
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka ๐
"Mau kubantu Vi?"
"Akhirnya kau bertanya. Jaga pastanya, kalau sudah matang, angkat, tiriskan, lalu letakan di mangkok besi itu." Jelas Viana.
"Baiklah." Aku langsung mendatangi panci dengan air yang sedang berusaha melembekkan si pasta.
Kira-kira 2 menit pastanya sudah lembek. Sedangkan Viana masih kebingungan sepertinya dengan bumbu yang akan dia gunakan.
"Sepertinya kau tidak terbiasa memasak pasta ini dengan porsi untuk dua orang." Tebakku.
"Begitulah Blyss." Jawab Viana masih fokus dengan bumbunya.
"Pakai-pakai saja, jangan diukur. Kau akan menambah beban hidupmu saja. Kalau tidak sesuai nanti diservis lagi setelah matang." Ucapku sambil meniriskan pasta.
"Iya-iya. Aku menyarankan Blyss untuk lebih banyak meluangkan waktu di rumah." Ucap Viana meninggalkan tempat bumbunya tadi.
"Servis?"
"Iya. Sangat terlihat bahwa kau hanya mengurus para pistol."
"Akhir-akhir ini aku tidak akan bergulat dengan besi itu. Masalahnya Han belum selesai."
"Iya juga." Jawab Viana.
Kami melanjutkan kegiatan dengan hening, sepertinya Viana cemas dengan masakkannya. Saat kami sudah makan masing-masing sesuap, Viana membuka pembicaraan.
"Silahkan jika ingin diservis lagi."
"Tidak perlu, ini sudah cukup. Oh ya, besok aku akan pergi untuk menjelajahi kasus Han lebih dalam. Kau ada acara besok?"
"Aku hanya akan ke markas Paman besok, katanya Bibi akan pulang."
"Memangnya Bibimu dari mana?"
"Dari rumah Mamanya, asistenku yang bekerja di sini bilang kalau Paman dan Bibi ada masalah sedikit."
"Zoe (Zu) ikut siapa?" Tanyaku.
"Dia tinggal dengan Papa dan Mamaku di Belarus. Kata Bibi, kasihan jika harus pindah sekarang. Dia tinggal menunggu ijazah sekolah." Jawab Viana sambil makan.
"Masuk akal juga, berarti aku tidak perlu khawatir tentang kau yang akan bosan."
"He'em." Jawab Viana mengangguk.
"Eh ya. Kau dan Han sebenarnya ada hubungan apa?" Tanya Viana.
"Apa yang ada di pikiranmu?" Tanyaku santai sambil tetap makan.
"Aku berpikir kalian pacaran." Jawab Viana.
"Hemm. Kami berdua tidak pacaran, sepertinya keluarga kami berdua menyembunyikan sesuatu dariku." Jawabku sambil berdiri untuk mencuci piring.
"Ingat tidak boleh sok tahu."
"Iya-iya, aku tau."
"Tapi saat kegiatan olimpiade, Han benar-benar memperhatikanmu dari seberang." Ucap Viana membuatku nyengir.
"Kau memperhatikan Han?" Tanyaku sambil mencuci piring dan tersenyum.
"Iya begitu, tapi pandangan Johand fokus padamu setiap 5 menit sekali. Dia bahkan memperhatikanmu saat Glendy memanggilmu."
"Ya, kami sempat cekcok waktu itu, memalukan jika kuceritakan." Jawabku sambil mengingat kejadian di pintu itu.
"Dia benar-benar menjagamu dengan baik." Kata Viana.
'Kau tak tahu yang sebenarnya Vi.' "Ya. Menjagaku seperti adiknya sendiri." Responku dengan nada miris.
"Tapi aku akui dia sangat tampan, andai aku jadi kau Blyss. Aku pasti sangat bersyukur berada di dekat lelaki sepertinya." Puji Viana membuatku menahan tawa. "Apalagi ekspresinya saat melihatmu mendatangi Glendy. Waaaahh, dia tampak tak suka, tapi malah tampan menurutku. Aku bisa gila jika seperti ini terus." Tambah Viana lagi sambil mencuci piringnya.
"Aku bahkan tidak tahu aku harus bersyukur atau tidak dengan kedekatanku dan Han. Han bilang dekat dengannya akan menjadi bencana bagi orang itu." Ucapku sambil berjalan menuju sofa.
"Ya. Sepertinya memang begitu, saingan bisnisnya pasti banyak, kau pasti akan kena imbasnya kalau kalian benar-benar pacaran atau lebih." Ujar Viana.
"Aku masih bimbang, aku memang menyukainya. Tapi akan aku tunggu selanjutnya saja." Jawabku sambil menyalakan TV.
"Semangat kawanku." Sahut Viana sambil senderan di pundak kiriku dengan kasar. Kami memang sering seperti ini ke satu sama lain.
"Tentu." Jawabku sambil memutar badanku untuk bersenderan ke tubuh Viana.
Sekedar info, Viana lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama denganku. Waktu aku merayakan ultahku yang 22 tahun, Viana merayakannya di Belarus bersama keluarganya.
09:35 PM
Saat aku dan Viana sedang fokus menonton TV ada bunyi bel rumah.
"Ish, jam segini masih ada tamu Bisa-bisanya." Keluh Viana.
"Jam segini tamunya tidak sembarangan. Kalau bukan orang kepercayaan, atau salah satu dari keluargaku." Jawabku sambil bangun dari dudukku. "Aku buka pintu dulu, tunggu di sini jangan tidur!" Tekanku.
