
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Han hanya mengikutiku, sesampainya di dalam kamar aku melepaskan tangan Han lalu menghampiri tasku yang kemarin malam dipindahkan oleh Han.
"Kau mau bawa itu juga?" Itu pertanyaan yang sedikit aneh di telingaku, ya untuk apa juga aku tinggalkan sementara aku membutuhkannya.
"Tentu. Untuk apa juga aku menambahkan beban hidupmu dengan satu drone, mainan mobil remote control dan laptop kecil," jawabku. "Drone milikmu saja tidak kau pedulikan," sambungku lagi lalu berbalik menatapnya dan menggendong tasku.
"Hem... Benar juga." Han merangkul pundakku lalu kami berdua berjalan keluar bersama.
"Ngomong-ngomong kau tidak bekerja hari ini?" Tanyaku.
"Nanti siang aku akan ke kantor, hari ini aku ingin lebih santai sedikit," jawab Han, ya itu lumayan logis, ini hari minggu.
"Kalau Violin bagaimana?"
"Itu biar jadi masalahku sendiri ya. Pikirkan saja dirimu sendiri... Aku tidak mau kau terluka karena Violin," jawab Han.
"Sudah?" Forten masih tetap berdiri di tempatnya semula seperti saat kami tinggalkan tadi.
"Common dude. You can sit on that sofa." Han sepertinya tidak suka dengan tingkah Forten yang seakan-akan tidak menghargai apapun.
"I know that, but I won't do that now. And remember, i see you every time." Forten juga dari tadi sejak sampai di sini memiliki mood yang sangat buruk.
"Stop acting like kids, adult people," ejekku sambil berjalan keluar rumah dan meninggalkan kedua orang dewasa itu saling bertatapan. Honestly, aku masih bingung dengan perkataan terakhir dari Forten, tapi aku juga tidak mau mereka berdua selalu saja menyebabkan kepanasan setiap kali bertemu. "Byee Han!!!" Aku berteriak kepada Han dari atap mobil juga bertepatan dengan masuknya Forten di dalam mobil.
"Good luck honey!!" Han ikut berteriak lalu melambaikan tangannya, aku segera turun dan menutup atap mobil karena Forten menjalankan mobilnya. Sepertinya dia iri.
"Ada lagi tempat yang lain?"
"Tidak," jawabku sambil membuka laptopku. Aku juga memakai headphone, karena kulihat seorang Viana mengirimkan pesan suara padaku. Entah berita apa yang akan dia sampaikan dengan kehebohannya.
"Blyss, kau sepertinya sibuk ya? Tentu saja. Tapi aku ingin bercerita sesuatu padamu. Forten sudah melamarku!!! Tiga hari yang lalu Forten datang ke rumah kedua orang tuaku. Aku tidak tahu kalau Forten adalah gentleman, dia salah satu gentleman in real life." Pesan suara pertama sudah selesai. Gendang telingaku rasanya mau pecah saat Viana berteriak tadi, anak itu benar-benar.
"Maaf terpotong. Jariku pegal karena menekan terlalu lama. Nanti kalau kau sudah tidak terlalu sibuk, telepon aku ya. Aku ingin mengobrol banyak denganmu. Untuk informasi lebih, aku akan menikah dengan Forten seminggu lagi. Aku ingin sebelum hari itu mendekat, kau selalu ada di sebelahku. Aku tidak ingin alasan apapun," sambung Viana. Dia akan menikah seminggu lagi, sedangkan aku akan pergi ke Seoul dulu.
Dia akan menikah seminggu lagi, sedangkan aku akan pergi ke Seoul dulu. Masa' iya aku harus membatalkannya? Tidak-tidak, sebaiknya aku memang harus pergi ke Seoul, lalu pulang sekitar 4 atau 5 hari lagi. Aku melamun sambil memikirkan hal itu, namun itu semua buyar ketika Forten menyentil dahiku.
