LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Menjijikkan



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Hanya buang-buang tenaga jika aku menyetujuinya." Jawabku sambil melepas kasar tangan Nicols dari tanganku.


"Sombong. Tapi kau menarik, tidak salah jika aku menjadikanmu mainanku."


"Menjijikan. Aku harap aku bisa memberimu pelajaran ditempat lain, tidak ditempat terang seperti ini." Jawabku beranjak pergi tapi tidak semudah itu.


"Mau pergi ke mana? Aku bahkan belum berbuat apa anak nakal." Ucap Nicols menahan tanganku.


"Haha. Lucu kau." Jawabku sambil menendang lutut Nicols hingga dia terduduk dilantai.


Di daerah kolam ini memang sepi, jadi tidak ada yang peduli dengan aku dan Nicols.


Setelah menendang lutut Nicols dengan keindahan aku langsung pergi mencari Han. Sebr3ngs3k apapun Han, Han tidak akan menurunkan harga dirinya di tempat seperti ini, susah mendapatkan diskon dengan Han.


'Han kenapa di sini?' Aku melihat Han sedang menatapku dengan tatapan tajamnya, kira-kira 1 meter dari pintu keluar menuju kolam.


"Apa dia macam-macam padamu?" Tanya Han saat aku mendekat ke arahnya.


"Dia? Laki-laki yang aku tendang?"


Bukannya menjawab pertanyaanku Han malah menarik tanganku menuju mobil.


'Jika Han bertanya siapa dia apa yang harus aku jawab?'


"Cepat masuk." Ketus Han, aku hanya menurutinya, aku takut sekarang. Tatapannya tadi membekas di kepalaku.


"Sekarang jelaskan siapa laki-laki itu." Pinta Han menatapku setelah dia menutup pintu mobil dengan kesal.


"Santai, tidak usah kesal begitu. Dia tidak macam-macam padaku." Jawabku sambil duduk lebih santai.


"Kau kenal dia siapa?" Tanya Han.


'Sha.' (Sial dalam bahasa Jepang dibaca "sya.") "Dia kakak tirinya Viana." Jawabku. Aku menjawabnya dengan pikiran kosong, itu jadinya jika aku sudah sangat terbebani.


"Kau sudah lama kenal dengannya?"


'Buat ringan saja.' Pikirku. "Lumayan. Kira-kira sebulan."


"Dimana kau bertemu dengannya?"


'Berapa kali aku harus mengumpat hari ini.' "Jangan mengganggu privasi orang." Ketusku.


"Ck. Jika orang lain pasti akan diam mendengar itu, lain kali kurangi sikap kejammu itu. Bagaimana Lexa bisa tahan dengan sikapmu?"


"Kau tidak perlu tahu." Ketus pt.2, Han hanya berdecak kesal dengan jawabanku.


Kami berdua hening. Han lebih memilih untuk memainkan hpnya dengan telinga mendengarkan musik. Sedangkan aku, aku terbiasa diam jika sendiri. Kira-kira 7 menit kemudian Shino masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana?" Tanya Han melepas earphonenya.


"Lumayan mudah." Jawab Shino menyandarkan dirinya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kau kenapa?" Tanyaku.


"Apanya yang kenapa?" Tanya Shino kembali.


"Kenapa kau bernafas seperti itu? Di dalam ada Razia?" Tanyaku membalikan badanku dengan benar.


"Apa lagi kalau bukan dikejar waria?" Kata Shino merebahkan dirinya ke tempat duduk.


"Ya mana kutahu." Jawabku berbalik badan menghadap ke depan.


"Kau tahu tempat ini tapi tidak tau tokoh-tokoh yang ada di dalam."


Aku hanya menaikkan alisku mendengar ejekan dari Shino.


"Blyss itu masih polos." Ucap Han.


"Tidak." Sargahku cepat.


"Yaya.. bagaimana rekamannya Shino?" Tanya Han santai.


"Aku dapat, ini hpnya. Kembalikan padaku jika sudah selesai di pakai." Ujar Shino sambil memberikan hp yang tadi dipakainya.


Setelah itu kami bertiga pulang diantar Han satu persatu.


.........


08:31 PM


"Kenapa ke rumahmu?" Tanyaku ke Han ketika Han memilih jalan menuju rumahnya dan bukan rumahku.


"Kau sudah ingin tidur?" Tanya Han.


"Tidak juga."


"Ada urusan sebentar." Jawabnya.


'Untung Viana bilang akan pulang agak larut malam. Han itu terlalu kreatif. Entah memang akan terjadi hal buruk atau aku yang memang suka overthingking.'


Saat sampai di rumah Han, aku turun dari mobil dengan perasaan aneh.


