LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Perpindahan



Attention Please! Cerita ini hanya fiktif belaka 😄


Kembali padaku.


"Hei! Tidak ada basa-basi apapun untukku? Terima kasih atau apapun?" Tanya Han yang masih berdiri di depan pintu.


Aku kembali dengan wajah datar. "Terima kasih atas bantuannya. Hati-hatilah saat di jalan," ucapku dengan formal, itu aku saat dibantu oleh pihak lain ketika sedang bekerja di dunia bayangan.


"Formal sekali. Santailah, pakai senyummu. Jangan dimasukkan ke dalam koper." Ucap Han yang membuatku jengkel. "Tapi sudahlah, aku pulang dulu," ucap Han dengan wajah agak sombong lalu mengecup keningku dan berlari ke mobilnya.


"Suddenly? What use is...? Whatever," Pikirku saat itu juga. Aku hanya memandanginya saja dari pintu rumahku sampai dia hilang dari halaman rumahku.


1 month later...


Hari ini adalah hari kelulusanku, hari-hari biasanya aku lewati dengan biasa saja, tidak ada yang terlalu istimewa. Han. Dia juga sibuk dengan dirinya sendiri, dari yang kulihat masalah Han kini sudah bersangkutan dengan Yura. Aku yakin tidak lama lagi masalah pasti muncul jika jalan kehidupannya Yura sering ke kantor Han, aku bisa yakin karena aku sempat mengikutinya diam-diam saat aku masih dengan pakaian khasku di World Sh4d0w. "Cepat lakukan atau aku b*nuh keluargamu."


"B-baiklah-baiklah." Kata-kata yang terus berputar-putar di kepalaku dan sempat aku sempat merekamnya saat mengikuti Yura, aku hanya menyeringai saat dapat merekam dan mendengar kata itu, sepertinya rekaman itu akan sangat berguna nantinya.


12:00 AM


Kegiatan Wisuda sudah selesai, kukira akan lebih lama dari ini, tapi.. sudahlah, ini sudah selesai. Tidak ada yang tau setelah ini aku ada acara, bahkan orang yang dekat denganku dan sepupuku tidak tahu (Yugra&Lexa, Gerren & Derrel). Aku sengaja tidak cerita tentang jati diriku pada mereka, jika memang jodohnya biar mereka tahu tanpa pemberian dariku.


"Blyss? Kamu ada kegiatan hari ini? Kalau tidak ayo kita hang-out." Ucap Lexa menepuk bahuku, sedangkan Yugra hanya melihatku menunggu jawabanku.


"I'm sorry, aku ada acara keluarga, sebenarnya hanya acara dengan nenekku saja. Tapi aku sudah janji dengan nenek untuk bersamanya beberapa hari setelah aku wisuda. Lagian, aku pasti jadi


nyamuk jika hang-out bareng kalian." Jawabku.


"Bagaimana kau tahu kami berdua pacaran?" Tanya Yugra dengan wajah penuh tanda tanya, note : dia tidak kaget.


"Aku sahabat kalian, aku pasti tau, gerak-gerik kalian juga terlihat. Kalian ada rencana untuk menyembunyikannya dariku ya?" Tanyaku sambil tersenyum meme ke arah mereka berdua bergantian.


"Hah, iya, rencananya aku akan memberi tahu mu saat aku menjemputmu nanti. Ya sudahlah aku titip salam pada nenekmu yah.. kami pulang duluan," kata Lexa agak kesal, tapi dia masih tersenyum.


Saat mereka berlalu aku berpikir sebentar, mereka tidak curiga padaku, aku bahkan belum pernah cerita tentang nenek. Aku tersenyum dengan agak malu, kenapa sahabatku percaya begitu mudah. Baiklah, itu berarti mereka benar-benar menganggap ku sahabat mereka juga.


Sebenarnya nenekku baru saja meninggal, aku bohong pada mereka, aku sudah ada acara sekarang, acara yang sudah kutunggu dari lama. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku di mobil sedang sendiri, saat acara foto selesai mama dan papa sudah pergi duluan. Aku langsung mengambil earphone-ku, menyalakannya, lalu menyimak apa yang dikatakan oleh orang yang ada diseberang.


