaki itu sebagai orang brengs*k. Jadi, bisa kusimpulkan terjadi sesuatu di antara kalian berdua dan hal itu tidak kau sukai," jelas Han dengan santai sambil menatapku yang juga memperhatikannya saat bicara.
'Itu benar,' Aku memandang Han, aku agak kaget, tapi jika mengingat dia juga bisa membuka akun private dengan jarak jauh, kagetku jadi berkurang.
"Itu benar,'kan Nona Blyss?" Sambung Han.
Aku tidak menjawab, dia mengingatkannya kembali. Aku berusaha tetap bernafas dengan tenang tapi tidak bisa, aku segera menunduk, entahlah. Itu membuatku bisa bernafas normal.
(Nafas tidak beraturan, itu hanya menghembuskannya lebih panjang dari biasanya sedangkan menghirupnya lebih pendek dari normalnya. Itu seperti menghirupnya tidak sampai 1 detik dan menghembuskannya lebih dari 2 detik, ini juga yang terjadi di washtaple tadi.)
Han berdiri menggunakan lututnya di depanku yang sedang mencoba tenang dan duduk di sofa.
"Lain kali bicarakan baik-baik Blyss," ucap Han sambil mengelus kepalaku yang menunduk.
Aku hanya memandangnya sebentar lalu menunduk lagi dan menutup telingaku, mata, hidung dan telingaku terasa panas. Aku merasakan Han sudah berdiri, kupikir dia akan pergi, tapi tidak, Han menangkup lenganku agar aku berdiri lalu memelukku. Aku sudah tidak tahan, air mataku langsung menetes, rasanya aku ingin teriak sekencang-kencangnya.
"Apapun yang terjadi aku tau kau tidak akan cerita, lupakanlah... Itu sudah berakhir. Aku akan pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi," ucap Han dengan nada rendah.
Aku sebenarnya senang berada di pelukan ini, tapi aku tidak bisa bernafas sekarang ini.
"Baiklah, aku percaya padamu," jawabku.
"Mau katakan sesuatu?" Tanya Han setelah melepas pelukannya.
Dejavu?
"Aku ingin melupakan yang terjadi tadi," ucapku memandangnya sebentar dan melihat senyum tipisnya lalu segera menunduk sambil meneteskan air mata. Tiba-tiba kepalaku sakit sekali, pertama kalinya aku merasakan yang sesakit ini. Saat aku mencoba menatap ke depan, sepertinya aku terlambat semuanya sudah mulai gelap.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