
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
Seperti mengusir, tapi tidak apa. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, lalu bergegas mandi. Aku tidak ingin Han menunggu terlalu lama.
10 menit kemudian
"Kau sudah selesai Blyss?" Tanya Han di balik layar kaca.
"Sudah," jawabku lalu duduk di tempat tidur sambil menaikkan laptop di atas pangkuanku.
"Sulit dipercaya," sahut Han dengan nada mengejek.
"Sudahlah. Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu," ucapku sambil tersenyum tipis.
"Apa itu?" Terlihat Han sedang membenarkan posisi duduknya di seberang sana.
"Tadi aku meeting dengan salah satu Paman temanku. Kurasa kau lupa dengan Yang-Su, benarkan?"
"Yang-Su? Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya," jawab Han.
"Sudah kuduga. Setelah meeting dengan Pamannya, ada dua orang lainnya yang ingin bekerja sama dengan Bank milik Papaku itu," jelasku.
"Hari pertama yang sibuk ya Blyss?" Terlihat wajah Han begitu bangga dengan cerita barusan.
"Iya. Lalu, bagaimana denganmu?"
"Hari-hariku begini saja. Membosankan tidak ada kau," jawab Han.
"Kau bermaksud membuatku salah tingkah?" Tanyaku.
"51% iya, 49% tidak," jawab Han.
"Sayang sekali. 51% yang tidak berguna," sahutku sambil menahan senyumku. Aku orangnya sedikit gengsi untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, terlebih lagi itu tentang perasaanku.
"Ya sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Sudahlah, move on. Papa dan Mama kabarnya bagaimana?" Tanya Han.
"Mereka berdua baik-baik saja. Terlebih lagi setelah pensiun," jawabku apa adanya. "Bagaimana dengan Mama dan Papa?"
"Mereka juga bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi mereka sedikit merindukanmu," jawab Han.
"Tiga hari lagi aku akan kembali ke sana," ujarku dan mengundang perubahan raut wajah Han.
"Untuk apa?"
"Aku akan menemani Viana," jawabku.
"Kukira kau hanya bercanda," ujar Han sambil mengelus dadanya. "Aku jemput di bandara, ya?"
"Kalau aku bilang tidak boleh memangnya kau mau menurut?"
"Tentu saja tidak," sahut Han lalu tertawa kecil.
"Baiklah. Ngomong-ngomong kau masih di kantor?"
"Masih, aku masih di kantor untuk mengawasi Violin lagi," jawab Han
"Violin? Ada berita apa?" Aku antusias dengan ini.
"Dia sepertinya bekerja untuk perusahaan lain, dan dia sedang menjadi mata-mata di kantorku," jawab Han. "Ya sejauh ini hanya itu yang kuketahui," sambung Han.
"Bagaimana dengan akun pribadi Violin?" Tanyaku.
"Tidak ada informasi penting yang bisa kudapatkan dari akun pribadinya." Han terlihat tidak senang.
"Bagaimana dengan sopirnya?"
"Sopir? Yang mana?"
"Sebentar."
Aku segera mengecek video dari CCTV yang aku dapatkan dari restoran yang ada di sebelah kantor Han. Aku dapat video ini dari Email resmi milik restoran itu, mana bisa aku diam saja sementara Han sedang melakukan penyelidikan menyenangkan. Aku bertindak ketika masih berada di dalam pesawat, tidak ada maid yang bisa kuajak bercerita, lagi pula apa juga yang akan aku ceritakan.
Jadi aku lebih memilih untuk mencari informasi tentang Violin di luar kawasan kantor Han, yang kudapatkan hanya video saat Violin turun dari sebuah mobil mewah dengan warna putih.
Aku segera mengirim video tersebut kepada Han, Han yang memang sudah menantikannya langsung menonton isi video tersebut. Han diam sejenak lalu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku terjemahkan.
"Kenapa?" Aku segera bertanya karena aku memang tidak mengerti apa yang dimaksudkan dari tatapan itu.
"Kapan kau dapat?" Bukan tatapan yang tajam, namum lebih seperti menyimpan banyak pertanyaan.
"Kemarin, saat aku sedang di dalam pesawat. Sebentar, kulihat dulu." Setelah aku cek, menurut info dari video ini, aku mendapatkannya pukul 2 lewat 37 menit. "Ya itu kemarin Han, pukul dua lebih tiga puluh tujuh menit," laporku. "Tapi di video itu terlihat jelas kalau itu terekam saat tiga hari yang lalu," sambungku sambil mengingatkan Han.
"Bagaimana dengan hari ini? Kemarin? Dan kemarin lusa? Apa pihak restoran tidak memberikan apapun selain ini?" Pertanyaan Han begitu bertubi-tubi.
"Tidak, bahkan kudengar kalau restoran itu tidak dibuka. Dari kemarin, iya kurasa dari kemarin," jawabku.
"Siapa yang memberi tahumu?"
"Siapa?"
"Ah. Aku lupa menanyakan namanya," jawabku jujur.
"Sebentar," ujar Han lalu mengambil handphonenya. "Yang ini?" Tanya Han sambil memperlihatkan layar handphonenya, dan menampakkan foto seorang perempuan.
