
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Ya sudah, aku pergi." Aku segera pergi keluar dari ruangan itu.
.........
10:37 AM
Aku pergi dari markas dan menemui Mama dan Kak Welsa, sekalian Papa juga. Ekspresi Mama tentu saja kaget, karena aku tidak memberi tahunya tentang aku kembali ke Washington DC. Bahkan rencananya memang seperti itu, tidak memberi tahu apapun kepada Mama.
Aku menghabiskan waktu di sana sampai selesai makan siang, setelah makan siang bersama aku kembali ke villa. Kami makan siang bersama, termasuk Kak Bryan.
.........
02:46 PM
Aku baru saja bangun dari tidur siang, sewaktu di Seoul, aku tidak sempat tidur siang. Aku malah melewatkannya.
Tidak ada laptop sama dengan membosankan. Astaga, bahkan CD film tidak ada di sini. Handphone? Tidak ada yang menyenangkan di sana. Tapi aku iseng juga membuka handphoneku itu. Mengejutkan sekali, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Han. Wah~ ini akibat dari terlalu suka memakai handphone mode hening.
Aku menelpon ulang, dan tersambung.
"Kenapa?" Tanyaku, padahal sudah sering aku diingatkan oleh Mama agar salam dahulu agar lebih sopan, tapi aku selalu lupa dengan itu.
"Kau dimana?" Tanyanya dari seberang.
"Villa yang kemarin," jawabku apa adanya.
"Baiklah," sahut Han lalu memutuskan panggilan secara sepihak. Dia bahkan lebih tidak sopan jika dibandingkan denganku.
Sekitar sepuluh menit kemudian bel villa berbunyi, aku segera menghampiri pintu lalu membukanya. Han berdiri di depan pintu dengan wajah datarnya.
Aku memandangi Han yang tidak mengucapkan apapun setelah aku membuka pintu, aku menunggunya berbicara duluan. Aku enggan membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Bahkan sebanyak apapun pertanyaan yang ada di dalam pikiranku untuk Han, semuanya seketika menghilang begitu saja, aku teringat ucapan seorang wanita yang memanggil Han. Berlebihan, tapi aku terlanjur cemburu, kecuali dia menjelaskan semuanya dengan baik.
"Derry tidak berkhianat, aku yang menyuruhnya melakukan itu padamu," ujar Han. Aku hanya diam, "Kau sakit?" Tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya di dahiku.
Tanganku segera menepis tangan Han, "Aku baik-baik saja," ketusku sambil menatapnya.
"Sepertinya memang sakit," ujar Han. "Ya sudah, ayo ikut aku," ajaknya sambil tersenyum menatapku.
"Untuk apa?" Aku masih mendongakkan kepalaku untuk menatap Han.
"Tidak ada, setidaknya kau akan seperti dulu lagi. Hubungan kita harusnya lebih hangat dari ini, kita sudah jadian. Ingat?" Tanyanya.
"Iya aku ingat," jawabku.
"Lesu sekali, ayo." Han menarik tanganku.
"Pintunya," ketusku sambil menepis tangan Han.
Han berjalan duluan menuju mobilnya, sedangkan aku pergi mengambil handphoneku lalu masuk ke dalam mobilnya juga.
"Kita kemana?" Tanyaku setelah kami sudah pergi dari area villa.
"Jangan terlalu ketus. Kita akan pergi ke suatu tempat," jawab Han yang masih fokus menyetir.
Aku tidak memberikan respon apapun lagi. Kami berdua hening, aku enggan, Han juga sepertinya tidak memiliki topik lagi.
Mau sampai kapan aku begini? Yang susah juga aku sendiri, yang stress juga aku sendiri. Han tidak akan ambil bagian dari penyakit sosial yang akan kumiliki nantinya ketika stress sudah akut. Aku malah ribut dengan diriku sendiri.
Jadi, kesimpulannya adalah setelah acara pernikahan Viana dan Forten, aku akan membicarakan tentang suara wanita itu dengan Han. Itupun kalau aku bisa tahan sampai 24 jam ke depan.
.........
