
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Tidak akan. Aku tidak akan melakukan itu, Nona Blyss," tolaknya.
"Terserah padamu saja. Aku tidak akan melarangmu," sahutku.
"Nona, aku ingin tanya sesuatu. Apa Nona dan Tuan Han punya hubungan khusus?" Tanya Pia begitu antusias menunggu jawabanku.
Aku menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan dari Pia, "Kau harus tahu bahwa semuanya masih harus dirahasiakan, aku akan jawab jujur padamu. Iya, kami memang ada hubungan," jawabku.
"Baiklah, aku akan menjaga hal ini dengan baik. Aku harus segera pergi untuk menemani Bik Tia. Aku pergi dulu." Pia segera berdiri, aku hanya mengangguk lalu tersenyum ke arahnya, setelah mendapat izin dariku Pia segera pergi menuju tempatnya.
Tidak ada kegiatan lagi, aku tidak membawa laptop ke sini. Tapi aku masih membawa mainanku, oh ya, itu bahkan belum aku tindak lanjuti. Entah itu masih hidup atau bagaimana. Aku berlari menuju kamar, kalau kata Han, di kamar sebelahnya. Artinya di sebelah kamar Han.
Hp ada di atas meja, tas ada di atas tempat tidur. Aku tidak tahu, apa semua laki-laki suka meletakkan tasnya di atas kasur? Masalahnya, Kakakku juga melakukan hal yang sama.
Kenapa baru sekarang aku salah tingkah? Aku duduk di pinggir kasur lalu tersenyum mengingat kejadian kemarin malam, tapi tidak apa, itu terlihat wajar, di film-film juga sering seperti itu. Kalau seorang perempuan baru saja mendapatkan kekasih, maka dia akan bahagia.
Untung saja Han tidak melihatnya, jika terlihat olehnya, ini akan jadi topik ejekan yang terbaru.
Di sini tidak ada akses internet, jadi di sini sungguh membosankan untuk orang-orang yang tidak bisa tahan dengan susah sinyal. Tapi aku sudah sering begini, saat aku di rumah, aku juga melakukan hal yang sama, itu untuk menghindari orang lain mengetahui tempatku berada.
Aku keluar dari kamar itu, dan segera mencari keberadaan Mama Hana, kata salah satu maid, Mama ada di teras rumah.
Mama Hana memang sedang duduk sendirian di sana sambil memandangi pemandangan kompleks rumahan itu.
"Ma," panggilku sambil duduk di kursi sebelah Mama.
"Blyss... Kenapa nak..?" Tanyanya memandangiku.
"Tidak ada. Mama kenapa berhenti menonton acara Televisi?" Tanyaku.
"Oh itu. Isi televisi hari ini hanya Han dan dirimu Blyss," jawab Mama sambil menatap ke depan.
"Begitu yah..." Aku tidak menyalahkannya, Mama pasti bosan dengan berita itu, karena aku dan Han memang sudah sering Mama lihat.
"Meskipun Mama bosan dengan berita itu. Mama tetap senang dengan berita itu," sahut Mama sambil tersenyum hangat. Aku ikut tersenyum menatap Mama Hana. "Biar Mama tebak, kamu pasti sudah mulai bosan ya?" Tanya Mama.
Aku menghela nafas panjang lalu menjawab, "Iya Ma."
"Di garasi mobil ada satu drone. Mama rasa itu bisa berguna untuk mengatasinya. Ya walau hanya sebentar saja," ujar Mama.
"Di garasi ya Ma? Baiklah, aku pergi dulu," ucapku sambil beranjak pergi dari teras rumah.
"Tapi kata Papa, itu masih perlu diperbaiki lagi," Mama sedikit berteriak kepadaku.
"Iya, Maa!" Aku berteriak karena memang aku sudah agak jauh dengan teras rumah.
Sampainya aku di garasi mobil, di sini ada satu mobil tersisa, sepertinya milik Papa. Aku segera mencari drone itu, sekitar 5 menit aku mencarinya, akhirnya ketemu di dalam lemari yang ada di garasi mobil. Aku hampir saja menyerah, padahal berada di sebelah tanganku tadinya.
