
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
FLASHBACK ON
Beberapa tahun lalu saat aku baru pelatihan untuk menjadi anggota di World Sh4dow di umurku yang 17 tahun, Mama masuk keruangan khusus tempatku duduk sendiri setelah selesai pelatihan.
"Mama kenapa di sini? Ada masalah?"
"Mama hanya menjemputmu, ayo ikut Mama. Kita keruangan Papa."
Aku mengangguk lalu mengambil barang-barang pribadiku untuk dibawa ke ruangan Papa juga.
Setelah sampai diruangan Papa aku duduk di sofa lalu diikuti Mama.
"Lelahnya." Gumamku sambil merebahkan diri di sofa.
"Tapi Mama lihat, kamu menikmatinya." Kata Mama yang ternyata mendengar gumamanku.
"Iya, aku senang di sini. Dari pada terisolasi di rumah sendirian, tanpa teman." Jawabku melepas selop tanganku.
"Halo Blyss." Sapa seseorang dari arah pintu dengan suara yang kukenal diikuti dengan suara pintu kembali tertutup.
"Hai Pa. Tadi dari mana?" Tanyaku.
"Tadi habis rapat. Bagaimana tadi latihannya? Menyenangkan?"
"Setidaknya ini lebih baik dari pada terisolasi di rumah sendirian." Jawabku.
"Bagaimana sekolahmu tadi nak?" Tanya Mama.
"Sama seperti biasanya, tidak ada teman baru. Mungkin besok aku akan dapat." Jawabku, ini terjadi saat aku baru pindah ke Ottawa.
Jadi keseharianku akhir-akhir ini adalah (waktu itu) setiap sabtu minggu aku akan berangkat dari Ottawa menuju Washington D. C. Melelahkan, memang. Tapi aku suka, xixixi. Ini pun terjadi saat para-para film action sedang ambil cuti dengan waktu yang belum di tentukan (pemain dan crew hiatus dari dunianya).
"Anak Papa selalu seperti itu ya?"
"Seperti apa?" Tanyaku
"Tidak dapat teman?" Tebak Mama.
"Iya, benar sekali!" Jawab Papa lalu tertawa besar dengan Mama.
"Waw, Mama dan Papaku saja sudah cukup. Tidak pakai teman juga tidak apa-apa." Jawabku.
Bagaimana Papa dan Mamaku bisa sejulid ini?
Begini lingkunganku, bagiamana dengan sikapku? Tapi ini menyenangkan. Papa dan Mama rasa teman.
Mama dan Papa lanjut tertawa mendengar responku tadi.
"Apa yang akan kau pilih di sini nak?" Tanya Papa setelah selesai menertawakan anaknya yang malang ini.
"Apa menunya?" Tanyaku.
"Bukan restaurant." Sela Mama.
"Pengumpan? Atau penyerang?" Tanya Papa.
"Lebih baik kau jadi pengumpan saja Blyss." Sela Mama lagi.
"Apa itu menyenangkan?" Tanyaku.
"Itu sangat menyenangkan. Nyawamu taruhannya." Jelas Mama.
"Wajah Mama tidak bohong, sepertinya memang seru. Baiklah. Aku mau jadi pengumpan." Jawabku dengan tenang dan yakin menatap Papa yang diam melihatku dan Mama bergantian.
"Aku curiga orang yang ada di sampingmu ini bukan Zaraleo yang asli." Kata Papa menggoda Mama.
"Aku bukan Zaraleo..." ujar Mama membuat Papa memandang Mama serius. Aku pun ikut memandang Mama, karena Mama masih menggantungkan perkataannya.
"Aku Mamanya Blysstina Grysselda!" Kata Mama dengan senyum lebar di wajahnya.
"Ck." Papa berdecak kesal. "Jadi, Blyss mau jadi pengumpan?" Sambungnya dengan halus
"Iya jelas. Aku sudah siap untuk resikonya." Jawabku, meski agak ragu. Tapi kelihatannya menyenangkan dari wajah Mama menyarankan.
Dari sejak saat itu aku menjadi pengumpan. Mau rekanku itu senior ataupun junior dariku, aku tetap jadi pengumpan yang gegabah. 12 kali aku jadi pengumpan, 7 kali aku hampir mati karena job pengumpan. Mama yang melihatku terluka hanya tersenyum-senyum.
"Kenapa senyum Ma?" Tanyaku pada Mama, saat itu aku dirawat di rumah sakit karena operasi pengangkatan peluru di lututku dan jari kelingking kanan yang patah akibat jadi pengumpan yang terlalu santai. Itu terjadi dua bulan setelah pengangkatanku menjadi anggota pangkat satu-unit pengumpan.
