
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Sangat-sangat tidak bertanggung jawab, Mama bilang dia akan menemaniku, yang terjadi? Dia pergi, seperti biasa.
...
01:03 PM
"Blyss? Mau makan siang sekarang?" Tanya Bibi padaku yang sedang berdiri di sebelah sofa. Aku baru saja datang dari kamarku, seperti kata Han tadi, kalau semua barang ku sudah di sini. Di rumah terpencil ini. Semuanya termasuk barang elektronik yang kumiliki. Benar-benar totalitas.
"Masakan Bibi sudah matang ya?" Tanyaku dengan berbinar.
"Sudah, Nak," jawabnya dengan hangat.
"Baiklah aku akan makan dulu." Aku segera pergi menuju dapur untuk makan siang, tadi aku sempat menanyakan soal makan siang pada Han, tapi belum ada jawaban. Memang yang paling benar adalah langsung saja menelepon orangnya ketika ada penting.
Selesai makan siang, aku segera menelepon Han.
"Halo Han?"
"Iya?"
"Sudah makan siang belum?"
"Sudah tadi, kau juga harusnya sudah,'kan?"
"Iya sudah. Oh ya, kalau bisa pulanglah lebih cepat. Bibi sudah pulang sepuluh menit yang lalu, sekarang aku sendiri. Dan kau harus tahu kalau ternyata rumah ini lebih gelap dari yang aku bayangkan," ujarku.
"Hei-hei. Iya-iya aku akan berusaha pulang lebih cepat," jawabnya yang terdengar seperti sedang menahan tawanya.
"Tertawa lah lagi setelah sampai di rumah," sahutku lalu memutuskan sambungan telepon.
Sekarang waktunya tidur siang, soal lebih gelap? Iya aku serius, tapi aku sadar bahwa di luar ternyata mendung. Wajar saja kalau di dalam ruangan jadi lebih gelap dari biasanya.
....
Saat aku bangun dari tidur siang ku, Han tidak ada di rumah, sepertinya dia tidak pulang. Tapi ya sudah, aku sudah merasa lebih baik dan nyaman dari sebelumnya. Tanpa Han juga sepertinya tidak apa untuk sementara waktu.
Aku menghabiskan waktu dengan menonton film di televisi, membantu Bibi bersih-bersih dan memasak.
Tapi sepertinya Han tidak akan pulang untuk makan malam hari ini. Aku tidak akan berkecil hati hanya karena hal itu, itu sudah sering terjadi padaku. Se-sayang apapun aku terhadap orang itu, dia tetap akan jarang bersama denganku.
.....
Sebulan sudah waktu berlalu, aku dan Han tidak banyak berinteraksi layaknya sebuah pasangan suami istri. Han yang sibuk dengan pekerjaan kantornya dan aku yang sibuk dengan urusan markas. Markas keluargaku serta markas dari keluarga suamiku.
Meski sibuk, aku bersyukur kedua kubu itu masih memerlukan pekerjaan dariku. Senang rasanya bisa berguna saat seseorang begitu sibuk untuk berubah menghidupi diriku juga keluarganya.
Weekend ini Han berada di rumah, sepertinya dia akan berkerja dari rumah. Itu karena dari pengamatan ku, dia sedang tidak enak badan.
"Han, badanmu agak panas. Apa tidak ingin ku panggil kan dokter saja?" Tanyaku sembari duduk pada sofa yang ada di ruang kerjanya itu.
"Tidak," jawabnya singkat tanpa memandangku sedikit pun.
"Istirahatlah sebentar, pekerjaanmu itu bisa dikerjakan nanti atau digantikan, oleh aku atau asisten mu," ujarku.
"Hem ya. Aku tidur dulu. Nanti kalau Mama dan Papa sudah datang, bangunkan aku agar kita bisa makan siang bersama," sahutnya.
"Mereka berdua akan ke sini?" Tanyaku tidak percaya.
"Iya, aku lupa memberi tahukannya padamu karena kemarin aku tidur di sini," jawabnya lalu pergi dari ruang kerjanya meninggalkan aku sendiri yang masih duduk.
