LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH

LOVE FOR CHILDHOOD CRUSH
Makan Siang



Attention Please! Cerita ini hanya fiktif belaka ๐Ÿ˜„


"Kemana sekarang?" Tanya Han saat dia sudah menutup pintu mobil.


"Aku perlu waktu untuk bertanya pada temanku apa ini bisa diperiksa sekarang atau tidak." Jawabku.


"Baiklah, sebentar lagi jam makan siang. Mau makan siang di luar?" Tawar Han.


"Tidak-tidak, antar aku pulang saja. Siapa tahu Mama atau Papa di rumah." Jawabku.


"Baiklah." Sahut Han.


01:25 AM


Aku sampai di rumah.


"Mau langsung pulang?" Tanyaku beranjak keluar mobil.


"Iya." Jawab Han.


"Yasudah. Hati-hat-" mataku beralih ke seseorang yang berada di depan pintu rumah. 'Mama di rumah, waw.'


"Ada apa?" Tanya Han.


"Mama di rumah." Jawabku tidak memandangnya.


"Sekalian ajak Han makan siang nak!!" Panggil Mama dengan berteriak, tapi masih lembut.


_-'ya sudahlah, yang penting makannya sama Mama':D. "Han, turunlah dari mobil. Kita makan siang di sini saja." Ajakku dengan wajah datar.


"Iya-iya."


Kami berdua berjalan ke arah Mama yang menunggu di depan pintu.


"Papa di rumah Ma?" Tanyaku pada Mama saat kami baru saja masuk ke rumah.


"Tidak, dia sudah pergi tadi, setelah makan siang dengan mama." Jawab Mama.


"Tadi kalian makan hanya berdua?"


"Iya. Jadi kalian makannya berdua saja, lagi pula mama akan jadi hantu jika makan dengan kalian." Ucap Mama.


'Ck.' "Ya sudah, ayo Han." Ajakku pada Han untuk makan siang. Han hanya mengikutiku tanpa menjawab ajakkanku.


"Ambil sendiri." Ucapku pada Han.


Han lagi-lagi tidak menjawab apapun dan langsung mengerjakan yang seharusnya.


Kami berdua makan dengan keheningan, setelah makan tentunya membereskan dan membersihkan peralatan yang dipakai makan tadi.


"Kau masih sakit Han? Atau kau malu karena ada Mama di sini?" Tanyaku pada Han yang dari tadi diam.


"Aku tidak sakit. Jaga image." Jawab Han.


"Sepertinya kau memang benar-benar sakit." Komentarku.


"Heheh, tidak-tidak, hanya bercanda. Aku hanya tidak ingin bicara, aku masih memikirkan pak Zerl yang melakukan ini." Jelas Han berterus-terang sambil mencuci piring di sampingku.


"Palingan dia hanya perlu uang lebih untuk keluarganya dan tidak enak membicarakannya denganmu."


"Iya. Itu bisa saja."


Setelah makan siang, Han pamit kepada Mama untuk pulang kerumahnya.


"Bagaimana tadi nak?" Tanya Mama saat masuk ke dalam rumah setelah mengantar Han ke depan.


"Bagaimana ya caranya aku menjelaskannya. Aku sudah memberi Han rekaman itu, Han sudah mendengarnya dan dia juga sudah tahu siapa saja yang bicara didalam percakapan itu." Jelasku pada Mama.


"Jadi besok kamu ada kegiatan?" Tanya Mama.


"Mungkin ada ma.. rencananya aku akan menanyakan kepada temanku, untuk masalah sidik jari yang masih tersisa di selop tangan yang aku temukan di kantor Han beserta dengan pulpennya." Jelasku pada mama yang setia memandangiku saat aku bicara.


"Sudah cukup jauh ya." Sahut Mama.


"Ya bisa dikatakan seperti itu ma."


"Kamu semangat ya.. kalian pasti bisa." Ujar Mama.


"Oh iya. Kenapa mama sangat bersemangat dalam hal ini?" Tanyaku.


"Tidak ada salahnya jika kita menolongnya, lagipula kita dekat dengan keluarga Alexssandro. Dan baiknya lagi, kau tahu sesuatu tentang masalah ini." Jawab mama dengan santai.


'Santai sekali beliau. Baiklah..'


"Ya sudah, kalau begitu aku mau ke kamar dulu." Mama hanya mengangguk saat aku memandangnya.


Setelah sampai di kamar, aku langsung mencari keberadaan laptop untuk menanyakan Viana soal sidik jarinya. "Beruntungnya aku, dia sedang online." Gumamku saat sudah melihat nomor yang dipakai Viana.


Na


^^^Ada apa?^^^


^^^Akhirnya. Mau minta tolong apa?^^^


Aku mau kau mencari sidik jari yang ada diselop tangan yang kutemukan


^^^Baiklah. Waktunya sekitar 3 hari. Kau mau menunggunya kan?^^^


Iya. Kapan bisa kubawa ke sana?