"Halo," sapaku


"Kau masih di kampus?" Balasnya.


"Masih, tapi acaranya sudah selesai. Kenapa?" Tanyaku


"Baiklah, sekitar 10 menit aku akan mendarat. Kemari lah cepat," balasnya membuat nafasku tercekat.


"Ceroboh sekali kau ini, jarak kampus dengan bandara pribadimu itu jauh bodoh!" Bentak ku.


"Maaf, cepat saja kesini, marahi aku nanti setelah kita selesai," sahutnya sesegera mungkin.


Aku langsung mengakhiri percakapan dengan memutuskan sambungan telepon begitu saja. Lalu membuka jubah kelulusan dan melemparnya ke belakang dengan catatan aku masih menghargainya, hanya saja sekarang aku sedang lumayan buru-buru.


"Apa yang salah dengannya hari ini? Biasa dia teliti dan tidak pikun. Tapi tidak apa.. sekarang aku ada alasan untuk menamcap gas, sudah lama aku tidak begini." Aku menaikkan kecepatan terus menerus, aku hanya menurunkannya saat akan ada belokan.


Hari ini adalah berangkatnya alat penelitian punya Viana dari Belarus menuju Wash1ngt0n D. C. Disinilah aku tinggal. W4sh1ngton D. C. Dulunya aku tinggal di sekitar Ott4wa dia sudah menghubungiku dilaptop kemarin agar aku bersiap-siap.


.........


"Akhirnya sampai juga, aku sendiri yah? Mana dia? Bohong itu kebiasaan, yasudahlah." Gumamku sendiri sambil menoleh kanan dan kiri, note : aku tidak sedang akan menyebrang.


5 menit kemudian sebuah pesawat mendekat, aku melihat satu pergerakan dari dalam mobil, aku di dalam mobil sedang merenung, 'bagaimana jika ini hari terakhirku hidup.'


'Sepertinya dia mengincar benda itu, waktunya aku keluar dari sini, sepertinya menendang wajah seru hari ini.' Ucapku setelah menguap lalu mengambil pistol yang biasaku bawa ke kampus di tempat duduk belakang.


Setelah turun, aku langsung mengejar pengincar yang lari di depanku.


Dapat. Aku berada di depannya, kami berdua bertatapan. Aku bisa mengenalinya walau masker hitamnya menempel menutupi mulut dan hidungnya, dia Derry. Satu kampus denganku di Wash1ngt0n D. C, baru saja kami tersenyum bersama di acara wisuda, ehh.. sudah bertemu di sini untuk saling bunuh. Meski aku mengenalinya aku tetap diam, aku sedang menunggu dia untuk mengingatku. Dan benar saja, dia bisa mengenaliku.


pengunjung tetap perpustakaan. Derry dapat julukan mahasiswa paling culun di kampus, tapi aku menyangkal hal itu. Kejadian seperti ini sering terjadi di sekitarku, menyamar menjadi orang culun, bodoh, gila, menderita, dan watak tokoh lain yang jauh dari kata pembunuh dan bisa dimainkan.


"Kau mengenaliku ternyata, apa wajahku terlalu terlihat?" Tanyaku tanpa berkelit lagi pada Derry.


"Tidak. Tapi.. bagaimana bisa?" Tanya Derry, dari suaranya.. dia terdengar kaget.


"Jangan kaget seperti itu, kau lupa? Kita akan saling bunuh di sini." Tanyaku agar dia tidak berlebihan, aku akan merasa bersalah jika lawanku bawa perasaan tentang aku yang di dunia lain:v


"Aku tahu kita akan saling bunuh, mulailah duluan Nona cantik." Kata Derry, nadanya memang agak meremehkan, tapi aku tidak apa-apa, aku juga belum tahu kehebatan Derry. Aku hanya mengangguk.


Aku meluncurkan tembakkan pertama, dengan cermat Derry melihat arah peluru itu.


"Kau meleset Nona." Ledek Derry sambil memandangi peluru itu yang sengajaku buat meleset, tapi jika kenapun tidak apa. Tanpa dia sadari aku sudah berlari dan sudah ada di depannya. Saat dia berbalik, di sanalah aku melihat matanya yang membulat.