Han kemarin sepertinya pulang larut malam lalu langsung tidur di ruang kerjanya. Entah proyek apa yang sedang dikerjakannya sampai-sampai dia seperti itu. Sekarang menurutku dia malah berlebihan dan membahayakan kesehatan dirinya.
Hubungan kami tidak dapat dibilang hangat, tapi juga tidak canggung. Ini lebih seperti kami berdua hanyalah "house-mate", bukan dua orang yang memiliki hubungan khusus dan spesial.
Tapi aku tidak merasa keberatan dengan itu, hanya saja jika Han sakit aku tidak akan memaafkan diriku karena lalai dalam menjaga kesehatannya yang juga hak ku untuk memperhatikannya.
Semoga nanti Mama dan Papa bisa memberi Han pengertian soal jangan terlalu fokus dalam bekerja. Aku tidak mau dia terlalu berlebihan seperti sekarang ini. Dia terlalu memaksakan dirinya sendiri.
.
.
Selesai memasak dan membereskan piring serta perangkatnya, aku duduk di bangku halaman depan, tak lama kemudian handphone yang aku pegang bergetar. Viana mengirimkan chat padaku.
I have a good news for you, Blyss
I'm pregnant 😭😭
OMG
I will be aunty 😖
Congratulation, Vi🥳
Thx, Blyss
Can we meet tomorrow?
Okey
Remember to share your location tomorrow
Okey dokey👌🏻
Beberapa menit kemudian Mama dan Papa sampai, aku sengaja duduk di bangku halaman untuk menunggu kedatangan mereka berdua. Lagipula cuaca sedang bersahabat, tidak terlalu panas atau dingin. Terlihat senyum lebar dari Mama ketika melihatku yang sudah berdiri dari dudukku. Aku segera menghampiri Mama, sedangkan Papa belum turun dari mobil.
"Ayo masuk, Ma. Aku dan Bibi sudah masak," ajakku.
"Mama juga bawa cemilan," sahutnya sembari berjalan beriringan denganku. "Pa, Mama duluan."
"Iya, Ma," sahut Papa yang berjalan menuju bagasi mobil.
"Papa mengambil apa, Ma?" Tanyaku sambil berjalan bersama.
"Itu cemilannya," jawab Mama santai.
Mama dan Papa sudah duduk di kursi meja makan, sedangkan aku izin ke atas untuk membangunkan Han, sesuai pesannya tadi.
"Han, Mama dan Papa sudah di meja makan," ucapku sambil membuka selimutnya.
"Hem..." Dia mulai duduk dengan mata masih terpejam lalu menggenggam tanganku. Aku hanya diam menunggunya, "Ayo," ucapnya melepaskan tanganku lalu merangkul pundak ku. Kami berdua berjalan bersama menuju ruang makan.
Kami berempat pun makan dengan hening, tidak ada yang terbiasa makan sambil mengobrol baik dariku dan dari keluarga Han. Sama saja.
.
.
Kami berempat sudah selesai makan siang, dan tengah duduk di sofa ruang tengah sambil mengobrol ringan, tak lupa sambil memakan cemilan yang dibawa oleh Mama dan Papa.
"Kalian berdua tidak ada keinginan untuk segera punya anak?" Tanya Mama di sela-sela perbincangan kami.
Aku terdiam sedangkan Han tiba-tiba tersedak karena pertanyaan dari Mama, Mama terlihat menahan tawanya sedangkan Papa tersenyum menatap anaknya itu.
"Ini Han," ujar segera memberinya minum. Han meminumnya beberapa teguk. "Sudah?" Tanyaku. Han hanya mengangguk mengiyakan. "Bagaimana ini?" Batinku bertanya sambil menatap lekat mata Han, Han hanya mengerjap dan tersenyum tipis.
"Jadi?" Tanya Mama lagi.
"Apanya?" Kadang aku merasa Han seperti orang bodoh, tapi kadang sungguh pandai.
"Soal punya anak," jawab Mama santai dengan wajah tanpa rasa bersalahnya lalu makan.