^^^Kapan saja boleh, tapi lebih baik secepatnya. Sekarang atau nanti sore juga boleh. Nanti ada yang mendahuluimu^^^


Baiklah, aku akan berangkat sekitar 1 jam lagi. Jangan tunggu aku


^^^Santai, aku tidak pernah menunggumu. Jika kau datang saat aku tidur, pintunya didobrak saja jangan lewat genteng.^^^


Aku tidak ingat kapan aku masuk lewat genteng, aku lebih sering menendang pintu kamarmu.


^^^Hanya mengingatkan, siapa tau kau lupa cara masuk rumah. Sampai ketemu nanti.^^^


Begitulah percapakan berakhir.Setelah percakapan itu, Han meneleponku.


'Baru saja akan kutelpon.' Aku menjawab telponnya tapi kutinggal mengambil cemilan.


^^^Blyss! Kau di sana? Blyss!!!^^^


Sebentaaar!! Baru saja aku akan menelponmu. Ada apa?


^^^Untuk apa?^^^


Kau kenapa meneleponku?


^^^Ditanya malah kembali bertanya. Aku teringat kau bilang akan mencari sidik jari yang ada diselop tangan itu. Kau ingat,'kan?^^^


Aku baru saja selesai menanyakan itu, aku akan membawanya 1 jam lagi ke sana. Itu yang ingin kuberi tahu tadi


^^^Mau kuantar?^^^


Tidak perlu, kau urus saja pak Zerl, dia harus ada saat kita membutuhkannya


^^^Aku tidak akan membiarkannya kemana-mana Suruhanku sudah mengikuti kemanapun dia pergi tanpa dia ketahui.^^^


Baiklah, aku mau tidur.


^^^Iya-iya.^^^


Aku langsung mematikan telepon, memasang alarm lalu tidur.


03.30 PM


Aku sudah siap berangkat menuju rumah Viana, tadinya aku pikir mama masih dirumah. Tapi kata pak Fon, mama sudah pergi dari 30 menit yang lalu.


"Blyss mau kemana? Mau bapak antar?"


"Tidak pak, kalau ditanya sama Papa atau Mama katakan saja saya sedang pergi ke rumah teman. Pergi dulu ya pak." Jelasku sambil masuk mobil. Pak Fon mengangguk sambil tersenyum.


Pak Fon bekerja di sini cukup lama, sekitar 7-8 tahun, aku saja sampai lupa kapan dia direkrut oleh Papa menjadi sopir di sini.


15 menit kemudian


"Kuharap ini berjalan lancar." Gumamku saat sudah dekat dengan rumah Viana.


Setelah aku turun, aku langsung mencoba untuk


masuk. Percobaan pertama menekan tombol bel rumah, tentunya itu yang pertama sebagai orang normal yang sedang bertamu, namun tidak ada jawaban note : yang aku tau Viana tinggal di sini sendiri. Aku senang bermain bel rumah seperti ini, sengaja aku tekan berulang-ulang, ini tidak akan rusak atau konslet karena aku tau bagaimana caranya memainkan ini tanpa membuatnya meledak.


Beralih ke cara kedua, telpon pemilik rumah. Sudah kutelpon sebanyak 5ร—, tapi tetap tidak ada yang menjawab.


Cara ketiga adalah cara darurat, pendobrakan pintu. Aku sudah kemari sebanyak 4 kali dan masuk dengan mendobrak pintu.


'Kali ini aku dobrak lagi?' Pintu di sini tahan banting? Tentu tidak, 4 kali Viana membetulkan pintu karena aku mendobraknya dan menendangnya.


'Apa di sini tidak ada pintu belakang? Kasihan Viana jika harus membetulkan pintu lagi hanya karena aku, dirambah lagi tukang pintu yang sering ke sini sedang sakit.'


Aku berjalan menuju bagian belakang rumah Viana, aku mengecek pintu belakang jika ada di sini, aku mengeceknya dengan menggunakan benda elektronik.


Bentuknya seperti handphone ini salah satu benda buatan perusahaan GS (Grysselda), kegunaannya memang untuk mencari hal-hal yang tidak terlihat dipermukaan. Semacam kamera tembus pandang, dan yang ini lebih canggih dari kamera tembus pandang.


'Asik, ketemu.' Aku tersenyum gembira ketika melihat sebuah persegi yang terdeteksi oleh alat ini. 'Walaupun kecil, tapi aku tetap muat.'


Setelah memasukkan alatnya aku mencoba menendang terowongan berbentuk persegi itu. Beruntunglah itu berhasil dan aku bisa masuk, ini ternyata hanya semacam pintu yang dicat sempurna menutupi batas antara pintu dan tembok.


"Sekarang tinggal mencari Viana." Gumamku setelah menutup pintu kecil itu. Ketahuilah aku ini orang yang ceroboh.


"Kau memang pintar." Kata seseorang tepat di depanku dan sangat dekat.


...***...


TBC ๐Ÿ˜…


Mohon dukungannya readers ๐Ÿ˜