
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Baiklah."
'Pegal sekali,' aku harus mendekatkan telingaku ke telepon yang dipakai Han karena Han tidak mengeraskan suaranya, Han remaja sedikit lebih pendek dariku yang berumur 22 tahun.
'Siapa ya si Kelvin ini, jika dia dokter, seharusnya nada bicaranya juga tidak seperti anak yang baru saja pubertas. Sepertinya dia teman dan tangan kanan Han jika itu urusan tentang Clay.'
Saat aku baru saja duduk di atas tepatnya di sebelah meja tempat telepon rumah, Han malah berlari ke arah kamar tadi.
'Sialan.'
Aku segera turun lalu mengejar Han. Han sudah menghampiri bibi yang baru saja keluar dari kamar yang ditempati Blyss.
"Blyss sudah siuman bi?" Tanya Han tergesa-gesa.
"Sudah Nak.. bibi mau panggil mamanya Blyss dulu ya.." jawab bibi lalu meninggalkan Han dan aku yang tidak terlihat.
Setelah bibi pergi Han dan aku segera masuk ke dalam kamar itu, Blyss sudah siuman dan memandang Han sambil menaikkan alisnya seakan-akan dia bertanya "kenapa?"
'Dimana ya bibi dapat baju ganti?'
"Blyss, kau ingat sesuatu?" Tanya Han mendekat ke arah Blyss yang masih berbaring, baru kali ini aku melihat Han se-khawatir itu terhadap seseorang.
"Aku ingat Clay mendorongku," jawab Blyss dengan nada datar dan suara serak.
'Yang centil tadi kemana?!' Pikirku sambil berjalan ke seberang tempat tidur yang satunya agar aku dapat melihat wajah dari kedua anak ini.
"Aku akan menjelaskan sesuatu padamu nanti, sekarang jika kau ditanya siapa yang membuatmu begini atau semacamnya oleh papa atau mamamu, jawablah bahwa kau terpeleset lalu tenggelam ke danau," pinta Han meyakinkan Blyss.
"Baiklah, tapi berjanjilah kau akan menceritakan semuanya," jawab Blyss tiba-tiba sayu.
"Yakk. Kau tidak apa-apa? Suaramu tiba-tiba berubah," Han kembali khawatir dengan Blyss kecil.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit lapar," jawab Blyss.
'Makan tetap nomor satu.'
"Mau kuambilkan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya perlu menunggu bibi."
"Hem. Baiklah," Han mensejajarkan tubuhnya dengan tempat tidur lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Mau katakan sesuatu?" Tanya Han sambil tersenyum tipis.
'Ah~ jadi ini dia, reka adegannya terlalu jauh.'
Blyss hanya memperhatikan Han lalu menggeleng, Han hanya mengangguk lalu berdiri sedangkan Blyss masih tetap memandangi Han. Setelah itu datanglah Mama, Papa, kak Bryan, Mama dan Papa Han juga ada, diikuti Bibi yang terakhir masuk membawa nampan berisi makanan.. yah kalian pasti tahu isi nampannya.
'Kurasa tadi Mama, Papa dan kak Bryan tidak disini tadi, kapan mereka datang? Sialan, aku jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan,' pikirku sambil memandangi mereka bertiga secara bergantian.
"Kau tidak apa-apa Blyss?" Tanya Mama sambil mendekat ke arah Blyss dengan nada tenang.
'Mama tenang sekali.'
"Tidak ma. Hanya saja kepalaku masih lumayan pusing untuk bangun dari sini," jawab Blyss.
"Siapa yang membuatmu tenggelam Blyss?" Tanya Papa dengan alis yang lumayan tertekuk karena khawatir.
"Aku hanya terpeleset pa," jawab Blyss dengan wajah yang meyakinkan.
"Yakin?"
"Tentu Papa," jawab Blyss sambil tersenyum.
'Ternyata dulu aku sering tersenyum.'
"Baiklah," jawab Papa.
"Kalian semua jangan memandangku seperti itu, aku, 'kan sudah bilang aku tidak apa-apa," ucap Blyss sambil memandang mereka semua secara bergantian kecuali Mama, Han dan kak Bryan.
"Tapi kami tetap khawatir Blyss," ucap Mama Hana. Sedangkan mamaku sedang mengambil nampan dari tangan bibi.
"Sekarang tidak perlu khawatir ya, ma.. aku sungguh baik-baik saja," sahut Blyss.
'Mama juga? Wahwahwah.'