"Apa tadi menyenangkan?" Tanya Mama sambil menarik kursi di sebelah tempatku berbaring senyum, lalu duduk di kursi itu dengan senyum julidnya yang khas.
"Iya, tadi menyenangkan sekali. Tuan Zam benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, jika tidak aku bisa benar-benar mati." Jawabku lalu tersenyum. Tuan Zam adalah rekan pertamaku, dan sudah sering kali dia yang jadi rekanku. Tuan Zam dari Jerman, bekerja di sini bukan tanpa sebab. Dia ke sini karena di usik oleh kelompok Symon.
Kelompok a.k.a keluarga Symon itu sama saja seperti keluarga Nashimira, mereka sama-sama tidak kreatif dalam mengeluarkan produk baru, mereka hanya mengambil alih produk atau perusahaan untuk ditingkatkan.
"Pilihan Mama tidak salahkan?" Tanya mama padaku sambil tetap tersenyum.
"Ini yang terbaik." Jawabku senang. "Papa mana ma?"
"Papa masih ada pekerjaan sedikit, kegiatanmu tadi itu perlu direkayasa." Jawab Mama.
FLASHBACK OFF
"Mengesankan." Ucap Han berjalan menuju ke dalam rumah. Dengan aku yang mengikutinya dari belakang.
"It's a proof." Ucapku setelah membuka berkas itu di atas meja lalu aku duduk.
"Hah..." Han menghela nafas berat.
"Kau tidak senang ya dengan ke-ikut-serta-an pak Zerl?"
"Begitulah." Han memang terlihat begitu kesal, tapi dia juga sedih.
"Mau tindak lanjuti sekarang?" Tanyaku sambil duduk lebih santai di sofa.
"Yasudah, ayo." Jawab Han dengan nada berat hati berdiri dari duduknya untuk bersiap-siap.
Aku hanya memperhatikan Tuan Muda Alexssandro itu dengan tetap duduk.
Han sepertinya sangat percaya pada Pak Zerl. Sayangnya, dia berkhianat kali ini. Pikirku sambil membereskan berkas bukti sidik jari untuk dibawa nanti ke rumah Pak Zerl.
Han lewat di belakang sofa yang aku duduki menuju luar rumah, aku hanya mengikutinya dari belakang. Han masuk ke dalam mobil, saat aku ikut masuk, Han tidak memberi respon apapun. Itu berarti tindakanku benar. Kami berdua berangkat menuju rumah Pak Zerl. Sekitar 10 menit kami sampai di rumah Pak Zerl, kecepatan Han tadi benar-benar menantang, tapi aku sudah sering melakukan hal yang sama, tapi karena sekarang bukan aku yang menyetir, aku jadi merasa seperti naik roller coaster.
Ketika Han turun aku juga ikut turun, kami berdua benar-benar seperti orang tuna wicara. Dari rumah Han sampai di sini tak satupun dari kami memulai percakapan. Tidak heran, suasana hati Han sedang rusak. Digerbangnya ada seorang pengawal dengan pakaian serba hitam.
'Sepertinya memang dimana-mana jika sudah pengawal pasti pakaiannya satu warna. Belum pernah aku melihat baju pengawal polkadot, ide bagus jika kuaplikasikan pada pengawal di rumah.' Aku malah aneh-aneh saja si belakang Han yang sedang hening.
"Dia ada di rumahnya?" Bisik Han pada salah satu pengawal berbadan besar itu, tapi suara Han masih terdengar di telingaku.
"Ada Tuan." Jawab lelaki itu dengan serius.
'Apa jadinya jika pelawak dijadikan pengawal.' Pikirku tiba-tiba saat melihat ekspresi serius dari pengawal itu.
"Baiklah, tetap di sini sampai urusanku selesai." Ujar Han, lalu masuk ke dalam halaman rumah Pak Zerl. Han masih tetap sopan meski perasaannya sedang buruk kurasa, dia masih menggunakan bel rumah.
'Han masih saja sopan, kukira dia akan menendang pintu coklat tua ini.' Pikirku sambil menahan tawa di belakang Han.
"Tuan Johan?" Seorang wanita yang terlihat seumuran Mama setelah membuka pintu dan memandang wajah Han dan wajahku bergantian, aku hanya tersenyum tipis saat wanita itu memandangku.
'Ia memanggilnya Johan? Ahh tidak penting.'
"Pak Zerlnya ada?" Tanya Han dengan nada agak ketus.
'Apapun yang akan terjadi, ini akan seru.' Pikirku sambil tersenyum miring.
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers 😁