
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka ๐
'Apapun yang akan terjadi, ini akan seru.' Pikirku sambil tersenyum miring.
"Suruh dia kemari saja." Jawab Han sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Wanita itu hanya mengangguk mengiyakan lalu pergi.
'Padahal senyum Ibu yang tadi bagus, Han malah memotongnya, aku jadi rindu Mama.' Keluhku dalam diam.
Pak Zerl dan Ibu-ibu yang tadi keluar, di ikuti dengan 2 orang anak perempuan yang kira-kira berumur 5 tahun dan yang satunya 3 tahun.
'Anak-anak ini kenapa ikut keluar, kuharap mereka tidak mengerti apa yang akan terjadi nanti.' Pikirku memandang anak-anak itu yang memandang Han dengan bingung. Setelah memandang anak-anak itu, aku mengeluarkan berkas bukti sidik jari Pak Zerl.
Han menoleh ke arahku, aku langsung memberinya berkas itu. Lalu Han membukanya di hadapan Pak Zerl yang masih tenang sedangkan perempuan yang di sampingnya masih bingung.
'Mental Pak Zerl sangat bagus, dia masih bisa tenang.'
"Kenapa kau mendatanganni berkas anggaran itu dan membuatku terpojok Tuan Zerl?" Tanya Han membuka pembicaraan.
"Maaf Tuan.." ucap Pak Zerl yang sepertinya belum selesai sambil berlutut di hadapan Han.
"Saya terpaksa, saya akan bertanggung jawab dan tidak akan mengulanginya lagi." Lanjut Pak Zerl, aku masih bisa melihat wajahnya. Dia tampak sangat menyesal, sedangkan Han tetap menatap kedepan dengan tatapan datar dan kosong.
'Tuhan, kuharap Han tidak kehilangan respect-nya pada Pak Zerl.'
"Kau ikut aku ke kantor polisi untuk memberi kesaksian, untuk keputusannya.. urus nanti." Ucap Han dengan nada datar dan memegang bahu Pak Zerl, mengisyaratkan untuk berdiri. Respon Pak Zerl hanya mengangguk, dan sekarang reaksi dari istri Pak Zerl.
"Apa yang kau sudah lakukan?" Tanya istrinya bingung pada Pak Zerl yang sepertinya sudah menduga pertanyaan itu.
"Nanti aku akan jelaskan, jangan buat anak-anak dan Ibu menjadi panik." Jawab Pak Zerl dengan nada sabar.
"Ayah! Ayah mau kemana? Ayah mau meninggalkan aku dan Kayla?" Tanya anak perempuan yang umurnya kira-kira sekitar 5 tahun itu. Di waktu ini aku hanya memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Dan orang yang berbicara, dan gerak gerik mereka.
"Ibu? Kenapa Ibu menangis?" Tanya anak itu setelah merasakan air mata Ibunya menetes di lengannya.
'Anak ini peka, akan tidak adil jika dia kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya.' Pikirku memandang anak itu.
"Sasha, Ayah hanya pergi sebentar. Katakan pada nenek agar tidak perlu khawatir, katakan juga pada kakakmu Runo agar menjaga kalian ketika Ayah belum kembali." Jawab Pak Zerl memandangi kedua putrinya.
'Runo. Sasha. Dan Kayla.'
"Saya siap bertanggung jawab sekarang." Ujar Pak Zerl pada Han yang dari tadi diam dengan tatapan datar.
"Ikut saya ke mobil." Respon Han sambil berjalan namun aku masih di tempatku memandang Sasha dan Kayla yang di peluk Ibunya yang mulai meringis. Melihat Ibunya meringis dan mengeluarkan air mata, Kayla mengusap air mata yang mengalir di wajah Ibunya. Kayla tidak ikut menangis, kurasa dia tidak mengerti apa-apa.
'Kayla anak yang canggih.'
"Ayaaaah!! Jangan pergi dengannya, kumohon." Teriak anak itu dengan mata dan hidung yang merah serta di tahan oleh sang Ibu yang menggunakan tangan kanan, yang satunya untuk memeluk Kayla.
Aku berjongkok untuk mensejajarkan tubuhku dengan Sasha. Sasha hanya memandangku dengan tatapan sedihnya.
Mentalku tidak kuat melihat anak seimut ini menangis tepat di depanku.
"Sasha." Sapaku dengan usaha lembut, tapi aku masih gugup untuk tersenyum.
Sasha mengusap air matanya dan itu membuat mata dan hidungnya semakin merah.
"Kamu tidak boleh menangis sekarang, ingat kata-kata Ayahmu ya.. sampaikan pesannya pada saudaramu. Jaga adikmu, jangan buat Nenekmu khawatir, bantu Ibumu sebisamu." Ucapku lalu memeluk Sasha, kukira Sasha akan takut. Tapi tidak, dia membalas pelukanku dengan erat.
"Iya kak," jawabnya sambil menahan tangisnya.
"Kakak berjanji akan membuat Ayahmu kembali cepat." Bisikku di telinga Sasha.