"Baiklah kalau begitu, kami akan keluar agar kau bisa makan atau istirahat," ucap Papanya Han lalu berjalan keluar dan diikuti oleh Bibi, Han, Bryan, Papa dan orang tua Han. Blyss yang masih belum bisa duduk, hanya melihat orang-orang itu keluar dari tempatnya.
'Apa aku perlu ikut keluar? Ck. Lebih baik aku disini saja. Eh tapi Blyss, 'kan hanya makan, untuk apa juga aku menemaninya makan,' pikirku dengan mengabaikan tempat sekitarku.
"Hei Blyss," panggil seseorang, itu adalah aku kecil yang tadi tenggelam dan saat itulah aku sadar kalau tempatku menapakan kaki sudah berubah, dari kamar panti asuhan menjadi tempat putih hampa seperti semula.
"Santai kawan~ aku itu kau, kau itu aku," ucapnya. Dia berdiri didepanku dengan santai.
Aku menghela napas sebentar. 'Dia mendengarkau?' Pikirku dengan wajah datar.
"Iya. Jika tidak dengar aku tidak akan menjawabmu seperti tadi. Tanyakanlah apa yang kau ingin tanyakan," jawabnya.
'Tadi itu dimana?'
"Tadi settingnya di Seoul, tiga tahun sebelum kau pindah ke Busan."
'Kenapa Mama tidak menitipkan aku dipanti asuhan?'
"Sebenarnya kau tinggal di sana, hanya saja Mama Hana yang sangat ingin kau tinggal dirumahnya, panti asuhan itu saja milik keluarganya Han juga dan bukan itu saja alasannya kau tinggal di rumah Han. Kau tinggal di sana agar kau aman dari pengganggu di panti ini, di sini sebenarnya ada dua orang pengganggu yang membuatmu terkunci di kamar mandi. Sejak saat itulah Han dan keluarganya mau kau tinggal di rumah mereka dan juga persahabatan antara keluarga kalian juga benar-benar sudah dekat."
'Mendo.'
"Tidak Blyss, itu adalah kesempatan emas, kau saja yang tidak tahu diuntung. Coba kalau kau ingat seberapa kagumnya kau dulu kepada Han."
'Aku tidak tahu apa yang terjadi dulu. Bagaimana aku bisa ke sini?'
"Kau bisa di sini karena.. kau harus mulai mengingat apa yang terjadi dimasa lalumu."
'Oh,'
"Ngomong-ngomong, bagaimana tadi senyumku? Sudah manis,'kan?"
'Iya manis, tapi aku lebih suka menyebutnya centil.'
"Terserah padamu Blyss tua," Blyss kecil sepertinya benar-benar tidak suka kalau dikatakan centil.
'Dia benar aku atau bukan. Tolong beri aku ketabahan menghadapi bocah ini tuhan.'
"Banyak omong."
'Sudah. Aku mau kau jelaskan kenapa Mama, Papa dan Bryan ada di sana.'
"Itu bukan pertanyaan yang bisa kujawab. Oh ya, untuk polos dan bodoh itu.. aku bisa klarifikasi. Aku itu polos, bedakan aku yang dulu dengan kau yang sekarang, kita tidak sama."
'Halah. Tapi kenapa tidak kau perlihatkan saja hal yang aku lupakan?'
"Yang membuatmu dejavu hanya perkataan Han, tadi saja kau sudah mengeluh karena reka adegannya terlalu jauh."
'Benar juga.'
"Aku membencimu."
'Kenapa?'
"Kau terlalu santai, bahkan saat aku tenggelam."
'Memangnya kalau aku ikut menyelam kau akan
selamat? Tidak,'kan?'
"Ck. Kau menjengkelkan. Kau terlalu banyak berubah."
'Kau bisa mendengar semua yang kupikirkan dari tadi?' Tanyaku datar.
"Tentu. Kau menontonku, aku menontonmu yang sedang menontonku."
'Dunia bekerja secara misterius.'
"Berhentilah mengatakan hal itu dalam batin."
'Apa urusanmu?' Tanyaku sambil memandangnya kesal.
"Aku tidak suka, itu respon yang terlalu datar."
'Baiklah lupakan itu, bagaimana dengan Clay?'
"Ck. Kita harus bertemu lain kali lagi." Ucapnya lalu mendorong pundakku dengan melompat.
'Aku bahkan tidak dapat melihat gerakkannya, mungkin ini memang harus terjadi.'
"Nanti kita pasti bertemu lagi!!" Teriak Blyss kecil lalu menghilang dan semuanya silau, tentu saja refleknya menutup mata, setelah dirasa aman.. baru buka mata.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