"Hehe, hai." Aku tersenyum miring dan melambaikan tanganku setelah itu menonjok wajahnya dengan cepat, tadinya aku ingin sekali menendang wajah, tapi ada alasan lain yang membuatku mengurungkan niatku.


"Ehh?" Aku bingung saat Derry malah tersungkur 2 langkah dariku padahal baru kutonjok.


Aku berjalan mendekatinya, mengambil senjatanya lalu menodong kepalanya.


"Lalai sekali, tapi tidak apa. Masih mau berdiri? Kau mati di sini." Ancamku dengan sopan.


Derry tidak menjawabku, entah dia takut atau dia punya rencana lain.


"Tadinya aku ingin menendang wajah pengincar jika ada, aku sedang dendam ke seseorang, tapi kau.. aku ada ide lain. Kau bekerja untuk tuan Hoke?" Tanyaku.


"Bagaimana kau tahu? Dia,'kan baru saja mendirikan World Sh4d0w-nya." Tanya Derry yang masih kutodong.


"Tebakan yang beruntung? Atau huruf H yang ada di lengan baju kirimu. Sebentar, apa tadi? Baru mendirikan? Yang kutau dia mendirikannya lebih awal dari punya Papaku. Seharusnya kau berkata Informasi ini baru saja bocor. Daripada baru saja didirikan." Jawabku sambil tertawa kecil, sedangkan Derry hanya mengangguk. 'Ini sesuai rencana.' Pikirku.


"Apa kau merasa tersiksa bekerja di sana?" Tanyaku langsung.


"Ck. Iya!" Jawab Derry dengan kesal, responku hanya tertawa.


"Aku benar-benar tidak suka bekerja di sana, tapi mau bagaimana? Pekerjaan sulit sekarang, apalagi yang mendatangkan uang banyak." Jawab Derry. Setelah mendengar jawaban Derry, aku menurunkan pistolku dari kepalanya.


'Kenapa tidak pakai ilmu hitam?' Itulah kata-kata yang aku pikirkan saat mendengar kata mendatangkan banyak uang.


"Aku perlu asisten, kau mau?" Tanyaku langsung pada intinya, inilah ideku. Membuat Derry bekerja dengan Papaku, dia orangnya pintar menurutku.


"Oh? Benarkah? Tapi.. apa kau percaya padaku?" Tanya Derry yang mulai duduk dengan wajah yang mulai muram.


"Aku percaya padamu, lagi pula, sejak awal kita bertemu diperpustakaan aku sudah melihatmu bukan orang culun biasa, aku melihatmu seperti orang yang gelisah, maaf aku memperhatikanmu selama ini." Jawabku.


"Ett! Tapi ingat aku mengawasimu, sekali kau berkhianat, nyawamu hilang." Tekanku. Derry hanya mengangguk dengan sedikit gemetar.


"Sekarang pergi ke mobil hitam itu, tunggu aku di lokasi ini, dan bawa kartu identitas ini." Terangku pada Derry, yang satunya adalah alamat dari lokasi markas, dan satunya kartu izin untuk masuk kedalam markas Viana, itu kepunyaanku, tapi dari sini aku akan ikut dengan rombongan Viana. Derry bergegas mengikuti arahanku.


Setelah Derry berlalu, aku segera berlari kearah pesawat yang baru saja mendarat, ini alasanku berani tidak terburu-buru menuju ke arah pesawat.


Setelah pesawat benar-benar berhenti aku langsung melompat turun dari tempatku ke arah pintu utama pesawat, memperlihatkan logo kepunyaan kantor pribadi, lalu berjaga-jaga kembali. Rombongan yang ada dipesawat pun keluar dengan hati-hati.


'Bendanya tidak terlalu besar.' Pikirku ketika melihat kotak dari aluminium, aku pikir rombongannya akan lebih banyak dari 5 orang... tapi ternyata cuman 4 orang.


Viana mengangguk saat berpapasan denganku, sekarang perannya sedang diperlukan sekali saat pemindahan ini, aku segera mengikutinya dari belakang dengan pengawasan segala arah hanya


dengan 2 mata (hanya aku yang mengawasi perpindahan ini).


...***...


TBC😅


Mohon dukungannya readers( ꈍᴗꈍ)