
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka😄
Kami pergi dari sana, entah proyek itu akan berlanjut atau tidak, itu terserah pada Han. Ya tentu terserah padanya, aku tidak punya hak untuk menentukan hal itu.
.........
07:23 PM
Aku dan Han sampai di villa, aku meminta Han agar kembali ke sini dengan alasan Viana dan Forten. Sebelumnya aku bilang pada mereka jika mencariku aku ada di villa, maka tepati perkataan itu.
"Kau tidak keberatan kalau aku di sini menemanimu?" Tanya Han yang mengikuti langkah kakiku. Aku hanya berdehem, aku sendiri tidak tahu maksudnya apa. Entah jawaban iya atau tidak. Moodyan ternyata agak sulit untukku.
"Aku akan mandi, dan sepertinya di sini tidak ada baju ganti untukmu," ucapku sambil berjalan menaiki tangga.
"Kalau begitu aku akan pulang untuk mandi, dan kembali lagi ke sini," ucapnya lalu keluar dari villa.
"Respon yang cepat," gumamku sambil melanjutkan urusanku.
^^^...^^^
30 menit sudah berlalu, Han belum datang, aku mulai merasa khawatir padanya. Namun untungnya tidak ada hal buruk yang terjadi karena 10 menit kemudian Han datang bahkan membawa makanan juga.
"Ayo kita makan," ujarnya dengan senang sembari memperlihatkan kantong-kantong yang di dalamnya berisi berbagai macam makanan.
"Kau membelinya?" Tanyaku.
"Tentu, dan rekomendasi dari Mama."
"Aku ambilkan piring dulu," ujarku sambil pergi menuju ke dapur lalu kembali dengan membawa 5 piring.
Han begitu ceria malam ini, mungkin karena kejadian tadi dia jadi ingin memberikan hawa ceria agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan. Padahal aku sendiri sudah tidak apa-apa, aku bersikap datar hanya karena rencana awal dari Mama, yaitu perubahan dalam sikap.
Ya meskipun sedikit tidak ada bedanya.
[Author POV : Ya emang ga ada si, apalagi biasanya Blyss emang lempeng 😭👎🏽]
"Bagaimana?" Tanya Han padaku setelah selesai beres-beres semuanya.
"Apanya?" Tanyaku sembari duduk di sofa tepat di sebelahnya.
"Makanannya," jawab Han sambil merangkul pundakku.
"Bagus," sahutku. Jujur, aku sedikit bingung.
"Ck. Seoul merubahmu terlalu banyak," keluh Han sambil menempelkan tangannya di pipiku.
"Bukan Seoul, tapi kau," batinku. Aku ingin pernikahan Viana dan Forten berjalan lancar, setelah acaranya selesai, aku akan bicarakan tentang suara di panggilan video itu. "Jangan bicarakan itu lagi," ketusku sambil menatapnya tajam.
Han hanya tersenyum menatapku, lalu ******* bibirku. Hal pertama yang aku lakukan adalah menggigit bibir bawahnya, itu masih berhasil untuk melepaskan bibirku.
"Lain kali aku akan membalasnya." Han memperlihatkan senyum iblisnya.
"Shut up." Aku beranjak pergi dari ruang tengah.
"Kemana?" Tanya Han sembari menahan tanganku.
"Tidur," jawabku singkat.
"Aku ikut," rengeknya.
"Dia sungguh seorang Han yang kukenal?" Batinku mulai menilai perilaku Han. Aku tidak menjawab, hanya menepis tangannya dan berdecak.
"Aku anggap itu jawaban untuk boleh," ujar Han sambil merangkul pundakku lalu kami berjalan bersama.
.
"Tidurlah," ajak Han sambil menepuk sisi lain dari kasur. Aku tidak menjawabnya, dan segera berbaring di sofa panjang. "Blyss, Blyss. Entah apa yang ada di dalam pikiranmu. Setelah pernikahan Viana dan Forten selesai aku tidak akan memberikanmu toleransi lagi kecuali mahkotamu," ujar Han sembari menggendongku.
"Turunkan aku."
"Permintaan tidak diterima," sahut Han lalu meletakkan tubuhku di atas kasur. "Tidur saja, besok mungkin kau akan sibuk," ujarnya lalu memeluk tubuhku dengan erat.
"Akhirnya juga jadi seperti ini, sudahlah. Mungkin benar kata Han, besok sepertinya akan sibuk," batinku.
.........
Pukul 6 pagi aku terbangun, sedangkan Han masih terlelap dalam tidurnya, aku segera turun untuk masak sarapan. Kami hanya berdua, bahan makanan yang berada di lemari pendingin masih bisa untuk kami berdua.
"Makanlah," ucapku sambil duduk di depannya.
