LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Untuk Apa Berbohong...?



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


3 klien termasuk sepupu Forten sudah mendapat apa yang mereka inginkan, sekarang kami berdua sudah dalam perjalanan kembali ke kantor. Dan, mulai dari meeting pertama hingga terakhir setidaknya ada 1-3 paparazi dari cabang yang berbeda mengikuti kami berdua.


"Kau lapar?" Tanya Han.


"Iya," untuk apa berbohong...?


"Hey kau kenapa?" Tanya Han yang merasa bingung terhadap nada suaraku, yang padahal aku sengaja.


"Apanya?"


"Tidak jadi. Mau makan di restoran? Atau yang lain?"


"Kalau begitu, aku tidak lapar," jawabku.


"Pfftt," Han tidak berkomentar banyak.


.........


5 menit kemudian


"Kau mau cari apa?" Tanyaku pada Han saat dia masuk kawasan lantatur. (layanan tanpa turun. Atau sering dikenal Drive-thru/Drive-through)


"Kita tetap perlu makan dan minum sesuatu," jawab Han. Aku hanya menaikkan alis, lalu menatap keluar mobil.


Eh sebentar. Yang bayar? "Kau yang bayar?" Tanyaku.


"Iya. Kartumu ada di casing hpmu, hp beserta casing-nya ada di rumah Mama. Pakaianmu juga tidak memungkinkan untuk membawa uang cash."


That's right baby. "Hemm.."


.........


Kami berdua masuk area kantor dari gerbang belakang. Ada dua orang yang berjaga-jaga di gerbang belakang ini.


"Kita akan kemana?" Tanyaku pada Han setelah aku ada di dekatnya. (Ini setelah turun dari mobil) "Ini terlalu gelap," pikirku. Gelap, tapi setidaknya Han masih sedikit terlihat.


"Turun," perintah Han. "Kau bisa lihat jalan?" Tanya Han.


"Bisa," aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat ini. "Tas ini bagaimana?" Tanyaku.


"Kemarikan," pinta Han sembari mengambilnya dari tanganku. "Kau pegang ini," ucap Han memberiku kantong makanan yang didapat tadi di lantatur.


Han memasukkan tas tadi ke dalam mobil melalui jendela mobil. Setelah itu Han berjalan mendahuluiku, dua langkah adalah jarak kami berdua sekarang.


Aku mulai berjalan di belakangnya dengan hati-hati karena ini ternyata lumayan gelap. Aku melihat Han berjalan seperti menuruni tangga sedangkan, seingatku tadi sore tidak ada tangga di area parkir ini. Aku berjongkok untuk memastikan tangga yang dilalui Han.


"Ck," aku merasa kesal sambil melangkah turun, tangga sebenarnya membantu, tapi saat gelap tangga benar-benar menyusahkan. Namun itu hanya berlaku pada tangga pertama, di untuk selanjutnya, tidak perlu khawatir, hanya perlu mengingat kira-kira berapa lebar dari anak tangga tersebut.


Anak tangga itu kira-kira berjumlah 15 buah, ya itu hanya kira-kira, aku tidak menghitungnya karena aku sendiri susah menuruni tangga ini. Dan akhirnya aku berjalan di lorong setapak, di sini ada cahaya tapi aku belum menemukan Han. Karena di sini sepi, aku berlari dengan gaya ke arah lurus.


"Kenapa Blyss?" Tanya Han saat aku berhenti berlari.


"Tidak ada," jawabku sambil menoleh ke sebelah kanan lalu berjalan ke arahnya. Di sana Han sedang duduk pada salah satu kursi, itu seperti meja makan.


"Kau takut?" Tanya Han menaikkan alisnya.


"Kebetulan tidak," jawabku sambil duduk di hadapannya. "Memandanginya makan itu adalah suatu hal yang cukup menyenangkan," hitung-hitung, cuci mata.


"Ayo makan dulu," ajak Han, aku mengangguk lalu membuka dan mengeluarkan isi dari kantong makanan cepat saji itu. Isinya dua burger, dua kotak susu dan satu gelas cola.


Aku memandang Han setelah melihat ada dua macam minuman. "Lebih baik kalau kau tidak minum cola," ujar Han sambil mendorong dua kotak susu ke arahku, karena burgernya sudah ada di tanganku dan yang satunya ada di hadapan Han.


"Hem baiklah," ucapku sambil memberinya cola, lalu kami berdua makan.


5 menit kemudian


"Sepupuku," jawabnya sangat santai, lalu meminum cola-nya.


