
Attention Please! Cerita ini hanya fiktif belaka.😄
Glendy itu dulunya teman sekolahku juga ketika aku sekolah di Vietnam, tapi dia setahun lebih tua dariku. Kami berteman cukup baik karena kami berdua bertetangga. Aku bisa ingat dia itu karena kami berdua sempat berkomunikasi setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku rasa seperti itu, tapi sepertinya sekarang kami tak bisa berkomunikasi seperti dulu. Asramanya berada di sebelah barat bersama para pendamping mahasiswa, sedangkan asrama yang aku tempati berada di timur dengan para peserta lainnya yang besok akan menjadi teman.
"Sampai bertemu besok," ujar Han sambil berjalan pergi menuju asrama laki-laki. Aku hanya memandangnya sampai dia menutup pintu utama asramanya. Menurutku Han cepat beradaptasi, tidak akan jadi masalah jika dia berada dengan orang-orang baru.
Besok. Besok hari terakhirku di sini lalu libur, menjenguk Kak Welsa, dan melanjutkan film action-ku :D.
03:00 PM
Aku masuk asrama perempuan untuk membagi dengan siapa mahasiswi masing-masing akan tidur. Saat masuk, tangan dari orang yang menarik tanganku lalu mengangkat tanganku sebagai tanda bahwa orang itu yang akan dia ajak untuk tidur. Itu Yen Yen, sebelumnya aku dan Yen Yen belum pernah tidur pada satu ruangan.
"Kau masih secepat dulu," ucapku sambil mengangguk-ngangguk ketika aku sudah menutup pintu kamar yang kami dapat.
"Hehe, aku merindukanmu. Sungguh," jawabnya sambil masuk ke dalam kamar mandi.
"Penyampaian rindu yang paling berbeda," gumamku sambil menggeleng lalu membereskan koper dan tas yang kami bawa.
"Lama sekali kau," kesalku saat Yen Yen keluar dari kamar mandi. Tidak biasanya dia selama itu menghuni kamar mandi.
"Maaf, Nona. Aku tidak sengaja menggelar konser tunggal tadi," jawabnya sambil senyum-senyum.
"Ohh benarkah?" Tanyaku lagi.
"Iya," jawabnya dengan konsisten.
"Siapa tamu VIP-nya?" Tanyaku cepat.
"VIP diisi oleh presiden dan wakil presiden nyamuk, menteri, penasehat dan keturunan dari mereka masing-masing," jawabannya cepat.
Aku langsung masuk kamar mandi dengan membawa perlengkapan mandi. Yen Yen tadi tidak mandi ya, dia hanya buang air besar kurasa, karena jika dia mandi seharusnya dia bawa handuk dan perlengkapan lainnya, karena di kamar mandi ini tidak tersedia barang-barang itu.
Jangan salah paham, jika tidak bawa dari rumah bisa ambil di toko yang ada di samping kantin, itu tidak tersedia karena seksi penyedia tidak tahu yang cocok untuk mahasiswa dan mahasiswi. Tapi aku bawa sendiri karena tidak ada energi untuk jalan ke sana:).
Selesai aku mandi, Yen Yen pun mandi. Setelah mandi kami berdua menghabiskan waktu menonton film action di laptop yang aku bawa, sambil menunggu jam makan malam. Tentunya ada pengganggu yang datang.
Tok tok tok. Pastinya suara pintu yang diketok dan bukan perut kucing yang kelaparan:v.
"Biar aku yang buka pintunya," kata Yen Yen langsung berdiri dari duduknya. Aku masih fokus pada film-nya. Tak lama kemudian ia kembali. "Blyss, ada yang mencari mu," ujar Yen Yen berdiri di sampingku.
"Oh iya-iya," jawabku lalu menghentikan filmnya. "Filmnya jangan dilanjutkan tanpa aku ya..." Ucapku dengan sedikit berteriak sambil meninggalkan laptop.
Han? "Kenapa?"
"Minta sampo, yang kau masukkan ke koper isinya habis," jawab Han.
"Kenapa tidak minta pada teman sekamar mu saja? Oh ya. Kenapa tidak cari di toko? Bagaimana kalau kau tidak keramas saja?" Tanyaku.
"Teman sekamarku tidak bawa. Toko juga tutup, Bibi Ren sakit. Kalau tidak keramas, itu agak sulit karena aku baru saja selesai main basket," jawab Han dengan jelas.
Lumayan Han. Lumayan. "Tunggu di sini."
"Kalau samponya habis tidak apa ya?"
"Itu punyamu."
"Hah?"
"Aku mengambil sampo yang ada di rumahmu," jawabku dengan nada tidak bersalah.