"Ck." Aku segera melepas headphone yang menutupi telingaku lalu menutup laptopku juga karena memang urusanku sudah selesai. "Apa?" Aku menatap Forten dengan sinis.
"Bukan urusanmu." Aku sebenarnya tidak risih, hanya saja itu sedikit berlebihan. Jadi sekarang aku hanya merasa ingin marah ketika Forten dan diriku sedang bercakap-cakap.
"Baru saja kemarin kau bersikap manis padaku agar orang yang mengurung dirimu saat itu tidak diberikan sanksi. Tapi sekarang sudah berubah seperti akulah orang yang paling bersalah."
"Bukannya memang kau yang salah?"
"Di mananya? Aku hanya mengiyakan permintaan Kakakmu untuk memeriksa apakah keadaanmu baik atau tidak, itu saja." Forten mengelak, dia tidak ingin disalahkan.
"Itu dia, salahnya adalah, kau mengiyakan permintaan Kakakku. Kalau kau menolak, mungkin aku akan berangkat besok pagi, atau bahkan tidak jadi," jelasku.
"Tidak jadi? Maksudmu apa?" Forten kebingungan dengan perkataanku.
"Lagi-lagi itu bukan urusanmu, itu hanya kemungkinan yang akan terjadi." Aku mengalihkannya, aku tidak menyangkutkan itu dengan pesan suara dari Viana tadi.
"Aneh." Forten suka mengejekku, namun dia orang pertama yang akan memberi pelajaran kepada orang yang mengejekku. Itu karena, yang boleh mengejekku hanya dirinya sendiri. Itupun kalau aku mengadu padanya.
Kami hening, aku tidak memberikan respon apapun terhadap ejekan Forten tadi, aku lebih memilih untuk diam dan menenangkan diri. Aku juga meyakinkan diriku sendiri untuk benar-benar kembali ke Amerika Serikat atau ke tempat acaranya nanti untuk menemani Viana.
Aku tidak menyangka kalau aku dan Viana akan sedekat ini, itu karena aku mengira Viana adalah orang yang pendiam, dan susah diajak bertukar cerita. Namun setelah pertemuan di kampus waktu itu, aku baru setuju mengenai jangan menilai seseorang dari luarnya saja.
Benar saja, dari semua orang yang kutemui dari aku ingat kalau aku hidup sampai sekarang, semuanya bisa kunilai dari luarnya saja. Tapi tidak dengan Viana, dia anak yang berbeda setelah benar-benar bertemu langsung.
Aku kenal dengan Viana saat aku masih berada di Busan, saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu pun aku juga baru mengenal Yang-Su, Boo Yang-Su.
Sekitar 8 menit kemudian aku dan Forten sudah mulai memasuki area lapangan bandara pribadi keluargaku. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah mobil milik Kak Bryan. Sepertinya Tuan Paranoid itu ada di sini untuk menyaksikan keberangkatanku, dan hari ini aku tidak bisa kabur, padahal tadi sempat terpikirkan hal itu.
Yang benar saja, pesawat sudah ada di lapangan, mesinnya sudah bersuara yang menandakan bahwa pesawatnya sudah siap lepas landas.
Forten menghentikan mobilnya di area parkir, tidak terlalu dekat dengan lapangan pesawat. Sedangkan, Kak Bryan sedang berdiri di sebelah pesawat sambil memandangku yang baru saja turun dari mobil.
Aku berjalan melewati Kakakku sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi setelah 3 langkah menjauh, Forten berteriak padaku, "Blyss! Meskipun kau enggan, setidaknya paksakan dirimu untuk mengucapkan kata perpisahan untuk Kakakmu!"
Aku berhenti, lalu seorang laki-laki menghampiriku dan mengambil koperku untuk di bawa ke dalam pesawat. Aku berbalik untuk menghampiri Kakakku dan Forten yang sudah berdiri berdampingan.
"So?" Kak Bryan menatapku yang memang lebih pendek darinya. Aku belum menjawabnya, aku bingung harus menjawab apa.
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