"Can you give me morning kiss?" Tanya Han dengan puppy eyes khasnya.
"No," jawabku singkat lalu makan sup bagianku. Han tidak memberi respon apapun lagi, sepertinya sekarang malah dia yang sakit. Tapi sudahlah, dia hanya mempersulit hidupku saja. Atau aku yang menyulitkannya? Itu terlihat tidak ada bedanya.
.
.
"Setelah ini kita pergi ke lokasi pernikahan Forten." Perkataan Han menghentikan aktivitasku, aku menatap Han sebentar, lalu mengangguk.
Kami berdua hening sampai di tempat acaranya, di sana beberapa orang sedang memasang perlengkapan dan apapun itu namanya. Aku dan Han tidak bersama ketika di lokasi acara, Han memilih untuk melihat-lihat di area kolam. Sedangkan aku ada di tempat bingkisan dan semacamnya, meski jauh, aku tetap melihat-lihat keberadaan Han.
Aku tidak bisa menghentikan rasa suka yang kumiliki dari dulu kepada Han, hanya saja saat ini aku enggan berbicara dengannya.
...
Hari-H telah tiba, Viana sangat cantik dengan dress putih yang ia kenakan, sedangkan Forten juga sangat tampan menggunakan setelan jas yang disiapkan oleh Viana.
Acaranya baru saja selesai, aku segera menghampiri keduanya untuk mengucapkan selamat.
"Vi, mungkin terdengar basi, tapi kau benar-benar cantik," ujarku dengan semangat.
"Akhirnya Blyss menyadari bahwa temannya ini adalah perempuan yang cantik," sahut Viana sembari memelukku.
"Ya hari-hari sebelumnya aku tidak begitu sadar." Aku membalas pelukannya dengan senang hati.
"Kau juga harus tahu, kalau kau juga sangat cantik," ujar Viana dengan nada yang begitu bahagia.
"Ya, itu memang benar. Kau hanya terlambat menyadarinya," sahutku.
"Itu karena kau tidak pernah memakai dress di depanku," kesal Viana sembari melepas pelukannya.
"Untuk apa juga? Menggodamu? Tanyaku.
"Terserah padamu," jawab Viana.
[Author POV : Viana kenak mental]
"Oh ya, Han kemana Blyss?" Tanya Forten.
"Entahlah, tadi dia bersama Papanya. Tapi setelah aku ke sini, aku tidak melihatnya lagi," jawabku jujur.
"Hm? Nanti kau pulang dengan siapa?" Tanya Forten.
"Bisa pulang sendiri," jawabku santai dan tenang.
"Kau?" Forten tidak melanjutkan perkataannya, matanya menyapu seluruh halaman. "Nah itu dia." Forten menemukan Han yang sedang mengobrol dengan Papa dan Mama.
Ketika Han menoleh ke arah kami, Forten segera melambaikan tangannya dan mengisyaratkan kepadanya untuk memdatangi kami. Han yang mengerti dengan isyarat itu segera berpamitan kepada Mama dan Papanya untuk menghampiri kami berdua.
"Ada apa?" Tanyanya ketika sudah sampai.
"Blyss pulang denganmu?" Tanya Forten.
"Tentu," jawab Han tanpa ragu-ragu, sedangkan aku sudah menelan ludah karena gugup. Perasaanku saja atau bagaimana... Tatapan Han dari tadi benar-benar tajam, bahkan sekarang juga. Dia menatapku setelah menjawab pertanyaan dari Forten.
"Ah baiklah." Forten sudah percaya penuh kepada Han, namun kadang-kadang mereka berdua bisa bertengkar hanya karena hal kecil. Sedikit membuatku jengkel, tapi aku suka.
Tak lama kemudian kedua orang tuaku beserta kedua orang tua Han datang menghampiri Forten dan Viana untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Begitu juga dengan kedua Kakakku, Bryan dan Welsa, lalu diikuti oleh tamu-tamu lainnya.
Bagaiamana dengan para orang tua kedua mempelai? Mereka mendampingi mempelai, hanya saja mereka sedang bersantai di salah meja di sekitar sana. Itu karena, menurut mereka untuk menyambut tamu saja bisa dipercaya kepada Viana dan Forten saja.
Biarkan orang tua beristirahat, mereka sudah kelelahan berdiri sejak acara dimulai, jadi mereka menyambut tamu undangan dari meja itu saja.
Viana dan Forten mulai sibuk dengan para tamu undangan, saat itu pula Han merangkul pundakku untuk menjauh dari kedua mempelai itu.
TBC😅
akhirnya up juga setelah sekian purnama😖. Abis hari Raya, abis liburan, abis ini, abis itu. Saya comeback 😗
Mohon dukungannya Readers 🤩😋