
Attention Please! Cerita ini hanya fiksi belaka 😄
"Aww! Sialan kau!" Geram Nicols melepas ciumannya dan mundur tiga langkah. Aku memegang bibirku, agak sakit dan sangat-sangat menjijikan!
"Apa aku perlu minta maaf? Haha,"
Aku berjongkok, kakiku mengendalikan mobil, tanganku mencari pist0l, bom dan gas air mata yang kubawa dari markas tadi pagi. Ketiganya aku keluarkan, tapi yang kugunakan hanya satu, gas air mata, dan mengeluarkan permen karet yang kusembunyikan di bawah lidahku. Aku ingin memukulnya dengan tanganku sendiri, hanya untuk iseng, aku tak ingin membunuhnya, terlalu banyak orang yang kubunuh untuk satu hari ini.
"Tolong bekerja dengan baik," gumamku, lalu melempar gas air mata ke arah Nicols yang masih memegang kakinya. (Aku melakukannya dengan cepat, jadi lama karena penulis idenya banyak).
Asap sudah keluar dan tanpa sadar aku menyeringai, tapi.. sudahlah, tinggal membuat Nicols tidak bisa berdiri. Satu timah panas di kakinya sudah cukup membuatnya berhenti bergerak, sepertinya jiwa psikopatku kembali muncul setelah beberapa menit yang lalu. (Blyss membun*h beberapa pengawal tadi)
"Kira-kira siapa yang akan menemukanmu di sini?" Tanyaku dengan sopan ke Nicols saat di sudah tidak bisa berdiri. Catatan tangannya kuikat dengan lakban, ada di tasku, aku tidak ada niat dari awal untuk mengikatnya.. tapi jika kuberikan timah panas lagi ditangannya akan lebih banyak darah berserakan diruangan ini.
Nicols tidak menjawab, hoh bodohnya aku.
"Astaga! Bagaimana bisa aku lupa, kakimu terlalu sakit untuk menjawab ini? Kukira kau masih bisa mengatakan satu kata, separah dan selemah itukah kau?" Aku masih bisa tertawa disaat aku seharusnya segera pergi.
"Awas kau Blyss!" Akhirnya dia mengatakan sesuatu, dia geram denganku.
"Akhirnya kau mengatakan sesuatu, meski itu tidak berguna," sahutku sambil memakai sepatuku. Setelah itu, aku memukul wajah Nicols, hanya sampai dia tidak sadarkan diri, aku masih bisa memastikan dia bisa hidup. Karena aku menggeledah kantong pakaian Nicols, lalu menemukan hp dan earpiece yang kupakai tadi. Earpiece-nya kuambil, hpnya kugunakan untuk menghubungi salah satu temannya untuk datang ketempat ini dan aku rasa ini rumahnya Nicols, entah bagaimana aku tidak bisa sepenuhnya membiarkannya mati secara perlahan.
Nicols tidak bisa melepas ikatan ditangannya karena tangannya sedang lebam, aku tak sengaja memukulnya dengan palu tadi.
Aku segera keluar dari tempat menyebalkan ini.
'Kenangan yang ingin kulupakan,' pikirku sambil memandang rumah ini dari luar gerbang untuk terakhir kali kuharap dan menghancurkan earpiece yang kuambil dari Nicols.
Aku berlari menuju utara dan menemukan perempatan seperti yang kuingat, lalu berhenti di sebuah minimarket.
Belanja? Boleh juga, aku masih lapar, tidak ada uang cash, tapi ada uang kredit di case hpku.
Aku memasukkan beberapa kedalam tas, itu makanan berat, makanan ringan masih kupegang untuk dimakan karena makan bisa membuatku berhenti memikirkan apa yang terjadi tadi. Ternyata kasirnya mengenaliku, aku jadi harus mengeluarkan banyak budget untuk menyuapnya agar tidak berteriak, lalu aku keluar dari minimarket itu dan mulai makan.
"Blyss?" Panggil seseorang dengan pelan sambil memegang bahuku. Aku segera menoleh kebelakang dan mendapati orang yang bisa dipercaya.
"Ada apa Glendy?" Tanyaku santai.