Di halaman depan rumah, aku memainkan drone itu, ini hanya bertahan sekitar 15 menit. Itu karena baterainya memang bermasalah, kalau tidak ada masalah, ini bisa bekerja sampai 3 jam ke depan.
Drone mulai melewati jalanan kompleks, sepi, benar-benar sepi. Seperti tidak ada kehidupan di sini, Papanya Han menyadari keberadaan drone yang sedang melewati kepalanya. Aku tersenyum melihat wajah Papa dari kamera drone, dari awal aku bertemu dengan Papa sampai sekarang pun aku masih belum tahu siapa namanya.
Setelah bermain drone, aku segera masuk ke dalam rumah untuk makan siang, sendirian, Mama ingin menunggu Papa, sedangkan aku akan segera pergi ke markas Forten untuk memeriksa pesawat pribadinya.
Ya, pesan Mama Hana hanya berhati-hati, Papa kutemui di jalan, tepatnya di depan rumah. Papa sebenarnya sudah mau sampai rumah, hanya saja aku terburu-buru. Pesan Papa ya sama saja seperti Mama.
03:12 PM
Aku sampai di markas Forten, tidak ada penyambutan yang khusus, karena kebetulan Forten menyuruhku untuk pergi ke markasnya yang baru. Jadi, sebagian besar orang di markas baru ini tidak mengenalku, apalagi aku sedang memakai masker.
"Permisi... Apa Forten ada?" Tanyaku pada salah satu pria yang berlalu lalang di lapangan parkir.
"Untuk apa Anda bertemu dengan Tuan Forten?" Dia kembali bertanya, bahkan dengan nada sinis.
"Saya ada keperluan dengannya," jawabku tetap tenang. "Sepertinya memang orang-orang di sini tidak mengenaliku," pikirku sambil memandang pria yang di depanku ini.
"Ada bukti?" Nadanya semakin tidak wajar, tapi siapa aku? Bukan orang yang tahu tempat ini dengan baik. Aku segera memperlihatkan pesan percakapanku dan Forten yang menyuruhku datang ke sini untuk menemuinya. "Saya belum pernah melihat nomor itu sebelumnya. Namun agar Anda tidak malu, Anda akan saya antar ke tempat Tuan Forten," ucapnya benar-benar merendahkan diriku.
Sialan manusia ini, aku sangat ingin mengumpatnya, tapi aku tidak akan gegabah dan membuat keributan di sini.
Dia berjalan di depanku, kami berjalan menelusuri lorong di jalan bawah tanah, dan sampailah di ujung lorong.
"Masuklah. Kau tunggu di sini," ucapnya lalu keluar meninggalkanku sendirian di ruangan kosong ini.
Ceklek
Hah?! Yang benar saja? Aku terkunci di sini??! "Ya!"
"Tunggulah di sana sampai aku menemui Tuan Forten. Maaf tapi aku tidak akan mempercayaimu." Dia meledekku, tapi karena aku adalah orang yang sabar... Ya sudahlah, tunggu saja.
10 menit kemudian
Sabar Blyss... Forten mungkin masih sibuk.
.........
Aku melihat jam pada hp, ternyata sudah pukul 6 sore. Bagaimana ini? Berapa lama aku akan di sini? Aku sampai mati gaya menunggu Forten datang, gaya duduk, gaya berdiri gaya jongkok. Sudah semua, sayangnya aku tidak berani merebahkan diri di sini. Benar-benar terlihat kumal, jadi aku hanya duduk.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Han...? Bukankah mustahil kalau kau sekarang berada di sini, dan membuka pintu itu untukku? Ya itu terdengar mustahil. Aku tersenyum tipis menatap pintu yang masih terkunci, entah sampai kapan aku akan begini. Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar ditambah lagi dengan daya listrik yang besar.
Menghubungi orang lain? Tidak bisa, layanan internet untukku tidak ada di sini. Jaringan hanya tersedia untuk orang-orang yang memang bekerja di sini.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