'Seharusnya jika seperti ini aku tidak usah turun.' Pikirku sambil beranjak naik mobil lagi, tapi Han menarik tanganku ke dalam rumahnya.


'Dia sedang marah.' Pikirku sambil mencoba melepas tangannya dari tanganku, tanpa bicara. Hanya buang-buang tenaga jika memohon atau membentaknya untuk melepasku sekarang jika tidak dicoba sendiri, itu karena dia sedang marah.


"Kalau ada masalah itu bicarakan baik-baik." Ucapku ketika kami masuk ke dalam rumahnya.


"Aku sudah mencoba baik-baik tadi. Tapi kau yang tidak bisa diajak baik-baik." Ucap Han menghentikan langkahnya.


"Kuberi tahu cara yang lebih mudah untuk membunuhku, ledakan saja mobil tadi dengan aku di dalamnya, kurasa kau tidak bermasalah hanya sebatas satu mobil seperti itu. Atau tembak aku dengan pistol yang kau gunakan melukai tanganku waktu itu." Jawabku sambil berdiri menunggu respon dari Han.


"Orang seperti kau tidak akan mau bicara jika diancam untuk dibunuh." Ucap Han melemparku di sofa. "Tapi orang seperti kau akan bicara ketika harga dirinya dipertaruhkan." Ucap Han sambil menindihku dengan senyum miring khasnya.


'Bisa beri ruang sedikit untuk melepaskan diri? Damn. Ternyata memang ada hal buruk.' Pikirku. "Apa maumu?" Tanyaku memandang Han yang sangat dekat.


"Katakan, kau kenal di mana dengan Nicols. Jika


menolak aku bisa kapan saja merobek bajumu ini." Ancam Han yang masih menekan tanganku dengan kuat.


"Aku kenal dengannya dihari saat kita wisuda." Jawabku sambil menahan rasa sakit di pergelangan tanganku.


"Dimana?"


'Dia benar-benar mengganggu privasi orang lain.'


"Untuk apa kau ingin tahu hal itu?" Tanyaku.


"Lihat. Kau sendiri yang tidak bisa diajak damai." Ucap Han, lalu mencium bibirku.


"Iya. Aku-akan-katakan." Ucapku terbata-bata karena terhalang bibir Johand. Ini yang ketiga kalinya Han menciumku, aku menghitungnya karena ini tersimpan tanpa sengaja di pikiranku. Ini juga yang ketiga kalinya aku tidak membalas ciuman Han


Han melepas bibirku untuk membiarkanku mengatakan kapan aku kenal dengan Nicols, untuk alamat bandara dan markas Dunia Bayangan milik keluarga Ferwin tidak kuberi tau.


Aku menceritakannya dengan detail dan, hari ini aku mengaku pada Han dengan mulutku sendiri bahwa aku tergabung dalam W0rld Shad0w. Sebenarnya aku tidak ingin sama sekali mengatakan aku anggota dari W0rld Sh4dow karena itu dapat membahayakan hidupku, keluarga dan orang terdekatku.


"Kau masih mau berteman bahkan bersahabat dengan Viana meski kau tahu dia ada hubungannya dengan Nicols. Kau membahayakan dirimu sendiri. Bodoh!"


"Aku mau dekat dengan Viana karena dia sedang melindungi dirinya. Lain kali kalau tidak tau tidak usah mengumpat."


"Apa?" Tanya Han datar.


"Nicols hanya kakak tirinya Viana, sudah kubilang tadi. 2 hari yang lalu itu Viana ingin menginap di rumahku selama Nicols tinggal di Washington D. C."


"Terserah kau saja. Kalau dia macam-macam padamu dan aku melihatnya, jangan salahkan aku jika aku membunuhnya. Tadi itu rasanya aku mati-matian menahan agar tidak memukulnya. Tempat itu terlalu terang untuk menjadikan seseorang sebagai samsak." Keluh Han berdiri dari menindihku.


'Akhirnya lepas juga. Tubuhku rasanya pegal.' Keluhku sambil duduk. "Sial." Gumamku sambil duduk.


"Kenapa?" Tanya Han memandangku.


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa kau mengumpat seperti itu?"


"Kau berat."


"Hem." Smirk Han. "Terima kasih atas


kepercayaanmu sudah mengaku kau bagian dari W0rld Sh4dow." Ucap Han sambil mengutak-atik hpnya dan hp yang diberi Shino.


"Mau antar aku pulang? Atau aku harus pulang sendiri?"


"Sini kuantar pulang. Kau akan susah menahan diri jika melewati jalan di sekitar sini, ada banyak manusia seperti Nicols." Ujar Han berjalan menuju mobil dan aku mengikutinya dari belakang.


...***...


TBC. Mohon dukungannya readers 😁