LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Violin



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


"Kau bawa berkasnya, kita harus pergi dari pintu belakang," ujar Han dengan tenang sambil mengeluarkan hpnya dari balik jas dan berjalan keluar ruangan ini.


"Baiklah," ucapku sambil membawa berkas-berkas itu lalu mengikuti langkah kaki Han. "Seperti tidak ada pintu belakang di sini," pikirku sambil memandang Han yang sedang mengirimi pesan singkat sambil mengunci kamar itu. "Kemana?" Tanyaku pada Han.


"Ikut aku," Han memasukkan hpnya ke dalam jas lalu berjalan cepat menuju ujung lorong lantai ini. Di sana ada ruang seperti lift, itu benar-benar kejutan, karena.. lift ini benar-benar tidak terlihat dari luar. Sepertinya, password-nya hanya keluarga Alexssandro yang tahu, atau bahkan hanya Han yang tahu. Setelah password-nya lengkap, kami berdua dibawa turun oleh lift ini.


"Ini hanya bisa turun?" Tanyaku memandang Han.


"Iya. Ngomong-ngomong, kenapa telingamu memerah?" Tanya Han yang sadar dengan telingaku.


"Hem sepertinya karena tadi, nanti aku akan cerita," ucapku.


Lift terbuka di area parkiran, tepatnya di depan mobil Han. Saat aku akan berlari menuju mobil Han, tiba-tiba Han mendorongku ke sebelah kiri lift dan dia sendiri menepi ke sebelah kanan (masih di dalam lift), ada peluru yang menancap lapisan tembok kayu lift itu. Lalu Han menarik diriku lagi untuk keluar dari lift, lalu masuk ke dalam mobil.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Han setelah masuk ke dalam mobil.


"Iya, tenang saja," jawabku, sebenarnya darah rendahku tiba-tiba kambuh sekarang. Tapi aku sudah duduk, kurasa tidak akan terjadi masalah. "Tapi tadi itu menyenangkan," ucapku sambil menyisir rambut dengan jari-jari tangan. Han hanya manggut-manggut dan menjalankan mobilnya. "Lift itu sengaja diisi kayu?" Tanyaku.


"Sebenarnya hanya iseng, tapi ternyata berguna," jawabnya sambil memandangku sekilas.


"Baiklah, moodnya sudah membaik sekarang," batinku sambil memperhatikan Han.


"Jadi kenapa telingamu memerah?" Tanya Han.


"Tadi itu, saat di jalan sebelum kita sampai di apartemen.. aku sebenarnya malu bertanya-tanya padamu," jawabku sambil memandangnya.


"Maaf," ujar Han.


"Tidak, santai saja. Tadi itu-"


"Maaf menyela, ada yang mengincarmu," potong Han sambil menaikkan kecepatan mobilnya.


"Kenapa meletakkan daging segar di apartemenmu?"


"Stalker-mu itu sudah tahu kalau kau sering bersamaku. Kalau terjadi apa-apa denganmu cepatlah minta bantuan. Dan usahakan jangan pergi sendirian," ucap Han dengan nada tergesa-gesa.


"Viana bagaimana? Kak Bryan? Mama? Papa? Forten? Lexa? Yugra? Yura?" Aku teringat, mereka semua sempat aku hubungi belum lama ini. "Derry juga," pikirku.


"Cerewet juga kau," keluh Han pelan. "Aku tidak tahu. Tapi untuk apa kau menghubungi Forten lagi?" Tanya Han.


"Aku hanya menanyakan transportasinya masih seri berapa," jawabku. "Kenapa?"


"Tidak," jawabnya ketus. Aku memandangnya sebentar setelah dia menjawab pertanyaanku.


"Ngomong-ngomong, kau sendiri baik-baik saja,'kan?" Tanyaku lagi.


"Iya," jawabnya singkat.


"Mood-nya buruk lagi, dia bahkan lebih buruk dari perempuan. Tapi ini salahku," pikirku sambil memandang Han dengan kesal.


"Lebih baik selama satu minggu ke depan, kau jangan aktif di sosial media pribadimu," ucap Han.


"Hem baiklah," jawabku datar.


"Apa maksudmu?" Tanyaku.