"Ck." Han hanya berdecak, sudah ketahuan kalau dia kesal, dia segera pergi dari asrama putri.
Hihi. Aku langsung ke dalam lagi untuk melanjutkan menonton film.
"Īe." (tidak dalam bahasa Jepang).
"Ohh~" jawab Yen Yen sambil manggut-manggut.
07:00 PM
Peserta olimpiade berkumpul di kantin untuk makan malam. Di sini tempat pertama kalinya aku bertemu dengan Han, aku teringat kembali dengan hal itu dan sedikit melamun karena teringat hal itu. Lamunanku terhenti karena didorong Yen Yen untuk maju dan mengambil makan malam.
"Hai, aku ikut di sini boleh?" Tanya seorang perempuan saat aku dan Yen Yen akan makan.
"Oh, iya-iya boleh-boleh," jawabku langsung.
"Aku Hyena, perwakilan dari Meksiko," ucapnya menoleh ke arahku dan Yen Yen. Aku dan Yen Yen langsung memperkenalkan diri masing-masing.
"Hyena sekamar dengan siapa?" Tanyaku lalu menyuap makananku.
"Ruby, itu dia yang duduk di tengah," jawab Hyena sambil menunjuk bangku yang ada di samping kami dengan sorot matanya.
"Dia dari mana?" Tanya Yen Yen. Sedangkan aku tidak begitu tertarik dari mana dia berasal.
"Dari Kanada," jawabnya.
Ohh, tetanggaku ternyata. Aku mewakili negara AS. Salah satu negara yang ada di benua Amerika Utara.
"Kalian memang sudah saling kenal? Dia terlihat tidak bersahabat ketika pandangannya bertemu dengan matamu," tanya Yen Yen. Yen Yen memang peka terhadap hal seperti itu.
"Dia memang suka seperti itu kalau adaptasi dengan orang lain. Nanti di kamar biasa saja, ini sudah sering terjadi," jawab Hyena sambil mengangguk dan makan, jawabannya membuatku agak prihatin, entah kenapa itu terjadi begitu saja.
...
Aku, Yen Yen, dan Hyena jadi dekat saat itu juga. Hyena orangnya cantik, rapi saat makan. Tapi Hyena malah bilang "Sebenarnya cara makan ku tidak seperti ini, tapi ketika acara formal seperti ini mendadak cara makan ku berubah." Saat aku bilang, "Kau rapi sekali saat makan Hyen."
Tak lama kemudian dua orang perempuan juga mendatangi kami untuk bergabung. Viana dari Belarus (Eropa Timur) dan Jian dari Thailand (Asia Tenggara).
Viana ini mewakili kampusnya sendiri. Ayahnya orang kaya dan aku tahu itu, punya kampus sendiri aku tahu. Di kampusnya ada penelitian, dia cerita bahwa jika salah satu dari kami ada masalah dalam menyelidiki sidik jari, finger printing begitulah. Kami bisa minta tolong kepadanya, mungkin itu bisa membantu jika alat penelitian yang dia buat berfungsi dengan baik dan tydack dycuriy.
Jian ini spesialisnya budaya tradisional, dia anaknya baik, lembut, dan tenang. Itu yang tampak dari luar saat aku pertama kali melihatnya, itu saat waktu penyambutan.
Tapi setelah kenal itu tidak terjadi, Viana adalah teman sekamar Jian, Viana bilang Jian adalah seorang Drama Queen (seseorang yang sering mendramatisir keadaan), humornya receh, dia tetap anak yang baik tapi.. lembut dan tenang bisa dikonfirmasi lagi;).
"Semoga setelah olimpiade ini selesai kita bisa bertemu di tempat lain yah." Ucapku ketika kami selesai menahan tawa mati-matian, agar tidak ada yang tahu kalau kami berlima tertawa. Dan kebetulan jam makan malam juga sudah habis.
Tawaku itu sungguh MerDu kalian tahukan? (Merusak Dunia), Yen Yen juga, Viana bilang.. tawa Jian itu kalau tidak ditahan akan seperti memakai toa. Jian juga tak mau kalah, dia juga mengadu kalau tawanya Viana itu MerDu. Hyena mengatakan tawanya jika tidak ditahan itu seperti orang menangis.
"Iya semoga saja kita bisa bertemu," kata Jian, Hyena, Viana, dan Yen Yen bergantian dan sambil memandang satu sama lain.
"Baiklah, sampai bertemu besok di sini aku duluan yah." Ucap Hyena sambil berdiri, membawa nampan bekas makan malamnya lalu pergi menemui Ruby.
Kami semua bubar.
09:00 PM
Aku dan Yen Yen baru saja selesai menonton film action lalu pergi tidur.
...***...
TBC🕳️
Mohon dukungannya readers (≧▽≦)