"Hanya memastikan, sedang apa di sini Liburan?"
"Tidak. Kau mau kemana?" Tanyaku.
"Mau ke hotel Ferwin, kenapa?"
"Ada tempat duduk yang tersisa?"
"Tentu, tunggu di sana, aku mau belanja sebentar," jawabnya Glendy sambil menunjuk mobil berwarna hitam dan aku tidak terlalu peduli dengan mobil apa ini.
Aku langsung menuju ke sana lalu masuk dan duduk dibelakang, saat beberapa menit berada di sana aku melihat keluar jendela karena aku melihat sesuatu yang menarik. Mobil dengan kecepatan menantang menuju ke selatan, kuharap itu mobil yang bersangkutan dengan Nicols.
'Apa aku perlu minta maaf? Atau seharusnya aku menbunuhnya tadi?' Pikirku sambil terus memperhatikan mobil itu sampai menghilang terhalang tembok.
"Kau lihat apa Blyss?" Tanya orang yang masuk ke dalam mobil.
Aku masih menoleh kebelakang dan menjawab "tidak ada," lalu menoleh ke depan. "Ngomong-ngomong kau kenapa ada di sini?" Tanyaku pada Glendy yang sedang menghidupkan mobilnya.
"Aku ada urusan ke-panitia-an di sini,"
"Dan menginap di hotel Ferwin?" Sambungku.
"Iya benar, tadi aku dari tempat acaranya," jawabnya sambil menjalankan mobilnya.
"Aaa~"
Kami lanjut mengobrol di jalan, saling tukar cerita dan sebagainya.
10.34 AM (bukan waktu dari minimarket-hotel, tapi dari waktu aku naik keatap hotel untuk mengalihkan perhatian hama-kembali hotel bersama Glendy)
Aku sampai di hotel bersama Glendy, tadi dimobil aku mengobrol dengan Glendy, aku juga sekalian memesan kamar hotel agar Glendy tidak tau tentang apa yang kulakukan, Glendy belum dunia gelap tempatku berkeliaran.
"Kau baru sampai sini? Atau bagaimana?" Tanya Glendy yang melihatku baru mengambil kunci kamar di hotel itu.
"Iya aku baru sampai sini, taksi yang kutumpangi menginggalkanku di dekat minimarket itu karena dia dapat pelanggan lain yang mau menyewanya untuk bepergian," jawabku sambil mulai berjalan menuju kamar. Aku berbohong? Ya demi keselamatan aku dan orang lain:v
"Dan memang mau ke sini?" Tanya Glendy mengikutiku.
"Benar, aku menginap ingin di sini," bohongku lagi.
Glendy menghela nafas, lalu mengangguk dan tersenyum.
.........
"Aku duluan Blyss," ucap Glendy lalu keluar dari lift, aku hanya mengangguk kearahnya.. sedangkan aku, masih menunggu untuk mencapai lantai 15.
Setelah sampai aku langsung duduk di sofa untuk membuka hp, hpnya baru saja kuaktifkan kembali saat memesan kamar hotel tadi, laptopku kehabisan daya, jadi bukan itu yang kupakai.
Dari Forten, Viana dan Han. Viana yang paling banyak mengirim pesan, Forten lumayan banyak dan Han tidak mengirim apapun. Tapi, itu juga bukan masalah, aku melihat pesan dari Viana tapi tidak kubuka untuk dibaca, milik Forten juga.. aku melewatinya.
Entah kenapa, senang membuat Forten dan Viana khawatir, oh ya, membuat kak Bryan khawatir juga menyenangkan. Aku meletakan hpku diatas meja, lalu rebahan di sofa, wahh ini memang sangat menyenangkan.
Aku ingin mandi, tapi aku tidak bawa baju ganti, syalan memang. Sudahlah, mau mandi atau tidak aku tetap perlu ke kamar mandi untuk menjawab panggilan alam. Aku berusaha bangun dari sofa yang nyaman ini, lalu pergi ke kamar mandi.
'Sofanya sudah nyaman, berarti kasurnya akan lebih bahaya, lebih baik jangan dekat-dekat dengannya kasurnya, aku harus segera pergi dari sini.' Gumamku setelah selesai menjawab panggylan alam.
Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Han sudah duduk di sofa tadi dengan memandangku yang baru saja keluar dari kamar mandi, aku memandangnya, berusaha untuk bernafas dengan tenang, karena pakaiannya.
Anak siapa dia? Kaus oblong? Apa-apaan itu? Anak sialan. "Sejak kapan kau di sana?" Tanyaku sambil berjalan menuju sofa.
"Baru saja, kau mau tinggal di sini dulu?" Tanyanya sambil duduk agak ke samping, agar aku bisa duduk di sana juga.
"Forten dan Viana sudah tahu aku di sini?" Tanyaku sambil duduk.
"Pastinya belum." Jawab Han dengan ringan.
"Yasudah, kita pergi sekarang," jawabku sambil menggendong tasku.
"Santailah, di luar sedang panas, aku mau cari AC dulu." Jawab Han.
Jadi dia baru membuka jaketnya ketika di sini.
"Di mobilmu saja,'kan bisa," sahutku sambil berdiri dan mengambil hpku.
Han menghela nafasnya lalu berdiri, memakai jaketnya yang ada di samping kirinya, merogoh sakunya dan mengeluarkan kacamata hitamnya. Memakainya.
Aku juga lakukan hal yang sama ketika pergi dari rumah Nicols tadi, benda itu tetap ada di dalam tasku ini, jadi aku pakai saja. Pergi dari sini.
"Kenapa kau tidak tunggu di sini saja?" Tanyaku pada Han setelah dia masuk ke mobil.
"Akan jadi ramai kalau aku benar-benar di sini," jawabnya sambil membuka jaketnya, lalu meletakkannya di belakang.
"Kau mau cerita apa yang kau alami sekarang?" Tanyanya sambil menghidupkan mobil.
"Tidak." Jawabku, aku kembali mengingat kejadian yang tadi, rasanya malu, kesal, aku jadi ingin menangis. Bimbang.
Di dalam mobil hening, aku dalam pikiranku dan Han.. entahlah, aku tak tahu.
Beberapa menit kemudian aku dan Han sampai di bandara Wildson, Viana menyambutku dengan kekhawatirannya, Forten juga. Bahkan kami (aku dan Forten) hampir bertengkar karena dia menarik kerah bajuku, sikap Forten hampir sama dengan Bryan, dia khawatir tapi seperti mengajak bangku hantam.
Penyambutan randomnya sudah selesai, kami semua kembali ke Washington D. C, aku ingin tidur, tapi aku selalu teringat apa yang terjadi saat bersama Nicols.
'Sialan memang, earpiece-ku sudah kuledakkan dan aku tidak bawa yang lain.'
Aku ribut sendiri di samping Viana yang sudah terlelap tidur, Forten juga sudah tidur.
Sedangkan Han terbangun karena laptopnya jatuh, dia sudah berumur 25 tahun, tapi dia lebih ceroboh dari anak berumur 9 tahun yang kutemui.
Aku membuka tasku dan mengeluarkan makanan dan minuman yang kubeli di minimarket tadi, lalu mulai mengisi perut sampai Viana terbangun.
"Berbagilah," ucapnya sambil mengambil satu bungkus roti.
"Sadarlah bahwa tadi kau tidur, apa kau yakin kau tidak akan marah seperti saat aku pertama kali membangunkan tidurmu jika aku membangunkanmu lagi," keluhku sambil makan.
"Itu masalah lain, tapi kalau karena makanan dengan senang hati aku mau dibangunkan," jawabnya sambil tersenyum dengan menampilkan giginya.
Aku hanya menghela nafasku, tersenyum miris ke arah nona Ferwin di sampingku lalu melanjutkan
makan.
"Sudah? Aku mau ke belakang sebentar, mau titip membuang sampah?" Tanyaku sambil berdiri.
"Tentu, aku harus kembali tidur," jawabnya sambil memberiku bungkus makanan.
Aku segera kebelakang, membuang sampah lalu kembali ke tempat dudukku.
...***...
TBC. Mohon dukungannya Readers 😁