"Kapan terakhir kau masuk media?" Tanya Han. "Kalau tidak salah 5 tahun yang lalu," Han mencoba menebak.


"Kurasa iya, saat umurku 17 tahun," aku setuju dengan Han, setelah 17 tahun.. aku tidak pernah tertangkap kamera lagi.


"Aku jadi susah mencari profil darimu yang paling baru," gumam Han, namun aku masih bisa mendengar gumaman itu.


"Untuk apa?"


"Hanya iseng," jawab Han dengan wajah watados yang dia miliki. "Oh ya. Berkasnya tidak ada yang jatuh,'kan?" Tanya Han yang teringat akan berkasnya.


"Iya masih aman," jawabku santai. "Sekarang aku boleh tanya soal Violin..?" Tanyaku pelan. Han menoleh sebentar ke arahku lalu menghela nafas. "Astaga apa aku salah?" Pikirku.


"Dari tadi juga kau boleh menanyakan soal itu," jawabnya.


"Dia siapa?" Tanyaku.


"Dia sekretarisku," Han berhenti sejenak.


"Violin ketahuan korupsi tadi saat kau masih belum siuman. Salah satu orang kepercayaanku menelepon dan mengirimkan bukti-buktinya kepadaku, Papa dan Mama juga berbohong soal mereka hanya pergi makan. Mereka juga mengurus Violin saat itu, tapi Mama dan Papa tidak memberitahukan apapun padaku. Itu karena Mama dan Papa tahu kalau tidak akan segan-segan untuk memecatnya," sambung Han panjang lebar.


Dia santai sekali bercerita sambil menancap gas tinggi. "Tapi kenapa kau sangat tidak suka dia masih di sana? Pak Zerl saja kau maafkan," tanyaku. Ingat, pak Zerl juga kecurangan, namun dengan cara yang berbeda.


"Mama masih percaya penuh kepada Violin, jadi Mama menyarankan aku dan Papa tidak jadi memecatnya. Tapi, aku sendiri sudah sangat lama ingin memecatnya, aku tidak suka dengan sikapnya."


"Sikapnya?"


"Nanti juga kau akan tahu sendiri. Lagi pula, itu bukan kesalahan pak Zerl sepenuhnya. Ada campur tangan dari Yura yang mengancamnya waktu itu," jawab Han yang terlihat enggan untuk membicarakan tentang Violin lebih lama lagi.


"Mungkin Mamamu ada benarnya, ini yang pertama kalinya,'kan?"


"Pertama kalinya terungkap oleh Mama, tapi Violin bilang pada Mama dia melakukan itu karena terpaksa. Dia perlu uang cepat katanya," jelas Han lalu diiringi dengan helaan nafasnya.


"Bagaiman bisa dia menyembunyikan semuanya darimu?" Aku saja terkadang perlu berpikir panjang untuk membohongi Han.


"Aku belum ada waktu untuk mengawasinya, dia juga baru di kantor pusat. Dia baru pindah bekerja ke sini selama sebulan dan secara kebetulan markasku sedang diserang akhir-akhir ini. Jadi tidak ada bawahan yang bisa aku tempatkan untuk mengawasi Violin," jelas Han.


"Baiklah. Bagaimana dengan sekarang?"


"Ya rencananya aku akan mengawasinya mulai hari ini. Aku benar-benar ingin dia dipecat," ujar Han. Baiklah sekarang aku percaya kalau Violin bukan perempuan yang baik.


"Akan kubantu sebisaku," ucapku.


"Aku takut ini membahayakan dirimu sendiri, tapi baiklah. Kurasa Mama akan lebih percaya kalau ada kau," pada akhirnya, Han setuju dengan tawaranku. Aku hanya mengacungkan jempol ke arah Han yang bahkan tidak memandang ke arahku sama sekali, aku hanya suka melakukan itu.


Aku ingin membantunya dan itu hanya sekedar iseng. Aku sudah lama tidak merasakan rasanya kembali mengawasi seseorang, ditambah lagi dengan rasa was-was disaat kau akan ketahuan, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Itu hal yang menyenangkan sekali menurutku, dan jika rekanmu adalah orang yang tidak peka terhadap lingkungan, maka hidupmu akan jadi taruhannya.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