LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Pagi...



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Sebelumnya, aku merasa sangatlah tidak nyaman berada di dalam pelukan Han, namun sekarang sepertinya aku sudah bisa menerima ini dengan senang hati.


.........


06:34 AM


Aku terbangun dari tidurku, dengan sangat berhati-hati, aku melepaskan pelukan Han tanpa membangunkannya. Kasihan, dia terlihat begitu lelah, setelah melepas pelukan Han, aku segera pergi ke wastafel, hanya untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Hari ini hari libur, hari minggu tepatnya, jadi semuanya dimulai sedikit lebih siang dari hari-hari sebelumnya.


Aku pergi ke teras kamar, udaranya sejuk dan nyaman. Entah kapan aku akan kembali ke rumah ini, apa aku bisa kembali ke tempat ini? Atau akan digantikan oleh orang lain? Jika sampai iya, hancur sudah harapanku untuk memiliki Han seutuhnya, tapi masa' iya aku menyerah begitu saja.


Tak lama kemudian, "Sedang apa kau di sini?" Tanya seseorang dari belakangku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Bagaimana jantungku? Dia berdegup kencang saat ini, tubuhku juga seketika terasa panas dingin, sialan memang. Han tertawa kecil setelah menyadari reaksi refleks dari tubuhku. "Ekspresimu memang biasa saja. Tapi tubuhmu benar-benar sensitif."


"Jadi, menjauhlah. Aku tidak nyaman." Aku mencoba melepas pelukan Han, namun Han menolaknya, dia malah mengeratkan pelukannya lalu mulai mencium leherku.


"Han..-"


Ucapanku terpotong karena Han membekap mulutku dengan satu tangannya, dan satunya lagi masih melingkar di pinggangku sekaligus menahan kedua tanganku. "Nikmati saja," bisik Han, itu membuat bulu kudukku berdiri. Ini, berbeda dengan yang biasa kudapat dari sembarangan orang, Han memang berbeda.


[*Disclaimer : Blyss bukan jal*ng sana sini mau, tapi karena pengumpan*]


"Sakit ya?" Tanya Han lembut sambil membalikkan badanku, sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku.


"Sedikit," jawabku. "Jadi malam sebelumnya kau juga melakukan hal yang sama?" Tanyaku mengingat kejadian itu.


"Iya. Tapi yang ini tidak sebagus yang kemarin. Ini bukan di tempat tidur, jadi menurutku agak susah." Sebenarnya itu bukan jawaban yang penting, tapi membuatku merinding ketika mendengarnya.


"Em... Jangan dibahas lagi ya..." Aku tidak tahan, itu sedikit menggelikan. Aku segera berbalik dan kembali menatap pemandangan di depanku.


Han berdiri di sebelahku dan merangkul pundakku, "Jika tidak karena tadi malam, aku tidak akan sadar kalau kau ternyata lebih pendek dari Viana."


Si jangkung ini semakin lama, semakin menjengkelkan.


"Aww!!" Aku mencubit perut Han, semakin sedikit bagian yang dicubit maka akan semakin sakit rasanya. "Maaf-maaf," ujar Han lalu tertawa kecil. Sudah salah, masih bisa tertawa pula. "Jadi? Setelah dari sini, kau akan kemana?" Tanya Han sambil mengeratkan rangkulannya.


"Kurasa aku akan pergi ke Seoul lagi. Mama dan Papa menungguku di sana," jawabku jujur, karena dari awal memang rencananya setelah selesai dengan urusan di Dunia Bayangan aku akan segera membantu pekerjaan Papa.


"Begitu ya... Apa mungkin kita bisa bertemu lagi?" Pertanyaan Han ini adalah pertanyaan yang tidak kuinginkan karena aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.


Tapi tenang saja, Blysstina Grysselda tetap bisa diandalkan. "Aku akan menyempatkan diri untuk bertemu denganmu lain waktu. Kapanpun aku punya waktu, aku akan segera menemuimu." Aku mencoba meyakinkan Han kalau aku tidak akan melepaskannya setelah aku baru saja mulai mengingat dirinya lagi.


