LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Temani Aku Makan Ya...



Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄


Menghubungi orang lain? Tidak bisa, layanan internet untukku tidak ada di sini. Jaringan hanya tersedia untuk orang-orang yang memang bekerja di sini.


07:23 PM


Aku bersandar pada dinding ruangan ini sambil menatap pintu di depanku, berharap ada orang yang masuk dan mengenaliku. Dan ya, Tuhan menyayangiku.


"Itu dia Tuan... Apa Tuan mengenalnya?"


Aku mendongakkan kepala untuk melihat orang-orang yang sedang berdiri di depan pintu.


"Blyss?!" Forten sungguh-sungguh terkejut melihatku berjongkok di ruangan itu, sedangkan aku hanya menaikkan alisku. "Berapa lama kau di sini?" Forten menghampiriku.


"Kira-kira dari pukul tiga tadi," jawabku sambil berdiri, astaga kakiku bergetar ketika mencoba untuk berdiri, dan sepertinya tidak terlihat karena terhalang oleh celana panjang yang kukenakan.


"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kalau sudah sampai," Forten tidak tahu kalau aku sudah sampai di tempat ini, ya salahku juga, karena aku tidak mengatakannya.


"Tidak perlu minta maaf. Ini salahku juga. Bisa tidak kita pergi dari sini? Aku sudah lelah melihat kegelapan di ruangan ini." Kurang lebih 3 jam aku diam di tempat kosong ini. Baru saja berjalan 2 langkah, "Ini tidak bagus," ucapnya lalu menggendongku.


"Forten, aku masih bisa berjalan sendiri," keluhku.


"Setidaknya begini lebih cepat." Dia menolak menurunkanku.


"Tunggu di sini!" Nada Forten meninggi ketika melewati pria yang tadi mengantarku ke ruangan ini. Pria itu mengangguk lalu menundukkan kepalanya.


Aku hanya menelan ludah, aku akui ketika Forten marah, itu bukan candaan lagi, dia menakutkan ketika marah. Aku pernah melihatnya, dan bahkan itu karena diriku sendiri.


Kami berdua sampai di ruangan yang 10× lipat lebih bagus dari ruangan tadi. Di sini nyaman, ada sofa dan tempat tidur bahkan juga ada televisi. Biar kutebak, ini adalah ruang pribadinya Forten.


"Blyss... Aku benar-benar minta maaf padamu..." Lirih Forten sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas meja lalu menatapku dengan tatapan sedihnya.


"Sudah kukatakan, ini bukan salahmu sepenuhnya." Aku tidak akan menyalahkan seseorang sedangkan aku juga lalai.


"Kau tidak akan berhenti menemuiku bukan?" Biasanya jika dia sedang khawatir dia akan memarahiku, tapi kali ini? Apa ini? Dia malah ingin menangis seperti aku akan marah padanya untuk selamanya.


"Santailah. Setidaknya aku masih beruntung kau datang sebelum ada laba-laba yang datang." Aku mencoba menghibur Forten.


"Makanlah dulu, nanti aku yang akan mengantarmu pulang," ujar Forten lalu sedikit memberi jarak antara kami berdua.


"Ya aku akan makan. Tapi sebaiknya aku melakukan tujuan utamaku dulu. Setelah itu aku akan pulang." Enak sekali aku hanya datang untuk makan sementara pesawat pribadinya Forten masih bisa terdeteksi oleh musuh.


"Baiklah Blyss. Terserah kau saja," Forten memang belum pernah menolakku, kecuali aku bertanya terlebih dahulu. Seperti, "boleh? Atau tidak?"


"Hey... Kau mau kemana?" Tanyaku saat melihat Forten memegang gagang pintu.


"Aku mau pergi sebentar," singkat Forten, tapi tidak bisa. Aku harus tahu alasan yang lebih spesifik. Aku segera melompat dan menahan pintu. "Ada apa Blyss? Aku memintamu untuk makan," Forten menekuk alisnya melihat tingkahku.


"Temani aku makan ya..." Kali ini aku bersikap manis hanya untuk Forten yang catatan sebenarnya adalah sepupu dari keluarga Mamaku.


Forten menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya, aku tersenyum. Forten kembali duduk, sedangkan aku kembali duduk di tempatku. Kami bersebelahan, bahkan dekat.