"Han? Ada apa malam-malam?" Tanyaku setelah membuka pintu dan melihat Han berdiri di depan pintu.
"Tadi aku telpon kenapa tidak di jawab?"
"Hpku tertinggal di kamar, mati mungkin." Jawabku santai.
"Aku ke sini mau tanya, besok jadi kumpul di rumahku." Aku hanya memasang wajah yang bertanya-tanya. "Masalah kasusku."
"Ohh, oke." Jawabku sambil mengangguk.
'Dia tahu papa dan mama pergi?'. "Sudah dari tadi sore."
"Viana masih di sini?"
'Papa atau mama pasti cerita tentang ini.' "Masih. Sudah, sana pulang."
"Tidak perlu mengusirku." Sahut Han lalu mengcup keningku.
'Aigo kamchagi-ya!!' "Bukan mengusir, tapi menyarankan." Jawabku sambil memegangi keningku.
"Iya nek."
"Nenek nenek! Jaga bicaramu." Kesalku sedangkan Han segera berlari ke dalam mobilnya.
"Dan sekarang lebih mirip nenek lampir!" Ledek Han lalu masuk ke dalam mobilnya.
Aku langsung menutup pintu rumah tanpa menunggu Han pergi dari halaman rumah.
"Tadi Han ya?" Tanya Viana saat aku sudah kembali duduk di sofa.
"Iya." Jawabku.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, bukannya wajahku memang begini?"
Viana tertawa mendengar itu. "Iya aku lupa."
Pukul 11 aku dan Viana mematikan lampu kamar lalu tidur.
06:03 AM
Aku membuka mata dan tidak mendapati Viana di sampingku. Baru saja aku duduk, pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Viana. Baru selesai mandi sepertinya.
"Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?" Tanyaku dengan mata belum terbuka sepenuhnya.
"Aku mau kemarkas lebih awal, sepertinya seorang Khain Ferwin (pamannya Viana, Papanya Zoe) harus membuat persiapan penyambutan untuk seorang Olian Ferwin (bibinya Viana, Mamanya Zoe) yang
datang dari rumah Astagusen Poira (Mamanya bibi Olian)." Jelas Viana dengan senyum mengejek.
"Hemm. Iya juga." Jawabku sambil ikut tersenyum sambil manggut-manggut. "Aku mandi dulu, jangan turun duluan."
"Iya, cepatlah mandi." Ujar Viana sambil memberiku handukku.
Setelah selesai mandi, aku dan Viana turun kedapur untuk sarapan. Di rumah ini ada satu pembantu, jika tugasnya sudah selesai dia akan pulang kerumahnya. Kami sekeluarga sering atau terbiasa masak makan siang sendiri, jadi bibi pembantu hanya datang pagi (05:00 AM) pulang ketika pekerjaannya selesai dan kembali sore hari (05:00 PM) lalu pulang jika sudah selesai masak untuk makan malam.
"Pagi bi." Sapaku dan Viana kepada bibi yang sedang menghidangkan roti bakar di meja.
"Pagi nona-nona cantik." Balas bibi dengan senyum tanpa bebannya.
"Bibi ikut makan ya Bi." Kataku kepada Bibi.
"Iya Blyss, Bibi mau antar sarapan dulu buat Pak Fon. Mungkin bibi mau sarapan disana bareng Pak Fon." Kata Bibi sambil berjalan keluar rumah membawa nampan berisi dua piring makanan.
"Apa mereka satu keluarga?" Tanya Viana saat bibi sudah diluar rumah.
"Tidak, hanya saja mereka memang bersahabat dari sebelum direkrut oleh Papa." Jawabku, aku berharap Viana mengerti.
"Jadi mereka sahabat dekat." Sahut Viana.
"Iya. Ditambah lagi, kemarin Bibi tidak datang kemari. Lyun, anak bungsu Bibi Aira sakit."
"Oh,, begitu rupanya." Sahut Viana.
Note : kami bercerita sambil makan.
Saat aku keluar dari rumah untuk menuju garasi mobil, Han sudah ada di depan pintu.
"Kenapa pagi-pagi di sini?" Tanyaku.
"Mau jemput manusia atas nama Blysstina Grysselda."
"Lebih baik dijemput Blyss, lebih aman." Ucap Viana sambil lewat di samping aku dan Han menuju mobilnya.
"Jawab saja kau." Ketusku ke Viana.
"Kebiasaan akutuh cantik." Jawab Viana sambil masuk kemobil dengan senyumnya.
"Han, jaga Blyss baik-baik. Sampai kulitnya lecet sedikit saja, aku pastikan aku akan dapat uang jajan dari salah satu ginjalmu." Kata Viana lalu tertawa ringan di mobilnya. Skill fight punya Viana sangat bagus, dia melebihi diriku sebenarnya, jika dilihat dari segi bertarung tanpa senjata.
'Viana temanku apa bukan?'. "Sudahlah Han.. abaikan saja, aku jarang punya teman. Sekalinya punya, ya begitu modelnya." Ucapku dengan perasaan tidak enak pada Han yang sedang memandang Viana sampai dia hilang dari halaman rumah dengan wajah kesal.
"Kenapa kau mau dia di sini?" Tanya Han menarik tanganku menuju mobil.
"Aku bisa jalan sendiri." Jawabku sambil mencoba melepas tangan Han yang menarikku.
"Ya mending aku ajak Viana disini dari pada kau?" Jawabku lagi masih sambil mencoba melepas tangan Han dari tanganku.
"Masuk."
"Iya tahu, aku sudah tahu. Tidak perlu kasar." Ketusku.
...***...
TBC ๐
Mohon dukungannya readers ๐