"Baiklah kak." Jawabnya mengeratkan pelukannya lagi. Aku merasa sangat-sangat senang di terima seperti ini oleh anak-anak.
'Sasha dan Kayla memang anak-anak pintar.' Pikirku sambil melepas pelukannya.
"Kakak pergi dulu ya.. ingat pesan kakak, jangan lupakan janji kakak juga." Ujarku sambil mengusap air mata di wajah Sasha dan meyakinkannya. Sasha mengangguk dengan senyum di wajahnya yang masih merah di hidung dan mata.
Dia hanya mengangguk dengan tatapan sayu, sedangkan Kayla melambaikan tangannya padaku saat aku menoleh kearahnya dengan ekspresi datar.
Aku langsung berjalan cepat mengikuti Han dan Pak Zerl yang akan menaiki mobil.
Setelah kami di mobil, kami bertiga hening sampai kami akhirnya tiba di kantor polisi.
30 menit kemudian
Setelah sampai di sana, Han langsung ke tempat pendaftaran keluhan di ikuti oleh Pak Zerl yang duduk di sampingnya. Menyerahkan bukti lalu memberi keterangan dengan tenang. Aku hanya duduk di wilayah tunggu dan memperhatikan Han, Pak Zerl dan Polisi yang mencatat. Wajah polisi ini terlihat tidak asing kurasa.
Ditengah-tengah mencatat, polisi itu mengambil lalu bicara melalui telepon.
.........
Kira-kira setelah 30 menit kemudian datanglah Yura yang digiring dua polisi lalu Yura duduk di sampingku di perintahkan oleh polisi yang membawanya. Yura menundukkan wajahnya lesu dengan tangan yang di borgol, melihat itu aku mendekatinya dan menyentuh lengannya. Salah satu polisi menoleh ke arahku, aku hanya mengangguk kearah polisi itu. Lalu kedua polisi itu menjauh dariku dan Yura.
Yura memberanikan diri perlahan memandangku setelah polisi itu berlalu.
"Maaf." Satu kata keluar dari mulut Yura dengan memaksa, lalu air matanya menetes. Tampak sekali wajah penyesalan dari wajah Yura.
"Tidak perlu padaku. Simpan itu untuk Han." Ucapku sambil memeluk sahabatku yang sudah lama hilang ini. Aku bisa merasakan air mata Yura mulai membasahi bahuku.
"Aku tidak bisa membalas pelukanmu, aku juga
merindukanmu Blyss. Beruntungnya aku, kau belum berubah." Kata Yura pelan di telingaku, tangannya di borgol.
"Maafkan aku karena perlu waktu terlalu lama untuk mengingatmu. Kita harus pergi berdua setelah ini." Ucapku semangat sambil melepas pelukanku.
"Aku juga perlu waktu lama untuk itu, untuk pergi berdua.. aku sangat mau, tapi kau harus menungguku sekitar 10 tahun lagi." Jawabnya dengan tersenyum haru.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ayahmu yang harusnya ada di sana cukup lama. Seumur hidupnya bila perlu." Ucapku terlanjur emosi. "Eh. Maafkan aku, aku terbawa emosi tadi." Ucapku ketika sadar.
"Tidak apa-apa. Dia Ayahku, tapi dia lebih mirip iblis daripada seorang Ayah. Aku tidak sanggup melihat Ibuku menderita karena Ayah." Jawab Yura membuatku lumayan terkejut.
"Aku tau kau tidak salah. Secepatnya aku akan menghilangkan penderitaan itu." Ucapku dengan yakin.
"Hah?"
"Aku harap kau mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, jika kau di suruh oleh Ayahmu. Maka aku akan membantumu."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku tau watak Ayahmu, dari dulu juga kalau bukan dia dalangnya siapa lagi."
"Terima kasih atas ke-peka-anmu selama ini." Yura terharu dan meneteskan air matanya lagi. Cepat-cepat aku mengusapnya, aku sebenarnya tidak rela Yura menangis, bagaimanapun dia tetap sahabatku yang pertama.
"Kau tidak perlu menangis lagi. Pemerikasaanmu sudah akan di mulai, tolong katakan apa yang
benar-benar terjadi padamu. Jangan takut, polisi melindungimu dan aku juga sepenuhnya melindungimu dan Pak Zerl dengan segala hak yang kumiliki atas pelaporan atas nama kalian berdua. I trust you."
"Tentu, aku tidak akan menyia-nyiakan hal itu." Ujar Yura dengan yakin lalu berdiri dan berjalan menuju meja pemeriksaan.
Lalu Han datang dan duduk di sampingku.
"Aku perlu bicara denganmu." Bisikku saat Han baru saja duduk.
"Ck. Baiklah, di luar." Dia sepertinya enggan, tapi dia juga tidak menolak.
'Dia selalu ketus padaku, rasa ingin membunuh dari belakang STONKS.' (Stonks artinya meningkat ๐). Pikirku sambil menahan tanganku dengan cara melipatnya di dada dan mengikuti langkah kaki Han dari belakang.
...***...
TBC. Mohon dukungannya readers ๐