"Ya...-"
"Bercanda, terserah kalian berdua. Intinya harus ingat kalau kalian masih memiliki orang tua yang menantikan kehadiran cucunya dari kalian," potong Mama yang sadar kalau Han tidak punya kata-kata untuk menjawabnya.
"Sudah mulai sore, kami berdua pulang dulu ya. Terima kasih makan siangnya, Mama jadi tidak perlu masak di rumah," ujar Papa.
"A-ha-ha iya juga. Ya sudah, anak-anak, kami pergi dulu," sambung Mama. Entah mereka bisa telepati atau bagaimana, mereka benar-benar satu pemikiran. Bisa-bisanya.
"Eh? Sebentar sekali mampirnya," kesal Han sambil ikut berdiri.
"Kalian perlu istirahat, Mama dan Papa yakin itu. Kalian berdua sangat sibuk dengan urusan masing-masing. Jangan kira Mama dan Papa tidak tahu ya," jawab Mama sembari berjalan keluar rumah.
"Tapi tidak apa-apa, Ma," ujarku. Setelah ini aku akan kesepian. Tapi kurasa tidak juga, pekerjaan dari Kak Bryan masih ada.
"Besok-besok kami akan datang lagi untuk makan gratis," ucap Papa lalu di sambut dengan tawa'an dari kami berempat.
"Pintu selalu terbuka untuk kalian berdua," sahut Han yang terlihat agak lemas.
"Kami sudah tahu." Mama segera masuk ke dalam mobil lalu diikuti oleh Papa. Mereka berdua pergi, tidak lupa aku dan Han melambaikan tangan untuk mereka berdua.
Han menghela nafasnya, "Kenapa?" Tanyaku yang bingung dengan helaan nafas yang berat itu.
"Aku lupa punya istri," jawab Han merangkul pundak ku lalu masuk ke dalam rumah. Aku hanya diam karena jengkel, setelah di dalam, Han kembali duduk di sofa ruang tengah.
"Kau mau di sini dulu? Aku ke atas ya, aku masih ada urusan sedikit," ucapku duduk di sebelahnya.
"Ya sudah sana," sahutnya. Sedangkan aku tidak sengaja tersenyum menatap Han, dia kesal. Hihi. Aku pergi dari ruang tengah menuju ruang kerja Han, kami berdua biasa menggunakan ruangan ini. Laptopku di sana, PC punya Han juga di sana, jadi bisa saling melengkapi.
Sedikit peretasan untuk sore ini, Forten akan pergi untuk menjalankan amanah dari sahabatnya yang meninggal karena penghianatan. Ya begitulah akhir-akhir ini, penghianatan, balas dendam.
"Blyss?" Panggil Han. Aku segera menoleh dan mendapati Han berdiri di pintu.
"Ah iya juga, aku lupa menutup pintunya," pikirku sambil memandang Han.
"Hei. Kenapa diam?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Tidak, ternyata aku lupa menutup pintunya," jawabku sambil kembali menatap monitor komputer. "Ada apa?" Tanyaku.
"Aku mau minta tolong," jawab Han. Aku menaikkan satu alisku. "Kau tahu seseorang... Menyelinap lalu membawa benda yang bukan haknya. Ya, begitulah," sambung Han.
"Canggung setelah sekian lama? Lucu sekali," batinku. "Itu, informasi dasarnya ada?" Tanyaku tanpa menatapnya.
"Ada pada PC, 244," ujarnya. Nomor itu informasi dasarnya, i mean, the documen name.
"Nanti kalau sudah selesai, aku beri tahu," sahutku.
"Tidak ada batas waktu, jadi lebih baik sekarang kau makan atau mandi dulu," ucapnya.
"Keran air hangat rusak lagi?" Tanyaku.
"Tidak, aku hanya menyarankan," jawabnya sambil tersenyum menatapku.
"Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum," batinku. "Ya sudah, aku pergi dulu." Aku segera keluar dari ruang kerja itu meninggalkan Han sendiri di sana.