Sempat membayangkan tempat romantis, tapi sayangnya tidak berlaku jika pasanganmu adalah Johansson Alexssandro. Ekspektasi yang kumiliki terbanting keras ketika tahu Han menjadikanku asisten dadakannya.
"Han ini?"
"Ikut saja jangan banyak bicara," ucap Han lalu berjalan mendahuluiku.
Anak ini benar-benar. Tapi baiklah, setidaknya rasa rinduku terbayarkan.
.........
Klien terakhir sudah selesai, ini sudah pukul 6 sore, memang sudah selesai hanya saja orang yang mengajak meeting tadi menawarkan untuk makan malam bersama di kantornya.
"Blyss tunggu di sini dulu ya, aku mau ke kamar kecil," ucap Han lalu pergi meninggalkan aku dan Tuan Kino, itu dia klien terakhir Han, aku hanya mengangguk untuk jawaban iya.
Kira-kira beberapa saat kemudian Tuan Kino memulai pembicaraan, "Tadi Han memanggilmu Blyss?" Tanya Tuan Kino padaku.
"Iya," jawabku sambil tersenyum tipis ke arahnya.
"Setelah menghilang begitu lama, kau kembali dengan sangat cantik," ujarnya, ini mulai aneh menurutku.
"Terima kasih atas pujian Anda." Bagaimanapun juga aku harus tetap sopan pada orang yang tepat di depanku.
"Kau punya hubungan khusus dengan Han?" Tanyanya sembari duduk di sebelahku. Sedangkan aku segera berdiri.
"Maaf mungkin aku tidak sopan, tapi itu bukan urusanmu," jawabku beranjak pergi dari ruangan itu, namun Kino sialan itu menarik tanganku hingga aku jatuh di atas pangkuannya.
"Mau kemana terburu-buru?" Tanyanya sambil memegang kedua tanganku dengan sangat erat.
"Lepas!"
"Aku tertarik padamu..." Bisiknya tepat di telingaku, lalu ******* bibirku, dan air mataku mulai menetes.
Tak berselang lama, aku mendengar suara pintu terbuka, aku lega karena tahu Han sudah kembali, setidaknya dia menolongku.
Meskipun...
Bughh
Aku harus terjatuh di lantai karena Han menarik kerah baju Kino secara paksa lalu memukul wajahnya.
"Sial. Pant*tku sakit sekali."
Aku segera mengusap air mataku lalu berdiri dan membereskan berkas-berkas milik Han, Han juga tidak baik jika lama-lama di sini.
"Ayo Han..." Ajakku sembari menarik-narik tangannya karena dia tidak mau bergeming dari tempatnya dan bahkan ingin memberikan bogem mentah lagi pada Kino. "Han! Cepat! Kumohon..."
Han tidak memberi respon apapun tapi berjalan mendahuluiku, aku hanya mengikuti langkah kakinya sambil menangis, kadang aku tidak bisa menghentikan tangisanku meskipun keadaannya sudah aman.
"Blyss...?" Han melembutkan suaranya ketika kami berdua sudah merada di dalam mobil. Aku hanya memandangi Han dengan mataku yang masih berair. "Sudah aman, tenanglah," ucap Han sembari membawa kepalaku ke dalam pelukannya.
"Hiks hiks..." Aku malah semakin terisak di dalam pelukan Han. Dengan sabar Han mengelus pucuk kepalaku.
Tak lama kemudian aku berhenti menangis namun detak jantungku masih saja cepat, dan Han melepas pelukannya. "Sekarang kita pergi ya..." Ujar Han sambil menangkup wajahku. Aku mengangguk.
Kami pergi dari sana, entah proyek itu akan berlanjut atau tidak, itu terserah pada Han. Ya tentu terserah padanya, aku tidak punya hak untuk menentukan hal itu.
...***...
Hai Readers, Author balik... Masih sepi ternyata. Tapi gapapa, namanya juga usaha. Buat yang masih setia ngasih dukungan. MAKASI BANYAK!! AUTHOR GA TAU MAU NGETIK APA LAGI SELAIN MAKASII BANYAK!!.·´¯`(>▂<)´¯`·.