"Kenapa dia?"


"Dia yang tinggal di sana," jawab Han.


What the hell!! "Lalu kau..?"


"Kunci kamarnya baru pindah tangan sejak seminggu yang lalu. Sepupuku menyuruhku menjaganya, karena saat akhir pekan siapapun dapat berlalu lalang di sana."


"Tapi kau tidak berguna," gumamku. "Lalu bagaimana dia bisa memberi keterangan kepada pihak berwajib?" Tanyaku.


"Biarkan dia mengurusnya," jawab Han dengan wajah tanpa dosa.


Aku hanya menggeleng memikirkan, bagaimana bisa ada orang sepertinya. "Tempat sampahnya dimana?" Tanyaku.


"Kumpulkan semuanya di dalam kantong tadi, nanti kau bawa lagi ke atas."


"Baiklah," aku tidak menolak karena tadi dia sudah membayar makanan ini.


"Jadi, apa rencanamu?" Tanya Han.


"Sepertinya ini tidak bisa dilakukan besok. Mungkin dua hari lagi," jawabku.


"Hem... Mama pasti akan bertanya kenapa kau ikut ke kantor lagi," Han mengerti apa yang ada di dalam pikiranku.


"Ini sebenarnya bukan rencana yang sulit, tinggal pasang kamera yang lebih kecil daripada CCTV dan perekam suara," jawabku.


"Sudah kuduga," Han memandangku dengan tatapan datar. "Lalu, kenapa kau masih mau ikut?" Tanya Han.


"Violin terobsesi padamu, jika aku sering-sering bersamamu, mungkin Violin akan membuat perhitungan denganku. Dan, sepertinya kecelakaanku akan bagus dijadikan bukti tambahan untuk memojokkan Violin."


"Kau licik juga Nona Blyss," Han tidak heran dengan ide yang kumiliki itu. "Tapi, sepertinya aku tidak akan membiarkanmu. Aku tidak tahu segila apa kau jika sudah ingin membuat bukti dan aku juga tidak pernah tahu sejauh apa Violin berani bertindak," sambung Han.


"Benar juga, aku tidak mau mati muda," gumamku.


"Hahaha! Iya-iya," penolakan terhadap mati muda sebenarnya tidak berarti apapun di dunia yang keras seperti sekarang.


"Tapi aku ingin menonton Violin dari hari pertama kau mengawasinya," keluhku. "Bagaimana sekarang?" Gumamku sambil menaikkan kakiku ketempatku duduk. Ya aku lumayan sering duduk dengan kaki ikut naik.


"Kau selesaikan saja urusanmu dengan Forten," jawab Han dengan nada rendah. Aku menghela nafas panjang dengan wajah datar. "Kenapa?" Tanya Han.


"Tidak ada." Jawabku sambil memandangnya.


"Ya.. sepertinya besok aku akan pergi ke sana," sambungku, Han hanya mengerjitkan alisnya untuk jawaban "iya", lalu berdiri dari duduknya.


Aku juga ikut berdiri lalu mengikutinya sambil membawa kantong yang berisi sampah. Hehe.


Aku tidak memperhatikan Han saat baru saja melangkah menjauh dari tempat duduk tadi. Tiba-tiba Han mencengkeram lengan atasku lalu menghempasku pada tembok.


"Ssstt," Punggungku terbentur dan lumayan keras. Kebetulan sekali temboknya masih kasar, menambah bebanku saja. Han langsung mencium bibirku dengan kasar, kaki dan tanganku tidak bisa bergerak aku hanya merasakan tanganku masih di bawah, aku juga terlambat melihat situasi dan apa yang menahan tangan dan kakiku.


Han kenapa? Ini sakit sekali. Aku hanya dapat merintih dalam diam. Aku meremas kantong sampah tadi, mungkin kantongnya sedikit robek. Karena aku hanya diam, jadi semua rasa sakitnya berada di bibirku. Lenganku juga belum Han lepaskan.


"Han... Kumohon hentikan..." Rintihku dalam diam dengan mata terpejam. Beberapa detik kemudian Han berhenti lalu menghembuskan nafasnya.


Hangat. Mungkin karena terlalu dekat. Akhirnya ada ruang untuk bernafas. Bibirnya masih pada bibirku, apa dia hanya berhenti untuk bernafas?


"Ada apa..?" Tanyaku berbisik dengan mata terpejam, aku masih bisa merasakan kalau Han sangat dekat dengan wajahku.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