"Ya itu dia!" Jawabku. Entahlah, aku jadi bersemangat setelah Han memperlihatkan foto perempuan itu padaku. "Kau mengenalnya dengan baik?" Tanyaku setelah sadar akan teriakkanku.
"Dia salah satu bawahanku yang sengaja aku tugaskan untuk mengawasi Violin," jawab Han sambil meletakkan handphonenya kembali. "Saat bertemu kembali dengannya, aku sarankan kau untuk memanggilnya dengan sebutan Tika," sambungnya.
"Memang dari wajahnya saja terlihat mencurigakan," sahutku. "Bahkan dia langsung mengenaliku sebagai Blysstina Grysselda. Sedangkan Violin sendiri tidak sadar," sambungku lagi.
Han hanya tersenyum sambil menatapku, lalu tak lama kemudian aku mendengar suara pintu terbuka.
"Hey baby..." Suara perempuan, mungkin Mama Hana. Tapi suaranya tidak sama, siapa? Dengan terburu-buru Han memutuskan panggilan video itu.
Apa-apaan itu tadi? Siapa perempuan itu? Sekarang aku khawatir, apa aku bisa tidur atau tidak malam ini karena memikirkan hal itu? Aku harus segera cari cara agar dapat melupakan hal itu.
Satu harapan yang pasti, Mama. Aku akan minta Mama untuk tidur bersamaku selama aku di sini, mungkin akan bekerja dengan baik.
Aku segera keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Mama. Dia masih duduk di sofa ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Ada apa Blyss...?" Tanya Mama dengan lembut saat aku duduk di sebelahnya.
"Tidur denganku ya," jawabku langsung tanpa basa-basi.
"What's wrong with you...?" Tanya Mama sedikit lebih khawatir dari sebelumnya.
"Tidak, aku hanya sedikit takut. Mungkin karena tempatnya baru," jawabku sambil berusaha tenang.
"Kau mau Papa tidur sendiri?" Papa tiba-tiba ikut dalam pembicaraan ini.
"Papa sudah tua. Tolong mengalah untuk beberapa hari ke depan," jawabku tergesa-gesa.
"Jangan sampai lebih dari seminggu," ujar Papa sambil mengganti saluran TV-nya.
"Tenang saja soal itu." Aku yakin, ini tidak akan lebih dari seminggu. 3 hari lagi aku sudah akan kembali ke Washington DC, aku harap sampai di sana Han bisa menjelaskan tentang hal tadi.
.........
09:27 PM
Ceklek..
Aku yang sedang duduk di sofa segera menoleh ke asal suara, Mama yang masuk ke dalam kamarku.
"Belum tidur, Blyss?" Tanya Mama sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku menunggu Mama," jawabku lalu segera berbaring di atas tempat tidur.
"Eh? Kau setakut itu ya? Memangnya ada apa...?" Tanya Mama sembari berbaring di sebelahku.
"Tidak. Aku hanya merasa sedikit was-was di sini. Yang biasanya juga seperti itu kalau aku baru pindah ke tempat baru. Tapi biasanya Kak Bryan yang menolongku," jelasku agar Mama tidak menanyakan hal lain.
"Baiklah kalau begitu." Mama sudah percaya padaku.
"Ma, aku mau tanya."
Dengan antusiasnya, Mama menoleh ke arahku lalu bertanya, "Ada apa Blyss?"
"Mama pernah curiga terhadap Papa kalau dia punya perempuan lain selain Mama?" Tanyaku.
"Kau ada masalah dengan Han ya?" Mama malah kembali bertanya padaku. Aku hanya mengehela nafas panjang. Mama tersenyum menatapku lalu berkata, "Ubahlah sikapmu terhadap laki-laki itu. Biarkan dia yang berusaha untuk menyadari kesalahannya sendiri."
"Apa Han akan peduli dengan perubahanku?" Aku tidak terlalu yakin Han akan peduli terhadap perubahan sikapku nantinya.
"Kau tidak percaya dengan Han? Atau kau tidak yakin dengan keberhasilan setelah berusaha?" Tanya Mama, ini menambah rasa kagumku kepada Mama.
"Itu..." Aku bingung akan menjawab apa. "Aish. Baiklah, akan aku coba," sambungku.
"Kalau Mama kepada Papa, ya Mama melakukan hal yang sama," ujar Mama. "Tapi Blyss, kau masih bisa menolak Han kalau kau memang sudah tidak tahan."
Apa-apaan itu? "Tidak, Ma. Aku mau berusaha untuk yang satu ini," jawabku meyakinkan Mama.
"Baiklah. Kapanpun kau ingin menyudahinya, Mama dan Papa pasti akan membantumu untuk menyelesaikannya." Mama juga sepertinya tidak ingin aku tersakiti oleh Han.
"Ma, bagaimana kalau salah satu dari kami meninggal dunia?" Kenapa juga aku tiba-tiba menanyakan hal itu pada Mama, sepertinya aku sudah membangunkan harimau tidur. "Ah aku hanya bercanda, Ma. Jangan dianggap serius."
"Daripada lebih tidak jelas. Lebih baik tidur..." Mama menarik selimut untuk kami berdua lalu mulai tidur. Kami berdua tidur dengan tetap membiarkan lampu meja menyala.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