Aku dan Forten memang sangat dekat, saat baru sampai di Washington DC, orang yang kukenal pertama kalinya adalah Forten, sejak saat itu aku dan Forten menjadi dekat. Dia menganggapku sebagai adiknya sendiri, sebaliknya aku menganggapnya sebagai kakakku.


"Kenapa tiba-tiba ingin ditemani makan?" Tanya Forten yang bingung melihatku makan sambil tersenyum.


5 menit kemudian


"Oh ya, siapa pria tadi?" Tanyaku, aku sudah selesai makan.


"Bukan orang yang penting," jawab Forten ketus.


"Jangan lakukan apapun terhadap orang itu," pintaku.


"Memangnya aku akan melakukan apa padanya?" Forten bertanya kembali.


Aku menghela nafas panjang lalu duduk lebih dekat dengan Forten. "Ayolah Tuan Forten. Aku tahu kau akan memberi sanksi kepada pria itu. Nada bicaramu tadi itu menakutiku," ujarku sambil menatap Forten lekat serta duduk tepat di sebelahnya.


"Jangan pikir aku akan menuruti kemauanmu itu." Forten memutar bola matanya.


"Aku mohon..." B*jingan ini membuatku harus bersikap manis terhadapnya, hanya untuk menyelamatkan pria tadi itu, bukannya apa-apa, pria itu tidak sepenuhnya salah. Dia hanya menjalankan tugasnya untuk melindungi Tuannya.


"Kau pikir aku sudah luluh?" Tanya Forten lagi sembari menaikkan satu alisnya.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Kau pikir saja sendiri, dia hanya ingin melindungi kau yang notabene adalah atasannya. Bukankah itu wajar saja?" Mari lihat secara logis.


"Iya itu memang benar. Tapi, aku tidak suka dengan keterlambatannya." Selesai. Jawaban Forten membuatku tidak memiliki apapun untuk menyelamatkannya lagi.


"Ck. Ayolah. Aku tidak mau di sini lebih lama lagi. Lupakan masalah itu. Dan berikan dia kesempatan untuk memperbaikinya."


"Blyss... Baiklah-baiklah. Untuk kali ini aku mengalah. Jadi? Sekarang?"


"Kita ke tempat pesawatnya."


Aku dan Forten pergi dari ruangan itu, selama berjalan menuju tempat pesawat, ekspresi Forten benar-benar tidak enak untuk dipandang. Saat disapa oleh bawahannya pun Forten tidak menggubrisnya, dia acuh terhadap sapaan tulus itu. Aku hanya diam memperhatikan Forten dan orang yang menyapanya.


Beberapa menit kemudian aku sampai di tempat tujuan kami berdua, ini bukan hal yang sulit, tapi juga bukan hal yang mudah. Aku perlu memberikan sedikit perubahan susunan mesin, terlebih lagi di bagian lokasi.


Itulah hal yang tidak diketahui oleh Forten. "Forten, ini semua harus diberi perintah dari awal lagi. Kau refresh saja semuanya lalu nonaktifkan lokasi dapat dilihat oleh orang lain," jelasku setelah menghidupkan mesin pesawatnya.


"Hanya itu?" Tanya Forten. Aku mengangguk sambil tersenyum menatap Forten. Forten tertawa kecil sambil menatapku, "Haha. Iya-iya. Baiklah. Terima kasih bantuannya."


"Kenapa kau tertawa?" Aku merasa tidak mengatakan sesuatu yang patut untuk ditertawakan.


"Kau menatapku seperti anak kucing yang meminta sesuatu ke majikannya." Forten sekarang malah mengejekku.


"Aku tidak sengaja. Aku akan pergi dari sini. Kau tidak mau mengantarku? Setidaknya hanya sampai depan markasmu saja." Tidak tahu kenapa, aku sangat ingin diperhatikan oleh Forten.


"Astaga..." Forten tersenyum sambil mengelus pucuk kepalaku, sedangkan aku hanya tersenyum, "Ayo aku antar, mobilmu ada di lapangan?"


"Iya."


Benar saja, Forten menemaniku sampai aku pergi dari wilayah markas itu, beginilah aku saat hanya bersama Forten. Aku akan lebih manja, bahkan lebih manja daripada saat bersama Papa atau Kak Bryan.


...***...


TBC. Mohon dukungannya Readers 😁