"Ambisi yang kau miliki sudah cukup untukku. Ya sepertinya kita memang sudah harus serius." Aku bingung apa hubungannya, tapi sudahlah, masih ada hal lain yang ingin kutanyakan sebelum aku pergi dari sini.


Han menghela napas sebentar lalu menjawab, "Aku merasa bersalah dengan kenyataan di keluargaku." Han menghentikan kalimatnya sebentar. "Saat aku sekeluarga baru saja pindah ke Busan, aku tidak sengaja mendengar kalau Mama tidak bisa mempunyai anak lagi," sambung Han.


"Separah itu ya?"


"Iya, tapi aku tidak tahu apa penyebab dari Mama yang tidak bisa punya anak lagi. Yang kudengar adalah, janji Mama dan Papa untuk menjagaku dengan sebaik-baiknya. Dari semenjak itulah aku sangat dimanjakan oleh kedua orang tuaku, sedangkan aku tidak ingin tetap ketergantungan terhadap mereka berdua."


Aku terkesan, dia tidak seutuhnya anak yang menyebalkan dan menjengkelkan, dia juga punya hati dan bisa merasa bersalah.


"Jadi, aku mencoba berusaha untuk meneruskan perusahaan Papa dengan caraku sendiri, bukan dinobatkan oleh Papaku sendiri," sambung Han dengan wajah bangganya.


"Dengan kata lain. Kau menyiksa diri dengan gaya," ujarku.


"Ya begitulah, tapi setidaknya sekarang aku merasa sedikit berguna, dan lebih pantas untuk mendekatimu."


Sial. Itu membuatku salah tingkah.


"Tidak perlu begitu, dari awal bertemu juga aku sudah menyukaimu. Ini juga salah satu alasan mengapa aku setuju pergi ke Seoul, agar aku dapat disebut pantas berdampingan denganmu." Itu tujuan utamaku pergi ke Busan, menaikkan popularitas namaku yang sudah tertinggal. Karena berita yang meliput namaku sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Jangan sampai ada orang yang mengira kalau aku sudah meninggal dunia.


"Kita sama-sama usaha ya..."


"Tentu. Yasudah aku mandi duluan ya?" Sudah mulai terang, akan tidak baik membuat Mama dan Papa menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.


Han menahan pinggangku, "Kenapa tidak sekalian mandi berdua saja?" Tanya Han.


"Itu akan lama Han... Lain kali saja," jawabku sambil melepaskan tangan Han dengan lembut. Raut wajah Han berubah setelah mendengar jawabanku.


"Tidak bisa dipercaya. Biasanya yang jual mahal akan menolak mentah-mentah, sedangkan yang murah tidak akan menolak meski tidak memiliki hubungan apapun." Penjelasan dari Han membuatku tersenyum tipis.


"Coba ingat kembali, kita sudah menjadi sepasang kekasih sejak malam itu. Sedangkan aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku lagi setelah ini. Singkatnya, tinggal menunggu waktu, kita bisa mandi bersama. Ya meskipun aku akan menolaknya," jelasku.


"Cepatlah mandi, setelah itu aku akan mandi." Terlihat senyuman Han di wajahnya. Aku mengangguk lalu segera meninggalkan Han di teras.


Biasanya, mandi di pagi hari lebih cepat ketimbang mandi disaat sore atau malam hari. Setelah selesai dengan mandi dan perangkatnya, aku dan Han turun ke bawah untuk sarapan. Tapi ternyata Papa dan Mama sudah sarapan duluan, aku bersyukur mereka berdua tidak menungguku dan Han. Han juga terlihat baik-baik saja, dia tidak kecewa sedikitpun.


Selesai sarapan, kami berempat berpisah untuk bersembahyang di tempat yang berbeda, aku sendirian, Han sendiri, sedangkan Mama dan Papa pergi bersama. Sebenarnya aku ingin ikut dengan Han, tapi aku sudah ada janji dengan Yura untuk sembahyang di tempat yang sama.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